SPIRITUAL GROWTH
Tidak mudah
hidup bersama orang lain, terutama untuk mencapai tujuan tertentu. Hal itu
membutuhkan karakter tertentu yang perlu untuk dibangun dalam diri kita. Tanpa
karakter ini maka kita tidak bisa berjalan dijalur yang sama. Karena itu Rasul
Paulus menasihatkan dalam Efesus 4:2, “Hendaklah kamu selalu rendah hati,
lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.”
Kerendahan Hati menempatkan Tuhan yang Pertama, Orang Lain yang ke 2 dan diri
kita paling belakang. Rendah hati itu dinyatakan dengan sikap seorang hamba,
yang bersukacita saat melihat orang lain berhasil. Mau menerima kritik dengan
lapang dada, selalu menyatakan ucapan syukur dan terima kasih kita pada orang
lain. Dan melayani orang lain dengan sungguh hati. Lemah lembut, bukan berarti
tidak pernah marah, orang yang lemah lembut adalah orang yang dapat mengontrol
emosinya. Sabar: menahan diri untuk tidak membalas kesalahan orang lain. Sabar:
Belajar menunggu (antrian, seseorang) tanpa mengomel. Upah dari semuanya itu
adalah: Amsal 22:4, “Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah
Kekayaan, Kehormatan dan Kehidupan.”
Bp.
Budi – PT. Multipack Unggul
As we grow as
unique persons, we learn to respect the uniqueness of others »Robert Schuller«.
Saat kita bertumbuh menjadi pribadi pribadi yang unik, kita belajar untuk
menghargai keunikan orang lain »Robert Schuller«. Roma 15:7 “Sebab itu
terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita,
untuk kemuliaan Allah.” Yesus sangat menghargai dan menerima setiap perbedaan,
bahkan perbedaan ini oleh Tuhan dirangkai menjadi sebuah sinergi yang luar
biasa untuk membangun kerajaan Allah. Bila kita mau berhasil dalam kehidupan
ini, belajarlah seperti Tuhan Yesus, yang begitu bijak menerima keunikan setiap
orang yang ada disekitarNya. Lihat dan pandang betapa banyaknya, sumber
keunikan yang ada disekitar kita, bila kita bisa menyinergikan keunikan demi
keunikan yang ada, maka kita akan menerima hasil yang besar. Jadilah orang yang
familiar, legowo dan rendah hati, sebab orang yang demikian memiliki banyak
sahabat, keluwesan kita dalam bergaul memberi banyak hasil. Kebijakan kita
untuk memahami perbedaan dan keunikan orang lain adalah kesempatan, hidup
adalah pilihan! Jadi sukses atau tidaknya hidup kita semuanya tergantung cara
kita menjalaninya! God Bless You.
Xavier
Quentin Pranata
“Saat ortu dan
guru bergandengan tangan, anak-anak kita akan menjadi generasi yang
berkemenangan.” Xavier Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT TEDUH.
Minggu, 4 September 2016. TAMBA ATI. “Kiranya kami menjadi kenyang dengan
segala yang baik di rumah-Mu, di bait-Mu yang kudus” (Mazmur 65:5). Di dinding
depan bangunan itu tertera tulisan “Mushala Tamba Ati”. Kata tamba (bhs. Jawa)
berarti obat, dan ati berarti: pusat kesadaran, pusat kehidupan, bahkan jiwa.
Rupanya, mushala itu diharapkan dapat menjadi tempat pengobat hati, pengobat
jiwa, pengobat kehidupan. Memang, “Tamba Ati” adalah nama mushala. Tetapi, mari
kita renungi! Bukankah memang demikianlah seharusnya fungsi semua rumah ibadah
tanpa kecuali: menjadi tempat di mana orang menemukan obat yang menyembuhkan
hati dan jiwa, dan bukan yang lain? Bukankah “menjadi kenyang dengan segala
yang baik di rumah-Mu” (Mazmur 65:5) berarti bahwa di rumah Tuhan itu jiwa kita
disembuhkan? Ketika putus asa melanda, di rumah-Nya kita berjumpa dengan Sang
Sumber Harapan. Ketika hedonisme mencengkeram jiwa, kita berjumpa dengan Sang
Mahakudus yang mendorong kita memperjuangkan kekudusan hidup. Ketika kita
dibakar amarah, di rumah penyembuh jiwa itu pengampunan Tuhan nan sejuk
menyiram padam bara amarah kita. Ketika sikap diskriminatif merajai pikiran, di
sana kita berjumpa dengan Allah yang merangkul semua orang tanpa kecuali.
Memang, permohonan “Kiranya kami...” menyimpan pengakuan bahwa ada kalanya,
orang datang ke rumah Tuhan bukan untuk “menjadi kenyang dengan segala yang
baik”, melainkan untuk sesuatu yang lain. Maka, pertanyaannya, apakah yang
sesungguhnya kita cari di rumah Tuhan itu? “Jawabnya tertiup di angin lalu,”
kata Bimbo --Eko Elliarso. BAGAI PANCURAN BENING JERNIH, RUMAH PENYEMBUH JIWA
ITU TELAH TERSEDIA. APAKAH KITA KE SANA UNTUK MEMBASUH DIRI, ITU PERSOALAN
TERSENDIRI. Selamat pagi. Selamat Hari Minggu. Semangat melayani. Tuhan Yesus
memberkati.

No comments:
Post a Comment