Tuesday, 30 December 2014

30 Desember 2014


2 Timotius 1:16, “Tuhan kiranya me-ngaruniakan rahmat-Nya kepada keluarga Onesiforus yang telah berulang-ulang menye-garkan hatiku. Ia tidak malu menjumpai aku di dalam penjara.” Ketika kita PEDULI ke-pada mereka yang membutuhkan, kita sedang mengikuti teladan Kristus J. KePEDULIan kita kepada sesama dapat kita lakukan dengan mengasihi, memberi & melayani mereka yang membutuhkan. Mari menjadi pribadi yang lebih PEDULI kepada sesama kita dengan apa yang dapat kita berikan kepada mereka melalui  waktu, tenaga, perhatian & kasih kita. Filipi 2:3-5, “dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Amin.


Respon 1
2 Timotius 1:16; Tuhan kiranya mengarunia-kan rahmat- Nya kepada keluarga Onesiforus yang telah berulang-ulang menyegarkan hatiku. Ia tidak malu menjumpai aku di dalam penjara. Sedikit saja perhatian bisa membuat orang lain berubah. Karena pada dasarnya setiap orang ingin diperhatikan. Perhatian salah satu bentuk kepedulian kita pada orang lain. Hanya senyum dan jabat tangan saja bisa membuat orang merasa dihargai dan dipedulikan. Belajar peduli pada orang lain itu nggak ribet kok… Menyapa dan tersenyum itu sudah cukup mewakilinya. Good morning everyone... J


Respon 2
“Rumah cinta tanpa tiang komitmen hancur, tiang komitmen tanpa atap cinta kedinginan.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 3
SAAT TEDUH. Selasa, 30 Des 2014. Tak Lagi Diperhitungkan. Sebab itu, kita yang dibenarkan  berdasarkan iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah melalui Tuhan kita, Yesus Kristus. (Roma 5:1) Pernah disidang? Bagaimana rasanya? Takut? Tegang? Apalagi kalau Anda berada dipihak yang salah. Betapa gelisahnya! Paulus mema-kai suasana persidangan ketika ia menulis bahwa kita adalah orang yang “dibenarkan”. Artinya, kita sebetulnya bersalah, berdosa, namun karena sesuatu, kita dibuat menjadi benar. Kesalahan kita tak lagi diperhitungkan. Sesuatu itu adalah iman kepada kasih Kristus. Iman kita membuka jalan bagi hadirnya karunia, yang membenarkan kita orang berdosa ini. Rahmat yang besar! Setelah itu? Menganggur dalam kemanjaan rahmat Tuhan? Tidak sama sekali. Orang yang sudah mengalami pembenaran Allah mendapatkan motivasi untuk mengelola kehidupan baru yang selaras dengan iman yang membebaskannya dari kungkungan dosa itu. Jadi, setelah pembenaran, justru ada perjuangan  baru.  Jalannya  sulit. Paulus menyebutnya “kesengsaraan”. Bukan berarti orang Kristen harus memuja kesengsaraan, namun orang Kristen perlu berani mengolah kesengsaraan dengan iman kepada Allah sehingga hidupnya berakar kuat dan membuahkan berkat. Paulus menegaskan, bila semasa berdosa saja kita ditawari kasih karunia, apalagi sekarang ketika kita sudah dibenarkan, pastilah tersedia kasih karunia itu dengan limpah ruah. Bagaimana dengan hidup kita? Masih kacau balau atau telah berjalan dalam anugerah Allah? Bagaimanapun, anugerah-Nya terus melingkupi kita. Apakah kita menyambutnya dengan gegap gempita atau membiarkannya bak sampah tak ber-guna? SIMUL JUSTUS ET PECCATOR.—Martin Luther. MASIH BERGUMUL MELAWAN DOSA, NAMUN SUDAH DIBENARKAN. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.

Respon 4
Renungan Menjelang Tutup Tahun. “Selama beberapa hari berlayar, kami hampir-hampir tidak maju dan dengan susah payah, kami mendekati Knidus. Karena angin tetap tidak baik, kami menyusur pantai Kreta melewati tanjung Salmone” (Kisah Rasul 27:7) Hal Pertama pertanyaannya adalah apakah kita sejak ikut Tuhan Yesus, orang berkata “ini orang maju lho..” Atau sebenarnya orang berkata “Sebenarnya kamu sudah ikut lama denga Tuhan, tapi tidak ada kemajuannya”. Biasanya kalau orang Kristen dikatakan: “Kamu tidak maju”, marahnya luar biasa. Orang yang dikatakan tidak maju dan dia marah malah membuktikan betul-betul tidak maju. Sebab kalau dia maju kerohaniannya, dia tidak akan marah. Tapi berapa banyak orang Kristen sebenarnya dikategorikan hampir-hampir tidak maju. Majunya itu sebetulnya lambatnya luar biasa. Coba re-nungkan, dimana kita berdiri waktu kita terima Tuhan Yesus sekian tahun lalu, banding-kan lima tahun lalu kita berdiri dimana? Buah kita selebat apa? Bandingkan sekarang. Benarkah kita sudah benar-benar maksimal? Apakah kita semakin mengasihi Tuhan? Apakah kita semakin mengasihi sesama kita? Biarlah ini jadi perenenungan kita di akhir tahun ini. Minta anugerahNya yang memam-pukan untuk lebih menghasilkan buah-buah, terutama buah-buah Roh... Gbu.

