I
AM BLESSED
1
Korintus 9:16, “Karena
jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk
memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku,
jika aku tidak memberitakan Injil.”
Ketika Rasul Paulus telah diselamat kan, Dia pun ingin
“menyelamatkan”
orang lain. Memberirtakan Injil bukan
pilihan, tetapi
KEWAJIBAN/KEHARUSAN (bagi Rasul saat itu). Firman Tuhan pagi ini
tidak hanya untuk Rasul Paulus dan jemaat di Korintus, tetapi Firman
Tuhan untuk kita semua. Amin. Dari sekian banyak teman-teman yang
kita miliki berapa banyak yang kepercayaannya berbeda dengan kita?
Pernahkah kita memberitakan kabar baik itu bagi mereka? Jika
memberitakan Injil bukan pilihan, sudah seharusnya kita menyadari
betapa pentingnya kita harus memberitakan
InjilNya. Amin.
Bp.
Budi – PT. Multipack Unggul
Sabtu,
23 Juli 2016. Bacaan: 1 Samuel 16:1-13. Setahun: Amsal 15-19. Nas:
... manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati
(1 Samuel 16:7). Melihat Hati. Pernahkah Anda begitu terinspirasi
oleh seorang hamba Tuhan sehingga, entah secara sengaja entah tidak,
Anda meniru berbagai kebiasaan dan gaya hidupnya? Saya pernah. Begitu
terinspirasinya saya oleh hamba Tuhan itu sehingga saya berusaha
mengikuti caranya berdoa dan membaca Alkitab, dengan harapan saya
akan mendapatkan pengalaman rohani bersama dengan Tuhan seperti
dirinya. Nyatanya, semua itu sia-sia belaka. Walaupun sudah mengikuti
praktik kerohaniannya semirip mungkin, saya tidak mendapatkan
pengalaman yang serupa dengan pengalaman rohaninya. Kenapa? Karena
untuk mengalami Tuhan yang dibutuhkan bukanlah metode, melainkan
hati. Seringkali sebagai orang Kristen kita berpikir tentang metode
apa yang harus dilakukan supaya kita bisa mengalami Tuhan, atau doa
seperti apa yang akan dijawab Tuhan, atau bagaimana caranya membaca
Alkitab yang benar. Semua itu memang baik dan layak untuk kita cari
jawabannya. Akan tetapi, yang lebih utama adalah bagaimana hati kita
di hadapan Tuhan. Percuma kita melakukan banyak hal yang tampak baik
dan rohaniah, tetapi tidak dengan hati yang rindu mengenal Tuhan
secara lebih mendalam. Kiranya kita tidak berfokus pada hal yang
keliru. Tuhan tidak melihat metode atau “pengurbanan” kita
(berapa lama kita berdoa atau berapa banyak uang persembahan kita).
Dia mencari hati yang lapar dan haus akan Dia. Lakukanlah praktik
kerohanian bukan hanya dengan metode yang benar, melainkan terutama
dengan sikap hati yang benar --Denny Pranolo. SEMUA TINDAKAN ROHANI
TANPA SIKAP HATI YANG BENAR ADALAH SIA-SIA.
Ibu
Tatik – Bank Ekonomi
Renungan
“Bahasa Kasih”. Sabtu, 23 Juli 2016. Yer 7:1-11; Mzm 84:3-6,8,11;
Mat 13:24-30. Lalang opo gandum? ...kumpulkanlah dahulu lalang
itu…untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam
lumbungku --Mat 13:30. Bentuk gandum dan lalang sangat mirip. Pada
umur 0 – 30 hari, orang sulit menentukan mana gandum dan mana
lalang. Lalang mempunyai akar yang kuat dan menghisap lebih banyak
nutrisi daripada gandum. Namun, lalang tidak berbuah, sedangkan
gandum berbuah. Dari gandum, kita bisa membuat aneka makanan enak
seperti roti, biskuit, spaghetti, puding, dan lain-lain. Orang yang
aktif di gereja, dapat dikelompokkan sebagai lalang dan gandum.
Orang-orang yang melakukan pelayanan karena bersyukur atas cinta
kasih Tuhan yang pernah mereka alami termasuk dalam kelompok gandum.
