Sunday, 27 September 2015

27 September 2015

BILLIONAIRE




2 Kor 9:6-8, 6Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. 7Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. 8Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” Amin. Kita harus memberi dengan RELA HATI, jangan terpaksa & dengan sukacita karena Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan SUKACITA, Tuhan berkuasa memberi berkat kepada kita berkat yang melimpah supaya kita selalu mempunyai apa yang kita butuhkan, bahkan kita akan berkelebihan untuk berbuat baik. Amin. Sudahkah kita memberi dengan RELA & SUKACITA?

Respon 1
Minggu, 27 September 2015. Bahan Bacaan: Maleakhi 1:6-14. Nats: Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? (Maleakhi 1:6). BERPAKAIAN yang PANTAS. Pak Tirta diundang Pak Bupati ke rumahnya. Dua hari sebelumnya ia sudah mempersiapkan diri; mencukur rambutnya, membeli kemeja batik baru, menyemir sepatunya. Ia tidak mau berpakaian apa adanya, sebab bisa-bisa Pak Bupati menganggap ia tidak menghormatinya. Begitulah, ketika kita akan berkunjung ke rumah seseorang yang kita hormati, kita akan berusaha tampil ‘prima’, tidak asal-asalan. Alangkah baiknya kalau ‘prinsip’ demikian diberlakukan juga ketika kita beribadah di gereja. Bukan berarti kita harus selalu berpakaian baru, tetapi setidaknya berusahalah tampil baik. Minimal rapih dan bersih. Sayangnya selalu saja ada orang yang datang ke gereja dengan berpakaian seperti kalau mau jalan-jalan ke mal, atau bahkan ke pasar. Mungkin mereka beralasan, Tuhan menilai hati bukan pakaian. Tidak salah, tetapi jangan lupa, apa yang tampak dari luar biasanya merupakan cerminan yang ada di dalam hati. Umat Tuhan mendapat teguran keras melalui Nabi Maleakhi. Mereka telah mempersembahkan korban secara sembarangan asal-asalan (ayat 7,8). Bisa jadi mereka juga berpikir, Tuhan tidak melihat wujud dari persembahan itu. Ternyata tindakan mereka mengundang murka Tuhan, sebab mereka telah menunjukkan sikap tidak hormat tidak menghargai Tuhan, Sang Raja di atas segala raja (ayat 14). Hal ini bisa jadi pelajaran buat kita. Ketika kita akan datang ke rumah Tuhan, nilailah dulu, apakah yang kita kenakan itu cukup pantas dan sopan untuk hadir di hadirat Sang Raja Mahakudus. PENAMPILAN yang PANTAS TIDAK HARUS BAGUS DAN MAHAL CUKUP TIDAK MENJADI BATU SANDUNGAN BAGI ORANG LAIN. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 2
Peristiwa Yesus dielu-elukan di Yerusalem (Mat. 21:1-11 & catatan Injil lainnya) dengan penyaliban-Nya telah menjadi suatu ironi. Kerumunan massa yang menghamparkan jubah, meletakkan dahan-dahan di sepanjang jalan sambil melambai-lambaikan daun palem untuk menyambut Yesus masuk kota itu kurang lebih tidak jauh berbeda dengan khalayak gaduh di depan Pilatus sambil memekik, “Salibkan Dia!” enam hari berikutnya. Yang memuji-muji & mengagung-agungkan Dia, nyatanya juga menjadi penyalib-penyalibNya. Semua itu semu belaka. Ini bisa terjadi atas kumpulan yang berduyun-duyun di ruang-ruang gereja setiap minggunya jika: -Penyembahan itu sekedar gerakan emosi semata. Yoh. 12:17-18 memberitahu kita darimana lautan manusia itu datang. Kegemparan karena Lazarus bangkit setelah 4 hari mati ialah pemicunya. Sayangnya, takjub menyaksikan mujizat lebih membangkitkan sensasi sesaat daripada pengenalan pribadi akan Tuhan atau komitmen kepada-Nya - jika berhenti pada pengalaman itu saja. -Puji-pujian itu bersumber dari kata-kata orang & mengikuti aliran mayoritas massa. Semua yang terlibat keramaian itu sebelumnya telah mendengar tentang “Nabi Yesus dari Nazaret” -bukannya Anak Allah yang hidup (Mat. 21:10-11). Ibadah yang didasarkan kesaksian orang atau kumpulan jemaat yang besar jelas menggugah perasaan, tapi tanpa pengenalan pribadi akan siapa Yesus, yang berasal dari pengalaman berjalan bersama Dia setiap hari, semua itu dangkal & mudah pudar. -Pengagungan itu terbit dari harapan-harapan duniawi ketimbang dari kerinduan hati Tuhan. Selagi hendak menjadikan Yesus pahlawan pembebas atas kondisi hidup mereka yang tertindas, 4 Injil mencatat bahwa setelah peristiwa itu Yesus justru menyucikan bait Allah. Yesus bermaksud menegakkan kerajaan rohani, massa menghendaki kemakmuran jasmani. Penyembahan yang berkenan di hadapan Tuhan berasal dari hati yang mengalami & mengenal Dia secara pribadi -dimana oleh kemurahan-Nya kita dimampukan mengiring Dia hingga kesudahannya & tidak mengkhianati Dia. Bagaimana dengan ibadah Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 3
“Di saat kita merasa tidak butuh apa-apa, pada saat itulah kita paling butuh Tuhan.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:

Post a Comment