Monday, 24 April 2017

24 April 2017

MESS INTO MESSAGE






Mess...Into Message Day 24 (Yohanes 8:1-11). Church is Not a Museum For Good People..., It's a Hospital For the Broken (1). Gereja bukan museum untuk orang baik, tapi Rumah Sakit untuk orang berdosa. Museum selalu MENAMPILKAN sesuatu yang TERBAIK, tetapi rumah sakit akan MELAKUKAN yang TERBAIK supaya seseorang menjadi “lebih baik”, lebih sehat dan lebih “berbahagia”. Demikian juga dengan Gereja/eklesia, sekumpulan orang yang dipanggil keluar dari kerajaan kegelapan untuk hidup didalam terangNya yang ajaib. Setiap kita dipanggil untuk menjadi “eklesia”, ditetapkan untuk hidup berkomunitas dan diutus untuk dimuridkan / memuridkan serta memenangkan jiwa-jiwa. Tujuan kita dipanggil menjadi eklesia adalah menjadi penjala jiwa/pemenang jiwa. Markus 6:7, “Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat,” amin. Sudahkah kita mendengar panggilanNya? Yaitu: MENYEMBUHKAN lebih banyak orang dari kehidupannya yang kacau/”sakit” & belum sempurna/”berdosa”?? Dengan tidak menghakimi mereka (melempar batu) tetapi bisa mengangkat tangan orang mereka yang lemah/yang  “butuh pertolongan”? Jadilah eklesia/gereja yang menyembuhkan jiwa-jiwa untuk orang-orang yang belum sempurna untuk dibangun menjadi lebih baik/lebih sehat dan pastinya lebih berbahagia. Amin.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#MESS...intoMessageSeries

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab 2 Samuel 19 dan 20
PB: 1 Korintus 2
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
#HappyHoliday
#HappyWithUrFam

Madam Ossy
Senin, 24 April 2017. Bacaan: Lukas 18:9-14. Setahun: 1 Raja-Raja 8. Nas: “Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah sedangkan orang lain itu tidak. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Lukas 18:14). Merendahkan Diri. Seorang ibu kaya-raya mengaku menyesal pernah menolak dan memperlakukan menantunya dengan kasar. Menantunya itu semula pembantu rumah tangga sehingga sang ibu sangat keberatan ketika anaknya memohon izin untuk menikahinya. Penyesalan terjadi setelah belasan tahun berlalu dan ia merasakan kasih menantu itu. Setiap kali kesusahan menimpanya si menantu datang menemani, menghibur, dan mendukungnya. Menantu itu jugalah yang setia merawatnya kala ia sakit. Secara sosiologis masyarakat sering dikelompokkan ke dalam lapisan sosial secara bertingkat. Pengelompokan ini terjadi sebagai hasil kebiasaan yang disengaja atau tidak, dan dapat disebabkan oleh faktor kekayaan, kehormatan, kekuasaan, pekerjaan, pendidikan, dan lain-lain. Ada strata yang bersifat terbuka, memungkinkan orang naik dari tingkat rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Namun, strata sosial cenderung membatasi ruang seseorang, terutama mereka yang berada di tingkat rendah. Pernahkah kita merasa lebih suci atau lebih rohani dari orang lain? Kristus tidak mengajari kita untuk membeda-bedakan sesama manusia sebagaimana dunia membentuk strata sosial. Sebaliknya, Kristus memerintahkan para murid agar menerima setiap orang sebagai saudara, mengampuni setiap orang yang bersalah, dan mengasihi sesama tanpa melihat latar belakang mereka. Alih-alih merasa diri paling benar atau suci, jauh lebih mulia jika kita menempatkan diri sebagai hamba yang menyediakan hati untuk selalu tunduk pada kehendak Bapa –EBL. BARANGSIAPA MENINGGIKAN DIRI, IA AKAN DIRENDAHKAN; BARANGSIAPA MERENDAHKAN DIRI, IA AKAN DITINGGIKAN.

Ibu Caroline – Bandung
Orang sukses memiliki cita-cita, lalu mengarahkan tujuan dan melaksanakannya, bukan hidup apa adanya dan hanya mengikuti arus kehidupan, tanpa tahu arah yang dituju »IHT«. Amsal 13:16, “Orang cerdik bertindak dengan pengetahuan, tetapi orang bebal membeberkan kebodohan.” Orang yang hidup tanpa cita-cita dan tujuan yang jelas tidak akan pernah termotifasi untuk melangkah maju, padahal dibutuhkan kecerdikan dan kemauan yang keras agar berhasil dan sukses. Amsal 6:10, “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring.” Orang gagal gerakannya lamban, bermalas malasan, besar mulut dan tidak pernah bertindak, menyalahkan situasi dan kondisi, segala sesuatu selalu dipandang dengan negatif. Pengkhotbah 11:4, “Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai.” Padahal dalam hujan badaipun masih ada kesempatan, ditengah tengah masalah kehidupan kita tetap bisa menerobos maju, asal kita mau dan memiliki keyakinan, bahwa bersama Tuhan kita akan melakukan perkara perkara yang besar. SELAMAT PAGI.

Xavier Quentin Pranata
“Saat kita berduka, Tuhan mengusap airmata kita dan berkata lembut, ‘Aku senantiasa ada untukmu.’” Xavier Quentin Pranata.

No comments:

Post a Comment