SPIRITUAL GROWTH
Kebenaran Firman
Membuka “Mata Rohani”. Efesus 1:18-19, “18Dan
supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah
yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang
ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, 19Dan betapa hebat kuasa-Nya
bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya.” Tujuan Rasul
Paulus berdoa agar Roh Hikmat dan Wahyu diberikan kepada jemaat Efesus adalah
supaya mereka dapat mengerti akan PENGHARAPAN yang terkandung didalam panggilan
mereka sebagai orang percaya. Roh Himat dan Wahyu bermaafaat untuk menyingkap
kepada setiap orang percaya akan PENGHARAPAN ini. PENGHARAPAN apakah yang
terkadung didalam panggilan orang percaya?? Ada 2 PENGHARAPAN yang terkandung
didalam Efesus 1:18-19 yaitu 1) Betapa Kaya KEMULIAAN-Nya. 2) Betapa Hebat
KUASA-Nya. Kekayaan kemuliaanNya: Kekayaan yang membuat mereka (jemaat Efesus)
/ kita diselamatkan dari Hukuman Kekal (Efesus 2:7-8). Hebat KuasaNya: hal ini
dibuktikan, Yesus dibagkitkan dari antara orang mati. Kuasa yang diterima Yesus
ini diberikan juga kepada jemaatNya yang juga merupakan tubuhNya (Ef 1:22).
Oleh karena itu jemaat memperoleh: Kuasa yang sama akan membantu kita mencapai
impian-impian kita (Ef 1:19-20). Kuasa Tuhan yang HEBAT/tak terukur tersedia
bagi setiap kita orang percaya maka tak ada yang mustahil tak ada impian yang
tak tercapai. Amin.
GNCC
Jangan mencari
Tuhan hanya untuk mendapat apa yang kita butuhkan. Tetapi bertemulah dengan
Tuhan karena memang Tuhan yang kita inginkan. Jangan cari tangan-NYA tetapi
carilah wajah-NYA. Have a blessed week. #gncc#goodmorning
Ibu
Caroline – Bandung
Selasa, 13
September 2016. Bacaan: Lukas 15:11-32. Setahun: Yehezkiel 43-45. Nas: Lalu ia
menyadari keadaannya (Lukas 15:17). Ketika Tersadar. Di ruang praktik seorang
dokter, ada poster dengan tulisan, “Good health is a golden crown on every
man's head no body see it but the sick man.” Kesehatan yang baik sangatlah
berharga. Tetapi, orang tak sedikit pun melihat atau mengakuinya, apalagi
menghargai dan mensyukurinya. Orang baru menyadari betapa berharganya kesehatan
ketika ia sakit. Persis begitulah Si Bungsu. Merasa di rumah bapanya tiada hal
yang menyenangkan, ia memilih pergi. Belakangan, ketika di rantau derita
menderanya, barulah ia menyadari betapa membahagiakan rumah bapanya. “Lalu ia
menyadari keadaannya” (ay. 17). Si Bungsu adalah kita. Tuhan menganugerahkan
berlimpah hal yang berharga. Tetapi, kita tidak menyadarinya, tidak
menggubrisnya, tidak mengakuinya, tidak mensyukurinya. Bahkan--seperti Si
Bungsu--kita merendahkannya, dan baru mengakui betapa berharga semuanya itu
ketika anugerah itu entah bagaimana diambil dari kita. Demikianlah. Ketika
sakit, barulah kita menyadari betapa bernilainya kesehatan. Ketika berjauhan,
barulah kita menyadari indahnya kebersamaan. Ketika terkucil, barulah kita
melihat betapa berartinya orang lain. Ketika perselingkuhan meluluhlantakkan
keluarga, barulah kita mengakui betapa kesetiaan itu membahagiakan. Ketika
peluang untuk mengasihi tak lagi ada, barulah kita menyadari betapa berharga
kesempatan yang selama ini tersia-siakan. Alangkah membahagiakan hati jika kita
menyadari dan mensyukuri pemberian-Nya sejak sekarang, dan tidak menunggu
deraan keadaan seperti Si Bungsu --Eko Elliarso. BERBAHAGIALAH MEREKA YANG
MENGAKUI BETAPA BERHARGANYA CAHAYA MENTARI, DAN MENSYUKURINYA TANPA MENUNGGU
AWAN KELAM DATANG MENUTUPI LANGIT.
Xavier
Quentin Pranata
“Kadang tidak
melakukan apa-apa justru berarti banyak bagi orang yang ingin sendiri.” Xavier
Quentin Pranata.

No comments:
Post a Comment