MESS INTO MESSAGE
Mess...Into Message Day 24 (Yohanes 8:1-11). Church is
Not a Museum For Good People..., It's a Hospital For the Broken (1). Gereja bukan museum untuk orang baik,
tapi Rumah Sakit untuk orang berdosa. Museum selalu MENAMPILKAN sesuatu yang
TERBAIK, tetapi rumah sakit akan MELAKUKAN yang TERBAIK supaya seseorang
menjadi “lebih baik”, lebih sehat dan lebih “berbahagia”. Demikian juga dengan
Gereja/eklesia, sekumpulan orang yang dipanggil keluar dari kerajaan
kegelapan untuk hidup didalam terangNya yang ajaib. Setiap kita dipanggil untuk
menjadi “eklesia”, ditetapkan untuk hidup berkomunitas dan diutus untuk
dimuridkan / memuridkan serta memenangkan jiwa-jiwa. Tujuan kita dipanggil
menjadi eklesia adalah menjadi penjala jiwa/pemenang jiwa. Markus 6:7, “Ia
memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi
mereka kuasa atas roh-roh jahat,” amin. Sudahkah kita mendengar
panggilanNya? Yaitu: MENYEMBUHKAN lebih banyak orang dari kehidupannya yang
kacau/”sakit” & belum sempurna/”berdosa”?? Dengan tidak menghakimi mereka (melempar
batu) tetapi bisa mengangkat tangan orang mereka yang lemah/yang “butuh pertolongan”? Jadilah eklesia/gereja
yang menyembuhkan jiwa-jiwa untuk orang-orang yang belum sempurna untuk
dibangun menjadi lebih baik/lebih sehat dan pastinya lebih berbahagia. Amin.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#MESS...intoMessageSeries
Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab 2 Samuel 19 dan 20
PB: 1 Korintus 2
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
#HappyHoliday
#HappyWithUrFam
Madam Ossy
Senin, 24
April 2017. Bacaan: Lukas 18:9-14. Setahun: 1 Raja-Raja 8. Nas: “Aku berkata
kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah
sedangkan orang lain itu tidak. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan
direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Lukas
18:14). Merendahkan Diri. Seorang ibu kaya-raya mengaku menyesal pernah menolak
dan memperlakukan menantunya dengan kasar. Menantunya itu semula pembantu rumah
tangga sehingga sang ibu sangat keberatan ketika anaknya memohon izin untuk
menikahinya. Penyesalan terjadi setelah belasan tahun berlalu dan ia merasakan
kasih menantu itu. Setiap kali kesusahan menimpanya si menantu datang menemani,
menghibur, dan mendukungnya. Menantu itu jugalah yang setia merawatnya kala ia
sakit. Secara sosiologis masyarakat sering dikelompokkan ke dalam lapisan
sosial secara bertingkat. Pengelompokan ini terjadi sebagai hasil kebiasaan
yang disengaja atau tidak, dan dapat disebabkan oleh faktor kekayaan, kehormatan,
kekuasaan, pekerjaan, pendidikan, dan lain-lain. Ada strata yang bersifat
terbuka, memungkinkan orang naik dari tingkat rendah ke tingkat yang lebih
tinggi. Namun, strata sosial cenderung membatasi ruang seseorang, terutama
mereka yang berada di tingkat rendah. Pernahkah kita merasa lebih suci atau
lebih rohani dari orang lain? Kristus tidak mengajari kita untuk
membeda-bedakan sesama manusia sebagaimana dunia membentuk strata sosial.
Sebaliknya, Kristus memerintahkan para murid agar menerima setiap orang sebagai
saudara, mengampuni setiap orang yang bersalah, dan mengasihi sesama tanpa
melihat latar belakang mereka. Alih-alih merasa diri paling benar atau suci,
jauh lebih mulia jika kita menempatkan diri sebagai hamba yang menyediakan hati
untuk selalu tunduk pada kehendak Bapa –EBL. BARANGSIAPA MENINGGIKAN DIRI, IA
AKAN DIRENDAHKAN; BARANGSIAPA MERENDAHKAN DIRI, IA AKAN DITINGGIKAN.
Ibu Caroline – Bandung
Orang sukses memiliki cita-cita, lalu mengarahkan tujuan dan
melaksanakannya, bukan hidup apa adanya dan hanya mengikuti arus kehidupan,
tanpa tahu arah yang dituju »IHT«. Amsal 13:16, “Orang cerdik bertindak dengan
pengetahuan, tetapi orang bebal membeberkan kebodohan.” Orang yang hidup tanpa
cita-cita dan tujuan yang jelas tidak akan pernah termotifasi untuk melangkah
maju, padahal dibutuhkan kecerdikan dan kemauan yang keras agar berhasil dan
sukses. Amsal 6:10, “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat
tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring.” Orang gagal gerakannya lamban,
bermalas malasan, besar mulut dan tidak pernah bertindak, menyalahkan situasi
dan kondisi, segala sesuatu selalu dipandang dengan negatif. Pengkhotbah 11:4,
“Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa
melihat awan tidak akan menuai.” Padahal dalam hujan badaipun masih ada
kesempatan, ditengah tengah masalah kehidupan kita tetap bisa menerobos maju,
asal kita mau dan memiliki keyakinan, bahwa bersama Tuhan kita akan melakukan
perkara perkara yang besar. SELAMAT PAGI.
Xavier Quentin Pranata
“Saat kita berduka, Tuhan mengusap airmata kita dan berkata
lembut, ‘Aku senantiasa ada untukmu.’” Xavier Quentin Pranata.

No comments:
Post a Comment