Wednesday, 5 April 2017

5 April 2017

MESS INTO MESSAGE






Mess....into Message Day 5 – Siap untuk Diubahkan. Apakah kita siap untuk diubahkan? Ya kita “dapat berubah” karena Allah HIDUP didalam kita. Pada saat kita menyerahkan diri kepadaNya, DIA akan menolong kita untuk memberikan sesuatu yang baru. Yehezkiel 36:26, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.” Ayat 27: “Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.” Tuhan, Engkaulah Allah yang menepati janji dan Engkau sudah menjadikan kami “baru” dalam segala hal, Engkau sanggup memberi kemenangan. Amin.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#MESS...into #MessageSeries

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab 1 Samuel 1-3
PB: Roma 3
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved

Bp. Anto – Citraland
Ada perbedaan yang besar antara: Sekedar memberi nasihat dan Mengulurkan tangan untuk membantu –Waterloo. Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran --1 Yoh 3:18. Kasih yang sejati diwujudkan dalam perbuatan. Biarlah hari ini ada orang yang tersentuh oleh kasih Allah melalui perbuatan kita.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Rabu, 5 April 2017. MENUNDA MEMETIK. Bacaan: Imamat 19:23-25. Apabila kamu sudah masuk ke negeri itu dan menanam bermacam-macam pohon buah-buahan, janganlah kamu memetik buahnya selama tiga tahun dan jangan memakannya (Imamat 19:23). Keluarga kami sederhana, ayah bekerja sebagai pegawai kecil sebuah toko. Sejak kelas 2 SD, saya sudah belajar menabung dengan menyisihkan uang jajan. Saat lulus SD, ayah berjanji kelak saya kuliah di universitas. Karena itulah kami sepakat sama-sama menabung untuk persiapan uang kuliah. Berat rasanya saat melihat teman jajan sepuasnya atau main di persewaan Play Station (PS). Namun, enam tahun kemudian, saya memetik hasilnya. Berkat uang tabungan itu, saya bisa kuliah. Kepada bangsa Israel, Tuhan memerintahkan, saat mereka berada di Kanaan, mereka tidak memetik dan memakan buah pohon selama tiga tahun pertama (ay. 23). Pada tahun keempat, segala buahnya dipersembahkan bagi Tuhan (ay. 24). Barulah pada tahun kelima mereka boleh menikmati buahnya. Buah yang muncul pada tiga tahun pertama biasanya dipetik dini dan dibuang karena dapat menghambat pertumbuhan pohon. Mulai tahun keempat, barulah pohon mencapai taraf kedewasaan yang memadai dan siap menghasilkan buah-buah terbaik. Tuhan mengajar mereka untuk menunggu dan bersabar sebelum menikmati hasil yang terbaik. Menunda hasil yang kecil demi mendapatkan hasil yang terbaik melatih kita bersabar dan mampu menahan diri dari godaan. Kita menolak kesenangan-kesenangan kecil yang berpotensi merusak hasil akhir yang kita harapkan. Kalau kita sabar mengelola hal-hal yang kecil dengan tujuan hal itu berkembang semakin besar, pada waktu yang tepat pasti kita menuai yang terbaik. MENUNDA MENIKMATI HASIL YANG KECIL MEMBUKA JALAN BAGI KITA UNTUK MENUAI HASIL YANG TERBAIK. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: 1 Samuel 1-3 & Roma 3.

