Sunday, 25 September 2016

25 September 2016

SPIRITUAL GROWTH






Keluar dari Zona Nyaman. Yesaya 64:8, “Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.” Sebelum menjadi “bejana yang indah” dan berguna, tanah liat harus melewati proses pembentukan yang sedemikian rupa, dibersihkan dari “semua kotoran” yang melekat, ditekan berulang-ulang, dipanaskan pada suhu yang tinggi. “Semua proses” itu harus dilakukan agar tanah liat menjadi “bejana yang Indah”. Proses yang sama juga akan kita alami. Mungkin ada beberapa  area dalam hidup kita perlu diperbaiki. Ada hal-hal yang harus kita buang/kebiasaan lama dan mulai berlatih dengan hal-hal yang baru  agar kita mampu menghadapinya dimasa-masa yang akan datang. Tidak ada kenyamanan dalam pertumbuhan. Dan tidak ada pertumbuhan dalam kenyamanan. Hanya Anugerah Tuhan yang akan memampukan kita untuk terus bertumbuh. Jangan pernah menyerah. Tuhan sedang menyelesaikan karyaNya bagi kita semua. Amin. Tuhan Sang Pembuat Bejana itu tahu keindahan karya-Nya setelah semua selesai dibentuk. Amin.

Xavier Quentin Pranata
“Saat melihat orang melakukan sesuatu, itulah kesempatan bagi kita untuk bercermin.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Minggu, 25 September 2016. KENANGAN. Dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata, “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” (1 Korintus 11:24) Setiap turun hujan, Michael membuka kaca mobilnya untuk menghirup aroma hujan yang jatuh ke bumi. Dia mengenang cinta pertamanya. Perasaan romantis muncul ketika ia berkenalan pertama kali dengan sang pacar di tengah hujan lebat. Pacar tercinta itu sekarang sudah menjadi istri. Namun kenangan itu senantiasa menghidupkan kembali gelora cinta mereka. Orang percaya tentu juga memiliki kenangan tertentu mengenai imannya. Bila sering diulang, ingatan itu akan semakin hidup dalam pikiran dan perasaannya. Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus tentang pentingnya perjamuan kudus dengan mengutip perkataan Kristus. Perjamuan kudus merupakan sebuah kenangan atas kematian dan pengurbanan Kristus buat kita. Namun masalahnya, jemaat Korintus saat itu memiliki beberapa hal buruk berupa perpecahan (ay. 18), kerakusan, dan kemabukan (ay. 21). Perilaku buruk itu menandakan bahwa mereka sebenarnya belum menghayati makna kasih dan pengurbanan Kristus. Akibatnya sungguh buruk. Mereka sakit dan bahkan ada beberapa yang meninggal (ay. 30). Mengenang pengurbanan Kristus mencegah kita jatuh dalam dosa. Kita pun akan mendapat semangat lebih besar untuk berbuat baik kepada sesama. Selain itu, melakukan perjamuan kudus berarti memberi kesaksian tentang iman kita (ay. 26). Kita percaya bahwa Yesus akan datang kembali dalam kemuliaan sebagai hakim (Mat. 24:30). Marilah kita mengenang pengurbanan-Nya dengan rasa hormat sembari menjaga kekudusan. MENGENANG KEMATIAN KRISTUS BERARTI MENGHORMATI PENGURBANAN DAN PENDERITAAN-NYA DENGAN HIDUP TERTIB DAN KUDUS. Selamat pagi. Selamat beribadah. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment