Tuesday, 2 December 2014

02 Desember 2014

Ketika kita mengejar kesalehan lebih dari dari pada kekayaan, kita akan memperoleh sebuah kerinduan untuk selalu SETIA dengan segala sesuatu yang sudah kita terima. 1Timotius 6:10, “Karena akar segala keja-hatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” Bersyukur atas semua pemberianMu, tumbuhkan dalam diri kami sikap puas didalam Engkau. Amin.

Respon 1
SAAT TEDUH. Selasa, 2 Des 2014. Bereaksi Positif. Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram ber-umur tujuh puluh lima tahun, ketika ia be-rangkat dari Haran. (Kejadian 12:4) Setahun silam salah satu sahabat saya yang merintis usaha sebagai agen asuransi menawari saya untuk ikut polisnya. Karena mengenal baik dirinya, saya pun bersedia. Sebelum itu sebetulnya sudah ada beberapa agen dengan polis yang sama menawari, namun saya tolak karena tidak percaya mereka. Kepada sahabat, saya bereaksi positif karena saya percaya kepadanya. Dalam cerita Abram dipanggil Allah, Tuhan menjanjikan satu negeri kepadanya dan akan membuatnya menjadi bangsa yang besar, memberkatinya, membuat namanya masyhur, dan menjadi berkat (ay. 2). Abram tidak mengajukan syarat atau usul tertentu, ia percaya. Bukti kepercayaannya adalah menyediakan diri dan membiarkan dirinya dipakai Tuhan untuk rencana-Nya yang besar, dengan pergi seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya (ay. 4). Abram tidak bersikap pasif, namun ia bereaksi secara positif. Meski usianya sudah senja, hal itu tidak menjadi alasan bagi Abram untuk bersantai-santai atau membantah perintah Tuhan untuk pergi. Kita dikatakan beriman saat tunduk kepada perintah Tuhan. Kalau kita sungguh-sungguh percaya pada Dia, pasti kita tanpa ragu menuruti kehendak-Nya meskipun hasilnya   mungkin   tidak  sesuai  dengan  keinginan daging kita. Kalau kita percaya kepada manusia yang tidak sempurna, mau menuruti ucapannya karena mereka atasan atau orang yang kita percayai, seharusnya kita sangat percaya kepada Tuhan. Percaya kepada Tuhan bukan di bibir saja, namun dibuktikan dengan reaksi yang positif terhadap perintah-Nya. ORANG YANG BERIMAN KEPADA TUHAN PASTI AKAN BEREAKSI SECA-RA POSITIF TERHADAP PERINTAH-NYA. Selamat pagi, Tuhan Yesus member-kati.

Respon 2
Yosua 4:1-24. Apakah kita ingat semua perto-longan Tuhan yang pernah kita alami? Kalau gampang lupa, perlu punya diary untuk men-catat pengalaman-pengalaman kita ditolong Tuhan. Suatu saat dikala kita galau merasa Tuhan itu nggak menolong kita, catatan-catatan itu akan kembali menguatkan kita dan membuat  kita  sadar  akan kebesaran dan kedahsyatanNYA. Sadar akan kasihNYA yang tiada taranya. Kekaguman kita itu akan mem-bangun kembali iman kita, membuat kita dikuatkan dalam menghadapi segala tanta-ngan. Dan percaya bahwa pertolonganNYA selalu tepat pada waktunya. Tetap semangat, tetap berharap karena harapan itu tidak akan mengecewakan. Happy Tuesday...

Respon 3
“Jikalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan seperti segala kekejian yang dilakukan oleh orang fasik--apakah ia akan hidup? Segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan diingat-ingat lagi. Ia harus mati karena ia berobah setia dan karena dosa yang dilakukannya.” (Yehezkiel 18:24). Terima kasih ibu Siu, selamat siang dan selamat lanjut aktivitas TUHAN memberkati.


Respon 4
Mempelajari Alkitab, kita diberitahu bahwa Tuhan menghargai kehidupan. “Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati”~ Pkh. 9:4. Manusia yang beradab menghargai hidup bahkan hidup hewan-hewan mereka. Mereka yang merendahkan hidup, yang mengambil keputusan mengakhiri nyawa orang lain atau diri sendiri, dinyatakan dalam Alkitab sebagai orang-orang yang dipengaruhi setan-setan (lihat Luk. 22:3; Yoh.13:2,27). Tapi, ada satu hal yang lebih baik daripada hidup. “Kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup” demikian tulis Daud dalam Mazmur 63:4. Ya, kasih Tuhan lebih baik daripada hidup. Renungkan: Pertama, Daud semula datang dengan jiwa yang lapar & haus; hanya Allah-lah yang dapat memuaskan jiwanya (63:2). Dia meng-hampiri Tuhan & menemukan kasih setia-Nya.  Sesungguhnya  Daud hendak menyampaikan bahwa hidupnya kosong & gersang tanpa kasih Tuhan. Jiwa manusia tak terpuaskan oleh apapun sebelum bertemu kasih Illahi itu! Seumur hidup dengan segala kesemarakannya pun tak cukup menggem-birakan hati manusia sebelum kasih sempurna itu masuk & berdiam di sana. Kedua, kasih setia-Nya lebih dari hidup karena kasih itu memberikan kebahagiaan sepanjang hari-hari yang kita lalui di dunia yang kelam ini. Ayat 4-6 menceritakan hari-hari Daud yang puji-pujian & sorak sorai bagi seumur hidupnya. Pula jiwanya dikenyangkan bagai makan lemak & sumsum. Sungguh cinta Tuhan menceriakan hari-hari di setiap musim dalam hidup kita. Ketiga, kasih yang kita rasa lebih dari hidup karena dalam kasih-Nya kita boleh yakin ada dukungan & pertolongan, bagai tangan yang kuat yang menopang & sayap nan perkasa menaungi kita (ayat 8-9) selama kita hidup. Inilah keindahan & kemuliaan hidup ketika kita menyadari bahwa kita tidak berjalan sendiri melainkan Tuhan yang begitu cinta pada kita menyertai kita sampai akhir hidup kita di dunia. Dikasihi & mengasihi Tuhan itu melampaui segala kehidupan. Tan-panya, sepanjang hari-hari kita di dunia sia-sia adanya. Salam revival! GBU


No comments:

Post a Comment