Thursday, 22 September 2016

22 September 2016

SPIRITUAL GROWTH






Kis 9:1-31. Penglihatan Saulus saat menuju Damsyik mengubahnya menjadi orang percaya, tetapi banyak orang yang tidak percaya pada pertobatannya tersebut. Mereka curiga apa yang dilakukan Saulus adalah akan menganiaya jemaat lebih banyak lagi. Namun kecurigaan itu ditolak oleh Barnabas, Ia percaya akan Pertobatan Saulus dan Barnabas membimbing Saulus hingga Ia menjadi seorang Penginjil yang hebat. Pertobatan seseorang itu pasti karena ada “orang lain” yang mensupport (memberikan semangat) seperti halnya Barnabas memberikan kepercayaan kepada Saulus, sehingga dapat berdampak pada kehidupan banyak orang. Adakah kita menjadi seperti “Barnabas” yang memberikan semangat untuk Saulus mengalami PERTUMBUHAN SPIRITUAL, yang berani mengambil resiko, yang tidak mematahkan semangat orang lain untuk diubahkan/ BERTUMBUH MAKSIMAL?? Amin.

Ibu Caroline – Bandung
Kamis, 22 September 2016. Bacaan: Kejadian 24: 10-21. Setahun: Amos 1-5. Nas: Setelah ia selesai memberi hamba itu minum, berkatalah ia, ‘Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum‘” (Kejadian 24:19). Ruang bagi Sesama. Ribka hendak mengambil air untuk keluarganya. Itu kepentingan mendesak yang harus segera dipenuhi. Hari sudah sore, jadi tak banyak lagi waktu yang tersedia. Tetapi, ketika dilihatnya seseorang kehausan, ditundanya kepentingannya sendiri, didahulukannya kepentingan sesama, meskipun orang itu orang asing, meskipun tindakan itu menguras tenaganya. Dengan tulus, Ribka memberi minum orang asing itu, juga unta-untanya, “sampai semuanya puas minum” (ay. 19). Apakah yang kita lihat di sini? Sosok yang selalu ikhlas memberikan diri bagi kepentingan sesama meskipun realisasinya harus dengan bersusah payah dan mengurbankan kepentingan sendiri. Pertanyaan kita: faktor apakah yang membuat Ribka menjadi pribadi seperti itu? Salah satunya adalah kesediaan Ribka untuk menyediakan “ruang di hati bagi sesama”. Di hatinya, Ribka tentu memerlukan ruang untuk dirinya sendiri. Tetapi, di hatinya, Ribka selalu menyediakan ruang yang luas bagi sesamanya. Bahkan, sebagaimana dikisahkan di atas, Ribka siap mengurangi ruang bagi dirinya sendiri agar dapat memberi ruang lebih luas bagi sesamanya. Ruang bagi sesama, itulah kuncinya. Karena ada "ruang bagi sesama" di hati Ribka, hamba Abraham dan semua untanya tak perlu kehausan. Andaikata ada “ruang bagi sesama” di dalam tiap hati, tak ada sesama yang terabaikan, tak ada kaum duafa yang melata tak terbantu, tak ada keluh-kesah yang tidak didengarkan, tak ada kemarau cinta --Eko Elliarso. ANDAIKATA DI TIAP HATI TERSEDIA RUANG CUKUP LUAS BAGI SESAMA, DUNIA INI MENJADI SURGAWI.

Xavier Quentin Pranata
“Orang yang paling kita percayai justru bisa menjadi orang yang berpotensi untuk menipu kita.” Xavier Quentin Pranata.

Bp. Budi – PT. Multipack Unggul
Kesucian adalah mahkota dari semua atribut-Nya, inti kehidupan dari semua ketetapan-Nya, dan kegemilangan dari semua tindakan-Nya. Tidak ada ketetapan maupun tindakan-Nya yang tidak sejalan dengan, atau terlepas dari keindahan kesucian-Nya >Stephen Charnock<. Ibrani 12:14 – Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. Allah adalah kudus, kekudusanNya begitu indah dan mulia, wibawa kesucianNya begitu sakral sehingga setitik nodapun tidak akan bisa datang menghampiriNya... Jika kita ingin berjalan dan hidup didalam Dia, pastikan kita memiliki kekudusan, sebab tanpa itu Dia tidak akan pernah hadir dalam hidup kita. Hidup tanpa pernyertaan Tuhan kita akan terombang ambing seperti kapal ditengah badai, kita akan kehilangan arah dan tujuan. Jadi berusahalah hidup kudus agar hadiratNya menaungi kita selama lamanya.

No comments:

Post a Comment