Sunday, 4 September 2016

4 September 2016

SPIRITUAL GROWTH






Tidak mudah hidup bersama orang lain, terutama untuk mencapai tujuan tertentu. Hal itu membutuhkan karakter tertentu yang perlu untuk dibangun dalam diri kita. Tanpa karakter ini maka kita tidak bisa berjalan dijalur yang sama. Karena itu Rasul Paulus menasihatkan dalam Efesus 4:2, “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” Kerendahan Hati menempatkan Tuhan yang Pertama, Orang Lain yang ke 2 dan diri kita paling belakang. Rendah hati itu dinyatakan dengan sikap seorang hamba, yang bersukacita saat melihat orang lain berhasil. Mau menerima kritik dengan lapang dada, selalu menyatakan ucapan syukur dan terima kasih kita pada orang lain. Dan melayani orang lain dengan sungguh hati. Lemah lembut, bukan berarti tidak pernah marah, orang yang lemah lembut adalah orang yang dapat mengontrol emosinya. Sabar: menahan diri untuk tidak membalas kesalahan orang lain. Sabar: Belajar menunggu (antrian, seseorang) tanpa mengomel. Upah dari semuanya itu adalah: Amsal 22:4, “Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah Kekayaan, Kehormatan dan Kehidupan.”

Bp. Budi – PT. Multipack Unggul
As we grow as unique persons, we learn to respect the uniqueness of others »Robert Schuller«. Saat kita bertumbuh menjadi pribadi pribadi yang unik, kita belajar untuk menghargai keunikan orang lain »Robert Schuller«. Roma 15:7 “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.” Yesus sangat menghargai dan menerima setiap perbedaan, bahkan perbedaan ini oleh Tuhan dirangkai menjadi sebuah sinergi yang luar biasa untuk membangun kerajaan Allah. Bila kita mau berhasil dalam kehidupan ini, belajarlah seperti Tuhan Yesus, yang begitu bijak menerima keunikan setiap orang yang ada disekitarNya. Lihat dan pandang betapa banyaknya, sumber keunikan yang ada disekitar kita, bila kita bisa menyinergikan keunikan demi keunikan yang ada, maka kita akan menerima hasil yang besar. Jadilah orang yang familiar, legowo dan rendah hati, sebab orang yang demikian memiliki banyak sahabat, keluwesan kita dalam bergaul memberi banyak hasil. Kebijakan kita untuk memahami perbedaan dan keunikan orang lain adalah kesempatan, hidup adalah pilihan! Jadi sukses atau tidaknya hidup kita semuanya tergantung cara kita menjalaninya! God Bless You.

Xavier Quentin Pranata
“Saat ortu dan guru bergandengan tangan, anak-anak kita akan menjadi generasi yang berkemenangan.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Minggu, 4 September 2016. TAMBA ATI. “Kiranya kami menjadi kenyang dengan segala yang baik di rumah-Mu, di bait-Mu yang kudus” (Mazmur 65:5). Di dinding depan bangunan itu tertera tulisan “Mushala Tamba Ati”. Kata tamba (bhs. Jawa) berarti obat, dan ati berarti: pusat kesadaran, pusat kehidupan, bahkan jiwa. Rupanya, mushala itu diharapkan dapat menjadi tempat pengobat hati, pengobat jiwa, pengobat kehidupan. Memang, “Tamba Ati” adalah nama mushala. Tetapi, mari kita renungi! Bukankah memang demikianlah seharusnya fungsi semua rumah ibadah tanpa kecuali: menjadi tempat di mana orang menemukan obat yang menyembuhkan hati dan jiwa, dan bukan yang lain? Bukankah “menjadi kenyang dengan segala yang baik di rumah-Mu” (Mazmur 65:5) berarti bahwa di rumah Tuhan itu jiwa kita disembuhkan? Ketika putus asa melanda, di rumah-Nya kita berjumpa dengan Sang Sumber Harapan. Ketika hedonisme mencengkeram jiwa, kita berjumpa dengan Sang Mahakudus yang mendorong kita memperjuangkan kekudusan hidup. Ketika kita dibakar amarah, di rumah penyembuh jiwa itu pengampunan Tuhan nan sejuk menyiram padam bara amarah kita. Ketika sikap diskriminatif merajai pikiran, di sana kita berjumpa dengan Allah yang merangkul semua orang tanpa kecuali. Memang, permohonan “Kiranya kami...” menyimpan pengakuan bahwa ada kalanya, orang datang ke rumah Tuhan bukan untuk “menjadi kenyang dengan segala yang baik”, melainkan untuk sesuatu yang lain. Maka, pertanyaannya, apakah yang sesungguhnya kita cari di rumah Tuhan itu? “Jawabnya tertiup di angin lalu,” kata Bimbo --Eko Elliarso. BAGAI PANCURAN BENING JERNIH, RUMAH PENYEMBUH JIWA ITU TELAH TERSEDIA. APAKAH KITA KE SANA UNTUK MEMBASUH DIRI, ITU PERSOALAN TERSENDIRI. Selamat pagi. Selamat Hari Minggu. Semangat melayani. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment