Friday, 1 July 2016

1 Juli 2016

I AM BLESSED




Pemimpin yang Melayani. Matius 20:26-28, 26Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 27dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; 28sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Masing-masing kita mempunyai tugas dan peran yang berbeda-beda, baik sebagai Ibu Rumah Tangga, orang tua, anak, pekerja pemimpin atau pelajar, sahabat. Pertanyaannya adalah: Apakah kita melaksanakan tugas dan peran kita tersebut dengan sikap RELA MELAYANI? Sekalipun kesibukan rutin saya terkadang melelahkan, saya bersyukur Tuhan menolong saya karena saya ingin mengikuti teladanNya & RELA melayani sesama . Merasa kecewa dalam pelayanan merupakan hal yang normal, tidak ada seorangpun yang kebal terhadapnya. Namun melalui kekecewaan-kekecewaan inilah Tuhan mendorong saya untuk LEBIH BERGANTUNG kepadaNya. Tuhan tidak butuh kita membantu/MELAYANI DIA untuk melakukan pekerjaanNya (jadi teringat komsel gabungan kemarin Rabu, sharing salah satu PKS Citraland: Tuhan tidak butuh pelayanan kita, tetapi kita BUTUH untuk MELAYANI Tuhan ). Tetapi IA/Tuhan pasti disukakan ketika kita bergantung kepadaNya/ketika kita melayani orang lain, Tuhan lebih tertarik pada siapa kita, dari pada apa yang dapat kita lakukan . Bagaimana dengan kita? Apakah kita adalah pemimpin yang baik? Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang MELAYANI .

Xavier Quentin Pranata
Apa yang tidak kita hargai saat diambil dari kita baru kita merasa kehilangan.” Xavier Quentin Pranata.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Maz 105:24 – TUHAN membuat umat-NYA sangat subur dan menjadikannya lebih kuat dari pada para lawannya! Wow, kita wess sangat diberkati juga masih diberi kekuatan. Amin3x! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Jumat, 1 Juli 2016. “Dosen” Tiranus. Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal (1 Timotius 1:16). Kecerdasan seperti pedang bermata dua. Di satu sisi bisa dipakai untuk mengerjakan kebaikan sehingga berdampak positif. Di sisi lain bisa disalahgunakan sehingga menyebabkan kerugian. Contohnya para koruptor yang mengkorupsi uang negara. Mereka bukan orang bodoh, tapi sangat cerdas. KPK butuh waktu lama untuk mengumpulkan bukti dan menangkap mereka. Paulus adalah orang yang sangat cerdas. Ia dididik dengan teliti dibawah pimpinan Gamaliel, ahli Taurat yang sangat dihormati banyak orang. Ia tumbuh menjadi orang yang giat bekerja bagi Allah. Sayangnya, kecerdasannya saat itu dipakai untuk menganiaya para pengikut Tuhan sampai mereka mati. Paulus mengakui dirinya tadinya seorang penghujat dan seorang ganas (ay. 13). Namun, oleh kasih karunia Allah, ia dipakai sebagai rasul. Ia melihat dirinya sebagai orang yang paling berdosa, namun kemudian percaya kepada Yesus dan mendapatkan hidup yang kekal (ay. 16). Paulus mengucap syukur atas kasih karunia Allah sehingga dia memakai segala kecerdasannya untuk memberitakan Injil. Dengan kecerdasannya, Paulus memberitakan kebenaran firman Tuhan kepada siapa saja dan menjadi “dosen” di ruang kuliah Tiranus (Kis. 19:9). Kita memerlukan kecerdasan dalam hampir segala pekerjaan. Karena itu, kita mesti mengimbanginya dengan memiliki hati yang takut akan Tuhan. Semakin kita cerdas, hendaknya hati kita semakin takut akan Tuhan sehingga mampu memilih mana yang patut dilakukan dan mana yang tidak —RTG. KECERDASAN HARUS DIIMBANGI DENGAN HATI YANG TAKUT AKAN TUHAN. Selamat pagi. Selalu bersyukur ya. Selamat menikmati liburan. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment