Thursday, 14 July 2016

14 Juli 2016

I AM BLESSED




Matius 5:13, “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” Kita semua tahu rasa garam itu pasti asin dan gurih apakah ada garam yang rasanya tawar?? Hidup kita diibaratkan seperti garam pasti rasanya “asin dan gurih” . Bagaimana kalau ada garam yang rasanya tawar? Pasti dibuang dan tidak akan dipakai lagi. Demikian dengan kita bila hidup kita “tidak ada rasanya”/tidak ada manfaatnya bagi orang lain,pasti hanya akan dilihat sebelah mata, bahkan dibuang dan diinjak orang . Adakah hidup kita sudah menjadi GARAM bagi sekeliling kita?

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
1 Sam 2:8 – TUHAN menegakkan orang yang hina. Mengangkat orang yang miskin, membawa mereka punya kursi kehormatan! Andalkan YESUS sebab DIA sanggup menolong dan memberkati kita. Awali segala sesuatu dengan doa. Mohon pimpinan-NYA! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Kamis, 14 Juli 2016. Aktif Berbuat Baik. Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Matius 7:12). Confusius, filsuf bijak dari Tiongkok, mengajarkan, “Apa saja yang engkau tidak mau orang lain melakukannya kepadamu, jangan lakukan hal itu pada orang lain.” Ajaran ini diteruskan dari generasi ke generasi dan menjadi salah satu “pagar moral” bangsa itu. Menurut ajaran ini, sebelum melakukan tindakan yang negatif, orang diajak untuk berpikir terlebih dulu: Jika orang lain melakukan hal ini pada diri saya, apakah saya akan merasa senang? Jika tidak, jangan lakukan hal itu kepada orang lain. Jika falsafah ini diterapkan, niscaya kejahatan akan jauh berkurang. Tuhan Yesus menyampaikan standar hidup yang serupa, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (ay. 12). Namun, ada perbedaan mendasar. Prinsip ini bersifat aktif, bukan pasif. Bukan hanya menahan diri untuk tidak melakukan pelanggaran dan kejahatan pada sesama, melainkan berinisiatif berbuat kebajikan dan memberkati sesama. Dunia bukan hanya menantikan berkurangnya kejahatan, bukan juga teori perbuatan baik, tetapi perbuatan baik yang berlandaskan kebenaran, dan nyata. Kristus, Sang Guru Agung, bukan hanya menyampaikan kebenaran, namun Dia secara aktif melakukannya dalam kehidupan nyata. Dia telah memberi teladan hidup untuk aktif: mengerjakan kebenaran untuk kebahagiaan sesama. Bagaimana dengan kita? Pemahaman kita terhadap kebenaran kiranya menghasilkan kebaikan nyata dalam hidup keseharian. Itulah buah iman dan kerohanian para pengikut Kristus yang sejati --Samuel Yudi Susanto/Renungan Harian. BUAH IMAN SEORANG KRISTIANI SEJATI DITUNJUKKAN DENGAN MELAKUKAN KEBENARAN SECARA AKTIF DAN NYATA DALAM HIDUP SEHARI-HARI. Selamat pagi. Selalu tersenyum. Tuhan Yesus memberkati.

Ibu Caroline – Bandung
Kamis, 14 Juli 2016. Bacaan: 2 Timotius 1:3-18. Setahun: Mazmur 108-118. Nas: Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan aku yakin hidup juga di dalam dirimu (2 Timotius 1:5). Punya Peran Besar. Fanny Crosby menjadi buta pada usia enam minggu karena kesalahan pengobatan. Neneknya, Eunice, bertekad Fanny tidak boleh tumbuh dengan merasa cacat atau tidak mampu melakukan apa-apa. Bertahun-tahun Eunice melatih cucunya dalam berbagai hal, seperti mendalami Alkitab, menjelajah alam, mengembangkan daya ingat yang luar biasa. Fanny berhasil menghafalkan banyak ayat-ayat firman Tuhan. Dari perbendaharaan pengetahuan dan pengalaman itu, ia menghasilkan himne-himne yang mengagumkan. “Peran nenek dalam hidup saya sungguh besar, saya tidak dapat mengungkapkannya melalui kata atau pena,” ujarnya. Nenek-kakek dapat memiliki peran dan pengaruh penting dan menentukan bagi cucu mereka. Timotius, misalnya, menjadi hamba Kristus, menjadi anak muda yang melayani dengan segenap hati, tidak terlepas dari peran sang nenek, Lois. Nenek Lois mengenal Kristus terlebih dulu. Bisa diduga, seperti digarisbawahi Rasul Paulus, Lois tekun menanamkan nilai-nilai kebenaran rohani dalam diri cucunya. Nantinya Timotius bukan hanya menjadi seseorang yang membanggakan keluarga, melainkan juga menyenangkan hati Allah. Sungguh suatu buah yang manis. Dalam usia yang sudah lanjut sekalipun, kita masih berkesempatan memengaruhi generasi penerus untuk hidup dalam takut akan Allah. Jika kita telah memiliki cucu, curahkanlah waktu, kasih sayang, perhatian, dan ajarkan kebenaran pada mereka. Kiranya masukan berharga itu akan terus membekas, bahkan menjadi tuntunan bagi masa depan mereka --Imelda Saputra. DALAM USIA BERAPA PUN, KITA DAPAT BERPERAN DAN BERPENGARUH BAGI KERAJAAN ALLAH. 

No comments:

Post a Comment