Friday, 26 May 2017

26 Mei 2017

(D)ANGER






(D)Anger Day 26. Amsal 29:22, “Si pemarah menimbulkan pertengkaran, dan orang yang lekas gusar, banyak pelanggarannya.” Firman Tuhan meminta kita untuk membuang kepahitan dan kemarahan. Amarah dapat terasa sedahsyat letusan gunung berapi ketika ditujukan kepada orang-orang yang paling dekat dengan kita/keluarga. Momen kemarahan mungkin hanya sekejap saja, tetapi akan menimbulkan emosi dan perasaan kepahitan yang mendalam. Justru orang-orang yang paling kita kasihi itulah yang menjadi sasaran dari kemarahan kita. Sekalipun mungkin orang-orang yang paling dekat itulah yang telah menjadi sebab kenapa kita marah, tetapi pilihan itu TETAP ditangan kita :). Apakah kita merespon dengan kemarahan atau dengan kesabaran/kebaikan? Jika kita sedang bergumul dengan kemarahan yang bisa melukai orang-orang yang paling dekat dengan kita, serahkan semua kelemahan kita kepadaNya (Filipi 4:13). Ketika kita sungguh-sungguh berusaha untuk mengasihi sesama dan menyenangkan hati Tuhan untuk mengatasi emosi dan amarah kita, itulah kemenangan kita sebagai anak-anak Tuhan yang dikasihiNya. Amin.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#(D)ANGERSeries

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab 1 Tawarikh 28 dan 29
PB: 2 Korintus 12
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved

Bp. Anto – Citraland
Hidup itu seperti mengayuh sepeda. Untuk menjaga keseimbangan supaya tidak jatuh, kita harus terus mengayuhnya maju --Albert Einstein. “...aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah...” --Fil 3:13. Orang yang sering bernostalgia / mengingat masa lalu, tidak akan mencapai hasil apa-apa dalam hidupnya.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Jumat, 26 Mei 2017. BATU SANDUNGAN. Bacaan: Matius 16:21-28. Lalu Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Matius 16:23). Pak Anto (nama samaran) memutuskan untuk terlibat dalam pelayanan. Namun, istrinya tidak setuju. “Aku tidak mendukung keputusan Papa!” katanya. Saat seseorang memutuskan untuk bertekun dalam kebenaran, menaati kehendak Tuhan, dan mengenal Dia lebih dekat lagi, biasanya tantangan demi tantangan bermunculan. Tidak jarang, tantangan dan hambatan itu malah datang dari orang terdekat. Yesus menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Dia harus pergi ke Yerusalem, menanggung banyak penderitaan, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga (ay. 21). Petrus tidak suka mendengarnya. Ia menarik dan menegur Yesus. Ia berharap agar Allah menjauhkan hal itu sehingga tidak menimpa Yesus (ay. 22). Petrus tidak menyadari bahwa ia sedang merintangi Yesus menaati kehendak Bapa. Yesus berbalik menegur Petrus sebagai Iblis, batu sandungan bagi-Nya. Petrus bukan memikirkan kehendak Allah, melainkan berpikir menurut nalar manusia (ay. 23). Petrus berpikir, alangkah baiknya jika Yesus menyatakan kemuliaan-Nya, lalu membuat orang Yahudi yang menolak-Nya kagum dan mengakui bahwa Dia memang Mesias. Petrus berpikir menurut cara pandang manusia dan tidak memahami rencana Allah. Kita dapat bertindak seperti Petrus. Kita menjadi batu sandungan bagi orang yang hendak melakukan kebenaran. Kita tidak mampu memahami pikiran dan kehendak Allah. Namun, kita dapat belajar meneladani Yesus, yang hidup sejalan dengan kehendak Bapa. Kiranya hidup kita menjadi berkat, bukan batu sandungan. KITA MENJADI BATU SANDUNGAN KETIKA KITA MERINTANGI KEHENDAK ALLAH DAN HANYA MEMIKIRKAN KEPENTINGAN DIRI SENDIRI. Selamat Pagi. Bersyukur selalu. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: 1 Tawarikh 28-29 & 2 Korintus 12.

Deby – Hwa Ind, Malang
Jeremiah 29:11 “For I know the plans I have for YOU, declares the LORD.” Dear Woman of God, Be still for a while and praise God for His favor, His grace and His awesomeness. God is able to do the impossible and is always near. He loves us unconditionally. Together, let's praise Him with one voice in this next hour. Forward this to someone you want God to bless. Let's all say this prayer during this hour: Dear God, This is my friend whom I love and this is my prayer for her. Help her live her life to the fullest. Please promote her and cause her to excel above her expectations. Help her to shine in the darkest places where it is hard to love. Protect her at all times, lift her up when she needs You the most, and let her know when she walks with You, she will always be safe. Amen! Love you.

WM Stars
SMALL IS THE NEW BIG. Recent changes in the way that things are made and talked about mean that big is no longer an advantage. In fact, it’s the opposite. If you want to be big, act small --Seth Godin. Small is the new big. Perubahan-perubahan belakangan ini tentang bagaimana hal-hal dibuat dan dibicarakan berarti bahwa ukuran yang besar bukan lagi suatu keuntungan. Sebaliknya yang benar. Jika anda ingin menjadi besar, mulailah bertindak hal kecil. Perubahan akan terjadi kalau anda memulai hal-hal kecil. Bahkan melalui perbuatan yang kecil itu, kesetiaan kita dinilai. Dan kesungguhan hati kita justru kelihatan. Maka Tuhan akan menambahkan hal-hal yang lebih besar. Mulailah harimu dengan serius dan jangan menilai besar atau kecilnya, lakukan saja dengan hati. Tuhan memberkati. Matius 25:23 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Lukas 19:17 Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota.

Komsel Citraland
Keteladanan yang Membanggakan dari Bpk.Muchtar Pakpahan:
Dear putra putri pak Basuki Tjahja Purnama dan ibu Veronica: Nicholas Purnama, Daud Albeenner Purnama, dan Nathania Purnama. Saya menulis surat terbuka ini untuk kalian, khususnya untuk anak-anak Pak Ahok yang saya hormati. Menonton berita mengenai papa kalian, membuat saya mengingat kembali apa yang terjadi dengan ayah saya kurang lebih 23 tahun yang lalu. Biarlah saya share sedikit mengenai apa yang terjadi pada Agustus 1994. Pada waktu itu saya yang kelas 2 SMP dan adik saya yang kelas 1 SMP dijemput oleh Mas Yono, orang kepercayaan ayah saya, dari sekolah. Dengan wajah serius, kami diantar oleh Mas Yono ke rumah; dia tidak menjelaskan apa-apa. Wajahnya sudah membuat saya khawatir. Ketika tiba di gang menuju rumah, saya melihat banyak polisi dalam pakaian dinas dan preman. Saya tahu mereka polisi yang berpakaian preman, karena saya sudah dilatih untuk mengenali mereka, mengingat situasi keluarga saya waktu itu. Oh iya, ayah saya adalah Muchtar Pakpahan, pejuang buruh masa Orde Baru yang mendirikan Serikat Buruh Independen pertama di Indonesia yang menjadi role model saya. Ketika itu, sebuah demonstrasi buruh pertama baru terjadi di Medan. Hal itu mengejutkan Indonesia dan dunia, karena tidak ada yang berani mengganggu kekuatan Presiden Soeharto, sampai demonstrasi tersebut. Ayah saya adalah pemimpin dari organisasi tersebut. Ketika saya masuk ke rumah, saya melihat adik perempuan saya juga sudah di rumah. Setibanya di sana, mamak dan ayah saya segera menarik kami ke kamar mereka, di rumah kecil kami yang sudah dikerumuni oleh banyak orang, ada yang saya kenal, banyak yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Ketika kami masuk ke kamar, saya mengingat persis ucapan ayah saya yang akan saya sampaikan kepada kalian, Nicholas, Daud, dan Nathania. Sambil memegang tangan saya dan adik-adik saya, ayah saya mengatakan ini, “Ayah mau ditangkap dan ditahan. Ayah kalian bukan penjahat, bukan koruptor, dan bukan pencuri. Ayah ditangkap karena membela nasib rakyat kecil. Jangan pernah malu karena ayah.” Kata-kata itu disampaikan ayah kepada kami, dan mamak juga terlihat kuat dan tegar mendampinginya. Kami sudah sering diberitahu mengenai kegiatan ayah kami yang berisiko. Kami sering diajak ke kampung-kampung sejak kecil ketika ayah kami memberi advokasi (istilah yang saya tahu sesudah saya dewasa) kepada para petani, buruh, dan rakyat kecil lainnya. Tapi hari itu, saya menjadi tahu persis apa risiko perjuangan ayah saya. Ketika ayah dibawa ke Medan untuk ditahan, sambil ditemani mama, kami tinggal sendiri di rumah. Beruntung ada tante dan oom yang menemani kami malamnya. Telepon rumah tidak berhenti berdering, banyak yang menghubungi dari luar negeri yang menanyakan apakah benar ayah saya ditahan. Saya kemudian menjadi PR untuk beberapa hari. Ayah kami ditahan selama 9 bulan di Medan, dan nantinya akan ditahan 2 tahun lagi di LP Cipinang karena tuduhan subversif (melawan pemerintah) di tahun 1996-1998 (sampai Presiden Soeharto mundur). Kami juga merasakan ancaman yang datang melalui telepon, lemparan batu, dan orang-orang misterius yang sering mengikuti kami ke sekolah dan pulang sekolah. Perasaan saya hancur sekali waktu itu. Pada satu hari, saya harus menjadi jurubicara keluarga karena ayah dan mamak pergi meninggalkan kami. Sebagai anak pertama, saya segera merasakan tanggung jawab untuk menjaga adik-adik saya. Satu hal yang membuat saya mantap adalah ucapan ayah saya dan derasnya dukungan yang mengalir ke keluarga kami. Teman-teman saya di SMP mungkin belum memahami apa yang terjadi, namun para guru mendukung kami. Beberapa hari kemudian mamak pulang dari Medan dan saya juga melihatnya menangis di rumah. Saat saya melihat bunda kalian ibu Veronica menangis, saya mengingat tangisan mamak saya yang awalnya terlihat tegar, namun akhirnya mengeluarkan emosinya. Karena itu, saya memutuskan untuk menulis catatan ini. Perjuangan papa kalian adalah mulia. Keputusannya untuk tidak melanjutkan proses hukum juga adalah tanda kecintaannya akan bangsa ini, yang mungkin berisi orang-orang yang terlalu mudah dihasut demi kepentingan politis sesaat. Tetapi, saya mau mengatakan ini kepada kalian. Tetaplah berdoa, tetaplah kuat, dan jangan pernah menundukkan kepala. This too shall pass seperti kutipan Mazmur yang diambil oleh papa kalian “Berharaplah kepada Tuhan...” karena “Tuhan akan menyelesaikannya bagi papa kalian!” Kami semua anak-anak ayah menjadi orang-orang kuat dan sangat mencintai Indonesia, persis karena ayah kami telah mencontohkannya. Saya menjadi pendeta dan dosen, adik laki-laki saya menjadi pengacara dan pejuang buruh, dan adik perempuan saya menjadi jurnalis dengan idealisme tinggi. Kalian juga akan menjadi orang yang kuat dalam lindungan Tuhan. Temani ibu Veronica, karena dia akan menangis. Namun seperti mamak saya, mama kalian juga adalah perempuan kuat yang menjadi tulang punggung keluarga. Untuk mengakhiri catatan ini, saya mau meneruskan ucapan ayah saya waktu itu, “Ayah mau ditangkap dan ditahan. Ayah kalian bukan penjahat, bukan koruptor, dan bukan pencuri. Ayah ditangkap karena membela nasib rakyat kecil. Jangan pernah malu karena ayah.” We stand by you and pray for you. Jangan pernah malu karena kami sangat bangga akan perjuangan ayah kalian. Pada akhirnya waktu akan membuktikan penyertaan Tuhan (Pdt. Binsar Jonathan Pakpahan)
ERA PENUH KUASA UNTUK MENJADI SAKSI-SAKSI TUHAN
Oleh: Peter B, MA
http://worshipcenterindonesia.blogspot.co.id/2017/05/era-penuh-kuasa-untuk-menjadi-saksi.html
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1328322530536485&substory_index=0&id=517254991643247

Worship Center Surabaya
Peringatan kenaikan Kristus seharusnya memberikan penyegaran baru bagi rohani kita dan menjadi suatu pengingat akan apa yang Tuhan rindukan atas kita melalui kenaikan-Nya ini. Yesus berkata dalam Yohanes 16:7, “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.” Kenaikan Yesus sesungguhnya adalah babak baru di alam rohani. Suatu musim selanjutnya dalam kegerakan dan rencana Tuhan atas dunia. Tanpa kenaikan Yesus, Roh Kudus tidak akan diurus dan turun memenuhi dan menjadi penolong bagi murid-muridNya. Karena kenaikan Yesus, Roh Kudus mulai berkarya di dunia. Inilah masa yang baru setelah masa pelayanan Yesus sebagai Anak Manusia tuntas. Inilah era dimana bukan lagi Yesus yang bergerak di muka bumi melainkan murid-murid dan pengikut-pengikutNya. Ini pula yang dimaksud Yesus dalam salah satu pernyataan terakhirnya sebelum disalibkan: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yohanes 14:12). Yaitu bahwa ketika Ia pergi kepada Bapa, maka Roh Kudus turun untuk menolong kita melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan di bumi ini. Pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada yang dilakukan oleh Kristus sendiri dalam kemanusiaan-Nya. Roh yang ada pada-Nya akan diberikan kepada kita. Suatu Roh yang penuh kuasa yang akan menyertai kita dan memampukan kita menjadi saksi-saksi Tuhan HINGGA KE UJUNG-UJUNG BUMI. “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kisah Para Rasul 1:8). Jadi kita sebut apakah masa setelah Yesus naik ke sorga ini? Inilah masa penuaian. Inilah masa dimana jiwa-jiwa dimenangkan. Jiwa-jiwa dari segala bangsa di setiap penjuru bumi. Inilah masa penggenapan rencana Tuhan untuk melawat seluruh dunia dan membawa sebanyak mungkin jiwa kembali kepada-Nya. Dengan Roh Kudus yang penuh kuasa itu, sudah seharusnya hidup kita dijalani dalam kuasa yang besar. Kehidupan Kristen yang sungguh-sungguh mengerti makna kenaikan Kristus ialah kehidupan yang berbeda, yang tangguh, perkasa, tidak mudah putus asa, terarah ke sorga dan memperagakan kehidupan Kristus yang pernah mengguncang seluruh tanah Yudea selama 3,5 tahun itu. Kehidupan yang seperti demikianlah yang juga diperagakan oleh para rasul dan murid-murid sejati-Nya di segala zaman. Kehidupan rohani kita SEHARUSNYA menyatakan bahwa kita lebih dari pemenang menghadapi segala apapun karena Allah kita hidup, berkuasa, bekerja hingga hari ini bahkan menyertai kita sepenuhnya. Inilah masanya menjadi saksi-saksi Kristus. Bukan sekedar menjadi orang-orang beragama Kristen. Inilah waktunya melepaskan kuasa Tuhan dalam setiap bidang kehidupan kita. Lebih dari sekedar beribadah di gereja. Inilah waktunya dunia melihat betapa Roh Kudus bekerja dan mengubah kita menjadi pribadi-pribadi terbaik dan paling penuh kasih di dunia. Bukan hanya sekedar orang-orang yang melayani dalam rutinitas belaka. Inilah waktunya dimana nubuatan nabi Yoel digenapi dimana teruna-teruna akan bernubuat dan orang-orang tua akan mendapat mimpi. Bukan sekedar mengikuti nasihat-nasihat agama yang monoton dan tanpa gairah. Inilah waktunya melayani dengan penuh gairah dan kuasa sebab Roh Kudus bekerja atas kita, di dalam kita dan melalui kita. Lebih daripada sekedar pelayanan yang tampak semarak tapi jauh dari jamahan hadirat Tuhan yang mengubahkan hidup. Kenaikan Yesus Kristus adalah musim yang baru bagi Tuhan. Adakah ini juga musim yang baru bagi kita? Atau masih ssrupa dengan tahun-tahun sebelumnya dan yang akan tetap sama di tahun-tahun menjelang? Di hadapan Allah yang bergerak secara progresif, adalah kesia-siaan jika kita merayakan kenaikan Yesus tetapi tetap dalam posisi dan kondisi rohani yang sama tahun demi tahun. Sebaliknya, jika kita benar² memahami makna kenaikan-Nya, tidak ada kerinduan di hati kita selain mencari apa yang masih kurang dalam pengabdian kita kepada Kristus dan melangkah dalam gairah yang besar untuk melihat penggenapan kehendak dan rencana-Nya dalam hidup kita. Ladang sudah menguning. Kita sudah dipanggil. Kuasa sudah tersedia. Adakah kita ada di barisan para pekerja-Nya dan melakukan bagian kita dalam pekerjaan-Nya selagi kesempatan dan kasih karunia masih diberikan pada kita hari ini? Selamat memperingati kenaikan Tuhan kita. Salam revival! Indonesia penuh kemuliaan Tuhan.

No comments:

Post a Comment