Sunday, 20 September 2015

20 September 2015

BILLIONAIRE




Mazmur 126:5-6, 5Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. 6Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.” Amin. Kesedihan yang mendalam (mencucurkan air mata) dalam menabur sambil bergumul dalam DOA, akan mendatangkan berkat-berkat dari Tuhan yang ajaib. Sebagai orang percaya kita diyakinkan bahwa apa yang kita taburkan dengan rajin sekarang ini akan diberkati dengan berlimpah-limpah oleh Tuhan dimasa depan. Mari kita ‘menabur’ dengan kesetiaan, kebenaran, doa sekalipun harus mengalami ‘kepedihan’ karena mengetahui bahwa akan ada tuaian besar yang Tuhan curahkan. Amin.

Respon 1
Maz 84:11 – Sebab lebih baik 1 hari di pelataran-MU dari pada 1.000 hari di tempat lain! Yuk ibadah, rasakan hadirat TUHAN, Firman yang hidup. Sip. Selamat ibadah dan melayani! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Respon 2
Ada jarak sekitar hampir 200 tahun antara raja pertama kerajaan Israel yang terdiri sepuluh suku, Yerobeam I dengan raja Yerobeam II. Tidak kebetulan keduanya yang memiliki nama sama. Seolah itu membuka & menutup era kasih karunia Tuhan. Yerobeam II adalah raja Israel terakhir yang memerintah dengan relatif damai & tenang, sebab 6 raja sesudahnya (yang berkuasa relatif singkat) membawa Israel dalam krisis yang kian parah hingga hancurnya kerajaan itu menjadi tawanan bangsa Asyur. Yerobeam II juga adalah keturunan ke-4 atau terakhir dari Yehu yang sempat mengembalikan Israel ke jalur yang benar dengan menumpas Izebel, seluruh keturunan serta sistem pemerintahannya yang keji itu. Antara pemerintahan Yehu hingga Yerobeam II ada rentang waktu kira-kira 100 tahun. Sesungguhnya cukup lama Tuhan bersabar. Sebab sejak zaman Yerobeam I, Tuhan memiliki keberatan hingga Yerobeam I memerintah. Catatan kitab Raja-Raja yang pertama (1 Raja-Raja) menunjukkan bahwa dalam 4 generasi Yehu, Tuhan terus menyoroti dosa Yerobeam I yang tidak pernah diubah oleh 4 generasi Yehu, yang seharusnya menjadi reformator-reformator Israel. Dosa apakah? Dosa mengadakan ibadah penyembahan patung lembu emas yang disebut sebagai Allah Israel yang membebaskan mereka dari Mesir, serupa dengan yang dilakukan oleh Harun di padang gurun. Terhadap penyembahan itulah Tuhan menjadi murka sebab selama hampir 200 tahun penyembahan demikian terus berlangsung padahal semua itu jauh dari yang ditetapkan-Nya melalui Musa. Dan karena itu, Tuhan mengirim nabi Hosea & nabi Yunus (Hosea 1:1; 2 Raja-Raja 14:25) demi menyadarkan mereka. Ada kesesatan yang besar dalam ibadah Israel sedemikian lamanya. Itu karena mereka tidak mau benar-benar mengenal Allah. Baik imam atau rakyatnya menolak pengenalan akan Allah (Hos. 4:4-6). Ibadah kita harus semata-mata tertuju pada Tuhan & dilakukan dengan cara-Nya -yang lahir dari pengenalan yang benar & sungguh akan Dia (Hos. 6:1-6). Bukankah semuanya itu untuk menyenangkan hatinya & bukan untuk membuat-Nya murka? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 3
“Tiga kata yang Tuhan rindu kita ucapkan: ‘Selamat pagi, Bapa.’” Xavier Quentin Pranata.


Respon 4
SAAT TEDUH. Minggu, 20 September 2015. SEPERTI EMAS. Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas (Ayub 23:10). Emas termasuk logam mulia, yaitu logam yang tahan terhadap oksidasi dan korosi (karat). Berbeda dengan kayu yang menjadi abu bila dibakar, emas tetap bertahan dalam kobaran api. Hanya wujudnya yang mencair pada suhu sekitar 1000°C. Ayub menggambarkan pengalaman dan ujian hidupnya sebagai proses pemurnian emas (ay. 10). Ia juga menyadari hidup ini penuh misteri, termasuk fakta bahwa Allah seolah diam saja. Di situ Ayub belajar beriman bahwa Allah itu hidup dan sedang menguji dirinya. Seolah-olah, Ayub berkata kepada sahabatnya, “Hai Elifas, Bildad, dan Zofar, sekalipun aku tak mampu menemukan hadirat Allah, aku yakin Dia hidup dan mengetahui jalan hidupku. Dia tahu jalan yang kutempuh. Aku percaya kepada-Nya. Setelah ujian ini berlalu, Dia akan membenarkan aku, sebab Dia tahu bagaimana aku hidup di hadapan-Nya. Aku akan timbul seperti emas yang sudah teruji oleh api pencobaan. Aku bersaksi bahwa aku menuruti jalan-Nya, dan firman-Nya aku simpan dalam hatiku” (ay. 8-12). Kisah penderitaan Ayub ini dimaksudkan untuk mengajarkan kepada kita bahwa selalu ada rencana terbaik di balik setiap ujian hidup yang Tuhan izinkan menimpa kita. Cara Ayub memandang persoalan mengajar kita bahwa Tuhan memegang kendali kehidupan kita. Hidup kita ibarat emas dan begitu berharga di mata Tuhan. Jika Tuhan ‘membakar’ hidup kita, Dia tidak bermaksud menghancurkannya. Sebaliknya, Dia ingin mendapati kualitas iman yang teruji, yang murni, sebuah kehidupan yang tanpa cela di hadapan-Nya —SYS. TUHAN MENGUJI BUKAN UNTUK MENGHANCURKAN HIDUP KITA. SEBALIKNYA, DIA SEDANG MEMURNIKAN KITA SEPERTI EMAS. Selamat pagi. Selamat beribadah. Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

No comments:

Post a Comment