MESS INTO MESSAGE
Messy Church
-Mess Into Message #3-
Alfa Omega Church Sunday Service
Preacher: Ps. Lukas Soetopo
April
23rd 2017
Intro:
Kata-kata
“gereja” seringkali mengundang berbagai macam reaksi. Membahas tentang “MESS”,
kita sangat perlu membahas hubungan yang erat antara “gereja” dan “mess”
(ketidaksempurnaan).
Alfa
Omega Church sendiri adalah gereja untuk orang yang tidak sempurna. Bahkan,
Alfa Omega Church adalah gereja yang tidak sempurna. Tapi di tempat ini, kita
yakin saat kita mengalami anugerah Tuhan, kita akan bersama-sama terus dibangun
lebih baik lagi. Kita akan melihat sebuah cerita, yang akan membantu kita dan
membukakan pikiran kita tentang bagaimana seharusnya gereja bertindak.
Yohanes
8:2-6 – Orang Farisi VS Yesus
Sama-sama
di gereja, sama-sama ngerti firman Tuhan, sama-sama didengarkan orang banyak.
Farisi:
came with an agenda to judge. Datang dengan rencana menghakimi.
Menghakimi Yesus dan menghakimi perempuan ini.
Tujuan
orang Farisi: Kalau Yesus bilang “wanita ini
diampuni”, mereka akan menuduh Yesus melanggar hukum Taurat. Kalau Yesus bilang
“wanita ini dihukum”, mereka akan bilang Yesus tidak punya kasih.
Setiap
momen di setiap hari, di sekitar kita, kita selalu dihadapkan pada
kehidupan-kehidupan yang tidak sempurna. Mungkin hari ini Anda sendiri yang
mendengar pesan ini sedang mengalami kondisi yang juga tidak sempurna.
Kesalahannya atau ketidaksempurnaannya mungkin dalam hal seksual seperti wanita
ini, tapi bisa juga dalam hal-hal lainnya:
- membohongi orang dalam pekerjaan
- kecanduan alcohol, rokok, obat, dan lain sebagainya
- prinsip hidup yang menyimpang
- keluarga berantakan
- pernikahan yang goyang dan sedang falling apart
anything!
Coba
kita lihat reaksi YESUS. Yohanes 8:6 berkata, saat yang lainnya ribut,
Yesus membungkuk dan menulis di tanah. Yohanes 8:7-11, Yesus tahu perempuan itu
bersalah dan tahu bahwa perempuan itu juga merasa bersalah sebenarnya. Tapi
bukan hanya sekedar benar atau salah karena semua orang pernah salah!
Church is not a museum for good people,
it is a hospital for the broken
(Gereja bukan museum untuk orang baik, tapi Rumah Sakit
untuk orang berdosa)
Hospitals
do its best to make people better. At any cost.
Rumah Sakit akan melakukan yang terbaik supaya orang menjadi lebih baik. Gereja
juga demikian. Gereja harus melakukan yang terbaik, membuat orang jadi lebih
baik dalam hal karakter kepribadian, kehidupan, sikap, dsb. That’s why misi
AOC adalah Building A Better You! Kita bukan dokternya. Dokternya adalah
YESUS. Yang melakukan operasi hati, karakter dan perubahan hidup adalah Yesus.
Orang harus jumpa Yesus. Tapi kita perawat yang bisa give daily care untuk
orang, supaya mereka bisa ketemu dengan Dokter di atas segala dokter dan
mengalami perubahan.
Yohanes
1:14, “…penuh kasih karunia dan kebenaran” (full of grace
AND truth).
JESUS:
full of grace AND truth. Nggak hanya sekedar grace saja, tapi juga
ngajarin truth. Nggak hanya truth saja tapi mengasihi dengan grace. Makanya
Yesus berkata: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah (grace) dan
jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang (truth).” Gereja juga
demikian. Kita menerima semua orang apa adanya, sesuai GRACE
& kasih karunia Tuhan. Tapi sebagai wujud kita menerima grace dan
kasih karunia itu, kita mau mengambil langkah menjadi lebih baik dan berjalan
di TRUTH (kebenaran) Tuhan. Karena Dia mengasihi (GRACE),
Dia akan mendidik kita dalam kebenaran (TRUTH). That is why, Alfa
Omega Church is not a museum for good people, it is a hospital for the broken
(gereja bukan museum untuk orang baik, tapi Rumah Sakit untuk orang berdosa).
GEREJA
berasal dari bahasa Yunani yaitu ekklesia: perkumpulan yang dipanggil
keluar. Beda dari orang yang menghakimi, yang memandang sebelah mata, tapi yang
hidup dalam KASIH KARUNIA DAN KEBENARAN (GRACE AND TRUTH).
WHAT SHOULD WE (as a church) DO?
1.
Don’t Judge People
– Jangan Cepat-Cepat Menghakimi Orang
Setiap
manusia pasti akan tergrativasi pada hal-hal yang sama dengan interest kita.
Kalau ada hal yang beda dari pemikiran kita, kita seringkali malas menerima dan
tidak nyaman berada di situ. Nah, culture-nya orang Indonesia seringkali
SUNGKAN. Ada sesuatu, tidak berani ngomong langsung tapi ngomong di belakang. We
jump into conclusions tanpa liat situasi yang sebenarnya. We tend to
throw rocks of judgement! Kita cenderung melemparkan batu penghakiman kita
kepada orang lain. Mungkin bukan secara fisik tapi setiap kali berpikir
negatif, berkata negatif, kita melemparkan batu penghakiman kepada orang lain.
Tapi
Yesus tidak demikian. “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia
yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”
Matius
7:1-2 “I’m not a rock-thrower, I’m a
hand-lifter” (kita bukan pelempar batu, kita mengangkat tangan orang lain
yang terjatuh).
2.
Discipleship
– Memuridkan & Dimuridkan
Amsal
27:17; Matius 10:8. Church is not a museum for good
people, it is a hospital for the broken (gereja bukan museum untuk orang
baik tetapi rumah sakit untuk orang berdosa). “I’m not a rock-thrower, I’m a
hand-lifter” (kita bukan pelempar batu, kita mengangkat tangan orang lain
yang terjatuh). Artinya juga, hand-lifter, mengangkat orang itu dari
posisi terpuruk, jadi berdiri lagi (ke potensinya), melalui TRUTH –
kebenaran firman Tuhan.
No comments:
Post a Comment