Taswin Taruna – PT. Sayap Mas Utama, Jakarta
Selamat pagi... KEPERLUAN UTAMA KITA hari hari ini adalah DIRI KRISTUS. Kita semua mungkin sudah dilahirkan kembali, sudah dilahirulangkan. Tetapi tahukah kita bahwa kita harus terus hidup bukan menurut kelahiran pertama kita melainkan menurut kelahiran kedua kita? Kita seharusnya tidak hidup oleh hidup/hayat dari kelahiran pertama kita, tetapi oleh hidup/hayat dari kelahiran kedua kita. Kehidupan orang Kristen bukanlah soal agama, ajaran, doktrin, bentuk ibadah, atau peraturan, melainkan semata mata hanya soal diri KRISTUS! Ya. KRISTUS yang adalah Segala sesuatu kita/GerejaNya. Sebelum ditemui Kristus di jalan menuju Damsyik, Saulus tidak diragukan lagi adalah orang muda yang cerdas, agamawi, bergairah, dan kuat. Tetapi Kristus turun tangan, orang muda yang kuat ini menjadi lemah, buta, roboh, dan tidak berdaya. Kita perlu melihat Saulus dan membandingkan diri kita dengan dia. Seringkali kita menganggap diri kita sudah baik, pengetahuan Alkitab sudah baik, sudah melayani Tuhan, dan bergairah, tetapi sebenarnya kita baru mengenal Tuhan secara obyektif (luaran) dan mau berkat-berkat serta mukjizat-Nya saja, padahal Tuhan mau kita mengenal diri-Nya secara subyektif dan mengasihi Dia (Roma 8:28). Jiwa (pikiran, perasaan, kehendak juga alami/nature) kita juga perlu diremukkan & ditanggulangi oleh Tuhan, sehingga manusia alamiah kita bisa berguna dan Tuhan ada jalan untuk mengalir keluar dari dalam diri kita. Gambaran Saulus seharusnya menunjukkan kepada kita bahwa yang kita perlukan bukanlah agama dengan bentuk ibadahnya, ajarannya, dan pengetahuan, melainkan Realisasi Kristus yang hidup, yang adalah inti rencana kekal Allah. Hari demi hari kita memiliki dan memperhidupkan Dia di dalam kita, tetapi kita perlu visi dan wahyu yang lebih banyak tentang Dia. Kita harus mengejar Dia. Kita harus mengenal Dia lebih banyak lagi dan membiarkan Dia menduduki wilayah yang lebih luas di dalam roh & jiwa/batin Anda. Jangan perhatikan agama, berbagai kegiatan kekristenan, atau pekerjaan luaran kita. Itu semua adalah hal-hal keagamaan, yang tidak ada hubungannya dengan rencana Allah. Yang kita perlukan adalah pengenalan batiniah tentang Kristus, pengalaman batiniah atas Kristus. Yang kita perlukan adalah membuka diri kita mempersembahkan diri kita, menyerahkan diri kita terus menerus setiap saat kepada Tuhan dan membiarkan Dia memiliki tumpuan untuk membagikan / meleburkan Diri-Nya ke dalam kita hari demi hari. Biarkan Dia menggarapkan diri-Nya ke dalam kita dan melalui kita untuk menggenapkan rencana kekal Allah. Halleluya... Amin...

