BILLIONAIRE
Lukas 12:15, “Kata-Nya
lagi kepada mereka: ‘Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan,
sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung
dari pada kekayaannya itu.’” Yesus lebih banyak berbicara soal uang dari
pada topik-topik lainnya J. DIA memperingatkan dengan sungguh-sungguh supaya jangan meletakkan
kepercayaan pada uang untuk melindungi masa depan sebab ternyata pada akhirnya
uang tidak dapat memecahkan masalah kehidupan yang terbesar. Uang itu bekerja
sangat mirip dengan ‘Penyembahan Berhala’. Uang dapat ‘mengikat & menguasai’
kehidupan seseorang, bahkan menjadi ‘sumber perselisihan’ diantara keluarga,
rekan dsbnya J. Lebih baik percaya kepada Allah yang mencurahkan perhatianNya atas
seluruh dunia ini dari pada hidup mengkhawatirkan uang J. Aturlah “keuangan” kita
sedemekian rupa sehingga tidak terjadi perselisihan diantara keluarga, saudara
& orang lain. Amin.
Respon 1
Ayat bacaan:
Kejadian 22:1-19. Nats: Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di
belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba
itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya (Kejadian
22:13). Menolak Budaya Kematian. Phileas Fogg, dalam novel Jules Verne yang
sudah sering difilmkan, Around the World in Eighty Days, menemui budaya sati di
India. Seorang perempuan muda, Aouda, hendak dikurbankan dengan dibakar
menyusul kematian suaminya. Perempuan itu menolak, namun tak berdaya karena
dibius dengan ganja. Fogg dan asistennya, Passepartout, mencari siasat, dan
akhirnya berhasil membebaskan Aouda. Kisah Abraham dan Ishak sering kita baca
sebagai nubuatan bagi pengurbanan Kristus di kayu salib menggantikan kita. Dan,
memang tidak keliru. Namun, ada pelajaran lain yang dapat kita petik dari kisah
ini. Bagi kita, perintah Allah agar Abraham mengurbankan Ishak terkesan bengis.
Nyatanya, tidak bagi orang-orang zaman itu. Menurut Brian Zahnd dalam A
Farewell to Mars, mereka biasa mengurbankan anak sulung demi memohon berkat dan
kesuburan pada dewa mereka. Mendengar perintah itu, kemungkinan mereka tidak
terkejut, hanya mengasihani Abraham, yang sudah sekian lama menantikan anak
itu. Syukurlah, kisah tidak berakhir secara keji. Tindakan Allah menggantikan
Ishak dengan seekor domba jantan, dengan demikian, merupakan pernyataan yang
kuat bahwa Dia tidak menghendaki pengurbanan manusia. Menurut saya, itu
sebagian dari “berkat Abraham”. Di dalam Kristus, kita mengambil bagian dalam
berkat itu untuk memberkati dunia dan sesama. Kita diundang untuk menjauhi dan
menolak budaya yang mendatangkan kematian, dan menumbuhkembangkan budaya yang
membuahkan kehidupan. Semangat pagi teman-teman, selamat berakhir pekan. Tuhan
memberkati. (Bp. Budi – PT. MPU)
Respon 2
Mat 9:28 – YESUS:
Percayakah kamu, bahwa AKU dapat melakukannya? Mereka menjawab: Ya TUHAN, kami
PERCAYA, seketika itu SEMBUH! Percayai YESUS bisa menolong kita! Samuel
Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Respon 3
“Uang bisa membuat
orang disayang, namun juga dibuang.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 4
Merenungkan kembali
mengenai bagaimana Tuhan menulahi Mesir dengan dahsyatnya di zaman Musa, ada
sesuatu yang mungkin luput dari perhatian kita. Pada satu sisi dikatakan
berkali-kali bahwa “Tuhan mengeraskan hati Firaun” (Kel. 4:21; 7:3; 9:12;
10:20,27; 11:10; 14:4,8,17). Yang mengesankan sepertinya Tuhan tidak memberikan
pilihan kepada Firaun untuk bertobat. Berdasar ini, beberapa orang berpendapat
bahwa Tuhan memang menghendaki Firaun binasa. Tetapi apakah Tuhan yang penuh
kasih & merindukan setiap orang untuk bertobat, malah dengan sengaja
menggunakan kekuasaan-Nya untuk membuat seseorang tak dapat bertobat? Hal
penting lain yang harus diketahui ialah meskipun mungkin benar Firaun
ditentukan untuk binasa, Tuhan tetap memberikan kasih karunia & kesempatan
untuk datang bersujud kepada-Nya. Melalui apa? Melalui kesepuluh tulah itu.
Itulah kasih karunia Tuhan bagi Firaun. Mengapa bisa begitu? Karena Tuhan bisa
melenyapkan seluruh Mesir dengan satu kedipan mata saja namun Dia telah memilih
melakukannya dengan cara yang berbeda. Tulah demi tulah walau tampak kejam
sebenarnya merupakan kesempatan demi kesempatan untuk mengakui kemahakuasaan
Allah Israel. Ini makin kontras saat dibandingkan dengan Nebukadnezar yang
dengan satu dua tanda ajaib segera mengakui kedaulatan Allahnya Daniel (Dan.
2:46-47). Poin penting bagi pelajaran kita disini ialah mengenai kesadaran
& pemahaman kita akan kasih karunia. Kasih karunia dari Tuhan semesta alam
yang berkenan menyatakan diri melalui perbuatan-perbuatan tangan yang dahsyat
atas Firaun & bangsanya tidak direspon dengan suatu kesadaran akan kasih
karunia itu. Itu malah dipandangnya sebagai tantangan adu kuat, kesempatan
tawar menawar dengan Yang Mahakuasa & berkeras dalam dosa. Hari ini saat
kasih karunia masih diberikan pada kita melalui setiap tarikan nafas kita,
biarlah kita sadar bahwa itu adalah kesempatan meninggalkan hidup lama,
berhenti berbuat dosa & mendekat lebih lagi pada Tuhan. Bukan sebaliknya.
Setujukah Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment