SPIRITUAL GROWTH
Roma 5:1-5.
Pembenaran adalah harta yang begitu bernilai sehingga Rasul Paulus menjabarkan
3 jenis berkat yang mengalir dari pembenaran itu. Pertama kita hidup dalam
“Damai Sejahtera” dengan Allah karena keadilanNya (ayat 1). Kedua bukan saja
kita memiliki ‘komunikasi‘ / ‘hubungan‘ dengan Allah yang bebas dari murka,
tetapi kita juga beroleh jalan masuk pada suatu ‘hubungan‘/‘komunikasi‘ yang
tanpa pamrih (1). Terakhir kita memiliki “pengharapan” yang pasti bahwa kelak
kita akan menerima kemuliaan Allah (2), tidak hanya bersukacita dalam
pengharapan, kita juga bersukacita dalam kesengsaraan. Mengapa? Sebab
kesengsaraan menimbulkan ketekunan yang akan membentuk karakter yang tahan uji.
Ketekunan ditengah penderitaan itu akan menunjukan Kesungguhan / Komitmen kita.
Pengalaman seperti itu akan membawa kita kembali merindukan pengharapan kita
itu akan digenapi pada akhirnya (4). Bagaimana kita yakin pengharapan kita akan
digenapi? (5). Allah telah mencurahkan Roh Kudus yang mengingatkan kita tentang
KASIH Allah & kasih Allah tidak akan membiarkan pengharapan anak-anak-Nya
dikecewakan. Amin. Masihkah kita tetap menjaga KOMUNIKASI kita dengan DIA?
Masihkah kita tekun & tahan uji bahwa ada pengharapan yang TIDAK PERNAH
mengecewakan?
GNCC
Jagalah hatimu
dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan (Amsal
4:23). Belajar dari Burung Merpati. Merpati adalah burung yang tidak pernah mendua hati. Coba perhatikan,
apakah ada merpati yang suka berganti pasangan? Jawabannya adalah “TIDAK”!!
Pasangannya cukup 1 seumur hidupnya. Merpati adalah burung yang tahu kemana dia
harus pulang. Betapapun merpati terbang jauh, dia tidak pernah tersesat untuk
pulang. Pernahkah ada merpati yang pulang ke rumah lain? Jawabannya adalah
“TIDAK”!! Merpati adalah burung yang romantis. Coba perhatikan ketika sang
jantan bertalu-talu memberikan pujian, sementara sang betina tertunduk malu.
Pernahkah kita melihat mereka saling bertengkar? Jawabannya adalah “TIDAK”!!
Burung merpati tahu bagaimana pentingnya bekerja sama. Coba perhatikan ketika
mereka bekerja sama membuat sarang. Sang jantan dan betina saling silih
berganti membawa ranting untuk sarang anak-anak mereka. Apabila sang betina
mengerami, sang jantan berjaga di luar kandang. Dan apabila sang betina
kelelahan, sang jantan gantian mengerami. Pernahkah kita melihat mereka saling
melempar pekerjaannya? Jawabannya adalah “TIDAK”!! Merpati adalah burung yang
tidak mempunyai empedu, ia tidak menyimpan “KEPAHITAN” sehingga tidak menyimpan
DENDAM!! Jika seekor burung merpati bisa melakukan hal-hal di atas, mengapa
manusia tidak bisa?? Hidup itu indah jika kita saling MENGERTI, BERBAGI, dan
MENGHARGAI!! Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna
melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa
takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. Kita mengasihi, karena Allah lebih
dahulu mengasihi kita. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa
mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya. *I Yohanes 4:18-19,21*.
Madam
Ossy
SAAT TEDUH. Jumat,
9 September 2016. UTANG DAN PENGAMPUNAN. Ampunilah kami dari kesalahan kami,
seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami (Matius 6:12). Ini
doa yang sulit! Dalam terjemahan versi New International Version (NIV), kata
yang dipakai untuk “kesalahan” adalah debt, sedangkan frasa “orang-orang yang
bersalah kepada kami” diterjemahkan our debtors. Nah, debt itu secara harfiah
berarti utang. Jadi debtors adalah orang-orang yang berutang. Bila terjemahan
NIV ini diikuti, ayat 12 jadi berbunyi, “Hapuskanlah utang kami, sama seperti
kami menghapuskan utang semua orang yang berutang kepada kami.” Nah, bagaimana?
Kita sering hanya mau menerima penghapusan utang, tetapi agak kurang senang
menghapuskan utang orang. Apalagi kalau utang orang itu dapat kita manfaatkan
sebagai senjata untuk “menguasai” dirinya. Demikian pula bila kita
menerapkannya untuk dosa dan kesalahan. Kita cenderung lebih gampang meminta
Tuhan mengampuni dosa dan kesalahan kita daripada kita sendiri bertindak
seperti Tuhan. Kita perlu melihatnya dalam terang kemuliaan Allah. Tuhan Yesus
hendak menyadarkan kita, bahwa mengampuni orang lain bukan terutama soal
kehebatan pribadi, namun yang inti adalah soal memuliakan Tuhan. Bahkan
konsekuensi timbangannya agak dibalik oleh Tuhan. Biasanya, kita mengampuni
karena telah diampuni. Kali ini: Kita baru layak diampuni, dihapuskan “utang”
kita, bila kita terlebih dahulu mengampuni dan menghapuskan “utang” orang lain.
Berat? Ya. Memang tidak ringan. Tetapi di dalam hal yang tak gampang inilah
justru terletak nilai kemuliaan Allah dalam hidup manusiawi kita --Daniel K.
Listijabudi. TUHAN, AJARI KAMI UNTUK MENGAMPUNI SEBAGAIMANA KAMI INGIN
DIAMPUNI. Selamat pagi. Happy Friday. Tuhan Yesus memberkati.
Xavier
Quentin Pranata
“Cara maut
menjemput kita bukan lewat nomor urut namun nomor cabut.” Xavier Quentin
Pranata.

No comments:
Post a Comment