MESS INTO MESSAGE
Mess....into Message Day 5 – Siap untuk Diubahkan. Apakah kita siap untuk diubahkan? Ya
kita “dapat berubah” karena Allah HIDUP didalam kita. Pada saat kita
menyerahkan diri kepadaNya, DIA akan menolong kita untuk memberikan sesuatu
yang baru. Yehezkiel 36:26, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh
yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras
dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.” Ayat 27: “Roh-Ku akan Kuberikan
diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala
ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.”
Tuhan, Engkaulah Allah yang menepati janji dan Engkau sudah menjadikan kami
“baru” dalam segala hal, Engkau sanggup memberi kemenangan. Amin.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#MESS...into #MessageSeries
Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab 1 Samuel 1-3
PB: Roma 3
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
Bp. Anto – Citraland
Ada perbedaan yang besar antara: Sekedar memberi nasihat dan
Mengulurkan tangan untuk membantu –Waterloo. Anak-anakku, marilah kita
mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan
dalam kebenaran --1 Yoh 3:18. Kasih yang sejati diwujudkan dalam perbuatan.
Biarlah hari ini ada orang yang tersentuh oleh kasih Allah melalui perbuatan
kita.
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Rabu, 5 April 2017. MENUNDA MEMETIK. Bacaan:
Imamat 19:23-25. Apabila kamu sudah masuk ke negeri itu dan menanam
bermacam-macam pohon buah-buahan, janganlah kamu memetik buahnya selama tiga
tahun dan jangan memakannya (Imamat 19:23). Keluarga kami sederhana, ayah
bekerja sebagai pegawai kecil sebuah toko. Sejak kelas 2 SD, saya sudah belajar
menabung dengan menyisihkan uang jajan. Saat lulus SD, ayah berjanji kelak saya
kuliah di universitas. Karena itulah kami sepakat sama-sama menabung untuk
persiapan uang kuliah. Berat rasanya saat melihat teman jajan sepuasnya atau
main di persewaan Play Station (PS). Namun, enam tahun kemudian, saya memetik
hasilnya. Berkat uang tabungan itu, saya bisa kuliah. Kepada bangsa Israel,
Tuhan memerintahkan, saat mereka berada di Kanaan, mereka tidak memetik dan
memakan buah pohon selama tiga tahun pertama (ay. 23). Pada tahun keempat,
segala buahnya dipersembahkan bagi Tuhan (ay. 24). Barulah pada tahun kelima
mereka boleh menikmati buahnya. Buah yang muncul pada tiga tahun pertama
biasanya dipetik dini dan dibuang karena dapat menghambat pertumbuhan pohon.
Mulai tahun keempat, barulah pohon mencapai taraf kedewasaan yang memadai dan
siap menghasilkan buah-buah terbaik. Tuhan mengajar mereka untuk menunggu dan
bersabar sebelum menikmati hasil yang terbaik. Menunda hasil yang kecil demi
mendapatkan hasil yang terbaik melatih kita bersabar dan mampu menahan diri
dari godaan. Kita menolak kesenangan-kesenangan kecil yang berpotensi merusak
hasil akhir yang kita harapkan. Kalau kita sabar mengelola hal-hal yang kecil
dengan tujuan hal itu berkembang semakin besar, pada waktu yang tepat pasti
kita menuai yang terbaik. MENUNDA MENIKMATI HASIL YANG KECIL MEMBUKA JALAN BAGI
KITA UNTUK MENUAI HASIL YANG TERBAIK. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.
#LoveTheBible – Bacaan: 1 Samuel 1-3 & Roma 3.
Taswin Taruna – PT. Sayap Mas Utama, Jakarta
Selamat pagi... KEPERLUAN UTAMA KITA hari hari ini adalah
DIRI KRISTUS. Kita semua mungkin sudah dilahirkan kembali, sudah
dilahirulangkan. Tetapi tahukah kita bahwa kita harus terus hidup bukan menurut
kelahiran pertama kita melainkan menurut kelahiran kedua kita? Kita seharusnya
tidak hidup oleh hidup/hayat dari kelahiran pertama kita, tetapi oleh
hidup/hayat dari kelahiran kedua kita. Kehidupan orang Kristen bukanlah soal
agama, ajaran, doktrin, bentuk ibadah, atau peraturan, melainkan semata mata
hanya soal diri KRISTUS! Ya. KRISTUS yang adalah Segala sesuatu kita/GerejaNya.
Sebelum ditemui Kristus di jalan menuju Damsyik, Saulus tidak diragukan lagi
adalah orang muda yang cerdas, agamawi, bergairah, dan kuat. Tetapi Kristus
turun tangan, orang muda yang kuat ini menjadi lemah, buta, roboh, dan tidak
berdaya. Kita perlu melihat Saulus dan membandingkan diri kita dengan dia.
Seringkali kita menganggap diri kita sudah baik, pengetahuan Alkitab sudah
baik, sudah melayani Tuhan, dan bergairah, tetapi sebenarnya kita baru mengenal
Tuhan secara obyektif (luaran) dan mau berkat-berkat serta mukjizat-Nya saja,
padahal Tuhan mau kita mengenal diri-Nya secara subyektif dan mengasihi Dia
(Roma 8:28). Jiwa (pikiran, perasaan, kehendak juga alami/nature) kita juga
perlu diremukkan & ditanggulangi oleh Tuhan, sehingga manusia alamiah kita
bisa berguna dan Tuhan ada jalan untuk mengalir keluar dari dalam diri kita.
Gambaran Saulus seharusnya menunjukkan kepada kita bahwa yang kita perlukan
bukanlah agama dengan bentuk ibadahnya, ajarannya, dan pengetahuan, melainkan
Realisasi Kristus yang hidup, yang adalah inti rencana kekal Allah. Hari demi
hari kita memiliki dan memperhidupkan Dia di dalam kita, tetapi kita perlu visi
dan wahyu yang lebih banyak tentang Dia. Kita harus mengejar Dia. Kita harus
mengenal Dia lebih banyak lagi dan membiarkan Dia menduduki wilayah yang lebih
luas di dalam roh & jiwa/batin Anda. Jangan perhatikan agama, berbagai
kegiatan kekristenan, atau pekerjaan luaran kita. Itu semua adalah hal-hal
keagamaan, yang tidak ada hubungannya dengan rencana Allah. Yang kita perlukan
adalah pengenalan batiniah tentang Kristus, pengalaman batiniah atas Kristus.
Yang kita perlukan adalah membuka diri kita mempersembahkan diri kita,
menyerahkan diri kita terus menerus setiap saat kepada Tuhan dan membiarkan Dia
memiliki tumpuan untuk membagikan / meleburkan Diri-Nya ke dalam kita hari demi
hari. Biarkan Dia menggarapkan diri-Nya ke dalam kita dan melalui kita untuk
menggenapkan rencana kekal Allah. Halleluya... Amin...
Bp. Peter – WCS
MISTERY OF A KISS Oleh: Peter B, MA. “Orang (Yudas Iskariot)
yang menyerahkan Dia (Yesus) telah memberitahukan tanda ini kepada mereka:
“Orang yang akan kucium. Itulah Dia. Tangkaplah Dia dan bawalah Dia dengan
selamat.” Dan ketika ia sampai di situ, ia segera maju mendapatkan Yesus dan
berkata: “Rabi.” Lalu mencium Dia. “Maka kata Yesus kepadanya: “Hai teman,
untuk itukah engkau datang?” (Mark. 14:44-45; Mat. 26:50). Adalah suatu
pertanyaan besar bagi saya sewaktu berusaha memahami mengenai bagaimana Yudas Iskariot
mengkhianati dan menyerahkan Yesus untuk dihukum mati. Yudas menyerahkan Yesus
dengan cara yang sangat tidak lazim: dengan sebuah salam dan sebuah ciuman.
Ciuman kepada Yesus, Guru dan Tuhannya itulah yang dijadikan petunjuk bagi para
penangkap Yesus supaya tidak menangkap orang yang salah. Belakangan ini, ciuman
Yudas dipakai secara luas sebagai kode bagi para bos mafia untuk menunjukkan
kepada anak buahnya siapa yang harus dihabisi setelah ciuman itu. Seperti
Yudas, ciuman mereka merupakan petunjuk bahwa siapa yang diciumnya, orang
itulah yang harus mati. Inilah cara-cara iblis. Sungguh sangat keji dan licik.
Ciuman adalah suatu tanda persahabatan dan keakraban. Seorang yang baru bertemu
dan berkenalan tidak akan mungkin saling mencium. Hanya orang-orang yang memang
punya hubungan (dekat) dengan kita sajalah yang dapat kita cium dan memberikan
ciumannya. Tetapi ciuman Yudas mempunyai maksudnya sendiri. Yudas mencium
dengan maksud yang tidak tulus. Ia mencium Yesus dengan maksud licik, yaitu
untuk menghancurkan Yesus. Inilah ciuman penuh kemunafikan yang sangat
berbahaya. Inilah ciuman yang sepertinya menunjukkan kedekatan dan keakraban
tetapi sesungguhnya sangat mencelakakan. Cukup menarik apabila kita mengetahui
bahwa yang dimaksud sebagai “penyembahan” dalam bahasa asli Alkitab bahasa
Yunani adalah proskuneo. Kata itu memiliki arti yang sangat unik dan di luar
dugaan. Mungkin kita berpikir ini merupakan kata yang indah, sehingga kemudian
dapat diterjemahkan sebagai “penyembahan”; tetapi jika kita tahu arti kata
proskuneo itu mungkin kita akan terkejut. Ijinkan saya memberitahukannya kepada
Anda. Proskuneo artinya “sejenis ciuman, seperti anjing menjilat tangan
tuannya”. Itulah artinya. Mungkin pertanyaan Anda sekarang adalah apa
hubungannya itu dengan penyembahan? Jika kita melihat pada arti di atas, ada
banyak aspek yang bisa dipelajari tentang penyembahan. Tetapi untuk saat ini
kita akan berkonsentrasi pada satu arti saja, sesuai dengan tema renungan kita
ini. Mari lihat kembali arti kata ‘penyembahan’ dalam bahasa aslinya tersebut.
