Thursday, 11 May 2017

11 Mei 2017

(D)ANGER






(D)Anger day 11 – Kemarahan yang Menimbulkan Dosa. Efesus 4:26, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” Apabila kamu menjadi marah diterjemahkan dari sebuah kata Yunani orgizesthe, bentuk present imperatif orang kedua jamak dari kata orgizomai yang berarti marah sebagai reaksi atas ketidakbenaran bukan Karakter Hidup. Jadi marah sejenis orgizomai tidak harus dibuang karena hanya reaksi sesaat tetapi tidak boleh dibiarkan tidak reda selama sehari penuh. Sedangkan kemarahan yang menimbulkan dosa disebut didalam ayat 31: “Segala kepahitan, kegeraman, KEMARAHAN, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” Istilah kemarahan diayat 31 adalah ORGE yang artinya kemarahan yang sudah menjadi KEBIASAAN HIDUP. Kemarahan adalah emosi yang dibangkitkan karena hal-hal yang tidak menyenangkan hati kita. Marah itu sendiri bukanlah dosa karena Allah juga dapat marah (Maz 2:12, Bil 24:4) dan Yesus pun pernah marah (Matius 21:12-13). Kemarahan Allah adalah bagian dari penghakimanNya atas dosa. Bedanya dengan manusia, Allah dapat melihat segala sesuatu dengan sempurna. Memiliki pengetahuan tentang segala sesuatu hal dengan lengkap. Sedangkan kita tidak karena itu bisa jadi kita terseret dalam dosa saat kita marah. Melalui kemarahan yang tidak segera dipadamkan akan memberi ruang kepada iblis & memberi jalan bagi dosa-dosa yang lain. Masihkah kita menjadikan marah menjadi kebiasaan hidup kita??

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#(D)ANGERSeries

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab 2 Raja-Raja 13 dan 14
PB: 1 Korintus 15:1-19
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
#HappyHoliday
#HappyWithUrFam

Madam Ossy
Kamis, 11 Mei 2017. Bacaan: Kisah Para Rasul 10:17-33. Setahun: 1 Tawarikh 1-2. Nas: Keesokan harinya ia bangun dan berangkat bersama-sama dengan mereka... (Kisah Para Rasul 10:23). Bejana Pengharapan. Rumah Sakit Apung “Mercy Ship” beroperasi sejak 1978. Penduduk pelosok di pulau-pulau terpencil menjadi targetnya. Mereka melakukan pengobatan dan terutama operasi atas penyakit-penyakit kanker, mata, tulang, dan sebagainya tanpa memungut biaya. Sudah lebih dari 82.000 kasus operasi genting yang berhasil dilaksanakan. Bagi para pasien, kedatangan kapal itu adalah jawaban atas doa-doa bahkan mujizat. Kapal tersebut dijuluki “Bejana Pengharapan”. Kornelius seorang warga Romawi, penganut Yudaisme yang saleh dan tekun berdoa (Kis. 10:2, 22, 30). Kehausan jiwanya untuk mengenal kebenaran terjawab ketika Petrus datang berkunjung ke rumahnya, lalu dirinya beserta segenap keluarga dan para sahabatnya menerima keselamatan (Kis. 10:24, 48). Melalui perjumpaan Petrus dengan Kornelius, kita menyaksikan betapa- melalui kepatuhan pada suruhan Tuhan-kita bisa menjadi bagian dari jawaban atas permohonan doa yang dipanjatkan oleh sesama. Fifalina mengalami cacat tulang kaki bengkok yang parah, membuatnya tak bisa berjalan. Kunjungan kapal “Mercy Ship” telah mengubah hidup banyak orang, termasuk gadis kecil dari kepulauan Madagaskar itu. Di sekitar kita banyak orang berdoa menantikan uluran tangan dan kunjungan. Percayalah, dalam bentuk dan kapasitas yang berbeda-beda, Anda dan saya juga bisa menjadi jawaban dari permohonan doa mereka. Tinggal tersisa kesediaan kita saja, bukan? --PAD. ADA SAATNYA DOA SESEORANG TERKABUL TATKALA KITA BERSEDIA MENGAMBIL BAGIAN DARI PENGABULAN DOA ITU.

NN
God, thank You for waking me up this morning. I know this day will never be repeated… Help me to live it to its fullest (Ed Dobson).

