SPIRITUAL GROWTH
Kis 9:1-31. Penglihatan Saulus saat menuju Damsyik mengubahnya
menjadi orang percaya, tetapi banyak orang yang tidak percaya pada
pertobatannya tersebut. Mereka curiga apa yang dilakukan Saulus adalah akan
menganiaya jemaat lebih banyak lagi. Namun kecurigaan itu ditolak oleh
Barnabas, Ia percaya akan Pertobatan Saulus dan Barnabas membimbing Saulus
hingga Ia menjadi seorang Penginjil yang hebat. Pertobatan seseorang itu pasti
karena ada “orang lain” yang mensupport (memberikan semangat)
seperti halnya Barnabas memberikan kepercayaan kepada Saulus, sehingga dapat
berdampak pada kehidupan banyak orang. Adakah kita menjadi seperti “Barnabas”
yang memberikan semangat untuk Saulus mengalami PERTUMBUHAN SPIRITUAL, yang
berani mengambil resiko, yang tidak mematahkan semangat orang lain untuk
diubahkan/ BERTUMBUH MAKSIMAL?? Amin.
Ibu Caroline – Bandung
Kamis, 22 September 2016. Bacaan:
Kejadian 24: 10-21. Setahun: Amos 1-5. Nas: Setelah ia selesai memberi hamba
itu minum, berkatalah ia, ‘Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai
semuanya puas minum‘” (Kejadian 24:19). Ruang bagi Sesama. Ribka hendak
mengambil air untuk keluarganya. Itu kepentingan mendesak yang harus segera dipenuhi.
Hari sudah sore, jadi tak banyak lagi waktu yang tersedia. Tetapi, ketika
dilihatnya seseorang kehausan, ditundanya kepentingannya sendiri,
didahulukannya kepentingan sesama, meskipun orang itu orang asing, meskipun
tindakan itu menguras tenaganya. Dengan tulus, Ribka memberi minum orang asing
itu, juga unta-untanya, “sampai semuanya puas minum” (ay. 19). Apakah yang kita
lihat di sini? Sosok yang selalu ikhlas memberikan diri bagi kepentingan sesama
meskipun realisasinya harus dengan bersusah payah dan mengurbankan kepentingan
sendiri. Pertanyaan kita: faktor apakah yang membuat Ribka menjadi pribadi
seperti itu? Salah satunya adalah kesediaan Ribka untuk menyediakan “ruang di
hati bagi sesama”. Di hatinya, Ribka tentu memerlukan ruang untuk dirinya
sendiri. Tetapi, di hatinya, Ribka selalu menyediakan ruang yang luas bagi
sesamanya. Bahkan, sebagaimana dikisahkan di atas, Ribka siap mengurangi ruang
bagi dirinya sendiri agar dapat memberi ruang lebih luas bagi sesamanya. Ruang
bagi sesama, itulah kuncinya. Karena ada "ruang bagi sesama" di hati
Ribka, hamba Abraham dan semua untanya tak perlu kehausan. Andaikata ada “ruang
bagi sesama” di dalam tiap hati, tak ada sesama yang terabaikan, tak ada kaum
duafa yang melata tak terbantu, tak ada keluh-kesah yang tidak didengarkan, tak
ada kemarau cinta --Eko Elliarso. ANDAIKATA DI TIAP HATI TERSEDIA RUANG CUKUP
LUAS BAGI SESAMA, DUNIA INI MENJADI SURGAWI.
Xavier Quentin Pranata
“Orang yang paling kita percayai
justru bisa menjadi orang yang berpotensi untuk menipu kita.” Xavier Quentin
Pranata.
Bp. Budi – PT. Multipack Unggul
Kesucian adalah mahkota dari semua
atribut-Nya, inti kehidupan dari semua ketetapan-Nya, dan kegemilangan dari
semua tindakan-Nya. Tidak ada ketetapan maupun tindakan-Nya yang tidak sejalan
dengan, atau terlepas dari keindahan kesucian-Nya >Stephen Charnock<.
Ibrani 12:14 – Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah
kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. Allah
adalah kudus, kekudusanNya begitu indah dan mulia, wibawa kesucianNya begitu
sakral sehingga setitik nodapun tidak akan bisa datang menghampiriNya... Jika
kita ingin berjalan dan hidup didalam Dia, pastikan kita memiliki kekudusan,
sebab tanpa itu Dia tidak akan pernah hadir dalam hidup kita. Hidup tanpa
pernyertaan Tuhan kita akan terombang ambing seperti kapal ditengah badai, kita
akan kehilangan arah dan tujuan. Jadi berusahalah hidup kudus agar hadiratNya
menaungi kita selama lamanya.

No comments:
Post a Comment