Friday, 9 September 2016

9 September 2016

SPIRITUAL GROWTH






Roma 5:1-5. Pembenaran adalah harta yang begitu bernilai sehingga Rasul Paulus menjabarkan 3 jenis berkat yang mengalir dari pembenaran itu. Pertama kita hidup dalam “Damai Sejahtera” dengan Allah karena keadilanNya (ayat 1). Kedua bukan saja kita memiliki ‘komunikasi‘ / ‘hubungan‘ dengan Allah yang bebas dari murka, tetapi kita juga beroleh jalan masuk pada suatu ‘hubungan‘/‘komunikasi‘ yang tanpa pamrih (1). Terakhir kita memiliki “pengharapan” yang pasti bahwa kelak kita akan menerima kemuliaan Allah (2), tidak hanya bersukacita dalam pengharapan, kita juga bersukacita dalam kesengsaraan. Mengapa? Sebab kesengsaraan menimbulkan ketekunan yang akan membentuk karakter yang tahan uji. Ketekunan ditengah penderitaan itu akan menunjukan Kesungguhan / Komitmen kita. Pengalaman seperti itu akan membawa kita kembali merindukan pengharapan kita itu akan digenapi pada akhirnya (4). Bagaimana kita yakin pengharapan kita akan digenapi? (5). Allah telah mencurahkan Roh Kudus yang mengingatkan kita tentang KASIH Allah & kasih Allah tidak akan membiarkan pengharapan anak-anak-Nya dikecewakan. Amin. Masihkah kita tetap menjaga KOMUNIKASI kita dengan DIA? Masihkah kita tekun & tahan uji bahwa ada pengharapan yang TIDAK PERNAH mengecewakan?

GNCC
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan (Amsal 4:23). Belajar dari Burung Merpati. Merpati adalah burung yang  tidak pernah mendua hati. Coba perhatikan, apakah ada merpati yang suka berganti pasangan? Jawabannya adalah “TIDAK”!! Pasangannya cukup 1 seumur hidupnya. Merpati adalah burung yang tahu kemana dia harus pulang. Betapapun merpati terbang jauh, dia tidak pernah tersesat untuk pulang. Pernahkah ada merpati yang pulang ke rumah lain? Jawabannya adalah “TIDAK”!! Merpati adalah burung yang romantis. Coba perhatikan ketika sang jantan bertalu-talu memberikan pujian, sementara sang betina tertunduk malu. Pernahkah kita melihat mereka saling bertengkar? Jawabannya adalah “TIDAK”!! Burung merpati tahu bagaimana pentingnya bekerja sama. Coba perhatikan ketika mereka bekerja sama membuat sarang. Sang jantan dan betina saling silih berganti membawa ranting untuk sarang anak-anak mereka. Apabila sang betina mengerami, sang jantan berjaga di luar kandang. Dan apabila sang betina kelelahan, sang jantan gantian mengerami. Pernahkah kita melihat mereka saling melempar pekerjaannya? Jawabannya adalah “TIDAK”!! Merpati adalah burung yang tidak mempunyai empedu, ia tidak menyimpan “KEPAHITAN” sehingga tidak menyimpan DENDAM!! Jika seekor burung merpati bisa melakukan hal-hal di atas, mengapa manusia tidak bisa?? Hidup itu indah jika kita saling MENGERTI, BERBAGI, dan MENGHARGAI!! Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya. *I Yohanes 4:18-19,21*.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Jumat, 9 September 2016. UTANG DAN PENGAMPUNAN. Ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami (Matius 6:12). Ini doa yang sulit! Dalam terjemahan versi New International Version (NIV), kata yang dipakai untuk “kesalahan” adalah debt, sedangkan frasa “orang-orang yang bersalah kepada kami” diterjemahkan our debtors. Nah, debt itu secara harfiah berarti utang. Jadi debtors adalah orang-orang yang berutang. Bila terjemahan NIV ini diikuti, ayat 12 jadi berbunyi, “Hapuskanlah utang kami, sama seperti kami menghapuskan utang semua orang yang berutang kepada kami.” Nah, bagaimana? Kita sering hanya mau menerima penghapusan utang, tetapi agak kurang senang menghapuskan utang orang. Apalagi kalau utang orang itu dapat kita manfaatkan sebagai senjata untuk “menguasai” dirinya. Demikian pula bila kita menerapkannya untuk dosa dan kesalahan. Kita cenderung lebih gampang meminta Tuhan mengampuni dosa dan kesalahan kita daripada kita sendiri bertindak seperti Tuhan. Kita perlu melihatnya dalam terang kemuliaan Allah. Tuhan Yesus hendak menyadarkan kita, bahwa mengampuni orang lain bukan terutama soal kehebatan pribadi, namun yang inti adalah soal memuliakan Tuhan. Bahkan konsekuensi timbangannya agak dibalik oleh Tuhan. Biasanya, kita mengampuni karena telah diampuni. Kali ini: Kita baru layak diampuni, dihapuskan “utang” kita, bila kita terlebih dahulu mengampuni dan menghapuskan “utang” orang lain. Berat? Ya. Memang tidak ringan. Tetapi di dalam hal yang tak gampang inilah justru terletak nilai kemuliaan Allah dalam hidup manusiawi kita --Daniel K. Listijabudi. TUHAN, AJARI KAMI UNTUK MENGAMPUNI SEBAGAIMANA KAMI INGIN DIAMPUNI. Selamat pagi. Happy Friday. Tuhan Yesus memberkati.

Xavier Quentin Pranata
“Cara maut menjemput kita bukan lewat nomor urut namun nomor cabut.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:

Post a Comment