Bp. Peter – WCS
THE JEALOUS GOD (Lanjutan dari artikel 'God is the one and only') Oleh: Peter B, MA.
http://worshipcenterindonesia.blogspot.com/2017/05/the-jealous-god.html
“Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada Allah lain. Karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu” (Keluaran 34:14).
“Sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu di tengah-tengahmu, supaya jangan bangkit murka TUHAN, Allahmu, terhadap engkau, sehingga Ia memunahkan engkau dari muka bumi” (Ulangan 6:15).
Cemburuan. Itulah salah satu nama dari Tuhan kita yang seringkali jarang untuk dibahas, diceritakan, dan diajarkan di tengah-tengah jemaat. Nama-nama Tuhan yang lain terasa begitu akrab di telinga orang-orang Kristen: Jehovah Jireh, Jehovah Rapha, Jehovah Nissi, tetapi banyak di antara anak-anak Tuhan yang tidak mengerti apa arti dari nama Tuhan yang satu ini. Dalam renungan kali ini kita akan belajar bersama-sama apa artinya. Kesan pertama mengetahui nama Allah tersebut adalah: Apakah nama itu tidak bertentangan dengan sifat Allah? Bukankah cemburu itu iri hati? Apakah mungkin Allah iri hati? Bukankah Allah itu kasih dan kasih itu tidak cemburu? Apakah Alkitab telah salah??? Apabila kita berpikir dengan pikiran manusia yang terbatas ini, pastilah kita akan sesat. Tetapi pikiran kita harus di terangi Roh Kudus-Nya untuk mengenal hikmat Allah yang tidak ada taranya itu. Pertama-tama perlu kita mempelajari: Bolehkah memiliki sifat cemburu? Apakah cemburu itu dosa? Apakah itu dapat dianggap sebagai sesuatu yang baik dan dapat diterima? Apabila “cemburu” diartikan dengan “iri hati”, maka itu merupakan dosa. Alkitab berkata dengan jelas bahwa iri hati bukalah berasal dari hikmat yang dari atas (dari Tuhan), tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dan dari setan-setan (Yakubus 3:15-16). Tetapi ada sisi lain dari “cemburu”. Menurut Anda, wajarkah seorang isteri cemburu apabila melihat suaminya akrab dengan perkara-perkara yang lain (terlebih lagi wanita lain) lebih dari pada dirinya sendiri? Tentu saja itu normal. Cinta yang begitu kuat dan besar pastilah membawa efek rasa cemburu yang besar apabila orang yang dicintai lebih mencintai yang lain. Jika ada isteri atau suami di dunia ini yang tidak merasa cemburu jika perhatian orang yang dikasihinya tidak tertuju pada dirinya, pastilah ada sesuatu yang salah. Itu justru tidak normal. Allah tidak terkecualikan dalam hal ini. Tuhan yang telah mengadakan perjanjian dengan Israel dengan mengangkat sumpah: Israel akan menjadi umatNya dan Ia akan menjadi Tuhan mereka, tentu saja akan merasa cemburu dan dikhianati. Ini sama dengan Israel telah berselingkuh. Israel berzinah apabila menyembah Allah lain, karena akar perzinahan adalah ketidaksetiaan dan pengingkaran dari perjanjian untuk mengadakan hubungan yang kekal. Oleh karena itulah kamus Vine memberitahukan kita bahwa yang dimaksudkan sebagai “CEMBURU” adalah merupakan atribut Tuhan yang “jelas langsung menunjuk pada sifat keadilan dan kekudusan Tuhan, sebagai mana Dia adalah Objek satu-satunya dari penyembahan manusia.” Ya, karena Dialah satu-satunya yang harus menjadi pusat penyembahan umatNya, jika umatNya menyembah dan tunduk kepada ilah-ilah lain, maka kekudusan, keadilan, dan kemuliaanNya tidak dapat menerima itu. Beberapa orang tidak mau dianggap sebagai pelanggar-pelanggar perjanjian apalagi sebagai pezinah. Mereka berkata, “Aku cinta dunia, tetapi aku juga cinta Tuhan.” Orang lain berkata, “Aku memang terikat pada harta dan kesenangan dunia. Hatiku sebagian ada disana. Tetapi sebagian lagi pasti milik Tuhan. “Sebuah lagu berbunyi, “Cintaku terbagi dua.” Dan seorang lagi menambahkan, “Baiklah untuk Tuhan 60%, Selebihnya masih kubagi lagi untuk perkara-perkara lainnya. Tuhan menempati bagian terbesar di hatiku.” Benarkah semua itu? Dapatkah itu diterima oleh Tuhan? Mungkinkah kita dapat berkata pada seorang yang akan menjadi calon isteri atau suami kita bahwa kita mencintai dia setengah hati? Dapatkah seseorang yang mempunyai banyak isteri mencintai isteri-isterinya dengan sepenuh hati? Hai, para gadis maukah engkau dimadu? Bagaimana perasaanmu bila menjadi isteri kedua bersama-sama 10 isteri yang lain? Mungkin ada beberapa wanita yang rela yang diduakan dan “berbagi” suaminya, tetapi sungguhkah itu keluar dari dasar hati yang paling dalam? Bagaimanakah kerinduan terdalam wanita-wanita ini terhadap suaminya? Yesus tidak pernah berbohong mengenai sifat yang terdalam di hati manusia. Perhatikanlah apa perkataanNya: Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Betapa jelas dan tajamnya perkataan Yesus. Sesungguhnya TIDAK ADA dan TIDAK MUNGKIN manusia mengabdi, melayani (dalam pengertian bukan terpaksa tetapi dengan rela dan penuh cinta) dan menyembah dua tuan. Tuhan sudah merancang dan menciptakan manusia untuk satu tujuan, menyembah satu pribadi, mengasihi untuk satu. Monogami, bukan poligami. Sekali Tuhan mengasihi manusia. Ia mengasihinya dan membuktikan kasihNya dengan menyerahkan segala-segalanya yang Ia dapat berikan bagi kepentingan manusia, yang sangat dikasihiNya meskipun tidak layak menerimanya. Sesungguhnya nyawa Anak-Nya yang tunggal sekalipun, tidak Ia sayangkan. Bagi manusia yang berdosa, Ia membayar harga yang begitu besar dan tak terbandingkan. Itulah sebabnya kasih-Nya disebut Kasih Karunia. Ia mengasihi manusia dengan kasih yang kekal, kuat, terus menerus dan setia. Itulah sebabnya kasihNya di sebut Kasih Setia. Ia mengasihi manusia dan terus mengasihinya. Tetapi…bagaimana dengan hukuman kekal? Bukankah nanti manusia-manusia berdosa yang tidak bertobat akan dihukum? Ya benar, tetapi bukan berarti Allah tidak mengasihi. Penghakiman dan hukuman merupakan hal terakhir yang akan di lakukannya terhadap manusia, bukan yang pertama-tama. Bersambung...
God is the one and only
http://worshipcenterindonesia.blogspot.co.id/2017/04/godis-one-and-only.html
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1301968456505226&substory_index=0&id=517254991643247

Madam Ossy
[RENUNGAN HARIAN]. Jumat, 12 Mei 2017. Bacaan: Yesaya 9:5. Setahun: 1 Tawarikh 3-5. Nas: Akuilah Dia dalam segala lakumu... (Amsal 3:6). Tukang Cuci Piring. “Mereka tak peduli apa pun arahan saya”, keluhnya. Dulu, panitia memintanya menjadi penasihat. “Anda sangat kompeten”, kata mereka waktu itu. Ternyata, mereka hanya memanfaatkan popularitasnya. Panitia bertindak sesuka hati. Pertimbangannya tidak pernah digubris. Jika kesulitan timbul, barulah mereka datang memintanya memberi solusi. “Tak ada gunanya saya di sana”, ujar pria itu. “Saya akan mengundurkan diri.” Diposisikan seakan terhormat, tetapi perkataannya diabaikan, nasihatnya tak digubris. Hanya tiap kali masalah datang, diminta memberikan solusi. Seperti itulah sikap kita kepada Tuhan. Puja-puji kita nyanyikan untuk-Nya. Kita sanjung Dia sebagai Penasihat Ajaib. Tetapi, de facto, kita tidak menggubris nasihat-Nya. Kita melangkah tanpa memedulikan kehendak-Nya. Jika masalah datang, barulah kita mengungsi kepada-Nya. Penasihat Ajaib itu kita jadikan “Tukang Cuci Piring”, tidak pernah kita ajak berembug tentang bagaimana perhelatan akan kita adakan, tetapi Dia selalu kita limpahi semua kesulitan setelah pesta usai. Tiap kali ada persoalan yang kita tak mampu menangani, “Tukang Cuci Piring” itu kita minta untuk mengatasi. Kitab Amsal menasihati, “Akuilah Dia dalam segala lakumu”. Jangan hanya mengakui kuasa dan kebaikan-Nya, tetapi hormati dan akui juga kehendak-Nya dan kedaulatan-Nya. Jangan jadikan Dia Penasihat yang tak pernah didengar, jangan jadikan Dia “Tukang Cuci Piring” dalam “pesta semau gue” hidupmu, tetapi dengarkan kehendak-Nya, dan berjuanglah mewujudkan itu --EE/Renungan Harian. PENGAKUAN DAN PENGHORMATAN KITA KEPADA TUHAN HANYALAH SEJAUH KETAATAN KITA KEPADA-NYA.

No comments:

Post a Comment