Saturday, 23 July 2016

23 Juli 2016

I AM BLESSED




1 Korintus 9:16, “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” Ketika Rasul Paulus telah diselamat kan, Dia pun ingin “menyelamatkan” orang lain. Memberirtakan Injil bukan pilihan, tetapi KEWAJIBAN/KEHARUSAN (bagi Rasul saat itu). Firman Tuhan pagi ini tidak hanya untuk Rasul Paulus dan jemaat di Korintus, tetapi Firman Tuhan untuk kita semua. Amin. Dari sekian banyak teman-teman yang kita miliki berapa banyak yang kepercayaannya berbeda dengan kita? Pernahkah kita memberitakan kabar baik itu bagi mereka? Jika memberitakan Injil bukan pilihan, sudah seharusnya kita menyadari betapa pentingnya kita harus memberitakan InjilNya. Amin.

Bp. Budi – PT. Multipack Unggul
Sabtu, 23 Juli 2016. Bacaan: 1 Samuel 16:1-13. Setahun: Amsal 15-19. Nas: ... manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati (1 Samuel 16:7). Melihat Hati. Pernahkah Anda begitu terinspirasi oleh seorang hamba Tuhan sehingga, entah secara sengaja entah tidak, Anda meniru berbagai kebiasaan dan gaya hidupnya? Saya pernah. Begitu terinspirasinya saya oleh hamba Tuhan itu sehingga saya berusaha mengikuti caranya berdoa dan membaca Alkitab, dengan harapan saya akan mendapatkan pengalaman rohani bersama dengan Tuhan seperti dirinya. Nyatanya, semua itu sia-sia belaka. Walaupun sudah mengikuti praktik kerohaniannya semirip mungkin, saya tidak mendapatkan pengalaman yang serupa dengan pengalaman rohaninya. Kenapa? Karena untuk mengalami Tuhan yang dibutuhkan bukanlah metode, melainkan hati. Seringkali sebagai orang Kristen kita berpikir tentang metode apa yang harus dilakukan supaya kita bisa mengalami Tuhan, atau doa seperti apa yang akan dijawab Tuhan, atau bagaimana caranya membaca Alkitab yang benar. Semua itu memang baik dan layak untuk kita cari jawabannya. Akan tetapi, yang lebih utama adalah bagaimana hati kita di hadapan Tuhan. Percuma kita melakukan banyak hal yang tampak baik dan rohaniah, tetapi tidak dengan hati yang rindu mengenal Tuhan secara lebih mendalam. Kiranya kita tidak berfokus pada hal yang keliru. Tuhan tidak melihat metode atau “pengurbanan” kita (berapa lama kita berdoa atau berapa banyak uang persembahan kita). Dia mencari hati yang lapar dan haus akan Dia. Lakukanlah praktik kerohanian bukan hanya dengan metode yang benar, melainkan terutama dengan sikap hati yang benar --Denny Pranolo. SEMUA TINDAKAN ROHANI TANPA SIKAP HATI YANG BENAR ADALAH SIA-SIA.

