SPIRITUAL GROWTH
Menanggalkan
Kesombongan = Rendah Hati. Yakobus menulis: “Karena itu Ia
katakan: ‘Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang
rendah hati‘” (Yak 4:16b). Kita menerima KASIH KARUNIA Allah ketika kita
mengakui kebesaran Allah yang merendahkan diriNya sendiri dikayu salib (Filipi
2:5-11). Ketika Yesus dan murid-muridNya berkumpul untuk mengadakan perjamuan
terakhir (Yoh 13:1-20). Yesus dalam SIKAP RENDAH HATI sebagai hamba, membasuh
kaki murid-muridNya. Namun Simon Petrus sampai menolak dan berkata (Yoh 13:8) “Kata
Petrus kepada-Nya: ‘Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.‘
Jawab Yesus: ‘Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian
dalam Aku.‘” Membasuh kaki para murid bukan sebuah ritual belaka.Perbuatan
ini menggambarkan akan kebutuhan kita akan pengudusan oleh Kristus. Sebuah
“pengudusan” yang tidak akan pernah kita alami kecuali kita bersedia
MERENDAHKan HATI dihadapan Juruselamat. Amin.
Tante
Elisabeth – NTT
Ya amin! Filipi
3:10. Musa mengenal Allah, melalui Musa hingga bangsanya diberkati Tuhan, maka
Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan mereka. Sama juga
dengan kita, bila kita lebih intim
dengan Tuhan, dan sungguh-sungguh dengan hati yang mendalam maka Allah melalui
kita, akan melihat bangsa kita, keluarga kita semua. Keluaran 3:1-10. Ayat 1
‘Sampailah Musa ke gunung Allah, yaitu gunung Horeb.‘ Ayat 2 ‘Lalu malaikat Tuhan
menampakkan diri kepadanya dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia
melihat, dan tampaklah semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api‘. Ayat
5 lalu Ia berfirman: ‘Janganlah datang dekat-dekat tanggalkanlah kasutmu dari
kakimu sebab tempat, dimana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.‘ Ayat
7 ‘Dan Tuhan berfirman: ‘Aku telah memperhatikan dengan sungguh-sungguh
kesengsaraan umatKu di tanah Mesir; dan Aku telah mendengar seruan mereka yang
disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan
mereka.‘ Keluaran 17:10-16 Musa mendirikan sebuah mesbah dan menainya: Tuhanlah
panji-panji-Ku. Banyaklah mujizat yang Tuhan berikan kepada tokoh-tokoh rohani,
sama juga kita sekarang kita juga bisa menyatakan mujizat-mujizat bila kita
selalu dekat padaNya dan datang dihadapanNya menyembah berdoa dalam roh dan
kebenaran, sebab waktu kita dibabtis dan
percaya Yesus, kekekalan sudah diberikan kepada kita, bukan nanti setelah
meninggal dunia tapi sekarang. OtoritasNya telah diberikan kepada kita umat
kesayangan-Nya. Amin... Selamat pagi, selamat berkarya bersama Tuhan Yesus. Jbu
all.
Ibu
Caroline – Bandung
Sebab kami tidak
memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang
kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal (2
Korintus 4:18). Hidup ini adalah suatu pilihan, setiap manusia dihadapkan pd
pilihan, mau mengikut dunia yang fana atau surga yang kekal. Anehnya hampir
semua orang memilih surga kekal, tetapi faktanya mereka hidup untuk memuaskan
keinginan duniawinya. Pengkhotbah pd awal, menuliskan bahwa segala sesuatu
adalah sia-sia, tetapi pada kata-kata akhirnya, Pengkhotbah menyadari bahwa
takut akan Tuhan, membuat manusia tidak sia-sia, melainkan mendapatkan
kekekalan. Sebuah lagu pujian mengatakan, “Tiada yang kekal, tiada yang kekal,
kemuliaan, kekayaan lalu, hanyalah satu kehidupan kekal, yang dibri Yesus
Juruslamat kita”. Begitu banyak orang yang bekerja keras dari muda agar
memperoleh kenikmatan hidup, melupakan keluarganya, tidak peduli dengan
kesehatannya, pada masa tuanya, hasil yang didapat selama ini banyak
dikeluarkan untuk biaya pengobatan, hidupnya tidak bahagia, dan kosong sia-sia.
Alkitab berkata, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat
dan karat merusakannya dan pencuri membongkar serta mencurinya, tetapi
kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak
merusakannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” Demi memperoleh
harta dunia yang sifatnya sementara saja, banyak orang mau melakukan apa saja
dan mau membayar harga, seharusnya juga demikian bahkan lebih lagi dalam
mengejar harta rohani yang jauh lebih bernilai dan bersifat kekal. Memang tidak
salah untuk bekerja keras, mengumpulkan harta di dunia, namun kita harus lebih
lagi mengumpulkan harta di sorga, Paulus mengambil kesimpulan bahwa yang
kelihatan adalah sementara, sedang yang tidak kelihatan adalah kekal. Jangan
tergiur akan harta dan nikmat duniawi semata, karena kita tak dapat membawanya
kelak. Kumpulkanlah juga bekal untuk kehidupan kekal nanti. yang mana akan
tetap kekal terbawa oleh kita. Tuhan Yesus memberkati.
Xavier
Quentin Pranata
“Ketidaksukaan
kita terhadap sifat orang lain seringkali merupakan pencerminan sifat kita
sendiri.” Xavier Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT TEDUH.
Rabu, 14 September 2016. TAK MENONJOLKAN DIRI. Yohanes menjawab dan berkata
kepada semua orang itu, “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih
berkuasa daripada aku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.
Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” (Lukas 3:16). Saya
ingin populer dan dikenal banyak orang. Karena itu saya sering memperkenalkan
diri sebagai seorang penulis dengan pencapaian yang sudah saya raih. Tetapi,
setiap saya selesai melakukannya ada rasa tertuduh. Kadang-kadang saya jadi
malu sendiri dan menanggung rasa bersalah yang mendalam. Lalu, saya memutuskan
untuk tidak melakukannya, tetapi masih juga terjebak dan jatuh ke dalam lubang
yang sama. Itulah kecenderungan kita sebagai manusia. Selalu ingin menonjolkan
diri, populer, dan diakui banyak orang. Karena itu, kita perlu belajar dari
Yohanes Pembaptis. Ia begitu populer hingga banyak orang berbondong-bondong
datang kepadanya untuk dibaptis. Orang banyak menyangka bahwa dialah Mesias. Ia
disanjung dan dikagumi oleh banyak orang. Kebesarannya juga diakui oleh Yesus,
“Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang
yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis” (Mat 11:11). Namun, lihatlah
respons Yohanes, “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa
dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.”
Yohanes sebenarnya punya kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari
kepopulerannya itu. Tetapi, ia justru melakukan yang sebaliknya. Ia memandang
dirinya lebih rendah dari budak yang paling rendah--budak bukan Yahudi. Hanya
budak bukan Yahudi yang disuruh membuka tali kasut tuannya. Lalu, kita yang
tidak sebesar Yohanes, layakkah kita menonjolkan diri? --Piter Randan Bua.
MENONJOLKAN DIRI TAK AKAN MEMBAWA KITA PADA KEMULIAAN, MELAINKAN AKAN
MENGUBURKAN KITA DALAM KETERASINGAN. SELAMAT PAGI. Semangat selalu. Bersyukur
selalu. TUHAN YESUS MEMBERKATI.
GNCC
Selamat pagi...
Ayub 5:2 “Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal
dimatikan oleh iri hati. Love one another!!!” #gncc

No comments:
Post a Comment