Monday, 29 December 2014

29 Desember 2014 - Expresi IMAN


Kisah Para Rasul 14:10, “Lalu kata Paulus dengan suara nyaring: 'Berdirilah tegak di atas kakimu!' Dan orang itu melonjak berdiri, lalu berjalan kian ke mari.” (Baca: Kis 14:8-10) Bagaimana ekspresi iman kita saat hamba Tuhan me-nyampaikan firman / menasehati kita? Apakah iman kita seperti magnet? Langsung merespon? (Melekat bila bersentuhan dengan besi) Tanpa harus menunggu lama (otomatis melekat)? Tuhan ingin kita mengekspresikan iman kita dengan respon hati seperti magnet J. Ekspresi iman (KETAATAN & PERSEM-BAHAN HIDUP kita) seperti magnetlah yang akan menyenangkan hati Tuhan!


Respon 1
Senin, 29 Desember 2014. Bacaan: Kejadian 2:1-17; 3:1-7. Setahun: Wahyu 17-18. Nats: Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya. (Kejadian 3:6) MENERJANG BATAS. Tamak adalah kerakusan yang tak bertepi. Tentang hal ini, ada yang berpendapat bahwa tamak adalah sebuah sikap, bukan sifat. Perhatikan saja, tak ada orang yang terlahir dengan sifat bawaan tamak. Pergaulan hiduplah yang membuatnya tamak. Benarkah ini? Adam dan Hawa diciptakan sebagai gambar Allah. Namun, karena bergaul dengan si ular jahat dan merespons bujukannya, mereka pun menjadi tamak. Padahal, coba bayangkan, betapa Sang Pencipta telah sangat bermurah hati kepada mereka. Dia mengaruniakan seluruh bumi beserta Taman Eden nan permai. Semua pohon boleh dimakan buahnya--kecuali pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Namun, Adam dan Hawa bersikap tamak. Apa yang bukan menjadi hak mereka, justru mereka rampas. Mereka memilih untuk mengikuti kemauan sendiri dan menolak taat pada batas yang ditentukan Sang Pencipta. Lihatlah, bagaimana manusia menjadi rakus--mereka bahkan sampai berani menerjang batas. Sikap tamak membuat manusia tak pernah merasa cukup, bahkan sekalipun ia sudah memiliki seisi bumi. Manusia terus menuntut lebih banyak meskipun Tuhan sudah memberkati-nya dengan berkelimpahan. Pantaskah hal ini? 

Tak seorang pun ingin disebut tamak. Namun, semua orang sebenarnya berpeluang menjadi tamak. Maka, periksalah hati kita sekarang dan mawas diri. Sebab, di situlah sikap tamak itu bisa bersarang. Sang pemazmur berpesan: “Dengan apakah seorang muda mempertahan-kan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan Firman-Mu” (Mzm 119:9). –Susanto. BUMI CUKUP MELIMPAH BAGI SEMUA UMAT MANUSIA, NAMUN TAK CUKUP BAGI SATU ORANG YANG TAMAK.

Respon 2
SAAT TEDUH. Senin, 29 Des 2014. Kesalehan yang Teruji. Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. (Ayub 1:1). Nama yang disematkan pada seseorang kerap mengandung harapan orangtuanya. Anak yang diberi nama “Saleh” atau   “Soleh”,   misalnya,   diharapkan  kelak menjadi pribadi yang saleh. Apakah “strategi” ini selalu berhasil, dalam arti si anak benar-benar menjalani hidup yang saleh? Tidak juga. Menjalani hidup saleh tidaklah semudah memberi nama sekalipun disertai dengan harapan yang begitu tinggi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, orang yang saleh diartikan sebagai orang yang taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah. Kesalehan ini ada pada diri Ayub. Ia juga hidup jujur, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari disebutkan bahwa Ayub menyembah Allah dan setia kepada-Nya. Namun, kesetiaan dan kesalehan Ayub tidak membuatnya bebas dari ujian hidup. Setelah kehilangan ternak, harta benda, kesepuluh anaknya, disuruh mati oleh istrinya, dan disalahpahami para sahabatnya, Ayub dapat melewati ujian itu. Ia pun mengalami pemulihan dan Allah mengembalikan milik-nya sebanyak dua kali lipat. Kesalehan tanpa adanya ujian adalah kesalehan yang belum teruji. Kesalehan yang teruji ibarat emas mur-ni yang muncul setelah melalui serangkaian proses pemurnian. Apakah saat ini iman kita sedang diuji? Tetaplah berpegang teguh pada Allah sekalipun seluruh dunia membujuk kita meninggalkan Dia! Jalani ujian kesalehan itu dengan kekuatan dari Allah. Allah yang membangkitkan iman kita, Allah pula yang akan memelihara dan menyempurnakannya. KESALEHAN TANPA UJIAN BUKANLAH KESALEHAN SEJATI. Selamat pagi. Welcome Monday. Pray for AirAsia passengers and their family. Tuhan Yesus memberkati.

Respon 3
Shalom Bu Siu Siang. Puji Tuhan kabar saya baik, ya mohon maaf buku Mansor sudah saya terima tadi pagi. Bu Siu Siang saya sangat bersyukur & berterima kasih kepada Tuhan saya & Ko Joshua sudah dapat kontrak rumah sekarang baru direnovasi, biarpun kecil tidak apa-apa kami bisa hidup seadanya berjalan bersama Tuhan & selalu dekat Tuhan. Terima kasih supportnya Bu Siu Siang yang setiap hari kasih Firman Tuhan yang selalu mengingatkan saya akan keberadaan Tuhan & kewajiban kita sebagai anak-anak Tuhan. Thanks. GBU...


Respon 4
“Kehidupan terasa lambat merambat jika hidup kita dibuat berat oleh beban yang menghambat.” Xavier Quentin Pranata.


No comments:

Post a Comment