(D)ANGER
(D)Anger Day 26. Amsal 29:22, “Si pemarah menimbulkan pertengkaran, dan orang yang lekas gusar,
banyak pelanggarannya.” Firman Tuhan meminta kita untuk membuang kepahitan
dan kemarahan. Amarah dapat terasa sedahsyat letusan gunung berapi ketika
ditujukan kepada orang-orang yang paling dekat dengan kita/keluarga. Momen
kemarahan mungkin hanya sekejap saja, tetapi akan menimbulkan emosi dan
perasaan kepahitan yang mendalam. Justru orang-orang yang paling kita kasihi
itulah yang menjadi sasaran dari kemarahan kita. Sekalipun mungkin orang-orang
yang paling dekat itulah yang telah menjadi sebab kenapa kita marah, tetapi
pilihan itu TETAP ditangan kita :). Apakah kita merespon dengan kemarahan atau
dengan kesabaran/kebaikan? Jika kita sedang bergumul dengan kemarahan yang bisa
melukai orang-orang yang paling dekat dengan kita, serahkan semua kelemahan
kita kepadaNya (Filipi 4:13). Ketika kita sungguh-sungguh berusaha untuk
mengasihi sesama dan menyenangkan hati Tuhan untuk mengatasi emosi dan amarah
kita, itulah kemenangan kita sebagai anak-anak Tuhan yang dikasihiNya. Amin.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#(D)ANGERSeries
Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab 1 Tawarikh 28 dan 29
PB: 2 Korintus 12
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
Bp. Anto – Citraland
Hidup itu seperti mengayuh sepeda. Untuk menjaga
keseimbangan supaya tidak jatuh, kita harus terus mengayuhnya maju --Albert
Einstein. “...aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri
kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh
hadiah...” --Fil 3:13. Orang yang sering bernostalgia / mengingat masa lalu,
tidak akan mencapai hasil apa-apa dalam hidupnya.
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Jumat, 26 Mei 2017. BATU SANDUNGAN. Bacaan:
Matius 16:21-28. Lalu Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, “Enyahlah
Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa
yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Matius 16:23).
Pak Anto (nama samaran) memutuskan untuk terlibat dalam pelayanan. Namun,
istrinya tidak setuju. “Aku tidak mendukung keputusan Papa!” katanya. Saat
seseorang memutuskan untuk bertekun dalam kebenaran, menaati kehendak Tuhan,
dan mengenal Dia lebih dekat lagi, biasanya tantangan demi tantangan
bermunculan. Tidak jarang, tantangan dan hambatan itu malah datang dari orang
terdekat. Yesus menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Dia harus pergi ke
Yerusalem, menanggung banyak penderitaan, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada
hari ketiga (ay. 21). Petrus tidak suka mendengarnya. Ia menarik dan menegur
Yesus. Ia berharap agar Allah menjauhkan hal itu sehingga tidak menimpa Yesus
(ay. 22). Petrus tidak menyadari bahwa ia sedang merintangi Yesus menaati
kehendak Bapa. Yesus berbalik menegur Petrus sebagai Iblis, batu sandungan
bagi-Nya. Petrus bukan memikirkan kehendak Allah, melainkan berpikir menurut
nalar manusia (ay. 23). Petrus berpikir, alangkah baiknya jika Yesus menyatakan
kemuliaan-Nya, lalu membuat orang Yahudi yang menolak-Nya kagum dan mengakui
bahwa Dia memang Mesias. Petrus berpikir menurut cara pandang manusia dan tidak
memahami rencana Allah. Kita dapat bertindak seperti Petrus. Kita menjadi batu
sandungan bagi orang yang hendak melakukan kebenaran. Kita tidak mampu memahami
pikiran dan kehendak Allah. Namun, kita dapat belajar meneladani Yesus, yang
hidup sejalan dengan kehendak Bapa. Kiranya hidup kita menjadi berkat, bukan
batu sandungan. KITA MENJADI BATU SANDUNGAN KETIKA KITA MERINTANGI KEHENDAK
ALLAH DAN HANYA MEMIKIRKAN KEPENTINGAN DIRI SENDIRI. Selamat Pagi. Bersyukur
selalu. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: 1 Tawarikh 28-29 &
2 Korintus 12.
Deby – Hwa Ind, Malang
Jeremiah 29:11 “For I know the plans I have for YOU,
declares the LORD.” Dear Woman of God, Be still for a while and praise God for
His favor, His grace and His awesomeness. God is able to do the impossible and
is always near. He loves us unconditionally. Together, let's praise Him with
one voice in this next hour. Forward this to someone you want God to bless.
Let's all say this prayer during this hour: Dear God, This is my friend whom I
love and this is my prayer for her. Help her live her life to the fullest.
Please promote her and cause her to excel above her expectations. Help her to
shine in the darkest places where it is hard to love. Protect her at all times,
lift her up when she needs You the most, and let her know when she walks with
You, she will always be safe. Amen! Love you.
WM Stars
SMALL IS THE NEW BIG. Recent changes in the way that things
are made and talked about mean that big is no longer an advantage. In fact,
it’s the opposite. If you want to be big, act small --Seth Godin. Small is the
new big. Perubahan-perubahan belakangan ini tentang bagaimana hal-hal dibuat
dan dibicarakan berarti bahwa ukuran yang besar bukan lagi suatu keuntungan.
Sebaliknya yang benar. Jika anda ingin menjadi besar, mulailah bertindak hal
kecil. Perubahan akan terjadi kalau anda memulai hal-hal kecil. Bahkan melalui
perbuatan yang kecil itu, kesetiaan kita dinilai. Dan kesungguhan hati kita
justru kelihatan. Maka Tuhan akan menambahkan hal-hal yang lebih besar.
Mulailah harimu dengan serius dan jangan menilai besar atau kecilnya, lakukan
saja dengan hati. Tuhan memberkati. Matius 25:23 Maka kata tuannya itu
kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau
telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan
memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan
turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Lukas 19:17 Katanya kepada orang itu: Baik
sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara
kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota.
Komsel Citraland
Keteladanan yang Membanggakan dari Bpk.Muchtar Pakpahan:
Dear putra putri pak Basuki Tjahja Purnama dan ibu Veronica:
Nicholas Purnama, Daud Albeenner Purnama, dan Nathania Purnama. Saya menulis
surat terbuka ini untuk kalian, khususnya untuk anak-anak Pak Ahok yang saya
hormati. Menonton berita mengenai papa kalian, membuat saya mengingat kembali
apa yang terjadi dengan ayah saya kurang lebih 23 tahun yang lalu. Biarlah saya
share sedikit mengenai apa yang terjadi pada Agustus 1994. Pada waktu itu saya
yang kelas 2 SMP dan adik saya yang kelas 1 SMP dijemput oleh Mas Yono, orang
kepercayaan ayah saya, dari sekolah. Dengan wajah serius, kami diantar oleh Mas
Yono ke rumah; dia tidak menjelaskan apa-apa. Wajahnya sudah membuat saya
khawatir. Ketika tiba di gang menuju rumah, saya melihat banyak polisi dalam
pakaian dinas dan preman. Saya tahu mereka polisi yang berpakaian preman,
karena saya sudah dilatih untuk mengenali mereka, mengingat situasi keluarga
saya waktu itu. Oh iya, ayah saya adalah Muchtar Pakpahan, pejuang buruh masa
Orde Baru yang mendirikan Serikat Buruh Independen pertama di Indonesia yang
menjadi role model saya. Ketika itu, sebuah demonstrasi buruh pertama baru
terjadi di Medan. Hal itu mengejutkan Indonesia dan dunia, karena tidak ada
yang berani mengganggu kekuatan Presiden Soeharto, sampai demonstrasi tersebut.
Ayah saya adalah pemimpin dari organisasi tersebut. Ketika saya masuk ke rumah,
saya melihat adik perempuan saya juga sudah di rumah. Setibanya di sana, mamak
dan ayah saya segera menarik kami ke kamar mereka, di rumah kecil kami yang
sudah dikerumuni oleh banyak orang, ada yang saya kenal, banyak yang tidak
pernah saya lihat sebelumnya. Ketika kami masuk ke kamar, saya mengingat persis
ucapan ayah saya yang akan saya sampaikan kepada kalian, Nicholas, Daud, dan
Nathania. Sambil memegang tangan saya dan adik-adik saya, ayah saya mengatakan
ini, “Ayah mau ditangkap dan ditahan. Ayah kalian bukan penjahat, bukan
koruptor, dan bukan pencuri. Ayah ditangkap karena membela nasib rakyat kecil.
