BILLIONAIRE
2 Kor 9:6-8, “6Camkanlah
ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang
menabur banyak, akan menuai banyak juga. 7Hendaklah masing-masing
memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena
paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. 8Dan
Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu
senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam
pelbagai kebajikan.” Amin. Kita harus memberi dengan RELA HATI, jangan
terpaksa & dengan sukacita karena Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan
SUKACITA, Tuhan berkuasa memberi berkat kepada kita berkat yang melimpah supaya
kita selalu mempunyai apa yang kita butuhkan, bahkan kita akan berkelebihan
untuk berbuat baik. Amin. Sudahkah kita memberi dengan RELA & SUKACITA?
Respon 1
Minggu, 27
September 2015. Bahan Bacaan: Maleakhi 1:6-14. Nats: Jika Aku ini bapa, di
manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang
kepada-Ku itu? (Maleakhi 1:6). BERPAKAIAN yang PANTAS. Pak Tirta diundang Pak
Bupati ke rumahnya. Dua hari sebelumnya ia sudah mempersiapkan diri; mencukur
rambutnya, membeli kemeja batik baru, menyemir sepatunya. Ia tidak mau
berpakaian apa adanya, sebab bisa-bisa Pak Bupati menganggap ia tidak
menghormatinya. Begitulah, ketika kita akan berkunjung ke rumah seseorang yang
kita hormati, kita akan berusaha tampil ‘prima’, tidak asal-asalan. Alangkah
baiknya kalau ‘prinsip’ demikian diberlakukan juga ketika kita beribadah di
gereja. Bukan berarti kita harus selalu berpakaian baru, tetapi setidaknya berusahalah
tampil baik. Minimal rapih dan bersih. Sayangnya selalu saja ada orang yang
datang ke gereja dengan berpakaian seperti kalau mau jalan-jalan ke mal, atau
bahkan ke pasar. Mungkin mereka beralasan, Tuhan menilai hati bukan pakaian.
Tidak salah, tetapi jangan lupa, apa yang tampak dari luar biasanya merupakan
cerminan yang ada di dalam hati. Umat Tuhan mendapat teguran keras melalui Nabi
Maleakhi. Mereka telah mempersembahkan korban secara sembarangan asal-asalan
(ayat 7,8). Bisa jadi mereka juga berpikir, Tuhan tidak melihat wujud dari
persembahan itu. Ternyata tindakan mereka mengundang murka Tuhan, sebab mereka
telah menunjukkan sikap tidak hormat tidak menghargai Tuhan, Sang Raja di atas
segala raja (ayat 14). Hal ini bisa jadi pelajaran buat kita. Ketika kita akan
datang ke rumah Tuhan, nilailah dulu, apakah yang kita kenakan itu cukup pantas
dan sopan untuk hadir di hadirat Sang Raja Mahakudus. PENAMPILAN yang PANTAS
TIDAK HARUS BAGUS DAN MAHAL CUKUP TIDAK MENJADI BATU SANDUNGAN BAGI ORANG LAIN.
Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 2
Peristiwa Yesus
dielu-elukan di Yerusalem (Mat. 21:1-11 & catatan Injil lainnya) dengan
penyaliban-Nya telah menjadi suatu ironi. Kerumunan massa yang menghamparkan
jubah, meletakkan dahan-dahan di sepanjang jalan sambil melambai-lambaikan daun
palem untuk menyambut Yesus masuk kota itu kurang lebih tidak jauh berbeda
dengan khalayak gaduh di depan Pilatus sambil memekik, “Salibkan Dia!” enam
hari berikutnya. Yang memuji-muji & mengagung-agungkan Dia, nyatanya juga
menjadi penyalib-penyalibNya. Semua itu semu belaka. Ini bisa terjadi atas
kumpulan yang berduyun-duyun di ruang-ruang gereja setiap minggunya jika:
-Penyembahan itu sekedar gerakan emosi semata. Yoh. 12:17-18 memberitahu kita
darimana lautan manusia itu datang. Kegemparan karena Lazarus bangkit setelah 4
hari mati ialah pemicunya. Sayangnya, takjub menyaksikan mujizat lebih
membangkitkan sensasi sesaat daripada pengenalan pribadi akan Tuhan atau
komitmen kepada-Nya - jika berhenti pada pengalaman itu saja. -Puji-pujian itu
bersumber dari kata-kata orang & mengikuti aliran mayoritas massa. Semua
yang terlibat keramaian itu sebelumnya telah mendengar tentang “Nabi Yesus dari
Nazaret” -bukannya Anak Allah yang hidup (Mat. 21:10-11). Ibadah yang didasarkan
kesaksian orang atau kumpulan jemaat yang besar jelas menggugah perasaan, tapi
tanpa pengenalan pribadi akan siapa Yesus, yang berasal dari pengalaman
berjalan bersama Dia setiap hari, semua itu dangkal & mudah pudar.
-Pengagungan itu terbit dari harapan-harapan duniawi ketimbang dari kerinduan
hati Tuhan. Selagi hendak menjadikan Yesus pahlawan pembebas atas kondisi hidup
mereka yang tertindas, 4 Injil mencatat bahwa setelah peristiwa itu Yesus
justru menyucikan bait Allah. Yesus bermaksud menegakkan kerajaan rohani, massa
menghendaki kemakmuran jasmani. Penyembahan yang berkenan di hadapan Tuhan
berasal dari hati yang mengalami & mengenal Dia secara pribadi -dimana oleh
kemurahan-Nya kita dimampukan mengiring Dia hingga kesudahannya & tidak
mengkhianati Dia. Bagaimana dengan ibadah Anda? Salam revival! GBU. (Worship
Center Surabaya)
Respon 3
“Di saat kita
merasa tidak butuh apa-apa, pada saat itulah kita paling butuh Tuhan.” Xavier
Quentin Pranata.

No comments:
Post a Comment