SPIRITUAL GROWTH
Keluar dari Zona Nyaman. Yesaya 64:8, “Tetapi sekarang,
ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk
kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.” Sebelum menjadi “bejana
yang indah” dan berguna, tanah liat harus melewati proses pembentukan yang
sedemikian rupa, dibersihkan dari “semua kotoran” yang melekat, ditekan
berulang-ulang, dipanaskan pada suhu yang tinggi. “Semua proses” itu harus dilakukan
agar tanah liat menjadi “bejana yang Indah”. Proses yang sama juga akan kita
alami. Mungkin ada beberapa area dalam
hidup kita perlu diperbaiki. Ada hal-hal yang harus kita buang/kebiasaan lama
dan mulai berlatih dengan hal-hal yang baru
agar kita mampu menghadapinya dimasa-masa yang akan datang. Tidak ada
kenyamanan dalam pertumbuhan. Dan tidak ada pertumbuhan dalam kenyamanan. Hanya
Anugerah Tuhan yang akan memampukan kita untuk terus bertumbuh. Jangan pernah
menyerah. Tuhan sedang menyelesaikan karyaNya bagi kita semua. Amin. Tuhan Sang
Pembuat Bejana itu tahu keindahan karya-Nya setelah semua selesai
dibentuk. Amin.
Xavier Quentin Pranata
“Saat melihat orang melakukan
sesuatu, itulah kesempatan bagi kita untuk bercermin.” Xavier Quentin Pranata.
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Minggu, 25 September
2016. KENANGAN. Dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia
memecah-mecahkannya dan berkata, “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu;
perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” (1 Korintus 11:24) Setiap turun
hujan, Michael membuka kaca mobilnya untuk menghirup aroma hujan yang jatuh ke
bumi. Dia mengenang cinta pertamanya. Perasaan romantis muncul ketika ia
berkenalan pertama kali dengan sang pacar di tengah hujan lebat. Pacar tercinta
itu sekarang sudah menjadi istri. Namun kenangan itu senantiasa menghidupkan
kembali gelora cinta mereka. Orang percaya tentu juga memiliki kenangan
tertentu mengenai imannya. Bila sering diulang, ingatan itu akan semakin hidup
dalam pikiran dan perasaannya. Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus
tentang pentingnya perjamuan kudus dengan mengutip perkataan Kristus. Perjamuan
kudus merupakan sebuah kenangan atas kematian dan pengurbanan Kristus buat
kita. Namun masalahnya, jemaat Korintus saat itu memiliki beberapa hal buruk
berupa perpecahan (ay. 18), kerakusan, dan kemabukan (ay. 21). Perilaku buruk
itu menandakan bahwa mereka sebenarnya belum menghayati makna kasih dan
pengurbanan Kristus. Akibatnya sungguh buruk. Mereka sakit dan bahkan ada
beberapa yang meninggal (ay. 30). Mengenang pengurbanan Kristus mencegah kita
jatuh dalam dosa. Kita pun akan mendapat semangat lebih besar untuk berbuat
baik kepada sesama. Selain itu, melakukan perjamuan kudus berarti memberi
kesaksian tentang iman kita (ay. 26). Kita percaya bahwa Yesus akan datang
kembali dalam kemuliaan sebagai hakim (Mat. 24:30). Marilah kita mengenang
pengurbanan-Nya dengan rasa hormat sembari menjaga kekudusan. MENGENANG
KEMATIAN KRISTUS BERARTI MENGHORMATI PENGURBANAN DAN PENDERITAAN-NYA DENGAN
HIDUP TERTIB DAN KUDUS. Selamat pagi. Selamat beribadah. Tuhan Yesus
memberkati.

No comments:
Post a Comment