Penyembahan juga berarti suatu ciuman. Ini secara tidak langsung menunjukkan
makna atau inti dari penyembahan: hubungan dekat atau keintiman. Ya, memang
benar dalam penyembahan selalu ada unsur dan memang harus ada unsur hubungan
dekat. Jika begitu apa hubungannya dengan Yudas Iskariot? Dalam drama
penangkapan Yesus, jelas sekali Yudas menyerahkan Yesus dengan sebuah ciuman
tanda kedekatan dan keakraban. Dengan kata lain, Yudas bersikap seolah-olah ia
memberi salam dan memberi hormat kepada Yesus, tetapi sesungguhnya tidak
demikian, jelas sekali bahwa Yudas adalah pengkhianat yang keji dan tidak tahu
berterima kasih. Sikapnya sungguh keterlaluan dan memuakkan siapa saja yang
membaca kisah ini. Jika diadakan angket dalam kelas, dapat diduga pastilah
semua orang mengangkat tangan jika diajukan pertanyaan mengenai siapa yang
tidak menyukai tokoh Yudas Iskariot. Dialah tokoh yang mungkin saja paling
tidak disukai kalangan orang-orang kristen. Tetapi… tunggu dulu. Mungkinkah hanya
Yudas Iskariot yang bersalah? Tidak adakah Yudas-Yudas di masa kini? Mari kita
renungkan baik-baik. Yudas datang seakan-akan menghormati dan menyembah Tuhan
tetapi hatinya tidak bermaksud demikian, ia memiliki maksud lain maksud yang
jahat. Berapa banyakkah dari kita yang datang kepada Tuhan seolah-olah
‘mencium’ Dia tetapi di dalam hati kita sesungguhnya tidak bermaksud demikian?
Berapa banyakkah dari kita yang sepertinya datang untuk menyembah Dia tetapi
kemudian berbalik menyakiti Dia? Berapa banyakkah kita datang kepadaNya dengan
gaya dan tingkah laku seorang penyembah tetapi hati kita tidak tulus mencari
Dia? Berapa banyakkah dari kita yang seperti Yudas Iskariot… Mungkin ini
perkataan-perkataan yang keras dan tidak enak didengar. Tetapi perlu diketahui
bahwa penyembahan bukan perkara yang dapat diremehkan dan dijadikan alat
permainan. Penyembahan kepada Allah harus murni dan sejati. Harus asli, bukan
palsu. Harus tulus bukan munafik. Penyembahan yang sejati bukan hanya tampak
dari luar. Tidak cukup hanya terdengarnya nyanyian pujian yang keluar dari
mulut kita dan dari pelayanan yang sbuedang kita lakukan. Penyembahan sejati
harus keluar dari hati: hati yang tulus mencari Dia, menghormati Dia,
merindukan Dia dan mengasihi Dia. Yudas Iskariot menjadi teladan yang buruk
dalam hal penyembahan. Sepanjang pelayanannya bersama Yesus, ia senantiasa
berlaku munafik dan tidak jujur. Sebagai bendahara Yesus, ia korupsi tetapi ia
menutupinya dengan sikap yang sangat munafik. Bahkan puncak kemunafikannya
adalah saat ia menyerahkan Yesus dengan ciuman. Bagaimana perasaan Anda jika
dikhianati dengan sebuah sikap yang terlihat manis padahal itu kepura-puraan
belaka. Sangat sakit, Begitu sakit. Demikianlah sakitnya Tuhan kita, apabila
kita datang ke hadapanNya dengan hati yang tidak tulus untuk menyembah Dia.
Yesus mengetahui apa yang ada di hati Yudas. Oleh karena itu Ia terluka dan
sangat sedih. HatiNya seringkali hancur karena kemunafikan kita. Seringkali
pertanyaan Yesus kepada Yudas juga menjadi pertanyaanNya kepada kita. Saat kita
datang menghampiri untuk menyembah Dia dengan hati yang tidak tulus dan
maksud-maksud pribadi yang jahat, Ia akan bertanya, “…Untuk itukah kau
datang?’” Ya, untuk tujuan apakah kita datang kepadaNya? (Bersambung)
http://worshipcenterindonesia.blogspot.co.id/2017/03/mistery-of-kiss.html

No comments:
Post a Comment