Sunday, 8 May 2016

8 Mei 2016



I AM BLESSED




MENJADI TELADAN. Yohanes 13:12-15, 12Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat- Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? 13Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. 14Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu. 15sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.‘” Amin. Peristiwa yang dramatis ini terjadi pada malam terakhir sebelum Yesus ditangkap dan disalibkan (ayat 5). Tuhan Yesus melakukannya (membasuh kaki murid-muridNya):
ü  Untuk menunjukkan betapa besar kasihNya kepada mereka
ü  Untuk memberikan gambaran tentang pengorbanan-Nya di kayu salib
ü  Untuk menyampaikan kebenaran bahwa DIA sudah memberikan TELADAN untuk saling melayani dengan kerendahan hati. 
Bagaimana dengan kita? Apakah kita orang-orang percaya yang sudah menaati perintahNya, untuk saling “membasuh kaki” (sudah menjadi TELADAN dalam hal saling melayani)??

Xavier Quentin Pranata
“If you bring out the best of others, God will bring out the best in you.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Minggu, 8 Mei 2016. Mempraktekkan Kasih. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain; sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian (Kolose 3:13). Dua orang rekan kami bekerja sama memulai bisnis. Karena tergiur keuntungan sesaat, salah satu pihak mengambil semua modal usaha dan kabur ke luar kota. Pihak kedua rugi besar dan harus berurusan dengan para konsumen yang menagih. Teman yang kabur ini akhirnya kembali karena menyadari dosanya dan minta maaf. Kawan yang dirugikan itu nyatanya mau dengan tulus mengampuni kesalahan kawannya. Mereka pun berdamai. Mengampuni, memaafkan, berbelas kasih, memang enak diucapkan, namun tidak selalu mudah dilakukan. Kalau saat ini kita merasa terlalu sulit mengampuni seseorang karena hal-hal tertentu yang membuat kita mengalami banyak kesusahan, marilah kita melihat cara Tuhan bertindak. Kita sebagai manusia baru diperintahkan untuk mematikan dalam diri kita segala sesuatu yang duniawi. Belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, adalah karakter Allah. Sebagai manusia baru, tentunya berbagai karakter Allah ini harus kita miliki. Kalau Tuhan mau mengampuni segala dosa kita, tentu saja kita sendiri harus belajar mengampuni. Kalau Tuhan tidak menyimpan dendam, kita tidak menyimpan dendam. Jika kita belajar bertindak seperti prinsip Allah, tidak ada istilah sulit atau terlalu berat untuk mengampuni seseorang. Marilah kita belajar rendah hati dan merasakan kasih Tuhan dalam hidup kita sebelum mengampuni seseorang. Maka, saat kita mengucapkan “Aku memaafkanmu” atau “Aku mengampunimu,” kata-kata itu benar-benar keluar dari lubuk hati yang terdalam dan tulus —RTG. KETIKA KITA MENGAMPUNI SESAMA, KITA MENGENAKAN KARAKTER TUHAN. Selamat pagi. Selamat beribadah. Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Maz 70:2 – Ya ALLAH, bersegeralah melepaskan aku, menolong aku, ya TUHAN! Percayalah, pertolongan-NYA yang ajaib pasti terjadi sekarang. Selamat ibadah dan melayani! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Mei Chen Tjoe – Sahabat Hwa Ind, Malang
Salvation received should be salvation shared. Love received should be love shared. Forgiveness received should be forgiveness shared. Joy received should be joy shared. Comfort received should be comfort shared. Strength received should be strength shared. Thank you God for the blessing and goodness you give me. Help me to share those with others. (#feedthefaith #mydevo). Keselamatan yang kita terima, adalah keselamatan yang seharusnya kita bagikan. Kasih yang kita terima, adalah kasih yang seharusnya kita bagikan. Pengampunan yang kita terima, adalah pengampunan yang harus kita bagikan. Sukacita yang kita terima, adalah sukacita yang seharusnya kita bagikan. Damai sejahtera yang kita terima, adalah damai sejahtera yang seharusnya kita bagikan. Kekuatan yang kita terima, adalah kekuatan yang seharusnya kita bagikan. Terima kasih Tuhan atas segala berkat dan kebaikan yang Engkau berikan bagiku. Bantulah aku untuk membagikan semua itu bagi orang orang disekitarku (#asupaniman #renunganku).

Ibu Caroline – Bandung (1)
Sabtu, 7 Mei 2016. Bacaan: Yunus 2:1-10. Setahun: 2 Raja-Raja 16-17. Nats: Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN (Yunus 2:7). Perut Ikan. Yunus diombang-ambingkan ombak di lautan kelam ketika mengingkari panggilan Tuhan. Namun, jiwa Yunus, yang lemah dan penuh kekhawatiran selama terhempas gelombang pasang, akhirnya disentuh oleh tangan Tuhan saat ia berada di dalam perut ikan besar yang menelannya hidup-hidup. Berada di dalam perut ikan menyadarkan Yunus bahwa sekalipun ia telah berbuat dosa dan lari mengingkari panggilan Tuhan (ay. 4), kasih Tuhan, yang lebih besar daripada perut ikan yang menelannya, kembali menjamah dan menyadarkannya akan kesalahan dan dosa yang ia perbuat (ay. 6). Di dalam ruang sempit, ia kemudian menyadari bahwa samudera dan gelombang yang menghampirinya begitu dekat tak mampu mengalangi pengampunan Allah yang membawanya menerima keselamatan (ay. 9). Ada saat-saat dalam hidup ini ketika kita merasa sedang berada di dalam perut ikan. Situasi yang suram, gelap pekat, sempit untuk berpikir, diiringi aroma tak sedap masalah kita, dan tak ada seorang pun yang akan menolong. Di dalam perut ikan, kepada siapa kita menaruh pengharapan? Ingatlah bahwa ketika Yunus berada di tempat yang serupa, ia memilih untuk memanggil nama Tuhan, memohon ampun, dan mensyukuri penyertaan-Nya yang masih tetap sama besarnya. Berada dalam perut ikan mengingatkan Yunus akan kasih Allah yang tiada terukur. Ia mengucap syukur, memohon ampun, dan berjanji untuk melakukan perintah Tuhan. Semoga kita pun demikian --Yessica Kansil. LEBIH BAIK BERADA DI PERUT IKAN BERSAMA TUHAN DARIPADA BERDIAM DI TEMPAT TENANG SEORANG DIRI.

Ibu Caroline – Bandung (2)
Minggu, 8 Mei 2016. Bacaan: Wahyu 3:14-22. Setahun: 2 Raja-Raja 18-20. Nats: Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk menemui dia dan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku (Wahyu 3:20). Ketukan Pintu. Seorang pendeta yang saat ini bertugas di Malang melakukan hal yang belum pernah saya jumpai. Sebelum memulai pelayanannya di sebuah gereja di kota tersebut, ia terlebih dulu meminta diantar para anggota majelis untuk mengunjungi rumah setiap warga jemaat. Ia mengetuk pintu rumah mereka masing-masing dan berbincang dengan keluarga ini. Perlu waktu beberapa hari untuk mengunjungi rumah setiap warga. Tuhan Yesus menyapa setiap pribadi yang ada di seluruh dunia ini. Sebagai gembala Dia mengetuk setiap hati supaya bersedia mengikuti-Nya. Dia akan membimbing siapa saja yang mau membukakan pintu untuk-Nya menuju jalan yang benar. Dia akan memimpin langkah setiap orang yang mengakui-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat menuju kehidupan kekal. Tuhan Yesus pun mengetuk pintu hati kita. Ketika kita mau membukakannya, kita menerima Dia menjadi gembala atas hidup kita. Tetapi, bisa jadi saat ini hingar-bingar dunia membuat kita jauh dari jalan yang dikehendaki-Nya. Kita terlalu sibuk meraih segala pencapaian duniawi yang memuaskan kedagingan kita. Kegaduhan dunia sering membuat kita tidak mendengar saat Kristus mengajak kita menikmati persekutuan dengan-Nya. Dia terus-menerus menyapa kita, mengingatkan kita tentang jalan yang seharusnya kita tempuh. Dia tidak mau kita tersesat. Jika kita telah terlampau jauh “menggelandang”, ini saatnya kembali dan menikmati hidangan makan yang sudah disediakan-Nya: hidup selaras dengan kehendak-Nya --Gigih Dwiananto. TUHAN YESUS RINDU BERSEKUTU DENGAN KITA; APAKAH KITA BERGAIRAH MERESPONS KERINDUAN-NYA?

Worship Center Surabaya
Bentuk & ukuran lainnya mengenai ibadah sejati di hadapan Tuhan ternyata berkaitan dengan sikap kita pada pemerintah. Melanjutkan pesan mengenai ibadah sejati, Paulus berpesan supaya sebagai pengikut-pengikut Kristus tunduk & takut (yaitu menaruh hormat) pada otoritas pemerintah negara, yang berkuasa atas kita sebagai warganya (Rom.13:1-7). Bukanlah kebetulan jika 3 kali banyaknya, tanpa ragu,  Paulus menyebut pemerintah sebagai “hamba Allah” atau “pelayan Allah” (13:4,6). Ditambahkannya: tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah & setiap pemerintahan yang ada ditetapkan Allah (13:1). Siapa yang melawan pemerintah, ia dipandang melawan ketetapan Allah & yang melakukannya sama dengan membuat hukuman jatuh atas dirinya (13:2). Meskipun tidak ada pemerintahan yang sempurna di dunia, setiap pemerintahan & orang-orang di dalamnya tidak pernah lepas dari kendali Tuhan atas suatu bangsa. Pemerintah yang berkuasa, baik atau buruk, merupakan alat Tuhan untuk mengendalikan & mengarahkan suatu bangsa menuju rencana keselamatan-Nya. Misal, pemerintah yang korup merupakan suatu peringatan kepada bangsa tertentu supaya mereka menjadi muak & bertobat dari segala kemalasan & korupsi -dimana kesadaran ini semestinya dipelopori pertama-tama oleh anak-anak Tuhan yang merupakan terang bagi bangsa. Bukan dengan cara memberontak, menggulingkan pemerintah yang ada lalu membentuk negara tandingan atau pemerintahan baru (yang sebetulnya inilah yang dimaksud sebagai melawan pemerintahan yang ada) namun dengan berjuang pertama-tama secara rohani mengikat roh-roh yang jahat yang bekerja atas pemerintah dan melepaskan roh yang merupakan kebalikan dari itu. Melalui suatu cara hidup yang berlawanan dengan kejahatan yang ada. Ketunduktaatan kita pada hukum-hukum pemerintah yang ada sambil terus memohon tiap waktu melalui doa & cara hidup yang benar di hadapan Tuhan, pada waktunya akan berbuah manis: pemulihan bangsa dengan bangkitnya pemimpin-pemimpin yang benar-benar berkenan di hati Tuhan. Percayakah Anda? Salam revival! GBU.


No comments:

Post a Comment