I AM
BLESSED
MENJADI TELADAN.
Yohanes 13:12-15, “12Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia
mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat- Nya. Lalu Ia berkata kepada
mereka: ‘Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? 13Kamu
menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan
Tuhan. 14Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan
Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu. 15sebab Aku telah
memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti
yang telah Kuperbuat kepadamu.‘” Amin. Peristiwa yang dramatis ini terjadi
pada malam terakhir sebelum Yesus ditangkap dan disalibkan (ayat 5). Tuhan
Yesus melakukannya (membasuh kaki murid-muridNya):
ü Untuk
menunjukkan betapa besar kasihNya kepada mereka
ü Untuk
memberikan gambaran tentang pengorbanan-Nya di kayu salib
ü Untuk
menyampaikan kebenaran bahwa DIA sudah memberikan TELADAN untuk saling melayani
dengan kerendahan hati.
Bagaimana dengan
kita? Apakah kita orang-orang percaya yang sudah menaati perintahNya, untuk saling
“membasuh kaki” (sudah menjadi TELADAN dalam hal saling melayani)??
Xavier
Quentin Pranata
“If you bring
out the best of others, God will bring out the best in you.” Xavier Quentin
Pranata.
Madam
Ossy
SAAT TEDUH.
Minggu, 8 Mei 2016. Mempraktekkan Kasih. Sabarlah kamu seorang terhadap yang
lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam
terhadap yang lain; sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat
jugalah demikian (Kolose 3:13). Dua orang rekan kami bekerja sama memulai
bisnis. Karena tergiur keuntungan sesaat, salah satu pihak mengambil semua
modal usaha dan kabur ke luar kota. Pihak kedua rugi besar dan harus berurusan
dengan para konsumen yang menagih. Teman yang kabur ini akhirnya kembali karena
menyadari dosanya dan minta maaf. Kawan yang dirugikan itu nyatanya mau dengan
tulus mengampuni kesalahan kawannya. Mereka pun berdamai. Mengampuni,
memaafkan, berbelas kasih, memang enak diucapkan, namun tidak selalu mudah
dilakukan. Kalau saat ini kita merasa terlalu sulit mengampuni seseorang karena
hal-hal tertentu yang membuat kita mengalami banyak kesusahan, marilah kita
melihat cara Tuhan bertindak. Kita sebagai manusia baru diperintahkan untuk
mematikan dalam diri kita segala sesuatu yang duniawi. Belas kasihan,
kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, adalah karakter Allah.
Sebagai manusia baru, tentunya berbagai karakter Allah ini harus kita miliki.
Kalau Tuhan mau mengampuni segala dosa kita, tentu saja kita sendiri harus
belajar mengampuni. Kalau Tuhan tidak menyimpan dendam, kita tidak menyimpan
dendam. Jika kita belajar bertindak seperti prinsip Allah, tidak ada istilah
sulit atau terlalu berat untuk mengampuni seseorang. Marilah kita belajar
rendah hati dan merasakan kasih Tuhan dalam hidup kita sebelum mengampuni
seseorang. Maka, saat kita mengucapkan “Aku memaafkanmu” atau “Aku
mengampunimu,” kata-kata itu benar-benar keluar dari lubuk hati yang terdalam
dan tulus —RTG. KETIKA KITA MENGAMPUNI SESAMA, KITA MENGENAKAN KARAKTER TUHAN.
Selamat pagi. Selamat beribadah. Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati.
Samuel
Sianto-Yestoya Ministry
Maz 70:2 – Ya
ALLAH, bersegeralah melepaskan aku, menolong aku, ya TUHAN! Percayalah,
pertolongan-NYA yang ajaib pasti terjadi sekarang. Selamat ibadah dan melayani!
Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Mei
Chen Tjoe – Sahabat Hwa Ind, Malang
Salvation
received should be salvation shared. Love received should be love shared.