Jangan pernah malu karena ayah.” Kata-kata itu disampaikan ayah kepada kami,
dan mamak juga terlihat kuat dan tegar mendampinginya. Kami sudah sering
diberitahu mengenai kegiatan ayah kami yang berisiko. Kami sering diajak ke
kampung-kampung sejak kecil ketika ayah kami memberi advokasi (istilah yang
saya tahu sesudah saya dewasa) kepada para petani, buruh, dan rakyat kecil
lainnya. Tapi hari itu, saya menjadi tahu persis apa risiko perjuangan ayah
saya. Ketika ayah dibawa ke Medan untuk ditahan, sambil ditemani mama, kami
tinggal sendiri di rumah. Beruntung ada tante dan oom yang menemani kami
malamnya. Telepon rumah tidak berhenti berdering, banyak yang menghubungi dari
luar negeri yang menanyakan apakah benar ayah saya ditahan. Saya kemudian
menjadi PR untuk beberapa hari. Ayah kami ditahan selama 9 bulan di Medan, dan
nantinya akan ditahan 2 tahun lagi di LP Cipinang karena tuduhan subversif
(melawan pemerintah) di tahun 1996-1998 (sampai Presiden Soeharto mundur). Kami
juga merasakan ancaman yang datang melalui telepon, lemparan batu, dan
orang-orang misterius yang sering mengikuti kami ke sekolah dan pulang sekolah.
Perasaan saya hancur sekali waktu itu. Pada satu hari, saya harus menjadi
jurubicara keluarga karena ayah dan mamak pergi meninggalkan kami. Sebagai anak
pertama, saya segera merasakan tanggung jawab untuk menjaga adik-adik saya.
Satu hal yang membuat saya mantap adalah ucapan ayah saya dan derasnya dukungan
yang mengalir ke keluarga kami. Teman-teman saya di SMP mungkin belum memahami
apa yang terjadi, namun para guru mendukung kami. Beberapa hari kemudian mamak
pulang dari Medan dan saya juga melihatnya menangis di rumah. Saat saya melihat
bunda kalian ibu Veronica menangis, saya mengingat tangisan mamak saya yang
awalnya terlihat tegar, namun akhirnya mengeluarkan emosinya. Karena itu, saya
memutuskan untuk menulis catatan ini. Perjuangan papa kalian adalah mulia.
Keputusannya untuk tidak melanjutkan proses hukum juga adalah tanda
kecintaannya akan bangsa ini, yang mungkin berisi orang-orang yang terlalu
mudah dihasut demi kepentingan politis sesaat. Tetapi, saya mau mengatakan ini
kepada kalian. Tetaplah berdoa, tetaplah kuat, dan jangan pernah menundukkan
kepala. This too shall pass seperti kutipan Mazmur yang diambil oleh papa
kalian “Berharaplah kepada Tuhan...” karena “Tuhan akan menyelesaikannya bagi
papa kalian!” Kami semua anak-anak ayah menjadi orang-orang kuat dan sangat
mencintai Indonesia, persis karena ayah kami telah mencontohkannya. Saya
menjadi pendeta dan dosen, adik laki-laki saya menjadi pengacara dan pejuang
buruh, dan adik perempuan saya menjadi jurnalis dengan idealisme tinggi. Kalian
juga akan menjadi orang yang kuat dalam lindungan Tuhan. Temani ibu Veronica,
karena dia akan menangis. Namun seperti mamak saya, mama kalian juga adalah
perempuan kuat yang menjadi tulang punggung keluarga. Untuk mengakhiri catatan
ini, saya mau meneruskan ucapan ayah saya waktu itu, “Ayah mau ditangkap dan
ditahan. Ayah kalian bukan penjahat, bukan koruptor, dan bukan pencuri. Ayah
ditangkap karena membela nasib rakyat kecil. Jangan pernah malu karena ayah.”
We stand by you and pray for you. Jangan pernah malu karena kami sangat bangga
akan perjuangan ayah kalian. Pada akhirnya waktu akan membuktikan penyertaan
Tuhan (Pdt. Binsar Jonathan Pakpahan)
ERA PENUH KUASA UNTUK MENJADI SAKSI-SAKSI TUHAN
Oleh: Peter B, MA
http://worshipcenterindonesia.blogspot.co.id/2017/05/era-penuh-kuasa-untuk-menjadi-saksi.html
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1328322530536485&substory_index=0&id=517254991643247
Worship Center Surabaya
Peringatan kenaikan Kristus seharusnya memberikan penyegaran
baru bagi rohani kita dan menjadi suatu pengingat akan apa yang Tuhan rindukan
atas kita melalui kenaikan-Nya ini. Yesus berkata dalam Yohanes 16:7, “Namun
benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku
pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu,
tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.” Kenaikan Yesus
sesungguhnya adalah babak baru di alam rohani. Suatu musim selanjutnya dalam
kegerakan dan rencana Tuhan atas dunia. Tanpa kenaikan Yesus, Roh Kudus tidak
akan diurus dan turun memenuhi dan menjadi penolong bagi murid-muridNya. Karena
kenaikan Yesus, Roh Kudus mulai berkarya di dunia. Inilah masa yang baru
setelah masa pelayanan Yesus sebagai Anak Manusia tuntas. Inilah era dimana
bukan lagi Yesus yang bergerak di muka bumi melainkan murid-murid dan
pengikut-pengikutNya. Ini pula yang dimaksud Yesus dalam salah satu pernyataan
terakhirnya sebelum disalibkan: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa
percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan,
bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi
kepada Bapa” (Yohanes 14:12). Yaitu bahwa ketika Ia pergi kepada Bapa, maka Roh
Kudus turun untuk menolong kita melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan di bumi
ini. Pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada yang dilakukan oleh Kristus
sendiri dalam kemanusiaan-Nya. Roh yang ada pada-Nya akan diberikan kepada
kita. Suatu Roh yang penuh kuasa yang akan menyertai kita dan memampukan kita
menjadi saksi-saksi Tuhan HINGGA KE UJUNG-UJUNG BUMI. “Tetapi kamu akan
menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi
saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung
bumi” (Kisah Para Rasul 1:8). Jadi kita sebut apakah masa setelah Yesus naik ke
sorga ini? Inilah masa penuaian. Inilah masa dimana jiwa-jiwa dimenangkan.
Jiwa-jiwa dari segala bangsa di setiap penjuru bumi. Inilah masa penggenapan
rencana Tuhan untuk melawat seluruh dunia dan membawa sebanyak mungkin jiwa
kembali kepada-Nya. Dengan Roh Kudus yang penuh kuasa itu, sudah seharusnya
hidup kita dijalani dalam kuasa yang besar. Kehidupan Kristen yang sungguh-sungguh
mengerti makna kenaikan Kristus ialah kehidupan yang berbeda, yang tangguh,
perkasa, tidak mudah putus asa, terarah ke sorga dan memperagakan kehidupan
Kristus yang pernah mengguncang seluruh tanah Yudea selama 3,5 tahun itu.
Kehidupan yang seperti demikianlah yang juga diperagakan oleh para rasul dan
murid-murid sejati-Nya di segala zaman. Kehidupan rohani kita SEHARUSNYA
menyatakan bahwa kita lebih dari pemenang menghadapi segala apapun karena Allah
kita hidup, berkuasa, bekerja hingga hari ini bahkan menyertai kita sepenuhnya.
Inilah masanya menjadi saksi-saksi Kristus. Bukan sekedar menjadi orang-orang
beragama Kristen. Inilah waktunya melepaskan kuasa Tuhan dalam setiap bidang
kehidupan kita. Lebih dari sekedar beribadah di gereja. Inilah waktunya dunia
melihat betapa Roh Kudus bekerja dan mengubah kita menjadi pribadi-pribadi
terbaik dan paling penuh kasih di dunia. Bukan hanya sekedar orang-orang yang
melayani dalam rutinitas belaka. Inilah waktunya dimana nubuatan nabi Yoel
digenapi dimana teruna-teruna akan bernubuat dan orang-orang tua akan mendapat
mimpi. Bukan sekedar mengikuti nasihat-nasihat agama yang monoton dan tanpa
gairah. Inilah waktunya melayani dengan penuh gairah dan kuasa sebab Roh Kudus
bekerja atas kita, di dalam kita dan melalui kita. Lebih daripada sekedar
pelayanan yang tampak semarak tapi jauh dari jamahan hadirat Tuhan yang
mengubahkan hidup. Kenaikan Yesus Kristus adalah musim yang baru bagi Tuhan.
Adakah ini juga musim yang baru bagi kita? Atau masih ssrupa dengan tahun-tahun
sebelumnya dan yang akan tetap sama di tahun-tahun menjelang? Di hadapan Allah
yang bergerak secara progresif, adalah kesia-siaan jika kita merayakan kenaikan
Yesus tetapi tetap dalam posisi dan kondisi rohani yang sama tahun demi tahun.
Sebaliknya, jika kita benar² memahami makna kenaikan-Nya, tidak ada kerinduan
di hati kita selain mencari apa yang masih kurang dalam pengabdian kita kepada
Kristus dan melangkah dalam gairah yang besar untuk melihat penggenapan
kehendak dan rencana-Nya dalam hidup kita. Ladang sudah menguning. Kita sudah
dipanggil. Kuasa sudah tersedia. Adakah kita ada di barisan para pekerja-Nya
dan melakukan bagian kita dalam pekerjaan-Nya selagi kesempatan dan kasih
karunia masih diberikan pada kita hari ini? Selamat memperingati kenaikan Tuhan
kita. Salam revival! Indonesia penuh kemuliaan Tuhan.

No comments:
Post a Comment