Saturday, 5 September 2015

5 September 2015

BILLIONAIRE




Lukas 12:15, “Kata-Nya lagi kepada mereka: ‘Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.’” Yesus lebih banyak berbicara soal uang dari pada topik-topik lainnya J. DIA memperingatkan dengan sungguh-sungguh supaya jangan meletakkan kepercayaan pada uang untuk melindungi masa depan sebab ternyata pada akhirnya uang tidak dapat memecahkan masalah kehidupan yang terbesar. Uang itu bekerja sangat mirip dengan ‘Penyembahan Berhala’. Uang dapat ‘mengikat & menguasai’ kehidupan seseorang, bahkan menjadi ‘sumber perselisihan’ diantara keluarga, rekan dsbnya J. Lebih baik percaya kepada Allah yang mencurahkan perhatianNya atas seluruh dunia ini dari pada hidup mengkhawatirkan uang J. Aturlah “keuangan” kita sedemekian rupa sehingga tidak terjadi perselisihan diantara keluarga, saudara & orang lain. Amin.

Respon 1
Ayat bacaan: Kejadian 22:1-19. Nats: Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya (Kejadian 22:13). Menolak Budaya Kematian. Phileas Fogg, dalam novel Jules Verne yang sudah sering difilmkan, Around the World in Eighty Days, menemui budaya sati di India. Seorang perempuan muda, Aouda, hendak dikurbankan dengan dibakar menyusul kematian suaminya. Perempuan itu menolak, namun tak berdaya karena dibius dengan ganja. Fogg dan asistennya, Passepartout, mencari siasat, dan akhirnya berhasil membebaskan Aouda. Kisah Abraham dan Ishak sering kita baca sebagai nubuatan bagi pengurbanan Kristus di kayu salib menggantikan kita. Dan, memang tidak keliru. Namun, ada pelajaran lain yang dapat kita petik dari kisah ini. Bagi kita, perintah Allah agar Abraham mengurbankan Ishak terkesan bengis. Nyatanya, tidak bagi orang-orang zaman itu. Menurut Brian Zahnd dalam A Farewell to Mars, mereka biasa mengurbankan anak sulung demi memohon berkat dan kesuburan pada dewa mereka. Mendengar perintah itu, kemungkinan mereka tidak terkejut, hanya mengasihani Abraham, yang sudah sekian lama menantikan anak itu. Syukurlah, kisah tidak berakhir secara keji. Tindakan Allah menggantikan Ishak dengan seekor domba jantan, dengan demikian, merupakan pernyataan yang kuat bahwa Dia tidak menghendaki pengurbanan manusia. Menurut saya, itu sebagian dari “berkat Abraham”. Di dalam Kristus, kita mengambil bagian dalam berkat itu untuk memberkati dunia dan sesama. Kita diundang untuk menjauhi dan menolak budaya yang mendatangkan kematian, dan menumbuhkembangkan budaya yang membuahkan kehidupan. Semangat pagi teman-teman, selamat berakhir pekan. Tuhan memberkati. (Bp. Budi – PT. MPU)

Respon 2
Mat 9:28 – YESUS: Percayakah kamu, bahwa AKU dapat melakukannya? Mereka menjawab: Ya TUHAN, kami PERCAYA, seketika itu SEMBUH! Percayai YESUS bisa menolong kita! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Respon 3
“Uang bisa membuat orang disayang, namun juga dibuang.” Xavier Quentin Pranata.


Respon 4
Merenungkan kembali mengenai bagaimana Tuhan menulahi Mesir dengan dahsyatnya di zaman Musa, ada sesuatu yang mungkin luput dari perhatian kita. Pada satu sisi dikatakan berkali-kali bahwa “Tuhan mengeraskan hati Firaun” (Kel. 4:21; 7:3; 9:12; 10:20,27; 11:10; 14:4,8,17). Yang mengesankan sepertinya Tuhan tidak memberikan pilihan kepada Firaun untuk bertobat. Berdasar ini, beberapa orang berpendapat bahwa Tuhan memang menghendaki Firaun binasa. Tetapi apakah Tuhan yang penuh kasih & merindukan setiap orang untuk bertobat, malah dengan sengaja menggunakan kekuasaan-Nya untuk membuat seseorang tak dapat bertobat? Hal penting lain yang harus diketahui ialah meskipun mungkin benar Firaun ditentukan untuk binasa, Tuhan tetap memberikan kasih karunia & kesempatan untuk datang bersujud kepada-Nya. Melalui apa? Melalui kesepuluh tulah itu. Itulah kasih karunia Tuhan bagi Firaun. Mengapa bisa begitu? Karena Tuhan bisa melenyapkan seluruh Mesir dengan satu kedipan mata saja namun Dia telah memilih melakukannya dengan cara yang berbeda. Tulah demi tulah walau tampak kejam sebenarnya merupakan kesempatan demi kesempatan untuk mengakui kemahakuasaan Allah Israel. Ini makin kontras saat dibandingkan dengan Nebukadnezar yang dengan satu dua tanda ajaib segera mengakui kedaulatan Allahnya Daniel (Dan. 2:46-47). Poin penting bagi pelajaran kita disini ialah mengenai kesadaran & pemahaman kita akan kasih karunia. Kasih karunia dari Tuhan semesta alam yang berkenan menyatakan diri melalui perbuatan-perbuatan tangan yang dahsyat atas Firaun & bangsanya tidak direspon dengan suatu kesadaran akan kasih karunia itu. Itu malah dipandangnya sebagai tantangan adu kuat, kesempatan tawar menawar dengan Yang Mahakuasa & berkeras dalam dosa. Hari ini saat kasih karunia masih diberikan pada kita melalui setiap tarikan nafas kita, biarlah kita sadar bahwa itu adalah kesempatan meninggalkan hidup lama, berhenti berbuat dosa & mendekat lebih lagi pada Tuhan. Bukan sebaliknya. Setujukah Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)





No comments:

Post a Comment