Monday, 8 December 2014

08 Desember 2014

Yohanes 13:14, "Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu." Ketika kita melayani mereka yang membutuhkan, kita sedang mengikuti Teladan Kristus. Sudahkan kita melayani sesama kita hari ini? Amin.



Respon 1

SAAT TEDUH. Senin, 8 Desember 2014. CUKUP! Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfir-man: 'Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.' (Ibrani 13:5)  Manusia cenderung susah berkata "cukup". Orang yang bekerja, misalnya, merasa tidak cukup dengan penghasilannya. Lalu, si istri mengeluh belum cukup dengan penghasilan suaminya. Padahal, orang yang mengeluh itu sebenarnya berpenghasilan relatif besar dan, jika bijak mengelola keuangan, dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Jadi, kapan sepatutnya kita berkata "cukup"? Jujur, kepuasan jiwa memang sulit terpenuhi. Kita hidup di tengah dunia yang menggoda hasrat kedagingan kita untuk memperoleh lebih banyak dan lebih banyak lagi. Kita jadi sulit terpuaskan. Dan, hal itu bukanlah fenomena baru. Penulis kitab Ibrani pun mendapati banyak orang Ibrani yang, sekalipun telah mengerti kebenaran hidup sebagai murid Kristus, masih saja menghambakan diri kepada uang karena tidak pernah merasa cukup dengan apa yang mereka peroleh. Penulis kitab ini mendorong mereka untuk tidak menjadi hamba uang dan belajar mencukupkan  diri  dengan  apa  yang mereka miliki. Jaminan mereka tidak lain adalah janji penyertaan dan pemeliharaan Tuhan. Bagai-mana dengan kita? Apakah kita sudah belajar mencukupkan diri? Ya, satu-satunya obat mujarab bagi kita yang sulit merasa cukup adalah menemukan kecukupan dan kepuasan jiwa dalam kehadiran Allah yang hidup. Kehadiran-Nya sudah cukup bagi segala kebutuhan dan kerinduan hati kita. Hanya Dia yang mampu memberi kita rasa cukup, rasa puas, dan damai sejahtera yang tidak akan pernah kita temukan dalam jerih payah kita di dunia ini. HANYA KEHADIRAN ALLAH YANG MAMPU MEMUASKAN HASRAT PALING KUAT DALAM HIDUP KITA. Welcome Monday. LORD's bless upon us. Moving forward...



Respon 2

Maz 97:11, TERANG sudah terbit bagi orang BENAR dan SUKACITA bagi orang-orang yang  TULUS  HATI!  Yuk  jadi  orang benar dan tulus hati, pasti masa depan cerah dan penuh sukacita! Samuel Sianto (SS)-YESTOYA Malang.



Respon 3

Yohanes 13:14, "Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu." Ini contoh kerendahan hati yang diberikan oleh Tuhan Yesus. Dia yang Guru mau membasuh kaki murid-muridNya. Untuk menjadi rendah hati itu susah banget, karena sifat manusia itu selalu ingin dipuji, sadar nggak sadar, ngaku nggak ngaku, ya memang itu sifat kita. Pada dasarnya manusia itu sombong dan tinggi hati makanya sama Tuhan Yesus diajari supaya rendah hati. Kadang kalau kita nggak disapa orang sudah sakit hati, memberi sesuatu orang yang diberi nggak nganggep. Sakit hati, pokok kita itu maunya dihargai, diakui, dipuji, dll meski mulut   kita  bilang  nggak  apa-apa  tapi  hati nggak pernah bisa bohong. Pelayanan di gereja pengen dihormati orang, padahal pelayan itu ya pembantu, jongos, atau kita kalau doa bilang diri kita ini hambaNYA, hamba itu budak. Nah, tapi kita minta dihargai, disanjung, dipuji. Ya, pagi ini Tuhan mengingatkan kembali bahwa kita harus rendah hati. Melayani Tuhan dimanapun, dianggap nggak dianggap, dihargai nggak dihargai tetep melayani dengan rendah hati, kalau kita ingin dihargai, hargai dulu orang lain, kalau kita ingin disapa, ya sapa dulu orang lain. Tidak gampang kecewa itu adalah rendah hati.



Respon 4

Kita bisa saja merasa takut tetapi jangan biarkan rasa takut menghentikan langkah kita. 2 Timotius 1:7, "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban." 



Respon 5

Apakah marah itu berdosa di mata Tuhan? Alkitab tidak berkata demikian. Tuhan sendiri berulang kali menyatakan murka-Nya atas pribadi dan juga bangsa-bangsa. Marah adalah ekspresi ketidaksetujuan & ketidakpuasan atas suatu kondisi yang kita alami. Perasaan marah dipandang wajar oleh Tuhan pada batas tertentu, tapi marah bisa membawa kita pada dosa: "Biarlah kamu marah, tetapi jangan ber-buat dosa, jangan kamu simpan kemarahanmu sehingga matahari masuk"~ Ef. 4:26. Kemarahan berbuah dosa ketika kita larut dalam kemarahan itu dimana kita tetap tinggal dalam kemarahan itu bahkan setelah hari berlalu & hati kita masih menyala-nyala de-ngan amarah (meski tidak diekspresikan). Me-ngapa hal ini jahat di mata Tuhan? Pertama, rasa marah berkepanjangan menjerumuskan kita dalam dosa-dosa yang lebih buruk lagi. Ketika kita tidak lagi mempunyai kendali atas kemarahan kita maka itu akan berlanjut pada kekecewaan, kebencian, kepahitan, hingga luka batin yang parah yang menimbulkan kemarahan yang lebih besar lagi hingga timbul percideraan & pembunuhan -sebagai-mana yang sering terjadi akibat ledakan kemarahan yang lama terpendam di hati. Kedua, kemarahan menjadi penyimpangan tatkala kita mulai meluapkan kemarahan dengan banyak berkata-kata (Maz. 4:5) dimana makin banyak kata-kata, kesalahan selalu ada (Ams. 10:19). Mengomel, meng-gerutu, mengutuk, mencaci maki, hingga me-nyumpah itu seumpama menyiramkan minyak kepada bara yang sedang menyala. Dengan melakukannya, kita membiarkan kemarahan mengambil alih kendali atas diri kita sehingga kita pun dihanguskan oleh amarah. Kemarahan seharusnya hanya sebentar saja. Lebih-lebih jika ternyata itu tidak berdasar & bersumber dari pikiran-pikiran & emosi-emosi negatif lainnya. Bukankah kita diajar lebih   banyak  mendengar  daripada  berkata-kata? Murka Tuhan yang kudus dikatakan ‘sesaat saja tetapi seumur hidup Ia murah hati'(Maz. 30:6). Ia yang berhak untuk marah, cepat melembut saat umatnya datang dalam pengakuan dosa. Bagaimana dengan amarah Anda? Salam revival! GBU.












No comments:

Post a Comment