Friday, 26 December 2014

26 Desember 2014



KASIH yang BESAR. Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Kerelaan Allah dalam mengutus AnakNya untuk menjadi JURUSELAMAT kita merupakan suatu HADIAH yang tidak terungkapkan dengan kata-kata, itulah hadiah yang kita rayakan dihari NATAL, karena KRISTUS sendirilah yang paling UTAMA & BERARTI :). Syukur kepada Allah karena KARUNIANYA yang tak terkatakan itu. 2 Kor 9:15, “Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!” Amin.

Respon 1
“Saat dingin menggigit dan kelam mencekam, kita seharusnya bersukacita karena sebentar lagi  kehangatan  merambat dan terang makin benderang.” Xavier Quentin Pranata.


Respon 2
Kita semua tahu & percaya bahwa Tuhan yang kita sembah menghendaki & menghargai apa yang disebut ‘ketaatan’. Bahkan kita setuju bahwa itu adalah salah satu inti dari kekristenan. Dalam kisah-kisah Natal dalam Alkitab, tampaknya Tuhan menyiratkan pesan bagaimana ketaatan yang sejati itu -yang benar-benar berkenan di hati-Nya. Mari amati sekilas ketaatan tokoh-tokoh di sekitar Natal. Ada Herodes yang agung di pemandangan manusia tapi tidak di mata Allah. Katanya kepada para majus, ‘Akupun akan datang menyembah Dia’ -tapi ia tidak pernah melakukannya. Inilah ketaatan di bibir saja. Banyak mengumbar janji tanpa bukti, bahkan lebih menyakitkan ketika perbuatannya menyatakan persis kebalikan dari kata-kata manis itu. Ada ahli-ahli Taurat yang merasa telah  cukup  taat pada Yahweh dengan menghafal & memahami isi kitab-kitab agama. Dapatkah disebut ketaatan jika tampil dalam teori, bukan tindakan nyata? Bukankah kita dipanggil bukan untuk menjadi pelaku, bukan pendengar? Tetapi jangan bersedih. Kelahiran Anak Manusia dipenuhi dengan kisah dari mereka yang taat: Orang-orang majus yang percaya & karenanya taat menempuh perjalanan panjang berpedoman pada bintang yang bersinar tidak biasa. Ada Yusuf yang karena taat, tidak menceraikan Maria tapi memilih percaya & memberikan dukungan bagi istrinya yang mendapat tugas suci dari sang Khalik. Ada gembala-gembala di padang Efrata yang meski dibayangi kegentaran tetap bangkit & mencari tempat sang raja itu dilahirkan. Dan tentu tidak ada yang melebihi ketaatan sang perawan dari Nazaret, yang denga keanggunan & keteguhan seorang hamba sejati berkata atas kehendak Tuhan, “Aku ini hamba Tuhan, jadilah seperti per-kataan  Tuhan” (Luk. 1:38). Bukti dari semua ini ialah pujian Maria & kerelaannya menanggung segala risiko, kehinaan & rasa malu demi melahirkan Juruselamat. Tatkala kita mengenang Natal, kita teringat kepada mereka yang taat. Bukan yang tidak taat. Demikian pula Tuhan: Ia mencari, memakai, & mengingat yang taat. Akankah kita diingat-Nya sebagai orang yang taat?



No comments:

Post a Comment