(D)ANGER
(D)Anger day 11 – Kemarahan yang
Menimbulkan Dosa. Efesus
4:26, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah
matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” Apabila kamu menjadi
marah diterjemahkan dari sebuah kata Yunani orgizesthe,
bentuk present imperatif orang kedua jamak dari kata orgizomai
yang berarti marah sebagai reaksi atas ketidakbenaran bukan Karakter Hidup.
Jadi marah sejenis orgizomai tidak harus dibuang karena hanya reaksi
sesaat tetapi tidak boleh dibiarkan tidak reda selama sehari penuh. Sedangkan
kemarahan yang menimbulkan dosa disebut didalam ayat 31: “Segala kepahitan,
kegeraman, KEMARAHAN, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu,
demikian pula segala kejahatan.” Istilah kemarahan diayat 31 adalah ORGE
yang artinya kemarahan yang sudah menjadi KEBIASAAN HIDUP. Kemarahan
adalah emosi yang dibangkitkan karena hal-hal yang tidak menyenangkan hati
kita. Marah itu sendiri bukanlah dosa karena Allah juga dapat marah (Maz 2:12,
Bil 24:4) dan Yesus pun pernah marah (Matius 21:12-13). Kemarahan Allah adalah
bagian dari penghakimanNya atas dosa. Bedanya dengan manusia, Allah dapat
melihat segala sesuatu dengan sempurna. Memiliki pengetahuan tentang segala
sesuatu hal dengan lengkap. Sedangkan kita tidak karena itu bisa jadi kita
terseret dalam dosa saat kita marah. Melalui kemarahan yang tidak segera
dipadamkan akan memberi ruang kepada iblis & memberi jalan bagi dosa-dosa
yang lain. Masihkah kita menjadikan marah menjadi kebiasaan hidup kita??
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#(D)ANGERSeries
Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab 2 Raja-Raja 13 dan 14
PB: 1 Korintus 15:1-19
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
#HappyHoliday
#HappyWithUrFam
Madam Ossy
Kamis, 11 Mei 2017. Bacaan: Kisah Para Rasul 10:17-33.
Setahun: 1 Tawarikh 1-2. Nas: Keesokan harinya ia bangun dan berangkat
bersama-sama dengan mereka... (Kisah Para Rasul 10:23). Bejana Pengharapan.
Rumah Sakit Apung “Mercy Ship” beroperasi sejak 1978. Penduduk pelosok di
pulau-pulau terpencil menjadi targetnya. Mereka melakukan pengobatan dan
terutama operasi atas penyakit-penyakit kanker, mata, tulang, dan sebagainya
tanpa memungut biaya. Sudah lebih dari 82.000 kasus operasi genting yang berhasil
dilaksanakan. Bagi para pasien, kedatangan kapal itu adalah jawaban atas
doa-doa bahkan mujizat. Kapal tersebut dijuluki “Bejana Pengharapan”. Kornelius
seorang warga Romawi, penganut Yudaisme yang saleh dan tekun berdoa (Kis. 10:2,
22, 30). Kehausan jiwanya untuk mengenal kebenaran terjawab ketika Petrus
datang berkunjung ke rumahnya, lalu dirinya beserta segenap keluarga dan para
sahabatnya menerima keselamatan (Kis. 10:24, 48). Melalui perjumpaan Petrus
dengan Kornelius, kita menyaksikan betapa- melalui kepatuhan pada suruhan
Tuhan-kita bisa menjadi bagian dari jawaban atas permohonan doa yang
dipanjatkan oleh sesama. Fifalina mengalami cacat tulang kaki bengkok yang
parah, membuatnya tak bisa berjalan. Kunjungan kapal “Mercy Ship” telah
mengubah hidup banyak orang, termasuk gadis kecil dari kepulauan Madagaskar
itu. Di sekitar kita banyak orang berdoa menantikan uluran tangan dan
kunjungan. Percayalah, dalam bentuk dan kapasitas yang berbeda-beda, Anda dan
saya juga bisa menjadi jawaban dari permohonan doa mereka. Tinggal tersisa
kesediaan kita saja, bukan? --PAD. ADA SAATNYA DOA SESEORANG TERKABUL TATKALA
KITA BERSEDIA MENGAMBIL BAGIAN DARI PENGABULAN DOA ITU.
NN
God, thank You for waking me up this morning. I know this
day will never be repeated… Help me to live it to its fullest (Ed Dobson).
Bp. Peter – WCS
THE JEALOUS GOD (Lanjutan dari artikel 'God is the one and
only') Oleh: Peter B, MA.
http://worshipcenterindonesia.blogspot.com/2017/05/the-jealous-god.html
“Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada Allah lain.
Karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu” (Keluaran
34:14).
“Sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu di
tengah-tengahmu, supaya jangan bangkit murka TUHAN, Allahmu, terhadap engkau,
sehingga Ia memunahkan engkau dari muka bumi” (Ulangan 6:15).
Cemburuan. Itulah salah satu nama dari Tuhan kita yang
seringkali jarang untuk dibahas, diceritakan, dan diajarkan di tengah-tengah
jemaat. Nama-nama Tuhan yang lain terasa begitu akrab di telinga orang-orang
Kristen: Jehovah Jireh, Jehovah Rapha, Jehovah Nissi, tetapi banyak di antara
anak-anak Tuhan yang tidak mengerti apa arti dari nama Tuhan yang satu ini.
Dalam renungan kali ini kita akan belajar bersama-sama apa artinya. Kesan
pertama mengetahui nama Allah tersebut adalah: Apakah nama itu tidak
bertentangan dengan sifat Allah? Bukankah cemburu itu iri hati? Apakah mungkin
Allah iri hati? Bukankah Allah itu kasih dan kasih itu tidak cemburu? Apakah
Alkitab telah salah??? Apabila kita berpikir dengan pikiran manusia yang
terbatas ini, pastilah kita akan sesat. Tetapi pikiran kita harus di terangi
Roh Kudus-Nya untuk mengenal hikmat Allah yang tidak ada taranya itu.
Pertama-tama perlu kita mempelajari: Bolehkah memiliki sifat cemburu? Apakah
cemburu itu dosa? Apakah itu dapat dianggap sebagai sesuatu yang baik dan dapat
diterima? Apabila “cemburu” diartikan dengan “iri hati”, maka itu merupakan
dosa. Alkitab berkata dengan jelas bahwa iri hati bukalah berasal dari hikmat
yang dari atas (dari Tuhan), tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dan dari
setan-setan (Yakubus 3:15-16). Tetapi ada sisi lain dari “cemburu”. Menurut
Anda, wajarkah seorang isteri cemburu apabila melihat suaminya akrab dengan
perkara-perkara yang lain (terlebih lagi wanita lain) lebih dari pada dirinya
sendiri? Tentu saja itu normal. Cinta yang begitu kuat dan besar pastilah
membawa efek rasa cemburu yang besar apabila orang yang dicintai lebih
mencintai yang lain. Jika ada isteri atau suami di dunia ini yang tidak merasa
cemburu jika perhatian orang yang dikasihinya tidak tertuju pada dirinya,
pastilah ada sesuatu yang salah. Itu justru tidak normal. Allah tidak
terkecualikan dalam hal ini. Tuhan yang telah mengadakan perjanjian dengan
Israel dengan mengangkat sumpah: Israel akan menjadi umatNya dan Ia akan
menjadi Tuhan mereka, tentu saja akan merasa cemburu dan dikhianati. Ini sama
dengan Israel telah berselingkuh. Israel berzinah apabila menyembah Allah lain,
karena akar perzinahan adalah ketidaksetiaan dan pengingkaran dari perjanjian
untuk mengadakan hubungan yang kekal. Oleh karena itulah kamus Vine
memberitahukan kita bahwa yang dimaksudkan sebagai “CEMBURU” adalah merupakan
atribut Tuhan yang “jelas langsung menunjuk pada sifat keadilan dan kekudusan
Tuhan, sebagai mana Dia adalah Objek satu-satunya dari penyembahan manusia.”
Ya, karena Dialah satu-satunya yang harus menjadi pusat penyembahan umatNya,
jika umatNya menyembah dan tunduk kepada ilah-ilah lain, maka kekudusan,
keadilan, dan kemuliaanNya tidak dapat menerima itu. Beberapa orang tidak mau
dianggap sebagai pelanggar-pelanggar perjanjian apalagi sebagai pezinah. Mereka
berkata, “Aku cinta dunia, tetapi aku juga cinta Tuhan.” Orang lain berkata,
“Aku memang terikat pada harta dan kesenangan dunia. Hatiku sebagian ada
disana. Tetapi sebagian lagi pasti milik Tuhan. “Sebuah lagu berbunyi, “Cintaku
terbagi dua.” Dan seorang lagi menambahkan, “Baiklah untuk Tuhan 60%,
Selebihnya masih kubagi lagi untuk perkara-perkara lainnya. Tuhan menempati
bagian terbesar di hatiku.” Benarkah semua itu? Dapatkah itu diterima oleh
Tuhan? Mungkinkah kita dapat berkata pada seorang yang akan menjadi calon
isteri atau suami kita bahwa kita mencintai dia setengah hati? Dapatkah
seseorang yang mempunyai banyak isteri mencintai isteri-isterinya dengan
sepenuh hati? Hai, para gadis maukah engkau dimadu? Bagaimana perasaanmu bila
menjadi isteri kedua bersama-sama 10 isteri yang lain? Mungkin ada beberapa
wanita yang rela yang diduakan dan “berbagi” suaminya, tetapi sungguhkah itu
keluar dari dasar hati yang paling dalam? Bagaimanakah kerinduan terdalam
wanita-wanita ini terhadap suaminya? Yesus tidak pernah berbohong mengenai
sifat yang terdalam di hati manusia. Perhatikanlah apa perkataanNya: Tak
seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci
yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang
dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan
kepada Mamon. Betapa jelas dan tajamnya perkataan Yesus. Sesungguhnya TIDAK ADA
dan TIDAK MUNGKIN manusia mengabdi, melayani (dalam pengertian bukan terpaksa
tetapi dengan rela dan penuh cinta) dan menyembah dua tuan. Tuhan sudah
merancang dan menciptakan manusia untuk satu tujuan, menyembah satu pribadi,
mengasihi untuk satu. Monogami, bukan poligami. Sekali Tuhan mengasihi manusia.
