Tuesday, 4 April 2017

4 April 2017

MESS INTO MESSAGE






Mess... into Message Day 4 (Lukas 19:1-10). Ayat 10, “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Alkitab menggambarkan: Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri (Yesaya 53:6a). Bahkan kondisi yang “sesat” yang lebih dari dalam diri kita digambarkan oleh Rasul Paulus di Roma 3:10-12, “Seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.’” Itulah sebabnya IA datang mencari kita, kita tidak akan pernah mencari DIA, maka DIAlah yang datang mencari kita/menyatakan visiNya bagi dunia: “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Lukas 19:10). Amin. Terima kasih Tuhan kami bersyukur, dulu kami terhilang kini Engkau temukan kami & sekarang kami adalah milikMu, barui hidup kami menjadi semakin serupa denganMu. Amin.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#MESS...into #MessageSeries

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab Rut 1-4
PB: Roma 2
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved

Ibu Evie
K A S I H. Ada sebuah pulau dimana semua perasaan tinggal disana. Satu hari ada pengumuman bahwa pulau itu akan tenggelam. Semua bergegas menuju kapalnya masing-masing. Sekalipun kapalnya telah diperbaiki dan siap digunakan namun KASIH tidak segera menyelamatkan diri. Dia ingin tetap tinggal karena banyak hal yang harus dilakukan. Tapi saat awan semakin gelap KASIH menyadari bahwa inilah saatnya untuk pergi. Sayangnya tidak ada perahu yang tersisa. KASIH melihat ke sekeliling dengan penuh harap. Beberapa saat kemudian KEKAYAAN melewatinya dengan perahu mewah. KASIH berseru, “KEKAYAAN, bisakah aku naik perahumu?” “Tidak, perahuku dipenuhi harta berharga, emas dan perak. Tidak ada tempat untukmu,” jawab KEKAYAAN. Tak lama kemudian KEANGKUHAN datang dengan perahu yang indah. Kembali KASIH berteriak, “KEANGKUHAN, bisakah engkau menolongku? Aku terdampar dan perlu tumpangan, tolong bawa aku.” KEANGKUHAN menjawab dengan congkak, “Tidak, aku tidak bisa membawamu. Perahuku akan kotor dengan kakimu yang berlumpur.” DUKACITA lewat selang beberapa saat. Kembali KASIH meminta pertolongan, tapi tetap tidak berhasil. “Tidak, aku tidak bisa membawamu. Aku begitu sedih, aku ingin sendirian,” katanya. Ketika KEBAHAGIAAN lewat beberapa saat kemudian dia tidak melihat sekitarnya karena begitu bahagia sehingga tidak melihat KASIH yang meminta tolong. KASIH semakin gelisah dan sedih. Lalu seseorang memanggil, “Ayo, KASIH, ikutlah denganku!” KASIH tidak mengenali siapa yang begitu murah hati tapi dia segera meloncat ke perahunya. Dia begitu lega karena bisa mencapai tempat yang aman. Saat turun dari perahu, KASIH bertemu PENGETAHUAN. Dengan kebingungan KASIH bertanya, “PENGETAHUAN, apakah engkau mengenali siapa yang murah hati memberi tumpangan di saat yang lain tidak mau menolongku?” PENGETAHUAN tersenyum, “Oh, itu WAKTU.” “Mengapa WAKTU berhenti untuk mengajak dan membawaku ke tempat yang aman?” KASIH bertanya-tanya. PENGETAHUAN menjawab dengan bijaksana, “Sebab hanya WAKTU yang mengetahui kebesaran sejatimu dan kemampuanmu. Hanya kasih lah yang dapat membawa kedamaian dan kebahagiaan dalam dunia ini.” Pesan terpentingnya adalah ketika kita kaya kita mengabaikan kasih, begitu juga saat kita merasa penting, kita melupakannya. Bahkan saat bahagia dan berdukacita kita pun melupakan kasih. Hanya melalui waktu kita menyadari pentingnya kasih. Mengapa menunggu lebih lama? Jadikanlah kasih sebagai bagian dari hidupmu mulai hari ini. “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”

Xavier Quentin Pranata
“Jangan sampai kita kehilangan sukacita kita hanya karena orang lain yang menghilangkannya.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
Selasa, 4 April 2017. Bacaan: Wahyu 3:14-22. Setahun: 1 Samuel 12-14:23. Nas: Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku (Wahyu 3:16). Suam-Suam Rohani. Firman Tuhan kepada jemaat di Laodikia mengingatkan kondisi rohani mereka yang tidak dingin dan tidak panas (ay. 15). Keadaan suam-suam kuku itu seperti makanan yang menjadi basi, dan Tuhan akan memuntahkan mereka dari mulut-Nya (ay. 16), artinya mereka tidak dapat menyatu dengan Tuhan. Jemaat di Laodikia merasa hidup mereka sudah cukup dengan kekayaan yang berhasil mereka kumpulkan, namun di mata Tuhan, mereka miskin dan buta rohani (ay. 17). Tuhan menasihatkan agar mereka membeli emas murni, iman sejati dari Tuhan; dan pakaian putih yaitu kekudusan yang dianugerahkan Tuhan; serta minyak untuk melumas mata mereka agar celik dalam melihat kebenaran (ay. 18). Itulah kekayaan rohani yang dibutuhkan oleh setiap orang Kristen. Berbahagialah jika Tuhan menegur kita yang dalam kondisi suam-suam rohani, karena Dia mengasihi, dan mau agar kita hidup baru dalam pertobatan (ay. 19). Tuhan seringkali mengetuk pintu hati kita agar selalu mendengar firman-Nya, dan membuka pintu hati serta mengundang Tuhan untuk masuk di hati kita (ay. 20), sehingga kita di dalam Tuhan dan Tuhan di dalam kita, artinya kita menyatu dengan Tuhan. Iman dan kesucian adalah anugerah Tuhan, yang perlu kita jaga, agar tidak menjadi suam-suam kuku sehingga kita dimuntahkan oleh Tuhan. Panaskan iman kita dengan sering bersekutu bersama saudara seiman, yang membuat kerohanian kita selalu menyala. Juga iman perlu didinginkan dengan bersaat teduh di hadapan Tuhan, berdoa dan merenungkan firman Tuhan; sehingga hati kita dingin merespons keinginan daging dan berbagai cobaan –JAP. PELIHARALAH IMAN AGAR TIDAK MENJADI SUAM-SUAM. IMAN YANG TERPELIHARA DAPAT BERTAHAN SELAMANYA.

Ibu Caroline – Bandung
Banyak orang menyangka mereka mempunyai pikiran yang “terbuka” padahal sebenarnya pikiran mereka “kosong” --Mort Walker. Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan (memikir secara berlebihan/muluk2 untuk kepentingan diri sendiri - Amp), tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu... (Roma 12:3). Jangan berhenti belajar, isilah pikiran saudara dengan hal-hal yang baik karena apa yang saudara pikirkan menentukan kualitas hidup saudara.

No comments:

Post a Comment