Sunday, 10 July 2016

10 Juli 2016

I AM BLESSED




Yohanes 15:5, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting- rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia BERBUAH banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Pria dan wanita yang ditanam di tanah yang subur dalam kebun anggur Allah akan terus BERBUAH menjadi gemuk dan segar, bahkan Yesus berjanji bahwa barang siapa tinggal didalam AKU & AKU didalam dia akan terus BERBUAH banyak. Jadi berapapun usia kita, kita dapat memiliki kehidupan yang segar dan BERBUAH. Amin.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Maz 119:165 – Besarlah ketenteraman pada orang-orang yang mencintai firman-MU, tidak ada batu sandungan bagi mereka! Mau tenteram dan nyaman? Cintai firman-NYA... Yuk baca/dengar, renungno, lakukan firman-NYA. Pasti hidup ini Indah. Selamat ibadah dan melayani! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Minggu, 10 Juli 2016. Piala Retak. Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2 Korintus 5:17). Suatu hari anak saya menjadi juara kedua lomba kreativitas dan diberi hadiah piala yang cukup tinggi. Saat saya bawa pulang, tak sengaja kepala piala terjatuh sehingga patah. Saya kumpulkan patahan kepala piala tersebut dan kemudian menempelkannya kembali dengan lem super. Dari jauh memang tidak terlalu kelihatan, namun, jika dilihat dari dekat, jelas sekali ada empat retakan pada piala tersebut. Bagaimanapun, piala itu sudah tidak utuh. Kalau dipikir-pikir, bukankah kehidupan kita sebagai manusia agak mirip dengan piala itu? Pada awalnya Allah menciptakan manusia sesuai dengan rupa dan gambar-Nya (Kej. 1:27). Manusia bagaikan piala yang sempurna tanpa cacat. Namun, setelah jatuh ke dalam dosa, hidup manusia bagaikan piala retak karena adanya dosa. Namun, karena begitu besar kasih-Nya kepada manusia, Allah pun mengutus anak-Nya menjadi manusia untuk menebus manusia. Yesus tidak berperan sebagai lem super untuk memperbaiki hidup kita yang lama; sebaliknya, Dia memberikan kehidupan yang baru sama sekali. Segala keretakan kita akibat dosa telah ditanggung oleh Tuhan Yesus Kristus satu kali untuk selama-lamanya. Yesus Kristus, yang tiada berdosa, dibuat menjadi berdosa, supaya kita dapat memperoleh kehidupan baru yang tidak bercacat dari Tuhan (ay. 21). Dalam kehidupan yang baru ini, kita dipanggil sebagai perwakilan Tuhan (ay. 20) karena sekarang kita tidak hidup untuk diri sendiri (ay. 15). Oleh karena itu, marilah kita memuliakan Tuhan dengan kehidupan kita! --Hoki Cahyadi/Renungan Harian. OLEH YESUS, KEHIDUPAN KITA YANG TELAH RETAK IGANTIKAN DENGAN KEHIDUPAN YANG BARU. Selamat pagi. Selamat beribadah. Tuhan Yesus memberkati.

Bp. Budi – PT. Multipack Unggul
Ada seekor nyamuk yang selalu ketakutan ketika bertemu dengan cicak, karena cicak memakan nyamuk. Nyamuk pun memohon agar dirinya bisa berubah menjadi seekor cicak. Saat menjadi seekor cicak, ia masih tetap saja ketakutan karena ada hewan lain yang ingin juga memangsanya. Akhirnya ia memohon untuk bisa menjadi binatang yang paling ditakuti. Ia pun berubah menjadi seekor serigala. Ketika ia berjalan dengan sombongnya, tiba-tiba ia merasa takut ketika mendengar suara peluru. Ternyata ada beberapa pemburu yang ingin memburunya. Berubah menjadi apapun ia, tetap saja nyalinya seperti nyamuk. Berapa banyak diantara kita yang memohon untuk diberi Kekuatan & Keberanian oleh TUHAN? Berapa banyak di antara kita yang masih tetap saja memiliki ketakutan sama seperti sebelumnya? Ke mana kehidupan baru yang sudah TUHAN berikan kepada kita? Mari kita pancarkan harapan baru dalam hidup kita, buang semua Kekuatiran & Ketakutan yang telah membelenggu kehidupan kita. Jangan pernah hidup dalam bayang-bayang masa lalu, karena semua itu akan merusak kehidupan kita yang baru. “Serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah” (Mazmur 55:23). God bless you.

Xavier Quentin Pranata
Jika kita tidak suka apa yang orang lain lakukan terhadap kita, mengapa kita sendiri lakukan hal yang sama?” Xavier Quentin Pranata.

No comments:

Post a Comment