Tuesday, 13 September 2016

13 September 2016

SPIRITUAL GROWTH






Kebenaran Firman Membuka “Mata Rohani”. Efesus 1:18-19, 18Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, 19Dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya.” Tujuan Rasul Paulus berdoa agar Roh Hikmat dan Wahyu diberikan kepada jemaat Efesus adalah supaya mereka dapat mengerti akan PENGHARAPAN yang terkandung didalam panggilan mereka sebagai orang percaya. Roh Himat dan Wahyu bermaafaat untuk menyingkap kepada setiap orang percaya akan PENGHARAPAN ini. PENGHARAPAN apakah yang terkadung didalam panggilan orang percaya?? Ada 2 PENGHARAPAN yang terkandung didalam Efesus 1:18-19 yaitu 1) Betapa Kaya KEMULIAAN-Nya. 2) Betapa Hebat KUASA-Nya. Kekayaan kemuliaanNya: Kekayaan yang membuat mereka (jemaat Efesus) / kita diselamatkan dari Hukuman Kekal (Efesus 2:7-8). Hebat KuasaNya: hal ini dibuktikan, Yesus dibagkitkan dari antara orang mati. Kuasa yang diterima Yesus ini diberikan juga kepada jemaatNya yang juga merupakan tubuhNya (Ef 1:22). Oleh karena itu jemaat memperoleh: Kuasa yang sama akan membantu kita mencapai impian-impian kita (Ef 1:19-20). Kuasa Tuhan yang HEBAT/tak terukur tersedia bagi setiap kita orang percaya maka tak ada yang mustahil tak ada impian yang tak tercapai. Amin.

GNCC
Jangan mencari Tuhan hanya untuk mendapat apa yang kita butuhkan. Tetapi bertemulah dengan Tuhan karena memang Tuhan yang kita inginkan. Jangan cari tangan-NYA tetapi carilah wajah-NYA. Have a blessed week. #gncc#goodmorning

Ibu Caroline – Bandung
Selasa, 13 September 2016. Bacaan: Lukas 15:11-32. Setahun: Yehezkiel 43-45. Nas: Lalu ia menyadari keadaannya (Lukas 15:17). Ketika Tersadar. Di ruang praktik seorang dokter, ada poster dengan tulisan, “Good health is a golden crown on every man's head no body see it but the sick man.” Kesehatan yang baik sangatlah berharga. Tetapi, orang tak sedikit pun melihat atau mengakuinya, apalagi menghargai dan mensyukurinya. Orang baru menyadari betapa berharganya kesehatan ketika ia sakit. Persis begitulah Si Bungsu. Merasa di rumah bapanya tiada hal yang menyenangkan, ia memilih pergi. Belakangan, ketika di rantau derita menderanya, barulah ia menyadari betapa membahagiakan rumah bapanya. “Lalu ia menyadari keadaannya” (ay. 17). Si Bungsu adalah kita. Tuhan menganugerahkan berlimpah hal yang berharga. Tetapi, kita tidak menyadarinya, tidak menggubrisnya, tidak mengakuinya, tidak mensyukurinya. Bahkan--seperti Si Bungsu--kita merendahkannya, dan baru mengakui betapa berharga semuanya itu ketika anugerah itu entah bagaimana diambil dari kita. Demikianlah. Ketika sakit, barulah kita menyadari betapa bernilainya kesehatan. Ketika berjauhan, barulah kita menyadari indahnya kebersamaan. Ketika terkucil, barulah kita melihat betapa berartinya orang lain. Ketika perselingkuhan meluluhlantakkan keluarga, barulah kita mengakui betapa kesetiaan itu membahagiakan. Ketika peluang untuk mengasihi tak lagi ada, barulah kita menyadari betapa berharga kesempatan yang selama ini tersia-siakan. Alangkah membahagiakan hati jika kita menyadari dan mensyukuri pemberian-Nya sejak sekarang, dan tidak menunggu deraan keadaan seperti Si Bungsu --Eko Elliarso. BERBAHAGIALAH MEREKA YANG MENGAKUI BETAPA BERHARGANYA CAHAYA MENTARI, DAN MENSYUKURINYA TANPA MENUNGGU AWAN KELAM DATANG MENUTUPI LANGIT.

Xavier Quentin Pranata
“Kadang tidak melakukan apa-apa justru berarti banyak bagi orang yang ingin sendiri.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:

Post a Comment