Tuesday, 12 July 2016

12 Juli 2016

I AM BLESSED




Roma 12:1-2, 1Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. 2Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Rasul Paulus menjabarkan MAKNA dari persembahan yang hidup: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini” = Jangan biarkan dunia membentuk kita sesuai kemauannya. Jadi harus menolak pandangan dunia, sebaliknya kita harus berubah oleh pembaharuan budi kita. Kalau akal budi kita (orang percaya) telah dibarui sehingga kita bisa mengenali dan menyetujui kehendak Allah yang baik, berkenan dan sempurna. Kita adalah anak-anak Tuhan yang terus menerus diperbarui dan mengalami proses perubahan menuju kesempurnaan dan keberadaan kekal. Bagaimana kita menjalani kehidupan saat ini? Apakah kita hidup selayaknya sebagai persembahan yang hidup? Atau kita hanya hidup mementingkan kemauan sendiri? Kekuatan sendiri? Dan hanya untuk diri sendiri??

GNCC
KECEWA adalah salah satu kendaraan yang dipakai iblis untuk menghancurkan hidup banyak orang. Dan berbahagialah orang yang tidak kecewa dan menolak aku (Matius 11:6).

Xavier Quentin Pranata
Salah satu sifat yang sulit adalah sabar. Orang bernama Sabar pun belum tentu sabar.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Selasa, 12 Juli 2016. Dosa Orang Lain. Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya, “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa (1 Timotius 1:15). Orang cenderung santai menghadapi kotoran tubuhnya sendiri. Namun, kebanyakan orang akan jijik menghadapi kotoran tubuh orang lain. Kira-kira mirip seperti itu jugalah dosa. Orang relatif lebih mudah bertoleransi terhadap dosanya sendiri. Namun, kebanyakan orang akan jijik, mengernyitkan dahi, tersinggung, atau marah terhadap dosa orang lain. Bahkan ada yang beranggapan orang lain itu patut dibunuh karena dosanya. Rasul Paulus mendapatkan pencerahan yang berlawanan dengan sikap itu: Ia menganggap dirinya orang yang paling jahat, paling berdosa. Kesadaran itu tampaknya muncul bukan karena ia membanding-bandingkan dosanya dengan dosa orang lain. Matanya tercelik karena melihat karya keselamatan Kristus Yesus bagi orang berdosa (ay. 15). Kasih yang menggerakkan Kristus menyelamatkan manusia menyadarkan Paulus akan betapa bejat dosanya. Dalam kasih Kristus itu juga ia menemukan penangkal atas kekuatan dosa dalam hidupnya (bdk. 1 Ptr. 4:8). Kesadaran itu mengubah hidupnya, membuatnya bertobat (bdk. Rm. 2:4), dan mendedikasikan hidupnya untuk mewartakan kasih karunia Allah. Sungguh berbahagia orang yang mendapatkan pencerahan dan kesadaran seperti itu. Dengan begitu, ia tidak akan sembarangan menuding dengan penuh penghakiman--apalagi sampai murka ingin membunuh--orang lain yang berdosa dengan cara yang berbeda. Sebaliknya, ia akan hidup dengan penuh syukur atas kasih Allah dan bersukacita mewartakan kasih karunia-Nya kepada sesama --Arie Saptaji/Renungan Harian. BERFOKUS PADA DOSA ORANG LAIN MEMENUHI KITA DENGAN PENGHAKIMAN; BERFOKUS PADA KASIH KARUNIA ALLAH MEMENUHI KITA DENGAN BELAS KASIHAN. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment