Wednesday, 14 September 2016

14 September 2016

SPIRITUAL GROWTH






Menanggalkan Kesombongan = Rendah Hati. Yakobus menulis: “Karena itu Ia katakan: ‘Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati‘” (Yak 4:16b). Kita menerima KASIH KARUNIA Allah ketika kita mengakui kebesaran Allah yang merendahkan diriNya sendiri dikayu salib (Filipi 2:5-11). Ketika Yesus dan murid-muridNya berkumpul untuk mengadakan perjamuan terakhir (Yoh 13:1-20). Yesus dalam SIKAP RENDAH HATI sebagai hamba, membasuh kaki murid-muridNya. Namun Simon Petrus sampai menolak dan berkata (Yoh 13:8) “Kata Petrus kepada-Nya: ‘Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.‘ Jawab Yesus: ‘Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.‘” Membasuh kaki para murid bukan sebuah ritual belaka.Perbuatan ini menggambarkan akan kebutuhan kita akan pengudusan oleh Kristus. Sebuah “pengudusan” yang tidak akan pernah kita alami kecuali kita bersedia MERENDAHKan HATI dihadapan Juruselamat. Amin.

Tante Elisabeth – NTT
Ya amin! Filipi 3:10. Musa mengenal Allah, melalui Musa hingga bangsanya diberkati Tuhan, maka Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan mereka. Sama juga dengan kita, bila kita  lebih intim dengan Tuhan, dan sungguh-sungguh dengan hati yang mendalam maka Allah melalui kita, akan melihat bangsa kita, keluarga kita semua. Keluaran 3:1-10. Ayat 1 ‘Sampailah Musa ke gunung Allah, yaitu gunung Horeb.‘ Ayat 2 ‘Lalu malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api‘. Ayat 5 lalu Ia berfirman: ‘Janganlah datang dekat-dekat tanggalkanlah kasutmu dari kakimu sebab tempat, dimana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.‘ Ayat 7 ‘Dan Tuhan berfirman: ‘Aku telah memperhatikan dengan sungguh-sungguh kesengsaraan umatKu di tanah Mesir; dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka.‘ Keluaran 17:10-16 Musa mendirikan sebuah mesbah dan menainya: Tuhanlah panji-panji-Ku. Banyaklah mujizat yang Tuhan berikan kepada tokoh-tokoh rohani, sama juga kita sekarang kita juga bisa menyatakan mujizat-mujizat bila kita selalu dekat padaNya dan datang dihadapanNya menyembah berdoa dalam roh dan kebenaran, sebab waktu kita  dibabtis dan percaya Yesus, kekekalan sudah diberikan kepada kita, bukan nanti setelah meninggal dunia tapi sekarang. OtoritasNya telah diberikan kepada kita umat kesayangan-Nya. Amin... Selamat pagi, selamat berkarya bersama Tuhan Yesus. Jbu all.

Ibu Caroline – Bandung
Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal (2 Korintus 4:18). Hidup ini adalah suatu pilihan, setiap manusia dihadapkan pd pilihan, mau mengikut dunia yang fana atau surga yang kekal. Anehnya hampir semua orang memilih surga kekal, tetapi faktanya mereka hidup untuk memuaskan keinginan duniawinya. Pengkhotbah pd awal, menuliskan bahwa segala sesuatu adalah sia-sia, tetapi pada kata-kata akhirnya, Pengkhotbah menyadari bahwa takut akan Tuhan, membuat manusia tidak sia-sia, melainkan mendapatkan kekekalan. Sebuah lagu pujian mengatakan, “Tiada yang kekal, tiada yang kekal, kemuliaan, kekayaan lalu, hanyalah satu kehidupan kekal, yang dibri Yesus Juruslamat kita”. Begitu banyak orang yang bekerja keras dari muda agar memperoleh kenikmatan hidup, melupakan keluarganya, tidak peduli dengan kesehatannya, pada masa tuanya, hasil yang didapat selama ini banyak dikeluarkan untuk biaya pengobatan, hidupnya tidak bahagia, dan kosong sia-sia. Alkitab berkata, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakannya dan pencuri membongkar serta mencurinya, tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” Demi memperoleh harta dunia yang sifatnya sementara saja, banyak orang mau melakukan apa saja dan mau membayar harga, seharusnya juga demikian bahkan lebih lagi dalam mengejar harta rohani yang jauh lebih bernilai dan bersifat kekal. Memang tidak salah untuk bekerja keras, mengumpulkan harta di dunia, namun kita harus lebih lagi mengumpulkan harta di sorga, Paulus mengambil kesimpulan bahwa yang kelihatan adalah sementara, sedang yang tidak kelihatan adalah kekal. Jangan tergiur akan harta dan nikmat duniawi semata, karena kita tak dapat membawanya kelak. Kumpulkanlah juga bekal untuk kehidupan kekal nanti. yang mana akan tetap kekal terbawa oleh kita. Tuhan Yesus memberkati.

Xavier Quentin Pranata
“Ketidaksukaan kita terhadap sifat orang lain seringkali merupakan pencerminan sifat kita sendiri.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Rabu, 14 September 2016. TAK MENONJOLKAN DIRI. Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu, “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa daripada aku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” (Lukas 3:16). Saya ingin populer dan dikenal banyak orang. Karena itu saya sering memperkenalkan diri sebagai seorang penulis dengan pencapaian yang sudah saya raih. Tetapi, setiap saya selesai melakukannya ada rasa tertuduh. Kadang-kadang saya jadi malu sendiri dan menanggung rasa bersalah yang mendalam. Lalu, saya memutuskan untuk tidak melakukannya, tetapi masih juga terjebak dan jatuh ke dalam lubang yang sama. Itulah kecenderungan kita sebagai manusia. Selalu ingin menonjolkan diri, populer, dan diakui banyak orang. Karena itu, kita perlu belajar dari Yohanes Pembaptis. Ia begitu populer hingga banyak orang berbondong-bondong datang kepadanya untuk dibaptis. Orang banyak menyangka bahwa dialah Mesias. Ia disanjung dan dikagumi oleh banyak orang. Kebesarannya juga diakui oleh Yesus, “Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis” (Mat 11:11). Namun, lihatlah respons Yohanes, “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” Yohanes sebenarnya punya kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari kepopulerannya itu. Tetapi, ia justru melakukan yang sebaliknya. Ia memandang dirinya lebih rendah dari budak yang paling rendah--budak bukan Yahudi. Hanya budak bukan Yahudi yang disuruh membuka tali kasut tuannya. Lalu, kita yang tidak sebesar Yohanes, layakkah kita menonjolkan diri? --Piter Randan Bua. MENONJOLKAN DIRI TAK AKAN MEMBAWA KITA PADA KEMULIAAN, MELAINKAN AKAN MENGUBURKAN KITA DALAM KETERASINGAN. SELAMAT PAGI. Semangat selalu. Bersyukur selalu. TUHAN YESUS MEMBERKATI.

GNCC
Selamat pagi... Ayub 5:2 “Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal dimatikan oleh iri hati. Love one another!!!” #gncc

No comments:

Post a Comment