MESS INTO MESSAGE
Mess...Into Message Day 10 – PEACE. Damai sejahtera itu bukan hanya
sekedar Emosi/Perasaan. Emosi kita sama sekali bukan acuan yang benar untuk
berpikir dan untuk mengambil keputusan. Emosi selalu bisa naik dan turun. Emosi
itu tidak konsisten dan dapat berubah-ubah. Sedangkan damai sejahtera /PEACE
itu adalah PILIHAN. Banyak orang merindukan kedamaian dan mengambil beberapa
waktu/menit untuk DIAM/merenung supaya bisa menolong dalam menenagkan pikiran.
Namun Alkitab mengajarkan bahwa kedamaian yang sejati itu datang dari anakNya,
Yesus Kristus. Rasul Paulus berkata di Roma 5:1, “Sebab itu, kita yang
dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh
karena Tuhan kita, Yesus Kristus.” Tanpa Kristus, kita adalah seteru Allah
oleh karena dosa kita. Bersyukur ada Tuhan Yesus yang berkorban/mati &
bangkit bagi kita semua, sehingga kita memperoleh damai itu. Yohanes 14:27, “Damai
sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa
yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah
gelisah dan gentar hatimu.” Berdamai/damai dengan Allah tidak berarti hidup
kita bebas dari masalah. Namun kita diteguhkan dalam melewati masa-masa-masa
sukar/masa-masa penuh kekacauan. Yesus berkata kepada para pengikutNya/kita
semua di Yohanes 16:33, “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu
beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi
kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” Karena dalam Kristus
Yesus, roh kita memilih untuk bersandar dan berteduh, damai sejahtera Allah
yang sejati mampu memenuhi hati kita (Kolose 3:15). Kasih Tuhan kami merindukan
damai sejahtera dariMu, ditengah kekacauan hidup kami, tolong kami untuk dapat
bersandar dan berteduh kepadaMu. Amin.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#MESS...into #MessageSeries
Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ni:
PL: Kitab 1 Samuel 15, 16
PB: Roma 8:1-17
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
Madam Ossy
Senin, 10 April 2017. Bacaan: Ayub 1:1-22. Setahun: 1 Samuel
28-31. Nas: Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan
hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh
dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan” (Ayub 1:8). Guru
Sekaligus Murid. Saat Hani (bukan nama sebenarnya) meninggal dunia setelah dua
tahun menderita kanker, banyak sahabat mengomentari sikapnya yang tidak pernah
mengeluh. Meskipun tahu kemungkinan sembuhnya kecil, ia tetap bersukacita dan
bersemangat. Ia menguatkan suaminya dan kedua anak mereka yang masih kecil.
Hani menjadi guru bagi suami dan kedua anaknya, sekaligus murid karena ia
belajar dari penyakitnya. “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub?” Itulah
pertanyaan Tuhan kepada Iblis. Tuhan sangat menghargai Ayub karena ia saleh dan
jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (ay. 8). Tuhan menerima
tantangan Iblis dengan mengizinkannya mencobai Ayub (ay. 12). Ayub harus
menanggung kesusahan yang parah secara beruntun. Ayub tidak mengerti penyebab
penderitaannya, tetapi ia menyatakan kepercayaannya yang teguh kepada Allah,
yang berhak mengizinkan kenyamanan, kesulitan, maupun kebaikan di dalam
hidupnya. Ia tetap memuji Tuhan meski kondisinya tidak mudah (ay. 21). Di dalam
penderitaan, penting bagi kita merenungkan keinginan Tuhan, bukan keinginan
kita. Jika keinginan kita bertentangan dengan kehendak Tuhan, dan Dia
mengizinkan kita mengalami kesulitan dan penderitaan hidup, tetaplah percaya
bahwa Tuhan selalu merencanakan yang terbaik. Dia tidak mungkin mencelakakan
dan membinasakan kita. Jika kita meresponsnya dengan sikap yang positif, kita
akan tetap bersukacita dan bertumbuh dalam pengenalan akan Dia –RTG. PENDERITAAN
HIDUP DAPAT MENJADI AJANG PEMBELAJARAN DAN PERTUMBUHAN KARAKTER.
WM Stars
BATAS. Setiap rumah yang kita huni ada batasnya. Bila kita
mengendarai mobil ada batas kecepatan maksimum. Kalau kita jalan bisa lelah.
Kalau makan terlalu banyak kita bisa kenyang. Jarak pandang mata kitapun ada
batasnya. Makanan yang kita beli ada batas waktu sajinya. Kesabaranpun akan
terbatas. Dalam hidup ini semua ada batasnya. Hanya Tuhan saja yang tidak
terbatas. Kalau kita mengandalkan Dia, maka tak akan dikecewakan.
Keberadaan-Nya tak terbatas, maka Tuhan bisa kita temui di mana saja.
Berkat-Nya tak terbatas, maka kita bisa memohonkan apa yang kita butuhkan.
Kasih-Nya tak terbatas, karena itu kita dapat memohon ampun atas dosa-dosa
kita. Jadi karena Allah tak terbatas, maka kita tetap akan dan harus berharap
hanya kepada-Nya. Sebab bagi Dia tak ada yang mustahil. Yeremia 32:17, “Ah,
Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi
dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu
apa pun yang mustahil untuk-Mu!” Yeremia 32:27, “Sesungguhnya, Akulah TUHAN,
Allah segala makhluk; adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk-Ku?” Matius
17:20, “Ia berkata kepada mereka: ‘Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku
berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji
sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke
sana, — maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.’”
Lukas 1:37, “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”
Bp. Anto – Citraland
Untuk menjadi pemenang dalam kehidupan, kita harus menjadi
pemenang / benar dalam hati kita terlebih dahulu --Charles Jones. Sesungguhnya,
Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan
hikmat kepadaku (Maz 51:8). Tuhan melihat hati kita dan jika Dia berkenan...
Dia akan mencurahkan berkatNya.
Xavier Quentin Pranata
“Seringkali yang kita kejar terbang menjauh yang tidak kita
harapkan justru datang berlabuh.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:
Post a Comment