1 Korintus 1:27, “Tetapi
apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang
berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa
yang kuat.” (“Apa yang Bodoh”... Dipilih Allah...) Rasul Paulus menekankan bahwa
standard & nilai Allah itu berbeda dengan yang diterima oleh dunia. Ayat
28: “...Dipilih Allah untuk meniadakan
apa yang berarti.”
Melalui pemilihan apa yang tidak terpandang bagi dunia,
Allah meniadakan hal-hal yang dihargai pada zaman sekarang . Jadi apapun
latar belakang kita, Tuhanlah yang SANG-GUP memakai kita untuk menjadi pemimpin
yang berdampak . JANGAN RAGU, tetap “lakukan apa yang menjadi bagian kita” yang
TERBAIK hanya bagi kemuliaanNya. Sebab Tuhan mau memakai kita bukan karena
“kehebatan & kepandaian kita” tetapi karena anugerahNya kita dipilih
& dipakaiNya. Amin .
Respon 1
“Tidak peduli dari mana kita berasal, yang lebih penting,
kita tahu pasti ke mana kita pergi.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 2
NEVER, NEVER COMPLAINING! Dennis Waitley menulis dalam “The
New Dynamics of Winning” pengalamannya pada
tahun 1979. Ia memesan tempat untuk penerbangan dari Chicago ke
LA. Saat mengejar pesawat, ia kesal saat petugas gerbang mengunci pintu dan
melihat mobil tangga menjauh dari pesawat. Ia memohon namun tidak digubris.
Gagal sudah acara seminarnya, dengan marah ia menuju counter tiket untuk
mengadukan nasibnya. Selang 20 menit, saat mengantri di depan counter ia
mendengar berita bahwa pesawat yang tadi dikejarnya, jatuh sewaktu lepas
landas, semua penumpangnya tewas. Dengan lemas ia membatalkan niatnya untuk
komplain. Setiap kali Dennis merasa diperlakukan tidak adil, ia melihat tiket
yang ditempelkannya di papan kantornya sebagai peringatan bisu. Dunia memang
tidak adil dan kitapun sering diperlakukan tidak adil. Hidup jujur, justru
banyak musuh. Berusaha dengan cara halal, justru dapat hasil sedikit dsbnya.
Segala kejadian buruk seringkali bukan sesuatu yang buruk kalau kita
memandangnya dengan positif. Percayalah bahwa Tuhan turut bekerja
dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang percaya
kepada-Nya, juga mengasihiNya. Tetaplah bersemangat dan bersukacita meskipun
saat ini barangkali kita mengalami masalah hidup yang berat. Belajarlah sesuatu
yang positif dari sesuatu yang buruk, dan bersyukurlah untuk segala yang baik
yang kita terima.., namun juga untuk segala yang buruk yang tidak kita terima!
Ya, renungkan hal ini: “Tuhan kerap memakai hal yang buruk utk menyatakan
kebaikanNya bagi kita.” Selagi suasana Natal bergema semarak di sekeliling
kita, terlintaskah dalam pikiran kita akan Natal yang pertama? Yang tanpa Natal
itu, ribuan tahun lampau, tidak ada satupun peringatan tentang itu hari ini?
Apa yang terbayang di benak Anda memikirkan kelahiran Juruselamat di kota Daud
itu? Inilah beberapa fakta yang tidak mungkin kita tolak: Percaya atau tidak,
dunia tidak pernah me-rayakan
-bahkan mengetahui saja pun tidak akan kelahiran Yesus. Beberapa orang memang mengenali
tanda-tandanya tetapi hampir seluruhnya tidak ada yang tahu. Dunia sibuk dengan
segala urusannya saat sorga dengan segenap bala tentaranya bernyanyi dalam
pengagungan & keharuan: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan
damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya”~ Luk. 2:14.
Natal yang pertama itu sorgawi. Bukan duniawi. Lalu, siapakah yang merayakan
Natal yang pertama? Tentu, Yusuf & Maria. Mereka orang-orang yang intim
dengan Tuhan dimana Tuhan berbicara secara pribadi dengan mereka. Juga
orang-orang majus: kerinduan, rasa lapar & haus mereka untuk berjumpa sang
raja membawa mereka menempuh jarak, menggerus waktu & memberikan
persembahan-persembahan. Yang lainnya, para gembala. Inilah orang-orang yang
beroleh pewahyuan akan lahirnya Mesias. Natal pertama dirayakan oleh mereka yang rohani, bukan mengutamakan gemerlap suasana &
keindahan bendawi. Natal yang pertama akan selalu dikenang dengan segala ucapan
syukur. Dalam begitu banyak keseder-hanaan (kandang, kain lampin, palungan,
gembala-gembala yang tersisih) tetapi kaya arti (anak dara mengandung, seorang
raja telah lahir, Tuhan beserta kita, nama-Nya Yesus sang penyelamat umat-Nya).
Itulah perbedaannya dengan apa yang dirayakan oleh dunia (atau mungkin gereja?)
pada hari ini: meriah & mewah namun minim arti. Dari fakta-fakta di atas,
mungkinkah kita diberi petunjuk akan Natal sejati Bahwa kita semes-tinya merayakan
dalam kebersamaan dengan yang illahi, dalam suatu cara yang rohani, su-paya
kita sungguh-sungguh menemukan arti. Bagaimana dengan Anda? Salam revival!
No comments:
Post a Comment