Saturday, 10 September 2016

10 September 2016

SPIRITUAL GROWTH






Berhentilah MALAS. Walaupun semut seringkali sangat menganggu tetapi Raja Salomo memuji etos kerja semut: mereka RAJIN/TEKUN (Amsal 6:6-11). Ia menunjukkan bahwa semut adalah hewan yang dapat mengatur dirinya sendri, tidak ada pemimpinnya. Mereka sangat produktif. Semut tetap sibuk meski mereka tidak punya keperluan yang mendesak. Mereka menumpuk persediaan dimusim panas dan mengumpulkan makanan pada waktu panen (8). Ketika musim dingin datang mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang mereka makan, kita dapat belajar dari semut, ketika Tuhan memberi kita masa-masa kelimpahan, kita dapat menyiapkan diri untuk masa masa disaat persediaan menipis. Tuhan menyediakan segala hal yang kita miliki. Termasuk kemampuan kita untuk bekerja, kalau kita bekerja dengan rajin/giat maka kita akan menjadi bijak untuk mengelola semua yang disediakanNya. Ingatlah nasihat Raja Salomo: “..., pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak” (Amsal 6:6). Amin.

Ibu Caroline – Bandung
Sabtu, 10 September 2016. Bacaan: Yunus 4:6-11. Setahun: Yehezkiel 33-36. Nas: Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabnya: “Selayaknyalah aku marah sampai mati” (Yunus 4:9). Jiwa Atau Harta? Kakak-beradik bertengkar memperebutkan perusahaan keluarga. Si kakak merasa dicurangi adiknya. Dengan menggunakan pengacara, dan preman, ia berhasil memenjarakan adiknya, padahal sang kakak aktivis gereja. Ketika adiknya memohon pengampunan, sang kakak bergeming. Ia ingin memberi pelajaran seberat-beratnya pada adiknya. Nabi Yunus, yang membenci Niniwe, merefleksikan kegagalan sikap banyak orang Kristiani. Yunus tidak memiliki apa pun sebagai tempat bersandar, namun dalam semalam Allah menumbuhkan sebatang pohon jarak, agar ia dapat berteduh dari teriknya matahari yang menerpa hidupnya. Namun, atas penentuan Allah pohon itu mati. Dan Yunus sangat marah kepada Allah. Allah menggunakan pohon jarak dan angin timur yang panas terik (Yun. 4:6-9) untuk menyatakan maksud-Nya. Dia hendak menunjukkan kontras dari sikap hidup Yunus yang mementingkan kesejahteraan jasmani sendiri dan tak peduli akan nasib Niniwe yang sedang menuju kebinasaan. Yunus lebih memperhatikan kenyamanan jasmani sendiri daripada kehendak Allah bagi bangsa yang terhilang itu. Tidak jarang hidup kita tak berbeda jauh dari nabi Yunus. Kita lebih mengejar berkat jasmani untuk menopang kenyamanan hidup di dunia yang sementara daripada panggilan sebagai saksi Kristus, untuk menjangkau banyak jiwa yang sedang menuju kebinasaan di sekitar kita. Mari kita bertobat ulang, dan kembali pada prioritas hidup Kristiani yang benar. Hargailah apa yang dihargai Allah sebab kita adalah anak-anak-Nya –Susanto. APA GUNANYA KITA MEMPEROLEH SELURUH DUNIA, NAMUN TIDAK PEDULI ORANG DI SEKITAR KITA BINASA?

Xavier Quentin Pranata
“Diam dan berempati jauh lebih berarti daripada banyak bicara tanpa rasa.” Xavier Quentin Pranata.

Ibu Panca – PKS CL 5
Amin amin. Ya saya akan belajar dan memperhatikan cara kerja si semut yang tak pernah lelah dengan mengumpulkan sedikit demi sedikit akan menjadi persediaan yang banyak maka bila tepat kita membutuhkan sudah ada yang kita dapatkan. Thanks kiranya lebih lagi bijak di dalam  setiap musim apapun. Thanks Tuhan berikanlah hikmatMu menuntun langkahku. Amin. Thanks renungan paginya. Gbu dan selamat beraktivitas.

No comments:

Post a Comment