Ia mengasihinya dan membuktikan kasihNya dengan menyerahkan segala-segalanya
yang Ia dapat berikan bagi kepentingan manusia, yang sangat dikasihiNya
meskipun tidak layak menerimanya. Sesungguhnya nyawa Anak-Nya yang tunggal
sekalipun, tidak Ia sayangkan. Bagi manusia yang berdosa, Ia membayar harga
yang begitu besar dan tak terbandingkan. Itulah sebabnya kasih-Nya disebut
Kasih Karunia. Ia mengasihi manusia dengan kasih yang kekal, kuat, terus
menerus dan setia. Itulah sebabnya kasihNya di sebut Kasih Setia. Ia mengasihi
manusia dan terus mengasihinya. Tetapi…bagaimana dengan hukuman kekal? Bukankah
nanti manusia-manusia berdosa yang tidak bertobat akan dihukum? Ya benar,
tetapi bukan berarti Allah tidak mengasihi. Penghakiman dan hukuman merupakan
hal terakhir yang akan di lakukannya terhadap manusia, bukan yang pertama-tama.
Bersambung...
God is the one and only
http://worshipcenterindonesia.blogspot.co.id/2017/04/godis-one-and-only.html
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1301968456505226&substory_index=0&id=517254991643247
Madam Ossy
[RENUNGAN HARIAN]. Jumat, 12 Mei 2017. Bacaan: Yesaya 9:5.
Setahun: 1 Tawarikh 3-5. Nas: Akuilah Dia dalam segala lakumu... (Amsal 3:6).
Tukang Cuci Piring. “Mereka tak peduli apa pun arahan saya”, keluhnya. Dulu,
panitia memintanya menjadi penasihat. “Anda sangat kompeten”, kata mereka waktu
itu. Ternyata, mereka hanya memanfaatkan popularitasnya. Panitia bertindak
sesuka hati. Pertimbangannya tidak pernah digubris. Jika kesulitan timbul,
barulah mereka datang memintanya memberi solusi. “Tak ada gunanya saya di
sana”, ujar pria itu. “Saya akan mengundurkan diri.” Diposisikan seakan
terhormat, tetapi perkataannya diabaikan, nasihatnya tak digubris. Hanya tiap
kali masalah datang, diminta memberikan solusi. Seperti itulah sikap kita
kepada Tuhan. Puja-puji kita nyanyikan untuk-Nya. Kita sanjung Dia sebagai
Penasihat Ajaib. Tetapi, de facto, kita tidak menggubris nasihat-Nya. Kita
melangkah tanpa memedulikan kehendak-Nya. Jika masalah datang, barulah kita
mengungsi kepada-Nya. Penasihat Ajaib itu kita jadikan “Tukang Cuci Piring”,
tidak pernah kita ajak berembug tentang bagaimana perhelatan akan kita adakan,
tetapi Dia selalu kita limpahi semua kesulitan setelah pesta usai. Tiap kali ada
persoalan yang kita tak mampu menangani, “Tukang Cuci Piring” itu kita minta
untuk mengatasi. Kitab Amsal menasihati, “Akuilah Dia dalam segala lakumu”.
Jangan hanya mengakui kuasa dan kebaikan-Nya, tetapi hormati dan akui juga
kehendak-Nya dan kedaulatan-Nya. Jangan jadikan Dia Penasihat yang tak pernah
didengar, jangan jadikan Dia “Tukang Cuci Piring” dalam “pesta semau gue”
hidupmu, tetapi dengarkan kehendak-Nya, dan berjuanglah mewujudkan itu
--EE/Renungan Harian. PENGAKUAN DAN PENGHORMATAN KITA KEPADA TUHAN HANYALAH
SEJAUH KETAATAN KITA KEPADA-NYA.

No comments:
Post a Comment