Bp. Peter – WCS
MISTERY OF A KISS Oleh: Peter B, MA. “Orang (Yudas Iskariot) yang menyerahkan Dia (Yesus) telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: “Orang yang akan kucium. Itulah Dia. Tangkaplah Dia dan bawalah Dia dengan selamat.” Dan ketika ia sampai di situ, ia segera maju mendapatkan Yesus dan berkata: “Rabi.” Lalu mencium Dia. “Maka kata Yesus kepadanya: “Hai teman, untuk itukah engkau datang?” (Mark. 14:44-45; Mat. 26:50). Adalah suatu pertanyaan besar bagi saya sewaktu berusaha memahami mengenai bagaimana Yudas Iskariot mengkhianati dan menyerahkan Yesus untuk dihukum mati. Yudas menyerahkan Yesus dengan cara yang sangat tidak lazim: dengan sebuah salam dan sebuah ciuman. Ciuman kepada Yesus, Guru dan Tuhannya itulah yang dijadikan petunjuk bagi para penangkap Yesus supaya tidak menangkap orang yang salah. Belakangan ini, ciuman Yudas dipakai secara luas sebagai kode bagi para bos mafia untuk menunjukkan kepada anak buahnya siapa yang harus dihabisi setelah ciuman itu. Seperti Yudas, ciuman mereka merupakan petunjuk bahwa siapa yang diciumnya, orang itulah yang harus mati. Inilah cara-cara iblis. Sungguh sangat keji dan licik. Ciuman adalah suatu tanda persahabatan dan keakraban. Seorang yang baru bertemu dan berkenalan tidak akan mungkin saling mencium. Hanya orang-orang yang memang punya hubungan (dekat) dengan kita sajalah yang dapat kita cium dan memberikan ciumannya. Tetapi ciuman Yudas mempunyai maksudnya sendiri. Yudas mencium dengan maksud yang tidak tulus. Ia mencium Yesus dengan maksud licik, yaitu untuk menghancurkan Yesus. Inilah ciuman penuh kemunafikan yang sangat berbahaya. Inilah ciuman yang sepertinya menunjukkan kedekatan dan keakraban tetapi sesungguhnya sangat mencelakakan. Cukup menarik apabila kita mengetahui bahwa yang dimaksud sebagai “penyembahan” dalam bahasa asli Alkitab bahasa Yunani adalah proskuneo. Kata itu memiliki arti yang sangat unik dan di luar dugaan. Mungkin kita berpikir ini merupakan kata yang indah, sehingga kemudian dapat diterjemahkan sebagai “penyembahan”; tetapi jika kita tahu arti kata proskuneo itu mungkin kita akan terkejut. Ijinkan saya memberitahukannya kepada Anda. Proskuneo artinya “sejenis ciuman, seperti anjing menjilat tangan tuannya”. Itulah artinya. Mungkin pertanyaan Anda sekarang adalah apa hubungannya itu dengan penyembahan? Jika kita melihat pada arti di atas, ada banyak aspek yang bisa dipelajari tentang penyembahan. Tetapi untuk saat ini kita akan berkonsentrasi pada satu arti saja, sesuai dengan tema renungan kita ini. Mari lihat kembali arti kata ‘penyembahan’ dalam bahasa aslinya tersebut. Penyembahan juga berarti suatu ciuman. Ini secara tidak langsung menunjukkan makna atau inti dari penyembahan: hubungan dekat atau keintiman. Ya, memang benar dalam penyembahan selalu ada unsur dan memang harus ada unsur hubungan dekat. Jika begitu apa hubungannya dengan Yudas Iskariot? Dalam drama penangkapan Yesus, jelas sekali Yudas menyerahkan Yesus dengan sebuah ciuman tanda kedekatan dan keakraban. Dengan kata lain, Yudas bersikap seolah-olah ia memberi salam dan memberi hormat kepada Yesus, tetapi sesungguhnya tidak demikian, jelas sekali bahwa Yudas adalah pengkhianat yang keji dan tidak tahu berterima kasih. Sikapnya sungguh keterlaluan dan memuakkan siapa saja yang membaca kisah ini. Jika diadakan angket dalam kelas, dapat diduga pastilah semua orang mengangkat tangan jika diajukan pertanyaan mengenai siapa yang tidak menyukai tokoh Yudas Iskariot. Dialah tokoh yang mungkin saja paling tidak disukai kalangan orang-orang kristen. Tetapi… tunggu dulu. Mungkinkah hanya Yudas Iskariot yang bersalah? Tidak adakah Yudas-Yudas di masa kini? Mari kita renungkan baik-baik. Yudas datang seakan-akan menghormati dan menyembah Tuhan tetapi hatinya tidak bermaksud demikian, ia memiliki maksud lain maksud yang jahat. Berapa banyakkah dari kita yang datang kepada Tuhan seolah-olah ‘mencium’ Dia tetapi di dalam hati kita sesungguhnya tidak bermaksud demikian? Berapa banyakkah dari kita yang sepertinya datang untuk menyembah Dia tetapi kemudian berbalik menyakiti Dia? Berapa banyakkah kita datang kepadaNya dengan gaya dan tingkah laku seorang penyembah tetapi hati kita tidak tulus mencari Dia? Berapa banyakkah dari kita yang seperti Yudas Iskariot… Mungkin ini perkataan-perkataan yang keras dan tidak enak didengar. Tetapi perlu diketahui bahwa penyembahan bukan perkara yang dapat diremehkan dan dijadikan alat permainan. Penyembahan kepada Allah harus murni dan sejati. Harus asli, bukan palsu. Harus tulus bukan munafik. Penyembahan yang sejati bukan hanya tampak dari luar. Tidak cukup hanya terdengarnya nyanyian pujian yang keluar dari mulut kita dan dari pelayanan yang sbuedang kita lakukan. Penyembahan sejati harus keluar dari hati: hati yang tulus mencari Dia, menghormati Dia, merindukan Dia dan mengasihi Dia. Yudas Iskariot menjadi teladan yang buruk dalam hal penyembahan. Sepanjang pelayanannya bersama Yesus, ia senantiasa berlaku munafik dan tidak jujur. Sebagai bendahara Yesus, ia korupsi tetapi ia menutupinya dengan sikap yang sangat munafik. Bahkan puncak kemunafikannya adalah saat ia menyerahkan Yesus dengan ciuman. Bagaimana perasaan Anda jika dikhianati dengan sebuah sikap yang terlihat manis padahal itu kepura-puraan belaka. Sangat sakit, Begitu sakit. Demikianlah sakitnya Tuhan kita, apabila kita datang ke hadapanNya dengan hati yang tidak tulus untuk menyembah Dia. Yesus mengetahui apa yang ada di hati Yudas. Oleh karena itu Ia terluka dan sangat sedih. HatiNya seringkali hancur karena kemunafikan kita. Seringkali pertanyaan Yesus kepada Yudas juga menjadi pertanyaanNya kepada kita. Saat kita datang menghampiri untuk menyembah Dia dengan hati yang tidak tulus dan maksud-maksud pribadi yang jahat, Ia akan bertanya, “…Untuk itukah kau datang?’” Ya, untuk tujuan apakah kita datang kepadaNya? (Bersambung)
http://worshipcenterindonesia.blogspot.co.id/2017/03/mistery-of-kiss.html

No comments:

Post a Comment