I
AM BLESSED
Matius
5:13, “Kamu adalah garam
dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?
Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”
Kita semua tahu rasa garam itu pasti asin dan gurih
apakah ada garam yang rasanya tawar?? Hidup kita diibaratkan seperti
garam
pasti rasanya “asin dan gurih” .
Bagaimana kalau ada garam yang rasanya tawar? Pasti dibuang dan tidak
akan dipakai lagi. Demikian dengan kita bila hidup kita “tidak ada
rasanya”/tidak ada manfaatnya bagi orang lain,pasti hanya akan
dilihat sebelah mata, bahkan dibuang dan diinjak orang .
Adakah hidup kita sudah menjadi GARAM bagi sekeliling kita?
Samuel
Sianto-Yestoya Ministry
1
Sam 2:8 – TUHAN menegakkan orang yang hina. Mengangkat orang yang
miskin, membawa mereka punya kursi kehormatan! Andalkan YESUS sebab
DIA sanggup menolong dan memberkati kita. Awali segala sesuatu dengan
doa. Mohon pimpinan-NYA! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Kamis, 14 Juli 2016. Aktif Berbuat Baik. Segala sesuatu yang
kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian
juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para
nabi (Matius 7:12). Confusius, filsuf bijak dari Tiongkok,
mengajarkan, “Apa saja yang engkau tidak mau orang lain
melakukannya kepadamu, jangan lakukan hal itu pada orang lain.”
Ajaran ini diteruskan dari generasi ke generasi dan menjadi salah
satu “pagar moral” bangsa itu. Menurut ajaran ini, sebelum
melakukan tindakan yang negatif, orang diajak untuk berpikir terlebih
dulu: Jika orang lain melakukan hal ini pada diri saya, apakah saya
akan merasa senang? Jika tidak, jangan lakukan hal itu kepada orang
lain. Jika falsafah ini diterapkan, niscaya kejahatan akan jauh
berkurang. Tuhan Yesus menyampaikan standar hidup yang serupa,
“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu,
perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum
Taurat dan kitab para nabi” (ay. 12). Namun, ada perbedaan
mendasar. Prinsip ini bersifat aktif, bukan pasif. Bukan hanya
menahan diri untuk tidak melakukan pelanggaran dan kejahatan pada
sesama, melainkan berinisiatif berbuat kebajikan dan memberkati
sesama. Dunia bukan hanya menantikan berkurangnya kejahatan, bukan
juga teori perbuatan baik, tetapi perbuatan baik yang berlandaskan
kebenaran, dan nyata. Kristus, Sang Guru Agung, bukan hanya
menyampaikan kebenaran, namun Dia secara aktif melakukannya dalam
kehidupan nyata. Dia telah memberi teladan hidup untuk aktif:
mengerjakan kebenaran untuk kebahagiaan sesama. Bagaimana dengan
kita? Pemahaman kita terhadap kebenaran kiranya menghasilkan kebaikan
nyata dalam hidup keseharian. Itulah buah iman dan kerohanian para
pengikut Kristus yang sejati --Samuel Yudi Susanto/Renungan Harian.
BUAH IMAN SEORANG KRISTIANI SEJATI DITUNJUKKAN DENGAN MELAKUKAN
KEBENARAN SECARA AKTIF DAN NYATA DALAM HIDUP SEHARI-HARI. Selamat
pagi. Selalu tersenyum. Tuhan Yesus memberkati.
Ibu
Caroline – Bandung
Kamis,
14 Juli 2016. Bacaan: 2 Timotius 1:3-18. Setahun: Mazmur 108-118.
Nas: Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman
yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu
Eunike dan aku yakin hidup juga di dalam dirimu (2 Timotius 1:5).
Punya Peran Besar. Fanny Crosby menjadi buta pada usia enam minggu
karena kesalahan pengobatan. Neneknya, Eunice, bertekad Fanny tidak
boleh tumbuh dengan merasa cacat atau tidak mampu melakukan apa-apa.
Bertahun-tahun Eunice melatih cucunya dalam berbagai hal, seperti
mendalami Alkitab, menjelajah alam, mengembangkan daya ingat yang
luar biasa. Fanny berhasil menghafalkan banyak ayat-ayat firman
Tuhan. Dari perbendaharaan pengetahuan dan pengalaman itu, ia
menghasilkan himne-himne yang mengagumkan. “Peran nenek dalam hidup
saya sungguh besar, saya tidak dapat mengungkapkannya melalui kata
atau pena,” ujarnya. Nenek-kakek dapat memiliki peran dan pengaruh
penting dan menentukan bagi cucu mereka. Timotius, misalnya, menjadi
hamba Kristus, menjadi anak muda yang melayani dengan segenap hati,
tidak terlepas dari peran sang nenek, Lois. Nenek Lois mengenal
Kristus terlebih dulu. Bisa diduga, seperti digarisbawahi Rasul
Paulus, Lois tekun menanamkan nilai-nilai kebenaran rohani dalam diri
cucunya. Nantinya Timotius bukan hanya menjadi seseorang yang
membanggakan keluarga, melainkan juga menyenangkan hati Allah.
Sungguh suatu buah yang manis. Dalam usia yang sudah lanjut
sekalipun, kita masih berkesempatan memengaruhi generasi penerus
untuk hidup dalam takut akan Allah. Jika kita telah memiliki cucu,
curahkanlah waktu, kasih sayang, perhatian, dan ajarkan kebenaran
pada mereka. Kiranya masukan berharga itu akan terus membekas, bahkan
menjadi tuntunan bagi masa depan mereka --Imelda Saputra. DALAM USIA
BERAPA PUN, KITA DAPAT BERPERAN DAN BERPENGARUH BAGI KERAJAAN ALLAH.

No comments:
Post a Comment