2 Timotius 1:16, “Tuhan kiranya me-ngaruniakan rahmat-Nya
kepada keluarga Onesiforus yang telah berulang-ulang menye-garkan hatiku. Ia
tidak malu menjumpai aku di dalam penjara.” Ketika kita PEDULI ke-pada mereka yang membutuhkan,
kita sedang mengikuti teladan
Kristus J. KePEDULIan kita kepada
sesama dapat kita lakukan dengan mengasihi, memberi & melayani mereka yang membutuhkan.
Mari menjadi pribadi yang lebih PEDULI kepada sesama kita dengan apa yang
dapat kita berikan kepada mereka melalui
waktu, tenaga, perhatian & kasih kita. Filipi 2:3-5, “dengan tidak mencari kepentingan sendiri
atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang
seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah
tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan
orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan
perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Amin.
Respon 1
2 Timotius 1:16;
Tuhan kiranya mengarunia-kan rahmat- Nya kepada keluarga Onesiforus yang telah
berulang-ulang menyegarkan hatiku. Ia tidak malu menjumpai aku di dalam
penjara. Sedikit saja perhatian bisa membuat orang lain berubah. Karena pada
dasarnya setiap orang ingin diperhatikan. Perhatian salah satu bentuk
kepedulian kita pada orang lain. Hanya senyum dan jabat tangan saja bisa
membuat orang merasa dihargai dan dipedulikan. Belajar peduli pada orang lain
itu nggak ribet kok… Menyapa dan tersenyum itu sudah cukup mewakilinya. Good
morning everyone... J
Respon 2
“Rumah cinta tanpa
tiang komitmen hancur, tiang komitmen tanpa atap cinta kedinginan.” Xavier
Quentin Pranata.
Respon 3
SAAT TEDUH. Selasa, 30 Des 2014. Tak Lagi
Diperhitungkan. Sebab itu, kita yang dibenarkan berdasarkan iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan
Allah melalui Tuhan kita, Yesus Kristus. (Roma 5:1) Pernah disidang? Bagaimana
rasanya? Takut? Tegang? Apalagi kalau Anda berada dipihak yang salah. Betapa
gelisahnya! Paulus mema-kai suasana persidangan ketika ia menulis bahwa kita
adalah orang yang “dibenarkan”. Artinya, kita sebetulnya bersalah, berdosa,
namun karena sesuatu, kita dibuat menjadi benar. Kesalahan kita tak lagi
diperhitungkan. Sesuatu itu adalah iman kepada kasih Kristus. Iman kita membuka
jalan bagi hadirnya karunia, yang membenarkan kita orang berdosa ini. Rahmat
yang besar! Setelah itu? Menganggur dalam kemanjaan rahmat Tuhan? Tidak sama
sekali. Orang yang sudah mengalami pembenaran Allah mendapatkan motivasi untuk
mengelola kehidupan baru yang selaras dengan iman yang membebaskannya dari
kungkungan dosa itu. Jadi, setelah pembenaran, justru ada perjuangan baru. Jalannya sulit. Paulus menyebutnya “kesengsaraan”.
Bukan berarti orang Kristen harus memuja kesengsaraan, namun orang Kristen
perlu berani mengolah kesengsaraan dengan iman kepada Allah sehingga hidupnya
berakar kuat dan membuahkan berkat. Paulus menegaskan, bila semasa berdosa saja
kita ditawari kasih karunia, apalagi sekarang ketika kita sudah dibenarkan,
pastilah tersedia kasih karunia itu dengan limpah ruah. Bagaimana dengan hidup
kita? Masih kacau balau atau telah berjalan dalam anugerah Allah? Bagaimanapun,
anugerah-Nya terus melingkupi kita. Apakah kita menyambutnya dengan gegap gempita
atau membiarkannya bak sampah tak ber-guna? SIMUL JUSTUS ET PECCATOR.—Martin
Luther. MASIH BERGUMUL MELAWAN DOSA, NAMUN SUDAH DIBENARKAN. Selamat pagi. Tuhan
Yesus memberkati.