Mereka tidak merasa terhina sekalipun hanya diminta untuk mengatur
dan membereskan kembali kursi-kursi yang telah dipakai. Sepulang dari
pelayanan, hatinya pasti diliputi sukacita, bukan amarah. Kelompok
lalang adalah orang-orang yang melakukan pelayanan karena hobi.
Mereka senang menyanyi, bermain musik atau mengajar, dan menyalurkan
bakatnya dalam pelayanan. Ketika timbul perselisihan dengan orang
lain, pengajaran yang dibawakan menyindir orang yang tidak disukai.
Ada juga yang marah-marah ketika diminta bermain musik secara
mendadak. Orang-orang jenis ini tidak menyadari bahwa pelayanan
adalah sebuah persembahan kepada Tuhan. Dari mana kita tahu pelayanan
seseorang sekedar hobi atau benar-benar tulus? Dari buah-buahnya.
Kedewasaan kristiani tidak dapat diukur dari banyaknya pelayanan atau
hebatnya pelayanan yang dilakukan. Kematangan seorang pengikut
Kristus diperoleh dari semakin dalamnya hubungan orang tersebut
dengan Tuhan (Yo). Jika pelayanan saya diuji, apakah saya seperti
“lalang” atau “gandum”?
Samuel
Sianto-Yestoya Ministry
Ams
20:7 – Orang BENAR yang bersih kelakuannya; BERBAHAGIALAH
keturunannya! Inilah warisan yang terbaik buat anak-cucu kita. Ayo
kita orang benar yang kelakuannya bersih jadi TELADAN hidup! Samuel
Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Xavier
Quentin Pranata
“Komitmen
bukan seperti kobaran api yang menyala besar lalu padam, melainkan
api yang sekecil apa pun tetap menyala dalam waktu lama.” Xavier
Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Sabtu, 23 Juli 2016. Mempertanyakan Kehidupan. Tetapi carilah
dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan
ditambahkan kepadamu (Matius 6:33). Adi terpukul. Dalam hati, ia
bertanya mengapa Tuhan bertindak tidak adil padanya. Kedua
orangtuanya tewas dalam kecelakaan pesawat terbang dan
meninggalkannya bersama dua orang adik, yang masih duduk di bangku
SD. Tak henti ia menghela napas mengingat kejadian itu. Kini ia harus
berjuang seorang diri dalam membesarkan adik-adiknya. Wajar jika ia
gentar khawatir. Yesus mengajarkan orang agar tidak khawatir akan
hidup yang mereka jalani (ay. 25). Bukan hanya itu, Yesus juga
mengajarkan kepada mereka bahwa kekhawatiran tersebut belum tentu
membuat hidup mereka menjadi lebih baik (ay. 27). Bahkan, mungkin
saja kekhawatiran itu akan membuat kehidupan mereka lebih buruk
sehingga mengkhawatirkan hidup merupakan hal yang sia-sia. Dalam
kehidupan, kita sering merasa bahwa hidup kita sangat buruk
dibandingkan dengan hidup orang lain melalui kejadian menyakitkan
yang kita alami. Akibatnya, perhatian kita jadi terfokus pada masalah
tersebut, dan kita sulit bangkit dari keterpurukan itu. Memang wajar
jika orang khawatir ketika menghadapi kesusahan hidup. Namun, firman
Tuhan mengajak kita tetap memusatkan perhatian pada Allah. Dia yang
menciptakan kehidupan kita, Dia pula yang berjanji untuk memelihara
kita (ay. 30). Hidup itu sendiri suatu anugerah dan lebih penting
dari segala kekhawatiran yang mematikan. Kiranya pengharapan akan
pemeliharaan Allah itu membangkitkan ketenteraman dalam hati kita,
memunculkan ide untuk mengatasi kesulitan, dan memampukan kita untuk
mewujudkannya —AST. BERFOKUS PADA MASALAH MENDATANGKAN
KEKHAWATIRAN; BERFOKUS PADA ALLAH MENDATANGKAN KETENTERAMAN DAN
KEKUATAN. Selamat pagi. Selamat berakhir pekan. Tuhan Yesus
memberkati.

No comments:
Post a Comment