I
AM BLESSED
Imamat
yang Rajani. 1 Petrus
2:9, “Tetapi kamulah
bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat
kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan
yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan
kepada terang-Nya yang ajaib.”
Tidak ada pengangguran didalam Kerajaan Allah, setiap orang percaya
DIPANGGIL oleh Tuhan untuk menberitakan perbuatan-perbuatanNya yang
besar, dimanapun dia berada. Allah ingin agar kita menjadi IMAM-IMAM
& RAJA-RAJA bagi DIA (Imamat yang Rajani). Seorang Imam adalah
orang yangMELAYANI Allah &menjadi pengantara orang lain untuk
mengenal Yesus. Sedangkan seorang Raja adalah seseorang yang memiliki
KUASA dan otoritas untuk mengalahkan iblis, sakit penyakit &
menolong jiwa-jiwa dari kuasa kegelapan. Bagaimana dengan kita?
Apakah kita sudah menjalankan peran kita ?
MELAYANI sebagai Imamat yang Rajani?
Xavier
Quentin Pranata
“Setiap
hari adalah istimewa jika kita dikelilingi oleh orang-orang
tercinta.” Xavier Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Senin, 4 Juli 2016. Memberi Secara Maksimal. Berilah dan kamu
akan diberi: Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang
dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab
ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu (Lukas
6:38). Di sebuah gereja, seorang hamba Tuhan berkata kepada jemaat,
”Mulai sekarang janganlah kalian memberikan persepuluhan kepada
gereja ini karena gereja ini sudah cukup secara finansial. Semestinya
gereja ini memberkati gereja lain, lembaga misi, dan pekerjaan Tuhan
lainnya.” Jemaat merespons dengan baik seruan itu karena mereka
mengerti bagaimana memberikan persembahan yang terbaik kepada Tuhan.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita memberikan persembahan sebagai
ungkapan hati yang penuh rasa syukur kepada Tuhan? Martin Luther,
sang Bapak Reformator, berkata, ”Jika kamu bertobat, hal pertama
yang harus bertobat adalah dompetmu!” Maksudnya, Luther menyadari
bahwa manusia cenderung mencintai uang melebihi hal-hal lainnya di
dunia ini. Padahal, seperti ditegaskan dalam Alkitab, akar segala
kejahatan adalah cinta akan uang. Hati yang tulus memberi
persembahan, dengan demikian, berlawanan dengan sikap dunia ini.
Sikap ini hanya akan muncul sewaktu kita menyadari kebaikan Tuhan
atas hidup kita. Kebaikan-Nya selanjutnya akan memotivasi kita,
menjadi ukuran atau standar kita, dalam memberi dan mengasihi sesama.
Untuk itu, marilah kita merenungkan sungguh-sungguh kebaikan Tuhan
dalam hidup kita. Selanjutnya, kita belajar memberi karena Tuhan
sudah memberkati kita secara berlimpah-limpah. Memberi tidak selalu
dilakukan dari kelebihan, namun kita dapat belajar memberi sekalipun
sedang dalam kekurangan. Hati yang rela memberi menandakan
ketergantungan penuh pada Tuhan —ANS. MENERIMA ADALAH SIKAP
MANUSIAWI, SEDANGKAN MEMBERI ADALAH SIKAP ILAHI. Selamat pagi.
Selamat berlibur. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:
Post a Comment