Respon 4
Renungan Menjelang Tutup Tahun. “Selama beberapa hari
berlayar, kami hampir-hampir tidak maju dan dengan susah payah, kami mendekati
Knidus. Karena angin tetap tidak baik, kami menyusur pantai Kreta melewati
tanjung Salmone” (Kisah Rasul 27:7) Hal Pertama pertanyaannya adalah apakah
kita sejak ikut Tuhan Yesus, orang berkata “ini orang maju lho..” Atau
sebenarnya orang berkata “Sebenarnya kamu sudah ikut lama denga Tuhan, tapi
tidak ada kemajuannya”. Biasanya kalau orang Kristen dikatakan: “Kamu tidak
maju”, marahnya luar biasa. Orang yang dikatakan tidak maju dan dia marah malah
membuktikan betul-betul tidak maju. Sebab kalau dia maju kerohaniannya, dia
tidak akan marah. Tapi berapa banyak orang Kristen sebenarnya dikategorikan
hampir-hampir tidak maju. Majunya itu sebetulnya lambatnya luar biasa. Coba re-nungkan,
dimana kita berdiri waktu kita terima Tuhan Yesus
sekian tahun lalu, banding-kan lima tahun lalu kita berdiri dimana? Buah kita
selebat apa? Bandingkan sekarang. Benarkah kita sudah benar-benar maksimal?
Apakah kita semakin mengasihi Tuhan? Apakah kita semakin mengasihi sesama kita?
Biarlah ini jadi perenenungan kita di akhir tahun ini. Minta anugerahNya yang
memam-pukan untuk lebih menghasilkan buah-buah, terutama buah-buah Roh... Gbu.
Respon 5
Selasa, 30 Desember
2014. Bacaan: Yakobus 4:13-17. Setahun: Wahyu 19-20. Nats: Sebenarnya kamu
harus berkata, ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan
itu.’ (Yakobus 4:15). MISTERI MASA DEPAN. Tak ada seorang pun yang tahu pasti
apa yang akan terjadi nanti. Jangankan satu tahun, satu bulan, atau satu minggu
ke depan. Hari esok, satu jam, bahkan untuk satu menit ke depan pun tak ada orang yang tahu
pasti apa yang akan terjadi. Orang hanya bisa meramal, namun masa depan
tetaplah misteri. Mengapa Tuhan tidak mengizinkan manusia memiliki kuasa untuk
mengetahui masa depan? Bacaan Alkitab hari ini menjawab pertanyaan itu. Jika
manusia memiliki kuasa untuk mengetahui apa yang akan terjadi esok, manusia
akan mudah memegahkan diri dalam congkaknya (ay. 16). Manusia tak akan lagi
bergantung pada Tuhan. Sebaliknya, manusia akan bergantung pada kekuatannya
sendiri untuk menaklukkan segala kesusahan hari esok. Padahal, Tuhan sungguh-sungguh
rindu melihat kita senantiasa bergantung pada-Nya. Dia rindu menjadi Pemandu
dan Pemelihara kita sepanjang perjalanan hidup ini. Lagi pula, bukankah banyak
hal tak bisa ditaklukkan oleh kekuatan manusia semata? Masa depan akan tetap
jadi misteri. Hanya Tuhan yang tahu pasti apa yang akan terjadi nanti. Bukan
kita tak boleh menyusun rencana, tapi kita tak boleh lupa: Siapakah
manusia, bisa mereka-reka masa depan? Hidup kita bak uap saja. Sebentar
kelihatan lalu lenyap (ay. 14). Itulah sebabnya, dalam menyusun rencana, tak
perlu bermegah apalagi congkak. Kita tak pernah tahu, apa yang akan terjadi
esok. Perkatakan selalu dalam hati: “Tuhan ini rencanaku, jadilah seturut
kehendak-Mu” (ay. 15). --Okky Sutanto. ANDALKAN TUHAN SENANTIASA, DIALAH
PEMANDU DAN PEMELIHARA PERJALANAN KITA.
