Kis
16:15, “Bahwa aku sungguh-sungguh PERCAYA kepada Tuhan, ...” (Baca: Kis
16:13-18). Di dalam PERCAYA itulah letak kekuatan kita, ketakutan lenyap ketika
kita MEMPERCAYAI Bapa kita, saat kita PERCAYA
kita tidak akan
pernah berjalan sendiri . Di dalam KEPERCAYAAN kita, Kristus membimbing kita
untuk menemukan cara yang terbaik untuk memberitakan tentang kasihNya kepada
sesama kita :). Amin.
Respon 1
“HATI baru jauh lebih efektif untuk komunikasi dengan Tuhan
ketimbang HAPE baru.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 2
Sabtu, 20 Desember 2014. Bacaan: Yohanes 2:1-11. Setahun: 1
Yohanes 1-3. Nats: Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan, “Apa yang
dikatakan-Nya kepadamu, lakukanlah itu!” (Yohanes 2:5). BAGIAN KITA: TAAT!
Suatu hari Tuhan memberi tugas kepada seorang pria. Tuhan memper-lihatkan
bungkahan batu besar dan menyuruh pria itu mendorongnya dengan sekuat tenaga.
Berbulan-bulan pria itu terus mendorong, tak sedikit pun batu itu bergeser. Lelah dan putus asa, pria itu protes, “Tuhan, aku sudah menggunakan segenap
kekuatanku, tapi lihat, batu ini tak juga bergeser. Mengapa aku gagal?” Tuhan
menjawab, “Anak-Ku, Aku hanya menyuruhmu mendorong batu itu dan bukan
memindahkannya. Sekarang engkau mengira dirimu telah gagal. Tetapi, lihatlah
sekarang dirimu. Lengan dan otot-ototmu menjadi kuat. Engkau memang tidak dapat
memindahkan batu itu karena Aku memanggilmu untuk taat melakukan kehendak-Ku,
dan untuk membuktikan imanmu. Yang akan memindahkan batu itu adalah Aku
sendiri!” Pelayan di pesta pernikahan itu mungkin berpikir seperti pria di atas
saat kehabisan anggur. Yesus meme-rintahkan mereka untuk mengisi
tempayan-tempayan, yang biasa disediakan untuk pembasuhan kaki itu, dengan air!
Mereka mungkin bertanya-tanya karena tidak bisa memahami perintah aneh itu,
namun mereka mengingat pesan Maria, “Apa
yang dikatakan
(Yesus) kepadamu, buatlah itu!” Mereka juga taat saat Yesus
meminta untuk mencedok air dalam tempayan itu dan membawanya kepada pemimpin
pesta. Selebihnya? Yesus yang bekerja! Ya, Tuhan hanya meminta kepada kita
untuk menaati firman-Nya. Hasilnya? Tuhanlah yang bekerja. Apa pun hasil yang
dibuat-Nya, selalu mendatangkan kemuliaan bagi-Nya. --Samuel Yudi Susanto.
KETAATAN MELAKUKAN PERINTAH TUHAN ADALAH BAGIAN KITA; SOAL HASIL, ITU MENJADI
BAGIAN TUHAN.
Respon 3
Kis 20:35, TUHAN: Lebih berbahagia mem-beri daripada
menerima! Nah problem kita: terlalu banyak meminta tapi terlalu sedikit
memberi! Ayoo Renungkan?!? Samuel Sianto (SS)-YESTOYA Malang.
Respon 4
SAAT TEDUH. Sabtu, 20 Des
2014. ALLAH yang
Dermawan. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?
Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? (Matius 20:15). Salah satu
alasan mengapa saya sangat bersyukur sebagai umat Allah adalah karena saya
menyembah Allah yang murah hati. Bagi saya secara pribadi, rasanya tidak ada
Allah yang begitu murah hati kepada umat-Nya selain Bapa Surgawi yang kita
kenal di dalam nama Yesus. Melalui perumpamaan tentang orang upahan di kebun
anggur, kita akan belajar mengenai kemura-han hati Allah kita. Dalam
perumpamaan tersebut, diceritakan adanya masalah ketika para pekerja menerima
pembagian upah atas hasil kerja mereka. Mereka yang bekerja lebih dahulu merasa
keberatan karena upah mereka sama dengan pekerja yang hanya bekerja selama satu
jam. Namun, pemilik kebun ang-gur menegaskan bahwa ia bukan berlaku tidak adil
dalam hal ini karena sebelumnya mereka sudah sepakat menerima upah satu dinar sehari. Kemurahan hatinya itu, yang sukar dipahami oleh para
pekerja yang terdahulu, tentulah sangat disyukuri oleh pekerja terakhir yang
hanya satu jam berkeringat. Berbicara mengenai sifat Allah yang murah hati,
Alkitab juga mencatat bahwa Allah kita menerbitkan matahari bagi orang jahat
dan orang baik. Dia juga menurunkan hujan bagi orang benar maupun orang yang
tidak benar (band. Mat. 5:45). Kasih di dalam diri-Nya membuat Allah bermurah
hati terhadap ciptaan-Nya. Jika Allah begitu murah hati terhadap ciptaan-Nya,
seyogyanya umat-Nya juga menerapkan gaya hidup murah hati dalam hidup
keseharian. Biarlah dunia melihat bahwa Allah kita murah hati melalui perbuatan
kita. Mari bermurah hati! ORANG KRISTEN YANG BERMURAH HATI SEDANG MEMANCARKAN
KEPADA DUNIA KARAKTER BAPANYA YANG MURAH HATI. Selamat Pagi. Selamat berakhir
pekan. Tuhan Yesus memberkati.
Respon 5
RESILIENSI. Kisah ini diceritakan oleh se-orang petani yang
mempunyai seekor keledai yang usianya sudah uzur / tua. Pada suatu hari keledai
tersebut jatuh ke dalam sumur. Keledai tersebut menangis dan berteriak sekuat
tenaganya. Sang petani mendengar suaranya. Dia datang melongok ke dalam sumur
tersebut dan menganalisa dengan seksama apa yang bisa dilakukannya. Setelah
mempertimbangkan banyak faktor akhirnya sang petani berkesimpulan untuk TIDAK
akan menyelamatkan baik keledai tua maupun sumur tua tersebut. Si petani
mengumpulkan tetangga untuk membantunya menutup sumur tua itu dengan tanah agar
Si keledai tua bisa terbebas dari penderitaannya segera. Ketika tanah mulai
berjatuhan mengenai muka dan badannya. Si keledai tua sungguh panik. Kakinya
pun mulai terbenam. Tiba-tiba dia menggoyangkan badannya dan dia injak tanahnya serta naik ke atas tumpukan tanah tersebut. Dia terus melakukan hal tersebut, ketika dia makin
terbenam, dia bergoyang dan naik ke atas! Dia berulang kali menyemangati
dirinya, tidak peduli bagaimana sakitnya dan stressnya dia. Dia melawan rasa
paniknya dan terus melakukan ritual: bergoyang dan naik ke atas. Hal tersebut
tidak berlangsung lama ketika keledai tua yang tampak babak belur dan lelah
tersebut naik dengan penuh kemenangan ke permukaan tanah di atas sumur
tersebut. Situasi yang semula tampak menguburnya sesungguhnya menolongnya...
Hal ini terjadi karena perilaku positifnya dalam menghadapi tantangan atau
cobaan hidup. THAT'S LIFE! Jika kita menghadapi masalah dan meresponnya secara
positif dan tidak menyerah dengan rasa panik, kepahitan hidup atau mengasihani
diri sendiri. Maka kita punya kemampuan untuk keluar dari masalah. Inilah yang
disebut Resiliensi. "RECILIENCE is all about being able to overcome the
unexpected. Sustainability is about survival.
The goal of resilience is to thrive.' Resiliensi adalah
suatu kemampuan untuk menghadapi hal-hal yang tidak diharapkan. Kegigihan
adalah demi kelangsungan hidup. Sasaran dari resiliensi adalah untuk terus
maju. Have a nice week end. GBU.
No comments:
Post a Comment