Monday, 28 September 2015

28 September 2015

BILLIONAIRE




Mengapa Tuhan ingin saya memberi? 1) Dengan memberi: sembuh dari materialistis (1 Tim 6:17-19). 2) Dengan memberi = memperkuat iman kita (Amsal 3:5,9 & 10). 3) Dengan memberi = menjadi makmur (Amsal 11:25). Kita memang HIDUP dari apa yang kita PEROLEH (hasil kerja) & akan tetapi kita “MENDAPATkan HIDUP” atau sukacita atau kebahagiaan dari apa yang kita BERI. Amin.

Respon 1
Dalam mazmurnya yang fenomenal, yang digubahnya tidak lama setelah nabi Natan menyampaikan pesan profetiknya pada Daud setelah kejatuhannya dengan Batsyeba, ada sesuatu yang penting mengenai bagaimana seharusnya kita menyikapi firman Tuhan yang datang pada kita. Tidak kurang hampir (mungkin lebih) 20 kali banyaknya, Daud menggunakan kata ganti “aku” menyangkut dosa, noda, pelanggaran kesalahan & kejahatan yang dilakukannya di hadapan Tuhan. Tidak satu kata pun ia menyebut peran orang lain, juga tiada kalimat yang menunjukkan ia melemparkan tanggung jawab atas kesalahan itu. Daud mendengar perkataan Tuhannya & mengoreksi diri. Ia tidak membela diri tetapi menyelidiki hati & hidupnya. Ia tidak melihat keluar dari dirinya; ia melihat ke relung-relung hatinya yang terdalam lalu menemukan & mengakui setiap dosa & kegagalannya. Daud merenungkan teguran-teguran Allahnya lalu BERURUSAN DENGAN DIRINYA SENDIRI DI HADIRAT TUHAN. Sikap Daud menanggapi pesan-pesan ilahi patut menjadi teladan bagi kita. Bahkan dalam penempelakan yang terang-terangaan, sebagai seorang raja yang sangat berkuasa waktu itu, Daud memilih mengakui & mengambil tanggung jawab atas perbuatan salah itu. Ia mungkin mampu membungkam sang nabi, melemparkan kesalahan pada Batsyeba yang begitu menggoda, atau ia setidaknya lebih dari sanggup berbantah-bantah atau menyangkal sambil bersilat lidah membela diri atau meminta dimaklumi sebagai sesuatu yang tidak perlu dibesar-besarkan. Faktanya, Daud tidak memilih satupun dari itu semua. Ia memilih dengan jujur & tulus mengakui dosa-dosanya. Bertobat. Tidak banyak yang menerima firman lalu mengoreksi diri, mohon pengampunan & berubah. Yang lebih sering adalah menggunakan firman untuk menunjuk-nunjuk kesalahan orang atau mengutip ayat-ayat Alkitab untuk menutup-nutupi dosanya. Inilah Kristen agamawi yang tampak benar di hadapan orang tapi hatinya busuk di hadapan Tuhan. Tahu firman tapi hidup tanpa pertobatan & kehancuran hati ialah Farisi-Farisi rohani (Mat. 3:7-8). Jadi, akankah Anda menyambut firman seperti Daud? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 2
“Ketika orang ingin kompetisi tanpa introspeksi diri dia bisa jadi orang yang tinggi hati.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 3
SAAT TEDUH. Senin, 28 September 2015. KEBESARAN HATI. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil (Yohanes 3:30). Charles Dickens pernah memberikan pernyataan tentang siapakah sebenarnya orang yang disebut terbesar itu. Ia berkata, “Ada orang besar yang menjadi besar dengan cara mengecilkan dan merendahkan orang lain. Tetapi, seorang besar sejati adalah seorang yang mampu membuat setiap orang merasa dirinya besar.” Hampir setiap orang ingin menjadi nomor satu dan terkemuka. Tidak semua orang mempunyai kebesaran hati untuk menjadi orang nomor dua. Namun, Yohanes Pembaptis memahami benar arti sebuah kebesaran sejati. Di saat begitu banyak orang mulai ribut dan membanding-bandingkannya dengan Yesus, Yohanes Pembaptis justru menunjukkan kebesaran hatinya. Pernyataannya bahwa Yesus harus makin besar, tetapi ia harus makin kecil menunjukkan betapa ia tidak berusaha membesarkan dirinya sendiri. Ia tahu panggilan Tuhan baginya sebagai pembuka jalan bagi Mesias yang akan datang (ay. 28). Tujuan hidupnya adalah mengarahkan hati orang-orang kepada Yesus, Sang Mesias, dan bukan kepada dirinya sendiri. Bagaimana dengan kita? Bagaimana reaksi kita ketika di hadapan kita berdiri orang-orang yang siap menggantikan posisi kita? Apa reaksi kita ketika banyak orang mulai membanding-bandingkan kemampuan kita dengan orang lain? Apakah kita mulai terganggu? Seorang besar sejati tentu tidak akan terganggu dengan semua itu. Sebaliknya, ia akan menunjukkan kebesaran hatinya untuk membuat orang lain merasa dirinya besar. Ia akan memberi dukungan dan turut senang dengan keberhasilan orang lain –SYS. ORANG YANG MEMILIKI KEBESARAN HATI AKAN TERBEBAS DARI GODAAN UNTUK BERSAING. Selamat pagi. Welcome Monday. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

No comments:

Post a Comment