Respon 6
Firman TUHAN di: Fil 2:3-5 mengharuskan kita untuk
merendahkan hati, menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.
Dan menurut saya yang paling berat: TUHAN mengharuskan kita di dalam hidup
bersama menaruh pikiran dan perasaan seperti TUHAN YESUS. Wow! Kita manusia yang
penuh dengan segala kekurangan, keegoan, kesombongan, tapi TUHAN mau kita belajar dan belajar terus untuk
memiliki pikiran dan perasaan seperti TUHAN YESUS, kita diharuskan meneladani
TUHAN YESUS, yang hanya memikirkan kita-kita ini orang berdosa, DIA tidak
pernah memikirkan diri-Nya sendiri, memiliki perasaan penuh belas kasihan dan
selalu mengampuni. Terima kasih TUHAN buat FirmanMU pagi ini yang mengingatkan
bahwa apa yang saya lakukan selama ini masih jauh dari yang dilakukan TUHAN
YESUS, masih belum apa-apa. Bahkan TUHAN meminta kita mengasihi dan peduli terhadap
orang lain walaupun yang kita pedulikan balas menyakiti kita. Thanks God untuk
komsel kita boleh TUHAN proses terus untuk menjadi serupa dengan TUHAN YESUS.
Selamat berlibur, nikmati saat-saat indah bersama keluarga.
Respon 7
Syalom. Amin... “Aku
sesat seperti domba yang hilang, carilah hamba-Mu ini, sebab perintah-perintah-Mu
tidak kulupakan.” (Mazmur 119:176). Terima kasih ibu Siu, selamat beraktivitas
TUHAN memberkati.
Respon 8
Salah satu hal
terpenting & terbesar yang diminta Musa dalam doanya ialah seperti yang
tertulis dalam Mazmur 90:12 “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian,
hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Ya, untuk diajar merenungkan hari-hari
selama di dunia & supaya menjadi bijak dalam kehidupan. Mendekati akhir
tahun, hampir setiap orang mencoba merenungkan kembali sepanjang tahun yang
telah berlalu. Ini sudah jadi semacam rutinitas yang berulang tahun demi tahun.
Tapi, apakah kita semakin bijak? Bagaimanakah kita tahu bahwa kita telah
beroleh kebijaksanaan menjalani tahun-tahun kehidupan kita? Penulis &
pemikir Rusia, Leo Tolstoy menyampaikan kebenaran saat ia me-ngatakan, “Seorang
yang terpelajar membaca banyak buku; seorang yang
terdidik dengan baik memiliki pengetahuan & kemampuan; tapi orang yang
diterangi pikirannya memahami arti & tujuan hidupnya. Ada ilmu pengetahuan yang
tak terbatas jumlahnya, namun tanpa satu pengetahuan mendasar, yaitu, makna
kehidupan & apa yang mendatangkan kebaikan bagi banyak orang, semua bentuk
pengetahuan atau ilmu hanya akan menjadi sesuatu yang kosong & pertunjukan
hiburan yang membahayakan.” Tepat sekali. Manusia bisa memiliki banyak
kepandaian & penuh dengan berbagai pengetahuan tapi berapa banyakkah yang
telah menjadi berhikmat dengan mengetahui arti hidup & tujuan hidupnya?
Itulah sebabnya hingga hari ini manusia melahirkan banyak penemuan &
menciptakan berbagai teknologi canggih hanya untuk mendapati kenyataan yang
berujung pada kehampaan bahkan mendatangkan kerusakan bagi jiwa & peradaban
manusia. Makna &
tujuan hidup sejati manusia hanya
bisa ditemukan dalam penciptanya. Itu sebabnya dinasihatkan pada kita,
“…perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang
bebal, tetapi seperti orang arif, …janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah
supaya kamu mengerti kehendak Tuhan” (Ef. 5:15,17) Kekasih-kekasih Tuhan,
jangan memasuki tahun yang baru tanpa tahu kehendak-Nya bagi hidup Anda! Salam
revival! GBU.
No comments:
Post a Comment