SPIRITUAL GROWTH
I Live For You (Yohanes 3:13-17 & Kis 20:22-24). Roma 8:14, “Sebab jika kita
hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi
baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.” Ketika kita memberi Yesus
tempat tertinggi dan terhormat dalam setiap aspek hidup kita, “kebenaran”
itu menjadi nyata bagi orang-orang yang
berada disekitar kita. Dalam pekerjaan apakah kita bekerja terutama
untuk Tuhan, ataukah hanya untuk menyenangkan orang yang mempekerjakan kita? Jadikan
Dia Pribadi yang paling berpengaruh diatas seluruh hidup kita. DIA layak
bertahta didalam hidup kita, karena DIA-lah Sang Pemilik hidup kita. Apakah kita
mengutamakan Tuhan dalam hidup kita sehari-hari?
Bp. Budi – PT. Multipack Unggul
Jangan ribut sama siapapun. Jika
ribut dengan kawan, walau menangpun kita akan kehilangan sahabat. Jika ribut
dengan keluarga walau menangpun hubungan tetap jadi renggang. Jika ribut dengan
pasangan walau menangpun perasaan sayang pasti berkurang. Roma 12:18 –
Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian
dengan semua orang! Sesungguhnya kedamaian dirindukan semua orang, tapi kenapa
kenyataannya sering kali bukan damai yang kita dapatkan tapi keributan dan
pertengkaran. Bila saja kita bisa lebih mengekang diri, menjaga tutur kata agar
lebih baik kita pasti akan lebih enjoy dalam menjalani hidup ini. Walau seribu
maaf kita lontarkan belum tentu bisa menghapus satu ucapan salah yang pernah
melukai orang lain, sebab ucapan apapun yang sudah terlontar tidak akan
pernah bisa diitarik kembali. Mari kita
berubah mulai sekarang juga, berdamailah dengan semua orang, hindari
pertengkaran, sesungguhnya hidup ini indah.
Xavier Quentin Pranata
“Seindah-indahnya kenangan lama,
masih lebih berharga menciptakan hal-hal baru yang akan kita kenang.” Xavier
Quentin Pranata.
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Jumat, 30 September
2016. KISAH TENTANG RUMAH. ...pilihlah pada hari ini... (Yosua 24:15b).
Sepasang suami-istri muda meminta saya singgah di rumah mereka untuk berdoa
bagi rumah dan keluarga mereka. Di ruang tamu yang bersahaja, pasangan itu
bergantian menceritakan bagaimana mereka akhirnya mendapatkan rumah. Kisah mereka
ternyata penuh kerikil tajam sehingga si istri menuturkannya dengan berurai air
mata. Semua rumah, juga rumah kita, pastilah mempunyai kisah. Sebagian
kisahnya--bahan-bahannya, arsitekturnya, pembangunannya--mungkin ditulis oleh
orang lain. Tetapi, kisah-kisah yang terpenting--bagaimana kita berelasi dengan
istri, suami, anak-anak, orang tua, mertua, pembantu, tetangga--kita sendirilah
yang menulisnya. Umat Tuhan segera memasuki 'rumah baru' mereka: Kanaan. Di
'rumah baru' itu, umat Tuhan harus menuliskan sendiri kisah-kisah mereka. Pada
saat yang menentukan itulah, Yosua mengingatkan, “Pilihlah pada hari ini kepada
siapa kamu akan beribadah” (Yosua 24:15). Sangat jelas, pilihan tersebut mutlak
menentukan kisah macam apa yang akan mereka tulis. Kita semua juga telah dan
masih akan terus menuliskan kisah rumah kita. Itu tak mungkin dihindari.
Pertanyaannya: kisah-kisah apa yang kita pilih untuk kita tulis? Kisah
memilukan yang membuat pembacanya terhanyut berurai air mata? Kisah egois yang
membuat sesama yang melihat mengernyitkan kening atau mengertakkan gigi? Betapa
indah seandainya yang kita tuliskan adalah kisah mesra penuh cinta saling
menopang saling menguatkan. Kisah yang membuat orang turut merasakan keindahan
dan kehangatan. SEBUAH RUMAH AKAN MELAHIRKAN KISAH-KISAH INDAH KALA PARA
PENGHUNI MEMBANGUNNYA DENGAN HATI PENUH CINTA. Selamat pagi. Tuhan Yesus
memberkati.
GNCC
Kenikmatan dosa hanya dapat
dikalahkan ketika kita dapat menikmati kenikmatan bersama Tuhan. #gncc
#morningall #Godblessyou

No comments:
Post a Comment