I
AM BLESSED
Pemimpin
yang Melayani. Matius
20:26-28, “26Tidaklah
demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara
kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 27dan
barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia
menjadi hambamu; 28sama
seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk
melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak
orang.” Masing-masing
kita mempunyai tugas dan peran yang berbeda-beda, baik sebagai Ibu
Rumah Tangga, orang tua, anak, pekerja pemimpin atau pelajar,
sahabat. Pertanyaannya adalah: Apakah kita melaksanakan tugas dan
peran kita tersebut dengan sikap RELA
MELAYANI? Sekalipun
kesibukan rutin saya terkadang melelahkan, saya bersyukur Tuhan
menolong saya karena saya ingin mengikuti teladanNya & RELA
melayani sesama .
Merasa kecewa dalam pelayanan merupakan hal yang normal, tidak ada
seorangpun yang kebal terhadapnya. Namun melalui
kekecewaan-kekecewaan inilah Tuhan mendorong saya untuk LEBIH
BERGANTUNG kepadaNya. Tuhan tidak butuh kita membantu/MELAYANI DIA
untuk melakukan pekerjaanNya (jadi teringat komsel gabungan kemarin
Rabu, sharing salah satu PKS Citraland: Tuhan tidak butuh pelayanan
kita, tetapi kita BUTUH untuk MELAYANI Tuhan ).
Tetapi IA/Tuhan pasti disukakan ketika kita bergantung
kepadaNya/ketika kita melayani orang lain, Tuhan lebih tertarik pada
siapa kita, dari pada apa yang dapat kita lakukan .
Bagaimana dengan kita? Apakah kita adalah pemimpin yang baik?
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang MELAYANI .
Xavier
Quentin Pranata
“Apa
yang tidak kita hargai saat diambil dari kita baru kita merasa
kehilangan.” Xavier Quentin Pranata.
Samuel
Sianto-Yestoya Ministry
Maz
105:24 – TUHAN membuat umat-NYA sangat subur dan menjadikannya
lebih kuat dari pada para lawannya! Wow, kita wess sangat diberkati
juga masih diberi kekuatan. Amin3x! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA
Ministry.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Jumat, 1 Juli 2016. “Dosen” Tiranus. Tetapi justru karena
itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling
berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan
demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya
kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal (1 Timotius 1:16).
Kecerdasan seperti pedang bermata dua. Di satu sisi bisa dipakai
untuk mengerjakan kebaikan sehingga berdampak positif. Di sisi lain
bisa disalahgunakan sehingga menyebabkan kerugian. Contohnya para
koruptor yang mengkorupsi uang negara. Mereka bukan orang bodoh, tapi
sangat cerdas. KPK butuh waktu lama untuk mengumpulkan bukti dan
menangkap mereka. Paulus adalah orang yang sangat cerdas. Ia dididik
dengan teliti dibawah pimpinan Gamaliel, ahli Taurat yang sangat
dihormati banyak orang. Ia tumbuh menjadi orang yang giat bekerja
bagi Allah. Sayangnya, kecerdasannya saat itu dipakai untuk
menganiaya para pengikut Tuhan sampai mereka mati. Paulus mengakui
dirinya tadinya seorang penghujat dan seorang ganas (ay. 13). Namun,
oleh kasih karunia Allah, ia dipakai sebagai rasul. Ia melihat
dirinya sebagai orang yang paling berdosa, namun kemudian percaya
kepada Yesus dan mendapatkan hidup yang kekal (ay. 16). Paulus
mengucap syukur atas kasih karunia Allah sehingga dia memakai segala
kecerdasannya untuk memberitakan Injil. Dengan kecerdasannya, Paulus
memberitakan kebenaran firman Tuhan kepada siapa saja dan menjadi
“dosen” di ruang kuliah Tiranus (Kis. 19:9). Kita memerlukan
kecerdasan dalam hampir segala pekerjaan. Karena itu, kita mesti
mengimbanginya dengan memiliki hati yang takut akan Tuhan. Semakin
kita cerdas, hendaknya hati kita semakin takut akan Tuhan sehingga
mampu memilih mana yang patut dilakukan dan mana yang tidak —RTG.
KECERDASAN HARUS DIIMBANGI DENGAN HATI YANG TAKUT AKAN TUHAN. Selamat
pagi. Selalu bersyukur ya. Selamat menikmati liburan. Tuhan Yesus
memberkati.

No comments:
Post a Comment