Friday, 30 September 2016

30 September 2016

SPIRITUAL GROWTH






I Live For You (Yohanes 3:13-17 & Kis 20:22-24). Roma 8:14, “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.” Ketika kita memberi Yesus tempat tertinggi dan terhormat dalam setiap aspek hidup kita, “kebenaran” itu  menjadi nyata bagi orang-orang yang berada disekitar kita. Dalam pekerjaan apakah kita bekerja terutama untuk Tuhan, ataukah hanya untuk menyenangkan orang yang mempekerjakan kita? Jadikan Dia Pribadi yang paling berpengaruh diatas seluruh hidup kita. DIA layak bertahta didalam hidup kita, karena DIA-lah Sang Pemilik hidup kita. Apakah kita mengutamakan Tuhan dalam hidup kita sehari-hari?

Bp. Budi – PT. Multipack Unggul
Jangan ribut sama siapapun. Jika ribut dengan kawan, walau menangpun kita akan kehilangan sahabat. Jika ribut dengan keluarga walau menangpun hubungan tetap jadi renggang. Jika ribut dengan pasangan walau menangpun perasaan sayang pasti berkurang. Roma 12:18 – Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Sesungguhnya kedamaian dirindukan semua orang, tapi kenapa kenyataannya sering kali bukan damai yang kita dapatkan tapi keributan dan pertengkaran. Bila saja kita bisa lebih mengekang diri, menjaga tutur kata agar lebih baik kita pasti akan lebih enjoy dalam menjalani hidup ini. Walau seribu maaf kita lontarkan belum tentu bisa menghapus satu ucapan salah yang pernah melukai orang lain, sebab ucapan apapun yang sudah terlontar tidak akan pernah  bisa diitarik kembali. Mari kita berubah mulai sekarang juga, berdamailah dengan semua orang, hindari pertengkaran, sesungguhnya hidup ini indah.

Xavier Quentin Pranata
“Seindah-indahnya kenangan lama, masih lebih berharga menciptakan hal-hal baru yang akan kita kenang.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Jumat, 30 September 2016. KISAH TENTANG RUMAH. ...pilihlah pada hari ini... (Yosua 24:15b). Sepasang suami-istri muda meminta saya singgah di rumah mereka untuk berdoa bagi rumah dan keluarga mereka. Di ruang tamu yang bersahaja, pasangan itu bergantian menceritakan bagaimana mereka akhirnya mendapatkan rumah. Kisah mereka ternyata penuh kerikil tajam sehingga si istri menuturkannya dengan berurai air mata. Semua rumah, juga rumah kita, pastilah mempunyai kisah. Sebagian kisahnya--bahan-bahannya, arsitekturnya, pembangunannya--mungkin ditulis oleh orang lain. Tetapi, kisah-kisah yang terpenting--bagaimana kita berelasi dengan istri, suami, anak-anak, orang tua, mertua, pembantu, tetangga--kita sendirilah yang menulisnya. Umat Tuhan segera memasuki 'rumah baru' mereka: Kanaan. Di 'rumah baru' itu, umat Tuhan harus menuliskan sendiri kisah-kisah mereka. Pada saat yang menentukan itulah, Yosua mengingatkan, “Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah” (Yosua 24:15). Sangat jelas, pilihan tersebut mutlak menentukan kisah macam apa yang akan mereka tulis. Kita semua juga telah dan masih akan terus menuliskan kisah rumah kita. Itu tak mungkin dihindari. Pertanyaannya: kisah-kisah apa yang kita pilih untuk kita tulis? Kisah memilukan yang membuat pembacanya terhanyut berurai air mata? Kisah egois yang membuat sesama yang melihat mengernyitkan kening atau mengertakkan gigi? Betapa indah seandainya yang kita tuliskan adalah kisah mesra penuh cinta saling menopang saling menguatkan. Kisah yang membuat orang turut merasakan keindahan dan kehangatan. SEBUAH RUMAH AKAN MELAHIRKAN KISAH-KISAH INDAH KALA PARA PENGHUNI MEMBANGUNNYA DENGAN HATI PENUH CINTA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.

GNCC
Kenikmatan dosa hanya dapat dikalahkan ketika kita dapat menikmati kenikmatan bersama Tuhan. #gncc #morningall #Godblessyou

No comments:

Post a Comment