Monday, 10 April 2017

10 April 2017

MESS INTO MESSAGE






Mess...Into Message Day 10 – PEACE. Damai sejahtera itu bukan hanya sekedar Emosi/Perasaan. Emosi kita sama sekali bukan acuan yang benar untuk berpikir dan untuk mengambil keputusan. Emosi selalu bisa naik dan turun. Emosi itu tidak konsisten dan dapat berubah-ubah. Sedangkan damai sejahtera /PEACE itu adalah PILIHAN. Banyak orang merindukan kedamaian dan mengambil beberapa waktu/menit untuk DIAM/merenung supaya bisa menolong dalam menenagkan pikiran. Namun Alkitab mengajarkan bahwa kedamaian yang sejati itu datang dari anakNya, Yesus Kristus. Rasul Paulus berkata di Roma 5:1, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.” Tanpa Kristus, kita adalah seteru Allah oleh karena dosa kita. Bersyukur ada Tuhan Yesus yang berkorban/mati & bangkit bagi kita semua, sehingga kita memperoleh damai itu. Yohanes 14:27, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Berdamai/damai dengan Allah tidak berarti hidup kita bebas dari masalah. Namun kita diteguhkan dalam melewati masa-masa-masa sukar/masa-masa penuh kekacauan. Yesus berkata kepada para pengikutNya/kita semua di Yohanes 16:33, “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” Karena dalam Kristus Yesus, roh kita memilih untuk bersandar dan berteduh, damai sejahtera Allah yang sejati mampu memenuhi hati kita (Kolose 3:15). Kasih Tuhan kami merindukan damai sejahtera dariMu, ditengah kekacauan hidup kami, tolong kami untuk dapat bersandar dan berteduh kepadaMu. Amin.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#MESS...into #MessageSeries

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ni:
PL: Kitab 1 Samuel 15, 16
PB: Roma 8:1-17
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved

Madam Ossy
Senin, 10 April 2017. Bacaan: Ayub 1:1-22. Setahun: 1 Samuel 28-31. Nas: Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan” (Ayub 1:8). Guru Sekaligus Murid. Saat Hani (bukan nama sebenarnya) meninggal dunia setelah dua tahun menderita kanker, banyak sahabat mengomentari sikapnya yang tidak pernah mengeluh. Meskipun tahu kemungkinan sembuhnya kecil, ia tetap bersukacita dan bersemangat. Ia menguatkan suaminya dan kedua anak mereka yang masih kecil. Hani menjadi guru bagi suami dan kedua anaknya, sekaligus murid karena ia belajar dari penyakitnya. “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub?” Itulah pertanyaan Tuhan kepada Iblis. Tuhan sangat menghargai Ayub karena ia saleh dan jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (ay. 8). Tuhan menerima tantangan Iblis dengan mengizinkannya mencobai Ayub (ay. 12). Ayub harus menanggung kesusahan yang parah secara beruntun. Ayub tidak mengerti penyebab penderitaannya, tetapi ia menyatakan kepercayaannya yang teguh kepada Allah, yang berhak mengizinkan kenyamanan, kesulitan, maupun kebaikan di dalam hidupnya. Ia tetap memuji Tuhan meski kondisinya tidak mudah (ay. 21). Di dalam penderitaan, penting bagi kita merenungkan keinginan Tuhan, bukan keinginan kita. Jika keinginan kita bertentangan dengan kehendak Tuhan, dan Dia mengizinkan kita mengalami kesulitan dan penderitaan hidup, tetaplah percaya bahwa Tuhan selalu merencanakan yang terbaik. Dia tidak mungkin mencelakakan dan membinasakan kita. Jika kita meresponsnya dengan sikap yang positif, kita akan tetap bersukacita dan bertumbuh dalam pengenalan akan Dia –RTG. PENDERITAAN HIDUP DAPAT MENJADI AJANG PEMBELAJARAN DAN PERTUMBUHAN KARAKTER.

WM Stars
BATAS. Setiap rumah yang kita huni ada batasnya. Bila kita mengendarai mobil ada batas kecepatan maksimum. Kalau kita jalan bisa lelah. Kalau makan terlalu banyak kita bisa kenyang. Jarak pandang mata kitapun ada batasnya. Makanan yang kita beli ada batas waktu sajinya. Kesabaranpun akan terbatas. Dalam hidup ini semua ada batasnya. Hanya Tuhan saja yang tidak terbatas. Kalau kita mengandalkan Dia, maka tak akan dikecewakan. Keberadaan-Nya tak terbatas, maka Tuhan bisa kita temui di mana saja. Berkat-Nya tak terbatas, maka kita bisa memohonkan apa yang kita butuhkan. Kasih-Nya tak terbatas, karena itu kita dapat memohon ampun atas dosa-dosa kita. Jadi karena Allah tak terbatas, maka kita tetap akan dan harus berharap hanya kepada-Nya. Sebab bagi Dia tak ada yang mustahil. Yeremia 32:17, “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apa pun yang mustahil untuk-Mu!” Yeremia 32:27, “Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk-Ku?” Matius 17:20, “Ia berkata kepada mereka: ‘Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, — maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.’” Lukas 1:37, “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”

Bp. Anto – Citraland
Untuk menjadi pemenang dalam kehidupan, kita harus menjadi pemenang / benar dalam hati kita terlebih dahulu --Charles Jones. Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku (Maz 51:8). Tuhan melihat hati kita dan jika Dia berkenan... Dia akan mencurahkan berkatNya.

Xavier Quentin Pranata
“Seringkali yang kita kejar terbang menjauh yang tidak kita harapkan justru datang berlabuh.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:

Post a Comment