Respon 5
Selasa, 30 Desember 2014. Bacaan: Yakobus 4:13-17. Setahun: Wahyu 19-20. Nats: Sebenarnya kamu harus berkata, ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.’ (Yakobus 4:15). MISTERI MASA DEPAN. Tak ada seorang pun yang tahu pasti apa yang akan terjadi nanti. Jangankan satu tahun, satu bulan, atau satu minggu ke depan. Hari esok, satu jam, bahkan untuk satu menit ke depan pun tak ada orang yang tahu pasti apa yang akan terjadi. Orang hanya bisa meramal, namun masa depan tetaplah misteri. Mengapa Tuhan tidak mengizinkan manusia memiliki kuasa untuk mengetahui masa depan? Bacaan Alkitab hari ini menjawab pertanyaan itu. Jika manusia memiliki kuasa untuk mengetahui apa yang akan terjadi esok, manusia akan mudah memegahkan diri dalam congkaknya (ay. 16). Manusia tak akan lagi bergantung pada Tuhan. Sebaliknya, manusia akan bergantung pada kekuatannya sendiri untuk menaklukkan segala kesusahan hari esok. Padahal, Tuhan sungguh-sungguh rindu melihat kita senantiasa bergantung pada-Nya. Dia rindu menjadi Pemandu dan Pemelihara kita sepanjang perjalanan hidup ini. Lagi pula, bukankah banyak hal tak bisa ditaklukkan oleh kekuatan manusia semata? Masa depan akan tetap jadi misteri. Hanya Tuhan yang tahu pasti apa yang akan terjadi nanti. Bukan kita tak boleh menyusun rencana, tapi kita tak boleh lupa: Siapakah manusia, bisa mereka-reka masa depan? Hidup kita bak uap saja. Sebentar kelihatan lalu lenyap (ay. 14). Itulah sebabnya, dalam menyusun rencana, tak perlu bermegah apalagi congkak. Kita tak pernah tahu, apa yang akan terjadi esok. Perkatakan selalu dalam hati: “Tuhan ini rencanaku, jadilah seturut kehendak-Mu” (ay. 15). --Okky Sutanto. ANDALKAN TUHAN SENANTIASA, DIALAH PEMANDU DAN PEMELIHARA PERJALANAN KITA.


Respon 6
Firman TUHAN di: Fil 2:3-5 mengharuskan kita untuk merendahkan hati, menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri. Dan menurut saya yang paling berat: TUHAN mengharuskan kita di dalam hidup bersama menaruh pikiran dan perasaan seperti TUHAN YESUS. Wow! Kita manusia yang penuh dengan segala kekurangan, keegoan, kesombongan,  tapi TUHAN mau kita belajar dan belajar terus untuk memiliki pikiran dan perasaan seperti TUHAN YESUS, kita diharuskan meneladani TUHAN YESUS, yang hanya memikirkan kita-kita ini orang berdosa, DIA tidak pernah memikirkan diri-Nya sendiri, memiliki perasaan penuh belas kasihan dan selalu mengampuni. Terima kasih TUHAN buat FirmanMU pagi ini yang mengingatkan bahwa apa yang saya lakukan selama ini masih jauh dari yang dilakukan TUHAN YESUS, masih belum apa-apa. Bahkan TUHAN meminta kita mengasihi dan peduli terhadap orang lain walaupun yang kita pedulikan balas menyakiti kita. Thanks God untuk komsel kita boleh TUHAN proses terus untuk menjadi serupa dengan TUHAN YESUS. Selamat berlibur, nikmati saat-saat indah bersama keluarga.

Respon 7
Syalom. Amin... “Aku sesat seperti domba yang  hilang,   carilah   hamba-Mu  ini,  sebab perintah-perintah-Mu tidak kulupakan.” (Mazmur 119:176). Terima kasih ibu Siu, selamat beraktivitas TUHAN memberkati.

Respon 8
Salah satu hal terpenting & terbesar yang diminta Musa dalam doanya ialah seperti yang tertulis dalam Mazmur 90:12 “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Ya, untuk diajar merenungkan hari-hari selama di dunia & supaya menjadi bijak dalam kehidupan. Mendekati akhir tahun, hampir setiap orang mencoba merenungkan kembali sepanjang tahun yang telah berlalu. Ini sudah jadi semacam rutinitas yang berulang tahun demi tahun. Tapi, apakah kita semakin bijak? Bagaimanakah kita tahu bahwa kita telah beroleh kebijaksanaan menjalani tahun-tahun kehidupan kita? Penulis & pemikir Rusia, Leo Tolstoy menyampaikan kebenaran saat ia me-ngatakan, “Seorang yang terpelajar membaca banyak buku; seorang yang terdidik dengan baik memiliki pengetahuan & kemampuan; tapi orang yang diterangi pikirannya memahami arti & tujuan hidupnya. Ada ilmu pengetahuan yang tak terbatas jumlahnya, namun tanpa satu pengetahuan mendasar, yaitu, makna kehidupan & apa yang mendatangkan kebaikan bagi banyak orang, semua bentuk pengetahuan atau ilmu hanya akan menjadi sesuatu yang kosong & pertunjukan hiburan yang membahayakan.” Tepat sekali. Manusia bisa memiliki banyak kepandaian & penuh dengan berbagai pengetahuan tapi berapa banyakkah yang telah menjadi berhikmat dengan mengetahui arti hidup & tujuan hidupnya? Itulah sebabnya hingga hari ini manusia melahirkan banyak penemuan & menciptakan berbagai teknologi canggih hanya untuk mendapati kenyataan yang berujung pada kehampaan bahkan mendatangkan kerusakan bagi jiwa & peradaban  manusia.  Makna  &  tujuan hidup sejati manusia hanya bisa ditemukan dalam penciptanya. Itu sebabnya dinasihatkan pada kita, “…perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, …janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan” (Ef. 5:15,17) Kekasih-kekasih Tuhan, jangan memasuki tahun yang baru tanpa tahu kehendak-Nya bagi hidup Anda! Salam revival! GBU.




No comments:

Post a Comment