Wednesday, 10 December 2014

10 Desember 2014

Baik tidaknya kehidupan seseorang tidak ditentukan oleh lamanya ia hidup, tetapi DAMPAK POSITIF (pelayanan) apa yang ia berikan bagi banyak orang J. Bagaimana ia MEMBANGUN kehidupan orang lain melalui PERKATAANnya? PERBUATANnya ata TELADAN apa yang ia berikan? Dan KUASA (POWER) apa yang dapat membang-kitkan IMAN orang lain? Roma 15:18-19, "Sebab itu, sama seperti oleh satu pelang-garan semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu  orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar."



Respon 1

Mazmur 63:7-8, "Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam, sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai." Daud seorang raja besar mengakui bahwa kemena-ngan dan kebesarannya oleh karena pertolo-ngan Tuhan.



Respon 2

Syalom. Amin... "Mulut orang benar adalah sumber kehidupan, tetapi mulut orang fasik menyembunyikan kelaliman." (Amsal 10:11). Terima kasih ibu Siu, selamat beraktivitas TUHAN memberkati.



Respon 3

SAAT  TEDUH.  Rabu, 10 Des 2014. Agama Atau Hubungan? Kami tahu bahwa orang berbaik kembali dengan Allah hanya karena percaya kepada Yesus Kristus, dan bukan karena menjalankan hukum agama. (Galatia 2:16, BIS). Sebagian orang hingga kini masih memahami kekristenan sebatas sebagai agama (bahasa Sansekerta, a: tidak, gama: kacau). Hubungan antara Allah dan manusia dipahami sebagai berikut: Allah menurunkan seperang-kat aturan yang wajib ditaati oleh manusia dengan tujuan agar hubungan kedua pihak, termasuk hubungan antar sesama manusia, "tidak kacau". Dalam pola ini, manusia berupaya sekeras mungkin mematuhi segala aturan Allah. Celakanya, bukan hal itu yang menjamin keselamatan mereka. Inilah pola hubungan cemas-takut yang dialami bangsa Yahudi di bawah hukum Taurat. Kekristenan tentu saja tidak menganut pola yang demikian. Orang percaya rela mematuhi perintah Allah semestinya karena lahir dari hubungan kasih yang intim dengan Tuhan Yesus Kristus yang telah menyelamatkan kita (ay. 16, BIS). Ketaatan orang percaya kepada-Nya bukan dilandasi oleh rasa cemas-takut berbuat salah seperti pada bangsa Yahudi, melainkan karena kasih-Nya memotivasi dan memampukan kita untuk taat. Dan, sekalipun upaya kita untuk menyenangkan hati-Nya itu tidak sempurna, penebusan Kristus telah memberikan kepada kita jaminan keselamatan dan kehidupan kekal bersama-Nya di surga! Bagaimana dengan kekristenen kita? Apakah sekadar pemenuhan kewajiban agama yang kering dan hampa, ataukah menyerupai hubungan mesra sepasang suami-istri? Apakah kita cukup puas dengan mematuhi perintah agama, atau rindu membangun hubungan dengan Allah yang berdampak dalam hubungan dengan sesama? SATU-SATUNYA HAL YANG SUNGGUH-SUNGGUH BERARTI ADALAH HUBU-NGAN ANDA DENGAN YESUS.-Henri Nouwen. Selamat Pagi. Tuhan Yesus mem-berkati.



Respon 4

Tuhan memberikan upah bukan bagi hanya mereka yang melayani Dia secara langsung. Yesus berkata bahwa ada upah & berkat dijanjikan bagi mereka yang menyambut hamba-hamba Tuhan dengan semestinya, sesuai yang dikehendaki oleh Bapa di soranga. Beberapa orang telah salah mengerti sehingga mencari kemudahan beroleh berkat Tuhan dengan 'melayani' hamba-hamba Tuhan. Sebaliknya pun bisa terjadi, ada orang-orang yang merasa & mengaku sebagai hamba Tuhan menekankan janji ini demi kemudian mendapatkan dukungan yang besar dari anak-anak Tuhan lainnya. Bagaimana sebenarnya? Baca dengan seksama Matius 10:40-42. 1) Kita tidak boleh memandang remeh & mengecilkan hamba-hamba Tuhan yang melayani dengan tulus & benar di hada-pan Tuhan (ay. 40). Yesus sendiri mengiden-tifikasikan diri dengan mereka. 2) Sambutan kita kepada hamba-hamba Tuhan dinilai oleh Tuhan yang melihat hati sehingga kita harus melakukannya dalam ketulusan tanpa motif-motif pribadi yang egois. 3) Kita semestinya menilai & menguji lebih dulu orang-orang yang mengaku orang benar atau saudara bahkan yang mengklaim sebagai hamba Tuhan (ay. 41). Upah yang sama akan diberikan jika sambutan kita tepat sesuai identitas sebenarnya dari seorang saudara atau hamba Tuhan. Kekeliruan menilai jati diri seseorang sesuai pandangan Tuhan menghi-langkan janji upah itu. Contoh: jika seseorang disambut sebagai hamba Tuhan sedangkan ia bukan demikian adanya, maka tidak ada upah untuk sambutan yang demikian. Apalagi jika ternyata dia bukan saudara atau hamba sejati dalam Tuhan. 4) Jangan pernah merasa rugi dalam berbuat baik sebab setiap perbuatan baik -sekecil apapun itu, bagi umat-Nya yang terkecil, jika lahir dari hati yang mengasihi- pasti diganjar upah sorangawi oleh Dia yang melihat   segalanya   (ay. 42).  Sejatinya,  kita akan mendapat upah & berkat saat tidak menujukan diri pada berkat-berkat jasmani -tapi justru saat kita menunjukkan kasih kepada sesama, lebih pada hamba-hambaNya yang sejati. Di situlah Tuhan mencurahkan berkat-Nya. Hai orang-orang yang tulus ber-siaplah menerima upah Anda! Salam revival! GBU.




No comments:

Post a Comment