I
AM BLESSED
Roma
12:1-2, “1Karena
itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu,
supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup,
yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang
sejati. 2Janganlah
kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh
pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak
Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
Rasul Paulus menjabarkan MAKNA dari persembahan yang hidup:
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini” = Jangan biarkan
dunia membentuk kita sesuai kemauannya. Jadi harus menolak pandangan
dunia, sebaliknya kita harus berubah oleh pembaharuan budi kita.
Kalau akal budi kita (orang percaya) telah dibarui sehingga kita bisa
mengenali dan menyetujui kehendak Allah yang baik, berkenan dan
sempurna. Kita adalah anak-anak Tuhan yang terus menerus diperbarui
dan mengalami proses perubahan menuju kesempurnaan dan keberadaan
kekal. Bagaimana kita menjalani kehidupan saat ini? Apakah kita hidup
selayaknya sebagai persembahan yang hidup?
Atau kita hanya hidup mementingkan kemauan sendiri? Kekuatan sendiri?
Dan hanya untuk diri sendiri??
GNCC
KECEWA
adalah salah satu kendaraan yang dipakai iblis untuk menghancurkan
hidup banyak orang. Dan berbahagialah orang yang tidak kecewa dan
menolak aku (Matius 11:6).
Xavier
Quentin Pranata
“Salah
satu sifat yang sulit adalah sabar. Orang bernama Sabar pun belum
tentu sabar.” Xavier Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Selasa, 12 Juli 2016. Dosa Orang Lain. Perkataan ini benar dan
patut diterima sepenuhnya, “Kristus Yesus datang ke dunia untuk
menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang
paling berdosa (1 Timotius 1:15). Orang cenderung santai menghadapi
kotoran tubuhnya sendiri. Namun, kebanyakan orang akan jijik
menghadapi kotoran tubuh orang lain. Kira-kira mirip seperti itu
jugalah dosa. Orang relatif lebih mudah bertoleransi terhadap dosanya
sendiri. Namun, kebanyakan orang akan jijik, mengernyitkan dahi,
tersinggung, atau marah terhadap dosa orang lain. Bahkan ada yang
beranggapan orang lain itu patut dibunuh karena dosanya. Rasul Paulus
mendapatkan pencerahan yang berlawanan dengan sikap itu: Ia
menganggap dirinya orang yang paling jahat, paling berdosa. Kesadaran
itu tampaknya muncul bukan karena ia membanding-bandingkan dosanya
dengan dosa orang lain. Matanya tercelik karena melihat karya
keselamatan Kristus Yesus bagi orang berdosa (ay. 15). Kasih yang
menggerakkan Kristus menyelamatkan manusia menyadarkan Paulus akan
betapa bejat dosanya. Dalam kasih Kristus itu juga ia menemukan
penangkal atas kekuatan dosa dalam hidupnya (bdk. 1 Ptr. 4:8).
Kesadaran itu mengubah hidupnya, membuatnya bertobat (bdk. Rm. 2:4),
dan mendedikasikan hidupnya untuk mewartakan kasih karunia Allah.
Sungguh berbahagia orang yang mendapatkan pencerahan dan kesadaran
seperti itu. Dengan begitu, ia tidak akan sembarangan menuding dengan
penuh penghakiman--apalagi sampai murka ingin membunuh--orang lain
yang berdosa dengan cara yang berbeda. Sebaliknya, ia akan hidup
dengan penuh syukur atas kasih Allah dan bersukacita mewartakan kasih
karunia-Nya kepada sesama --Arie Saptaji/Renungan Harian. BERFOKUS
PADA DOSA ORANG LAIN MEMENUHI KITA DENGAN PENGHAKIMAN; BERFOKUS PADA
KASIH KARUNIA ALLAH MEMENUHI KITA DENGAN BELAS KASIHAN. Selamat pagi.
Tuhan Yesus memberkati.

No comments:
Post a Comment