Kisah
Para Rasul 14:10, “Lalu kata Paulus dengan suara nyaring: 'Berdirilah tegak
di atas kakimu!' Dan orang itu melonjak berdiri, lalu berjalan kian ke mari.”
(Baca: Kis 14:8-10) Bagaimana ekspresi iman kita saat hamba Tuhan
me-nyampaikan firman / menasehati kita? Apakah iman kita seperti magnet? Langsung merespon? (Melekat bila bersentuhan
dengan besi) Tanpa harus menunggu lama (otomatis melekat)? Tuhan ingin kita
mengekspresikan iman kita dengan respon hati seperti magnet J.
Ekspresi iman (KETAATAN & PERSEM-BAHAN HIDUP kita) seperti magnetlah yang
akan menyenangkan hati Tuhan!
Respon 1
Senin, 29 Desember
2014. Bacaan: Kejadian 2:1-17; 3:1-7. Setahun: Wahyu 17-18. Nats: Lalu ia
mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya
yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya. (Kejadian 3:6) MENERJANG
BATAS. Tamak adalah kerakusan yang tak bertepi. Tentang hal ini, ada yang
berpendapat bahwa tamak adalah sebuah sikap, bukan sifat. Perhatikan saja, tak
ada orang yang terlahir dengan sifat bawaan tamak. Pergaulan hiduplah yang
membuatnya tamak. Benarkah ini?
Adam dan Hawa diciptakan sebagai gambar Allah. Namun, karena bergaul dengan si
ular jahat dan merespons bujukannya, mereka pun menjadi tamak. Padahal, coba
bayangkan, betapa Sang Pencipta telah sangat bermurah hati kepada mereka. Dia
mengaruniakan seluruh bumi beserta Taman Eden nan permai. Semua pohon boleh
dimakan buahnya--kecuali pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Namun, Adam dan
Hawa bersikap tamak. Apa yang bukan menjadi hak mereka, justru mereka rampas.
Mereka memilih untuk mengikuti kemauan sendiri dan menolak taat pada batas yang
ditentukan Sang Pencipta. Lihatlah, bagaimana manusia menjadi rakus--mereka
bahkan sampai berani menerjang batas. Sikap tamak membuat manusia tak pernah
merasa cukup, bahkan sekalipun ia sudah memiliki seisi bumi. Manusia terus
menuntut lebih banyak meskipun Tuhan sudah memberkati-nya dengan berkelimpahan.
Pantaskah hal ini?
Tak seorang pun
ingin disebut tamak. Namun, semua orang sebenarnya berpeluang menjadi tamak.
Maka, periksalah hati kita sekarang dan mawas diri. Sebab, di situlah sikap
tamak itu bisa bersarang. Sang pemazmur berpesan: “Dengan apakah seorang muda
mempertahan-kan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan Firman-Mu”
(Mzm 119:9). –Susanto. BUMI CUKUP MELIMPAH BAGI SEMUA UMAT MANUSIA, NAMUN TAK CUKUP
BAGI SATU ORANG YANG TAMAK.
Respon 2
SAAT TEDUH. Senin,
29 Des 2014. Kesalehan yang Teruji. Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama
Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. (Ayub
1:1). Nama yang disematkan pada seseorang kerap mengandung harapan orangtuanya.
Anak yang diberi nama “Saleh” atau “Soleh”,
misalnya, diharapkan kelak menjadi pribadi yang
saleh. Apakah “strategi” ini selalu berhasil, dalam arti si anak benar-benar
menjalani hidup yang saleh? Tidak juga. Menjalani hidup saleh tidaklah semudah
memberi nama sekalipun disertai dengan harapan yang begitu tinggi. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia, orang yang saleh diartikan sebagai orang yang taat dan
sungguh-sungguh menjalankan ibadah. Kesalehan ini ada pada diri Ayub. Ia juga
hidup jujur, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan. Dalam Alkitab Bahasa
Indonesia Sehari-hari disebutkan bahwa Ayub menyembah Allah dan setia
kepada-Nya. Namun, kesetiaan dan kesalehan Ayub tidak membuatnya bebas dari ujian
hidup. Setelah kehilangan ternak, harta benda, kesepuluh anaknya, disuruh mati
oleh istrinya, dan disalahpahami para sahabatnya, Ayub dapat melewati ujian
itu. Ia pun mengalami pemulihan dan Allah mengembalikan milik-nya sebanyak dua
kali lipat. Kesalehan tanpa adanya ujian adalah
kesalehan yang belum teruji. Kesalehan yang teruji ibarat emas mur-ni yang
muncul setelah melalui serangkaian proses pemurnian. Apakah saat ini iman kita
sedang diuji? Tetaplah berpegang teguh pada Allah sekalipun seluruh dunia
membujuk kita meninggalkan Dia! Jalani ujian kesalehan itu dengan kekuatan dari
Allah. Allah yang membangkitkan iman kita, Allah pula yang akan memelihara dan
menyempurnakannya. KESALEHAN TANPA UJIAN BUKANLAH KESALEHAN SEJATI. Selamat pagi.
Welcome Monday. Pray for AirAsia passengers and their family. Tuhan Yesus memberkati.
Respon 3
Shalom Bu Siu Siang. Puji Tuhan kabar saya baik, ya mohon
maaf buku Mansor sudah saya terima tadi pagi. Bu Siu Siang saya sangat
bersyukur & berterima kasih kepada Tuhan saya & Ko Joshua sudah dapat
kontrak rumah sekarang baru
direnovasi, biarpun kecil tidak apa-apa kami bisa hidup seadanya berjalan
bersama Tuhan & selalu dekat Tuhan. Terima kasih supportnya Bu Siu Siang yang
setiap hari kasih Firman Tuhan yang selalu mengingatkan saya akan keberadaan
Tuhan & kewajiban kita sebagai anak-anak Tuhan. Thanks. GBU...
Respon 4
“Kehidupan terasa
lambat merambat jika hidup kita dibuat berat oleh beban yang menghambat.”
Xavier Quentin Pranata.
No comments:
Post a Comment