Sunday, 30 April 2017

Messy Church

MESS INTO MESSAGE






Messy Church
-Mess Into Message #3-
Alfa Omega Church Sunday Service
Preacher: Ps. Lukas Soetopo
April 23rd 2017


Intro:
Kata-kata “gereja” seringkali mengundang berbagai macam reaksi. Membahas tentang “MESS”, kita sangat perlu membahas hubungan yang erat antara “gereja” dan “mess” (ketidaksempurnaan).

Alfa Omega Church sendiri adalah gereja untuk orang yang tidak sempurna. Bahkan, Alfa Omega Church adalah gereja yang tidak sempurna. Tapi di tempat ini, kita yakin saat kita mengalami anugerah Tuhan, kita akan bersama-sama terus dibangun lebih baik lagi. Kita akan melihat sebuah cerita, yang akan membantu kita dan membukakan pikiran kita tentang bagaimana seharusnya gereja bertindak.

Yohanes 8:2-6 – Orang Farisi VS Yesus
Sama-sama di gereja, sama-sama ngerti firman Tuhan, sama-sama didengarkan orang banyak.
Farisi: came with an agenda to judge. Datang dengan rencana menghakimi. Menghakimi Yesus dan menghakimi perempuan ini.
Tujuan orang Farisi: Kalau Yesus bilang “wanita ini diampuni”, mereka akan menuduh Yesus melanggar hukum Taurat. Kalau Yesus bilang “wanita ini dihukum”, mereka akan bilang Yesus tidak punya kasih.
Setiap momen di setiap hari, di sekitar kita, kita selalu dihadapkan pada kehidupan-kehidupan yang tidak sempurna. Mungkin hari ini Anda sendiri yang mendengar pesan ini sedang mengalami kondisi yang juga tidak sempurna. Kesalahannya atau ketidaksempurnaannya mungkin dalam hal seksual seperti wanita ini, tapi bisa juga dalam hal-hal lainnya:
- membohongi orang dalam pekerjaan
- kecanduan alcohol, rokok, obat, dan lain sebagainya
- prinsip hidup yang menyimpang
- keluarga berantakan
- pernikahan yang goyang dan sedang falling apart anything!

Coba kita lihat reaksi YESUS. Yohanes 8:6 berkata, saat yang lainnya ribut, Yesus membungkuk dan menulis di tanah. Yohanes 8:7-11, Yesus tahu perempuan itu bersalah dan tahu bahwa perempuan itu juga merasa bersalah sebenarnya. Tapi bukan hanya sekedar benar atau salah karena semua orang pernah salah!

Church is not a museum for good people, it is a hospital for the broken
(Gereja bukan museum untuk orang baik, tapi Rumah Sakit untuk orang berdosa)

Hospitals do its best to make people better. At any cost. Rumah Sakit akan melakukan yang terbaik supaya orang menjadi lebih baik. Gereja juga demikian. Gereja harus melakukan yang terbaik, membuat orang jadi lebih baik dalam hal karakter kepribadian, kehidupan, sikap, dsb. That’s why misi AOC adalah Building A Better You! Kita bukan dokternya. Dokternya adalah YESUS. Yang melakukan operasi hati, karakter dan perubahan hidup adalah Yesus. Orang harus jumpa Yesus. Tapi kita perawat yang bisa give daily care untuk orang, supaya mereka bisa ketemu dengan Dokter di atas segala dokter dan mengalami perubahan.

Yohanes 1:14, “…penuh kasih karunia dan kebenaran(full of grace AND truth).
JESUS: full of grace AND truth. Nggak hanya sekedar grace saja, tapi juga ngajarin truth. Nggak hanya truth saja tapi mengasihi dengan grace. Makanya Yesus berkata: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah (grace) dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang (truth).” Gereja juga demikian. Kita menerima semua orang apa adanya, sesuai GRACE & kasih karunia Tuhan. Tapi sebagai wujud kita menerima grace dan kasih karunia itu, kita mau mengambil langkah menjadi lebih baik dan berjalan di TRUTH (kebenaran) Tuhan. Karena Dia mengasihi (GRACE), Dia akan mendidik kita dalam kebenaran (TRUTH). That is why, Alfa Omega Church is not a museum for good people, it is a hospital for the broken (gereja bukan museum untuk orang baik, tapi Rumah Sakit untuk orang berdosa).

GEREJA berasal dari bahasa Yunani yaitu ekklesia: perkumpulan yang dipanggil keluar. Beda dari orang yang menghakimi, yang memandang sebelah mata, tapi yang hidup dalam KASIH KARUNIA DAN KEBENARAN (GRACE AND TRUTH).

WHAT SHOULD WE (as a church) DO?
1.      Don’t Judge People – Jangan Cepat-Cepat Menghakimi Orang
Setiap manusia pasti akan tergrativasi pada hal-hal yang sama dengan interest kita. Kalau ada hal yang beda dari pemikiran kita, kita seringkali malas menerima dan tidak nyaman berada di situ. Nah, culture-nya orang Indonesia seringkali SUNGKAN. Ada sesuatu, tidak berani ngomong langsung tapi ngomong di belakang. We jump into conclusions tanpa liat situasi yang sebenarnya. We tend to throw rocks of judgement! Kita cenderung melemparkan batu penghakiman kita kepada orang lain. Mungkin bukan secara fisik tapi setiap kali berpikir negatif, berkata negatif, kita melemparkan batu penghakiman kepada orang lain.
Tapi Yesus tidak demikian. “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”
Matius 7:1-2 “I’m not a rock-thrower, I’m a hand-lifter” (kita bukan pelempar batu, kita mengangkat tangan orang lain yang terjatuh).

2.      Discipleship – Memuridkan & Dimuridkan
Amsal 27:17; Matius 10:8. Church is not a museum for good people, it is a hospital for the broken (gereja bukan museum untuk orang baik tetapi rumah sakit untuk orang berdosa). “I’m not a rock-thrower, I’m a hand-lifter” (kita bukan pelempar batu, kita mengangkat tangan orang lain yang terjatuh). Artinya juga, hand-lifter, mengangkat orang itu dari posisi terpuruk, jadi berdiri lagi (ke potensinya), melalui TRUTH – kebenaran firman Tuhan.

No comments:

Post a Comment