Friday, 2 September 2016

2 September 2016

SPIRITUAL GROWTH






Diawali dari Keluaraga (Ulangan 6:6-9). Ayat 7: “haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” Ketika kita berbicara tentang “Diri Allah” perbuatan-perbuatanNya bagi kita & bagaimana DIA menghendaki kasih dan ke-TAAT-an kita, kehidupan kita dapat menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya. Kita dapat menjadi alat pengajaran yang akan Allah pakai untuk menuntun anak-anak kita/keluarga kita dalam perjalanan iman mereka bersamaNya. Ketika kita mengajarkan firmanNya kepada anak-anak kita, kita tidak sedang menghabiskan waktu, tetapi kita sedang menginvestasikan atau menanamkan IMAN bagi mereka. Sudahkah kita mengajarkan firmanNya kepada anak-anak kita?

Ibu Caroline – Bandung
Jumat, 2 September 2016. Bacaan: Imamat 22:17-25. Setahun: Yehezkiel 5-9. Nas: Segala yang bercacat badannya janganlah kamu persembahkan, karena dengan itu TUHAN tidak berkenan akan kamu (Imamat 22:20). Persembahan Terbaik. Ketika masih kecil saya pernah merasa jengkel melihat Ibu yang suka membagikan pisang hasil kebun kepada tetangga dan kerabat. Bukan masalah berbaginya, tetapi karena yang diberikan adalah pisang terbaik dari hasil panen. Saya hanya kebagian pisang yang kurang baik. Hukum Taurat mengatur persembahan kepada Tuhan begitu detail. Persembahan binatang yang dikenan Tuhan adalah binatang yang tidak bercacat cela. Bebas dari segala cacat fisik, tidak terluka atau berpenyakit, tidak dikebiri. Binatang yang umurnya kurang dari delapan hari juga tidak dapat dipersembahkan. Pengaturan persembahan ini menunjukkan pentingnya motivasi seseorang dalam menghampiri Tuhan. Persembahan yang sempurna menjadi gambaran keseriusan umat dalam menjaga kekudusan Allah. Tuhan yang kudus menuntut umat juga hidup kudus dalam segala hal. Saat ini, kita tidak perlu lagi mempersembahkan binatang karena Yesus Kristus telah menjadi kurban tebusan yang membebaskan kita dari segala dosa. Namun Yesus mengajar kita supaya memberikan diri sebagai persembahan bagi Tuhan. Persembahan yang hidup, yang kudus, yang berkenan kepada-Nya. Persembahan sejati ini bukan hanya terwujud dalam ritual ibadah, melainkan juga dalam sikap hidup kepada sesama. Kasih kepada Tuhan terwujud melalui kasih kepada sesama. Kita belajar mengasihi sesama dengan kasih yang tulus dan murni, tanpa kemunafikan. Bukan kasih sebatas bibir, tetapi meluap dari kedalaman hati. Mari kita memberikan persembahan yang terbaik bagi Tuhan! --Endang Lestari. KUALITAS PERSEMBAHAN KITA MENUNJUKKAN BESARNYA RASA HORMAT KITA KEPADA TUHAN.

Bp. Budi – PT. Multipack Unggul
Berbahagialah selalu karena Tuhan mengasihi kita... Orang miskin, orang kaya, orang bodoh, orang pintar, orang gagal, orang sukses, semua punya problem sendiri-sendiri dalam kehidupannya. Kita sering, terkagum-kagum melihat kesuksesan atau kehebatan seseorang, tanpa tahu banyaknya sisi gelap dalam kehidupannya. Kita mudah sekali tergiur dan iri terhadap seseorang, tapi tidak tahu kesedihan dan kesengsaraan dalam kehidupannya. Mungkin bila kita tahu semuanya, kita tidak mau lagi jika ditawari bertukar posisi dengan orang lain, dan lebih bahagia menjadi diri kita sendiri. Saudara-saudaraku, selamat menikmati & bersyukur pada kehidupan kita sendiri. Betapa perlunya kita melatih PIKIRAN POSITIF, agar kita punya mental kuat luar biasa dalam menghadapi kehidupan yang penuh dengan ketidakpuasan ini. Hidup bukan tentang apa yang harus kita punya untuk BAHAGIA, tapi bagaimana kita BAHAGIA dengan apa yang kita punya. Yakobus 1:2, “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan.” Tetaplah berbahagia dan bersyukur meskipun badai masalah datang silih berganti, sebab TUHAN ingin membentuk kita sebagai pribadi yang tahan uji. God Bless You.

No comments:

Post a Comment