SPIRITUAL GROWTH
Menjaga Lidah.
Nasihat untuk menjaga lidah/perkataan dengan baik mungkin sudah sering kita
dengar, Rasul Yakobus dalam suratnya juga menulis tentang hal yang penting ini:
Yakobus 3:9-10, “9Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan
dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, 10Dari
mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak
boleh demikian terjadi.” Pada pasal sebelumnya, Yakobus berbicara tentang
perbuatan yang lahir dari Iman. Salah satu cara orang dapat melihat iman kita
adalah melalui tutur kata kita. Menyandang status anak Tuhan tidak serta
merta membuat kita bisa bertutur kata dengan sempurna. Situasi seringkali
menggoda kita untuk mengeluarkan perkataan yang menyakitkan, menyerang, bahkan
mengutuki orang lain. Seringkali kita bahkan tidak berpikir panjang saat bicara.
Rasul Yakobus mengingatkan kita bahwa perkataan kita bisa seperti api betapapun
kecilnya, bisa membakar hutan yang besar (Yak 3:5-6). Betapa kita perlu
behati-hati, ucapan yang menurut kita sepele bisa bisa jadi membekas kan luka
yang dalam atau memicu pertengkaran yang besar. Sebaliknya ucapan yang
membangun juga bisa membuat orang lain semangatnya kembali pulih. Tidak hanya
orang lain yang kena dampaknya, kita sendiri pun akan menuai akibat dari
perkataan kita. Amsal 18:21, “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka
menggemakannya, akan memakan buahnya.” Menjaga perkataan kita mungkin
tampaknya sederhana, namun bukankah kita diminta untuk setia mulai dari
perkara-perkara kecil? Perkataan kita sehari-hari dapat menjadi kesaksian yang
indah tentang kasih Allah, yang sudah kita alami. Menjadi petunjuk tentang iman
dan pengharapan yang kita miliki didalam Kristus. Penting untuk selalu mengisi
hati & pikiran kita, dengan Firman Tuhan serta meminta pimpinan Roh Kudus
setiap hari, sama seperti mata air asin akan memgeluarkan air asin dan pohon
anggur akan menghasilkan buah anggur (Yak 3:12). Begitu juga hati yang dipenuhi
Firman Tuhan akan mengeluarkan perkataan yang sejalan dengan Firman Tuhan.
Amin.
Xavier
Quentin Pranata
“Di negara yang
tidak ada kepastian hukum korban bisa jadi terdakwa.” Xavier Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT TEDUH.
Selasa, 6 September 2016. TAK PERNAH GAGAL. Aku tahu, bahwa Engkau sanggup
melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal (Ayub 42:2). Di
sebuah mal, saya melihat seorang anak merengek minta dibelikan mainan. Ibunya
acuh tak acuh meskipun anak itu terus menarik-narik baju ibunya. Karena tak
diladeni, anak itu berpaling merayu ayahnya. Kita pun sering berlaku demikian.
Ketika keinginan kita tidak dikabulkan, kita akan mencari orang terdekat
lainnya untuk memenuhi keinginan itu. Dan, kita menganggap pengabulan
permintaan kita sebagai bentuk kasih orang itu. Pola yang sama kita pakai untuk
menggambarkan relasi kita dengan Tuhan. Ketika Tuhan mengabulkan permintaan kita,
kita menganggap Tuhan Maha Pengasih. Sebaliknya, ketika Tuhan menolak
permintaan kita, kita beranggapan Tuhan begitu kejam. Pola relasi kita dengan
sesama manusia kita kenakan pada Tuhan. Kita menuntut pertanggungjawaban Tuhan
dan memaksa Tuhan memberikan penjelasan yang dapat dipahami logika atas semua
persoalan yang menimpa kita. Padahal, Tuhan berhak memberikan jawaban sesuai
dengan cara waktu-Nya atau tidak menjawab sama sekali. Maka, tidak mengherankan
ketika datang masalah, kita gampang menyerah, cengeng, hilang harapan, lalu
protes, dan menjauhi Tuhan. Berbeda dengan Ayub yang mengerti tentang konsep
ketaatan pada Tuhan dan menjalankannya. Tuhan memberi ujian pada Ayub karena
Tuhan tahu batas kemampuan Ayub dan yakin Ayub tidak akan menyangkali-Nya.
Terbukti, Ayub berhasil menjalani ujian iman tersebut. Jadilah seperti Ayub
yang taat dan mengimani bahwa Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu dan tidak
pernah gagal --Jacqualine Bunga. KETIKA KITA MENYAMAKAN SIKAP TUHAN DENGAN
SIKAP MANUSIA, KITA AKAN MENJADI KECEWA KARENA TIDAK MEMAHAMI KARAKTER SEJATI
TUHAN. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:
Post a Comment