SPIRITUAL GROWTH
Diawali dari
Keluaraga (Ulangan 6:6-9). Ayat 7: “haruslah engkau
mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau
duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau
berbaring dan apabila engkau bangun.” Ketika kita berbicara tentang “Diri
Allah” perbuatan-perbuatanNya bagi kita & bagaimana DIA menghendaki
kasih dan ke-TAAT-an kita, kehidupan kita dapat menjadi pelajaran bagi
generasi berikutnya. Kita dapat menjadi alat pengajaran yang akan Allah pakai
untuk menuntun anak-anak kita/keluarga kita dalam perjalanan iman mereka
bersamaNya. Ketika kita mengajarkan firmanNya kepada anak-anak kita, kita
tidak sedang menghabiskan waktu, tetapi kita sedang menginvestasikan atau
menanamkan IMAN bagi mereka.
Sudahkah kita mengajarkan firmanNya kepada anak-anak kita?
Ibu
Caroline – Bandung
Jumat, 2
September 2016. Bacaan: Imamat 22:17-25. Setahun: Yehezkiel 5-9. Nas: Segala
yang bercacat badannya janganlah kamu persembahkan, karena dengan itu TUHAN
tidak berkenan akan kamu (Imamat 22:20). Persembahan Terbaik. Ketika masih
kecil saya pernah merasa jengkel melihat Ibu yang suka membagikan pisang hasil
kebun kepada tetangga dan kerabat. Bukan masalah berbaginya, tetapi karena yang
diberikan adalah pisang terbaik dari hasil panen. Saya hanya kebagian pisang
yang kurang baik. Hukum Taurat mengatur persembahan kepada Tuhan begitu detail.
Persembahan binatang yang dikenan Tuhan adalah binatang yang tidak bercacat
cela. Bebas dari segala cacat fisik, tidak terluka atau berpenyakit, tidak
dikebiri. Binatang yang umurnya kurang dari delapan hari juga tidak dapat
dipersembahkan. Pengaturan persembahan ini menunjukkan pentingnya motivasi
seseorang dalam menghampiri Tuhan. Persembahan yang sempurna menjadi gambaran
keseriusan umat dalam menjaga kekudusan Allah. Tuhan yang kudus menuntut umat
juga hidup kudus dalam segala hal. Saat ini, kita tidak perlu lagi mempersembahkan
binatang karena Yesus Kristus telah menjadi kurban tebusan yang membebaskan
kita dari segala dosa. Namun Yesus mengajar kita supaya memberikan diri sebagai
persembahan bagi Tuhan. Persembahan yang hidup, yang kudus, yang berkenan
kepada-Nya. Persembahan sejati ini bukan hanya terwujud dalam ritual ibadah,
melainkan juga dalam sikap hidup kepada sesama. Kasih kepada Tuhan terwujud
melalui kasih kepada sesama. Kita belajar mengasihi sesama dengan kasih yang
tulus dan murni, tanpa kemunafikan. Bukan kasih sebatas bibir, tetapi meluap
dari kedalaman hati. Mari kita memberikan persembahan yang terbaik bagi Tuhan!
--Endang Lestari. KUALITAS PERSEMBAHAN KITA MENUNJUKKAN BESARNYA RASA HORMAT
KITA KEPADA TUHAN.
Bp.
Budi – PT. Multipack Unggul
Berbahagialah
selalu karena Tuhan mengasihi kita... Orang miskin, orang kaya, orang bodoh,
orang pintar, orang gagal, orang sukses, semua punya problem sendiri-sendiri
dalam kehidupannya. Kita sering, terkagum-kagum melihat kesuksesan atau
kehebatan seseorang, tanpa tahu banyaknya sisi gelap dalam kehidupannya. Kita
mudah sekali tergiur dan iri terhadap seseorang, tapi tidak tahu kesedihan dan
kesengsaraan dalam kehidupannya. Mungkin bila kita tahu semuanya, kita tidak
mau lagi jika ditawari bertukar posisi dengan orang lain, dan lebih bahagia
menjadi diri kita sendiri. Saudara-saudaraku, selamat menikmati & bersyukur
pada kehidupan kita sendiri. Betapa perlunya kita melatih PIKIRAN POSITIF, agar
kita punya mental kuat luar biasa dalam menghadapi kehidupan yang penuh dengan ketidakpuasan
ini. Hidup bukan tentang apa yang harus kita punya untuk BAHAGIA, tapi
bagaimana kita BAHAGIA dengan apa yang kita punya. Yakobus 1:2,
“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke
dalam berbagai-bagai pencobaan.” Tetaplah berbahagia dan bersyukur meskipun
badai masalah datang silih berganti, sebab TUHAN ingin membentuk kita sebagai
pribadi yang tahan uji. God Bless You.

No comments:
Post a Comment