(D)ANGER
D(ANGER) – Day 1 – Angry/Kemarahan. Adakalanya membiasakan diri untuk
bersikap SABAR dan RAMAH itu terasa sulit. Namun kita pengkhotbah berkata
didalam Pengkhotbah 7:9, “Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena
AMARAH menetap dalam dada ORANG BODOH.” Tuhan memberi kita 2 telinga &
1 mulut dengan suatu maksud. Kemampuan untuk mendengar merupakan
keterampilan hidup yang penting. Dan memberi kita hanya 1 mulut agar kita bisa
mempunyai penguasaan diri & mengendalikan lidah agar kita dapat menjaga
bibir kita dengan lebih mudah (karena hanya 1). Tidak bisa dibayangkan ya jika
mulut kita 2 seperti telinga. Oleh karena itu jangan “marah sembarangan” karena
kemarahan yang ditimbulkan dengan ucapan-ucapan yang sembrono/marah akan
menimbulkan kerugian dari pada kebaikan. Amin. Ya Tuhan, tolong kami untuk
mengedalikan kemarahan kami agar tidak membawa kami ke dalam dosa. Berilah kami
pengendalian diri oleh kuasa Roh KudusMu & jadikan kami orang-orang yang
lambat untuk marah. Amin.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#MESS...intoMessageSeries
Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab 1 Raja-Raja 10, 11
PB: 1 Korintus 18
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
#HappyHoliday
#HappyWithUrFam
Bp. Peter – WCS
MEMAHAMI ROH AGAMAWI. Diambil dari buku “Mengalahkan setan
di hari-hari yang terakhir”. Oleh Rick Joyner. BAGIAN 5 – SELESAI. KOMBINASI
YANG MEMATIKAN. Salah satu bentuk roh agamawi yang paling kuat dan paling
menyesatkan adalah yang dibangun di atas dasar ketakutan serta kesombongan.
Mereka yang diikat dengan cara ini mengalami kesedihan dan penyesalan yang
berlarut-larut atas kegagalan mereka, namun pertobatan yang palsu ini hanya
berakibat lebih kepada penghinaan diri sendiri dan usaha-usaha lebih lanjut untuk
melakukan pengorbanan yang akan menenangkan Tuhan. Mereka yang terikat oleh roh
agamawi ini sering kali memprotes pihak lain, di mana mereka demikian percaya
bahwa mereka lebih hebat daripada orang-orang Kristen lainnya atau kelompok
lainnya sehingga mereka menjadi tidak bisa diajar dan tidak mampu menerima
koreksi. Dasar tempat mereka berdiri pada suatu waktu tertentu akan lebih
banyak ditentukan oleh tekanan-tekanan eksternal keyakinan yang sejati. Roh
agamawi yang seperti itu sangat licik sehingga ia akan memutar hampir setiap
usaha untuk mengkonfrontasikannya. Jika Anda menghadapi orang yang sombong,
ketakutan dan perasaan tidak amannya akan bangkit untuk menarik simpati. Jika
Anda berkonfrontasi dengan ketakutan, maka ia akan mengubahnya menjadi kesombongan
rohani dengan menyamar sebagai iman. Jenis roh ini akan mendorong orang-orang
atau jemaat kepada ekstrem yang sedemikian rupa sehingga tidak mungkin dapat
bersatu. KARUNIA MEMBEDAKAN ROH YANG PALSU. Suatu roh agamawi biasanya akan
memberikan suatu karunia membedakan roh yang palsu yang dimotivasikan oleh
kecurigaan dan ketakutan. Karunia yang palsu itu tumbuh dengan subur dengan
melihat apa yang salah dengan orang lain ketimbang melihat apa yang sedang
Allah kerjakan supaya kita dapat menolong mereka. Dengan memakai jenis karunia
membedakan roh yang palsu ini, roh agamawi dapat menimbulkan beberapa kerugian
yang paling besar kepada gereja. Pelayanannya hampir selalu akan meninggalkan
lebih banyak kerugian dan perpecahan daripada kesembuhan, rekonsiliasi, dan
membangun. Hikmatnya berakar dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang
jahat, dan meskipun ia mengungkapkan kebenaran dengan tepat, pelayanan tersebut
dilakukan oleh suatu roh yang membunuh. Kecurigaan mempunyai akar yang sama
dengan penolakan, mempertahankan kekuasaan, atau perasaan tidak aman secara
umum. Karunia membedakan roh yang sejati hanya dapat berfungsi melalui kasih.
Setiap motivasi yang lain selain daripada kasih akan menyimpangkan persepsi
rohani. Jika seseorang menyerah kepada suatu penghakiman atau kritik mengenai
orang atau kelompok lain, kita harus mengabaikannya kecuali jika kita
mengetahui bahwa orang tersebut memiliki kasih yang sejati terhadap orang atau
kelompok tersebut, dan telah memiliki “investasi” jasa terhadap mereka.
KESIMPULAN
Sebagaimana Anda mungkin sudah dapat menarik kesimpulan
bahwa semua benteng rohani si jahat memiliki karakteristik yang sama. Taktik
dan fungsi mereka sering kali tumpang tindih menjadi suatu sarang laba-laba
yang menangkap dan menawan mangsanya. Dari semua benteng penyesatan yang
dibangun oleh si musuh di dalam diri manusia, roh agamawi merupakan yang paling
menyesatkan dan paling mematikan, karena ia merupakan tiruan dari kebenaran dan
kebaikan. Meskipun roh ini menampilkan tiruan dari kebenaran, ia dapat dikenali
dari cara bagaimana ia melihat kepada diri kita, berusaha untuk mengukur diri
kita dengan standar-standar, membandingkan diri kita dengan orang lain, dan
tentu saja menyimpangkan kita dari kemuliaan Allah yang mengubah kita. Karena
itu, roh-roh agamawi merupakan buah yang paling kuat dari pohon pengetahuan
tentang yang baik dan yang jahat. Sisi “baik” dari pohon ini adalah sama
mematikan dengan sisi jahatnya roh agamawi yang selalu menghasilkan buah
kematian rohani.
Bagian 4
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1300186133350125&id=517254991643247
Bagian 3
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1286184451416960&id=517254991643247
Bagian 2
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1285261101509295&id=517254991643247
Bagian 1
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1285147728187299&substory_index=0&id=517254991643247
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Senin, 1 Mei 2017. SEPERTI BIASA. Bacaan: Daniel
6:1-14. Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah
ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah
Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti
yang biasa dilakukannya (Daniel 6:11). Menjalankan kebiasaan kita di tempat
baru tidaklah mudah, baik itu bahasa, budaya dan iman. Daniel muda, seorang
Yehuda, diangkut ke Babel menjadi tawanan bersama banyak saudara sebangsanya
(Dan. 1:6). Namun sejak awal, ia berkomitmen untuk menaati Tuhan dan hidup
sesuai firman-Nya (Dan.1:8). Ia mempelajari bahasa dan budaya Babel (Dan. 1:4),
namun tetap memelihara imannya kepada Allah. Allah pun mengaruniakannya hikmat
dan berbagai pengertian, sehingga ia dipekerjakan oleh raja Babel. Ketika
kerajaan Babel ditaklukkan oleh kerajaan Persia, raja Persia pun tetap mengangkatnya
sebagai orang kepercayaan. Daniel tetap menghidupi imannya dan memelihara
integritasnya. Para pejabat lain yang iri dan berperilaku korup memusuhi
Daniel, dan melakukan cara-cara manipulatif untuk menyingkirkannya. Mereka
sadar, ia hidup tak cela. Hanya dalam kesetiaannya kepada Allahnyalah mereka
bisa mencari gara-gara. Mereka pun membuat raja menetapkan undang-undang yang
melarang siapa pun menyampaikan permohonan (doa) selain kepada raja selama 30
hari (ay. 5, 8). Namun Daniel tidak gentar. Ia tidak mau peraturan manusia
menghalanginya berhubungan dengan Allah semesta alam. Ia pun siap menanggung
risikonya. Syukur, Allah menunjukkan pemeliharaan-Nya dengan melepaskannya dari
gua singa. Kesetiaan Daniel pada Allah tidaklah muncul serta-merta. Ia telah
memeliharanya sejak muda. Jadi mari belajar menjadikan kesetiaan kepada Allah
sebagai sesuatu yang biasa, setiap hari. SEGALA SIFAT BAIK, TERMASUK KESETIAAN
KITA KEPADA ALLAH, TIDAK MUNCUL BEGITU SAJA, MELAINKAN KARENA KITA
MEMBIASAKANNYA. Selamat Pagi. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: 1
Raja-Raja 10-11 & 1 Korintus 8.

No comments:
Post a Comment