SPIRITUAL GROWTH
Berhentilah
MALAS. Walaupun semut seringkali sangat
menganggu tetapi Raja Salomo memuji etos kerja semut: mereka RAJIN/TEKUN (Amsal
6:6-11). Ia menunjukkan bahwa semut adalah hewan yang dapat mengatur dirinya
sendri, tidak ada pemimpinnya. Mereka sangat produktif. Semut tetap sibuk meski
mereka tidak punya keperluan yang mendesak. Mereka menumpuk persediaan dimusim
panas dan mengumpulkan makanan pada waktu panen (8). Ketika musim dingin datang
mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang mereka makan, kita dapat belajar
dari semut, ketika Tuhan memberi kita masa-masa kelimpahan, kita dapat
menyiapkan diri untuk masa masa disaat persediaan menipis. Tuhan menyediakan
segala hal yang kita miliki. Termasuk kemampuan kita untuk bekerja, kalau kita
bekerja dengan rajin/giat maka kita akan menjadi bijak untuk mengelola semua
yang disediakanNya. Ingatlah nasihat Raja Salomo: “..., pergilah kepada
semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak” (Amsal 6:6). Amin.
Ibu
Caroline – Bandung
Sabtu, 10
September 2016. Bacaan: Yunus 4:6-11. Setahun: Yehezkiel 33-36. Nas: Tetapi
berfirmanlah Allah kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena pohon jarak
itu?” Jawabnya: “Selayaknyalah aku marah sampai mati” (Yunus 4:9). Jiwa Atau
Harta? Kakak-beradik bertengkar memperebutkan perusahaan keluarga. Si kakak
merasa dicurangi adiknya. Dengan menggunakan pengacara, dan preman, ia berhasil
memenjarakan adiknya, padahal sang kakak aktivis gereja. Ketika adiknya memohon
pengampunan, sang kakak bergeming. Ia ingin memberi pelajaran seberat-beratnya
pada adiknya. Nabi Yunus, yang membenci Niniwe, merefleksikan kegagalan sikap
banyak orang Kristiani. Yunus tidak memiliki apa pun sebagai tempat bersandar,
namun dalam semalam Allah menumbuhkan sebatang pohon jarak, agar ia dapat
berteduh dari teriknya matahari yang menerpa hidupnya. Namun, atas penentuan
Allah pohon itu mati. Dan Yunus sangat marah kepada Allah. Allah menggunakan
pohon jarak dan angin timur yang panas terik (Yun. 4:6-9) untuk menyatakan
maksud-Nya. Dia hendak menunjukkan kontras dari sikap hidup Yunus yang
mementingkan kesejahteraan jasmani sendiri dan tak peduli akan nasib Niniwe
yang sedang menuju kebinasaan. Yunus lebih memperhatikan kenyamanan jasmani
sendiri daripada kehendak Allah bagi bangsa yang terhilang itu. Tidak jarang
hidup kita tak berbeda jauh dari nabi Yunus. Kita lebih mengejar berkat jasmani
untuk menopang kenyamanan hidup di dunia yang sementara daripada panggilan
sebagai saksi Kristus, untuk menjangkau banyak jiwa yang sedang menuju
kebinasaan di sekitar kita. Mari kita bertobat ulang, dan kembali pada
prioritas hidup Kristiani yang benar. Hargailah apa yang dihargai Allah sebab
kita adalah anak-anak-Nya –Susanto. APA GUNANYA KITA MEMPEROLEH SELURUH DUNIA,
NAMUN TIDAK PEDULI ORANG DI SEKITAR KITA BINASA?
Xavier
Quentin Pranata
“Diam dan
berempati jauh lebih berarti daripada banyak bicara tanpa rasa.” Xavier Quentin
Pranata.
Ibu
Panca – PKS CL 5
Amin amin. Ya saya
akan belajar dan memperhatikan cara kerja si semut yang tak pernah lelah dengan
mengumpulkan sedikit demi sedikit akan menjadi persediaan yang banyak maka bila
tepat kita membutuhkan sudah ada yang kita dapatkan. Thanks kiranya lebih lagi
bijak di dalam setiap musim apapun.
Thanks Tuhan berikanlah hikmatMu menuntun langkahku. Amin. Thanks renungan
paginya. Gbu dan selamat beraktivitas.

No comments:
Post a Comment