Ibu Tatik – Bank Ekonomi
Renungan “Bahasa Kasih”. Sabtu, 23 Juli 2016. Yer 7:1-11; Mzm 84:3-6,8,11; Mat 13:24-30. Lalang opo gandum? ...kumpulkanlah dahulu lalang itu…untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku --Mat 13:30. Bentuk gandum dan lalang sangat mirip. Pada umur 0 – 30 hari, orang sulit menentukan mana gandum dan mana lalang. Lalang mempunyai akar yang kuat dan menghisap lebih banyak nutrisi daripada gandum. Namun, lalang tidak berbuah, sedangkan gandum berbuah. Dari gandum, kita bisa membuat aneka makanan enak seperti roti, biskuit, spaghetti, puding, dan lain-lain. Orang yang aktif di gereja, dapat dikelompokkan sebagai lalang dan gandum. Orang-orang yang melakukan pelayanan karena bersyukur atas cinta kasih Tuhan yang pernah mereka alami termasuk dalam kelompok gandum. Mereka tidak merasa terhina sekalipun hanya diminta untuk mengatur dan membereskan kembali kursi-kursi yang telah dipakai. Sepulang dari pelayanan, hatinya pasti diliputi sukacita, bukan amarah. Kelompok lalang adalah orang-orang yang melakukan pelayanan karena hobi. Mereka senang menyanyi, bermain musik atau mengajar, dan menyalurkan bakatnya dalam pelayanan. Ketika timbul perselisihan dengan orang lain, pengajaran yang dibawakan menyindir orang yang tidak disukai. Ada juga yang marah-marah ketika diminta bermain musik secara mendadak. Orang-orang jenis ini tidak menyadari bahwa pelayanan adalah sebuah persembahan kepada Tuhan. Dari mana kita tahu pelayanan seseorang sekedar hobi atau benar-benar tulus? Dari buah-buahnya. Kedewasaan kristiani tidak dapat diukur dari banyaknya pelayanan atau hebatnya pelayanan yang dilakukan. Kematangan seorang pengikut Kristus diperoleh dari semakin dalamnya hubungan orang tersebut dengan Tuhan (Yo). Jika pelayanan saya diuji, apakah saya seperti “lalang” atau “gandum”?

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Ams 20:7 – Orang BENAR yang bersih kelakuannya; BERBAHAGIALAH keturunannya! Inilah warisan yang terbaik buat anak-cucu kita. Ayo kita orang benar yang kelakuannya bersih jadi TELADAN hidup! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Xavier Quentin Pranata
Komitmen bukan seperti kobaran api yang menyala besar lalu padam, melainkan api yang sekecil apa pun tetap menyala dalam waktu lama.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Sabtu, 23 Juli 2016. Mempertanyakan Kehidupan. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:33). Adi terpukul. Dalam hati, ia bertanya mengapa Tuhan bertindak tidak adil padanya. Kedua orangtuanya tewas dalam kecelakaan pesawat terbang dan meninggalkannya bersama dua orang adik, yang masih duduk di bangku SD. Tak henti ia menghela napas mengingat kejadian itu. Kini ia harus berjuang seorang diri dalam membesarkan adik-adiknya. Wajar jika ia gentar khawatir. Yesus mengajarkan orang agar tidak khawatir akan hidup yang mereka jalani (ay. 25). Bukan hanya itu, Yesus juga mengajarkan kepada mereka bahwa kekhawatiran tersebut belum tentu membuat hidup mereka menjadi lebih baik (ay. 27). Bahkan, mungkin saja kekhawatiran itu akan membuat kehidupan mereka lebih buruk sehingga mengkhawatirkan hidup merupakan hal yang sia-sia. Dalam kehidupan, kita sering merasa bahwa hidup kita sangat buruk dibandingkan dengan hidup orang lain melalui kejadian menyakitkan yang kita alami. Akibatnya, perhatian kita jadi terfokus pada masalah tersebut, dan kita sulit bangkit dari keterpurukan itu. Memang wajar jika orang khawatir ketika menghadapi kesusahan hidup. Namun, firman Tuhan mengajak kita tetap memusatkan perhatian pada Allah. Dia yang menciptakan kehidupan kita, Dia pula yang berjanji untuk memelihara kita (ay. 30). Hidup itu sendiri suatu anugerah dan lebih penting dari segala kekhawatiran yang mematikan. Kiranya pengharapan akan pemeliharaan Allah itu membangkitkan ketenteraman dalam hati kita, memunculkan ide untuk mengatasi kesulitan, dan memampukan kita untuk mewujudkannya —AST. BERFOKUS PADA MASALAH MENDATANGKAN KEKHAWATIRAN; BERFOKUS PADA ALLAH MENDATANGKAN KETENTERAMAN DAN KEKUATAN. Selamat pagi. Selamat berakhir pekan. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment