(D)ANGER
(D)Anger Day 15. Respon... kita terhadap Kemarahan
mengarahkan kita ke hal-hal yang benar atau ke hal-hal yang salah. Efesus 4:26,
“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari
terbenam, sebelum padam amarahmu.” Ayat 27: “dan janganlah beri
kesempatan kepada Iblis.” Ayat 31: “Segala kepahitan, kegeraman,
kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian
pula segala kejahatan.” Kemarahan diayat 26 berasal dari kata orgizomai
yang berarti menjadi marah sebagai reaksi atas ketidakbenaran bukan
sebagai karakter hidup. Marah karena hanya reaksi sesaat, tetapi tidak boleh
dibiarkan tidak reda selama sehari penuh atau sebelum matahari terbenam.
Sedangkan diayat 31, istilah kegeraman dari bahasa Yunani thumos: sifat
yang mengakar dalam hati dan istilah kemarahan dalam ayat 31 orge: kemarahan
yang menjadi kebiasaan hidup. Bila api kemarahan tidak dipadamkan dengan
kasih dan pengampunan, api itu akan membakar kehidupan kita dan pekerjaan
Tuhan. Melalui kemarahan yang tidak dipadamkan, kita membuka celah kepada
iblis/memberi jalan bagi dosa-dosa yang lain. Mari padamkan
kemarahan-kemarahan/amarah yang masih ada karena kita mempunyai kemampuan untuk
mengontrol sikap perilaku kita ketika kita sedang marah. Jadilah orang-orang
yang membawa damai bukan pembawa kemarahan. Amin.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#(D)ANGERSeries
Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab 2 Raja-Raja 22 dan 23
PB: 2 Korintus 2
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Senin, 15 Mei 2017. MENEROBOS KEBEKUAN. Bacaan:
Kisah Para Rasul 3:1-10. Tetapi Petrus berkata, “Emas dan perak tidak ada
padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Dalam nama Yesus Kristus,
orang Nazaret itu, bangkit dan berjalanlah!” (Kisah Para Rasul 3:6). Sesuatu yang
sering kita lihat, dengar, alami akan membuat kita terbiasa. Bahkan bisa jadi
tumpul. Misalnya, orang yang belum pernah diucapi kata mesra “Aku cinta padamu”
pasti akan merona merah pipinya ketika mendengarnya untuk pertama kali. Jantung
deg-degan, malam terasa panjang, mata sulit terpejam. Lain halnya dengan orang
yang sudah biasa jatuh bangun dalam cinta. Efeknya pasti ada, namun tak
sedahsyat yang pertama. Demikian pula halnya dengan rasa kasihan. Semakin
sering kita berjumpa dengan orang yang menghadirkan rasa iba, semakin biasalah
hati kita. Banyak orang sudah biasa melihat orang lumpuh itu duduk tak berdaya,
di pintu Gerbang Indah (ay. 2). Si lumpuh sendiri juga sudah amat terbiasa
dengan keadaan dirinya. Para penggotongnya apalagi! Kini datanglah Petrus dan
Yohanes membawa sesuatu yang baru. Mereka tidak memberi uang seperti kebanyakan
orang. Mereka memberi sesuatu yang tidak biasa bagi si lumpuh. Kata mereka,
“Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai kuberikan kepadamu”.
Dan mujizat terjadi. Terjadinya mujizat diawali dengan kemampuan Petrus dan
Yohanes lepas dari penjara kebiasaan yang menumpulkan hati nurani. Petrus dan
Yohanes melihat si lumpuh dengan mata baru dan memberikan sesuatu yang baru.
Kita belajar bahwa ketumpulan belas kasihan bukan akhir cerita dan bahwa
diperlukan selalu semangat mendobrak kebekuan hati dan ketawaran rasa melihat
derita orang. Dengan apa yang ada dalam iman kepada Kristus kita dapat
menghadirkan “kebaruan” pada orang-orang yang biasa dalam penderitaan. Cobalah!
BANYAKKAN KASIHKU AKAN ORANG-ORANG YANG SUSAH, YA ALLAH. Selamat pagi. Semangat
awal minggu. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: 2 Raja-raja 22-23
& 2 Korintus 2.

No comments:
Post a Comment