Forgiveness received should be forgiveness shared. Joy received should be joy
shared. Comfort received should be comfort shared. Strength received should be
strength shared. Thank you God for the blessing and goodness you give me. Help
me to share those with others. (#feedthefaith #mydevo). Keselamatan yang kita
terima, adalah keselamatan yang seharusnya kita bagikan. Kasih yang kita
terima, adalah kasih yang seharusnya kita bagikan. Pengampunan yang kita
terima, adalah pengampunan yang harus kita bagikan. Sukacita yang kita terima,
adalah sukacita yang seharusnya kita bagikan. Damai sejahtera yang kita terima,
adalah damai sejahtera yang seharusnya kita bagikan. Kekuatan yang kita terima,
adalah kekuatan yang seharusnya kita bagikan. Terima kasih Tuhan atas segala
berkat dan kebaikan yang Engkau berikan bagiku. Bantulah aku untuk membagikan
semua itu bagi orang orang disekitarku (#asupaniman #renunganku).
Ibu
Caroline – Bandung (1)
Sabtu, 7 Mei
2016. Bacaan: Yunus 2:1-10. Setahun: 2 Raja-Raja 16-17. Nats: Ketika jiwaku
letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN (Yunus 2:7). Perut Ikan.
Yunus diombang-ambingkan ombak di lautan kelam ketika mengingkari panggilan
Tuhan. Namun, jiwa Yunus, yang lemah dan penuh kekhawatiran selama terhempas
gelombang pasang, akhirnya disentuh oleh tangan Tuhan saat ia berada di dalam
perut ikan besar yang menelannya hidup-hidup. Berada di dalam perut ikan
menyadarkan Yunus bahwa sekalipun ia telah berbuat dosa dan lari mengingkari
panggilan Tuhan (ay. 4), kasih Tuhan, yang lebih besar daripada perut ikan yang
menelannya, kembali menjamah dan menyadarkannya akan kesalahan dan dosa yang ia
perbuat (ay. 6). Di dalam ruang sempit, ia kemudian menyadari bahwa samudera
dan gelombang yang menghampirinya begitu dekat tak mampu mengalangi pengampunan
Allah yang membawanya menerima keselamatan (ay. 9). Ada saat-saat dalam hidup
ini ketika kita merasa sedang berada di dalam perut ikan. Situasi yang suram,
gelap pekat, sempit untuk berpikir, diiringi aroma tak sedap masalah kita, dan
tak ada seorang pun yang akan menolong. Di dalam perut ikan, kepada siapa kita
menaruh pengharapan? Ingatlah bahwa ketika Yunus berada di tempat yang serupa,
ia memilih untuk memanggil nama Tuhan, memohon ampun, dan mensyukuri
penyertaan-Nya yang masih tetap sama besarnya. Berada dalam perut ikan
mengingatkan Yunus akan kasih Allah yang tiada terukur. Ia mengucap syukur,
memohon ampun, dan berjanji untuk melakukan perintah Tuhan. Semoga kita pun
demikian --Yessica Kansil. LEBIH BAIK BERADA DI PERUT IKAN BERSAMA TUHAN
DARIPADA BERDIAM DI TEMPAT TENANG SEORANG DIRI.
Ibu
Caroline – Bandung (2)
Minggu, 8 Mei
2016. Bacaan: Wahyu 3:14-22. Setahun: 2 Raja-Raja 18-20. Nats: Lihat, Aku
berdiri di depan pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku
dan membukakan pintu, Aku akan masuk menemui dia dan makan bersama-sama dengan
dia, dan ia bersama-sama dengan Aku (Wahyu 3:20). Ketukan Pintu. Seorang
pendeta yang saat ini bertugas di Malang melakukan hal yang belum pernah saya
jumpai. Sebelum memulai pelayanannya di sebuah gereja di kota tersebut, ia
terlebih dulu meminta diantar para anggota majelis untuk mengunjungi rumah
setiap warga jemaat. Ia mengetuk pintu rumah mereka masing-masing dan
berbincang dengan keluarga ini. Perlu waktu beberapa hari untuk mengunjungi
rumah setiap warga. Tuhan Yesus menyapa setiap pribadi yang ada di seluruh
dunia ini. Sebagai gembala Dia mengetuk setiap hati supaya bersedia
mengikuti-Nya. Dia akan membimbing siapa saja yang mau membukakan pintu
untuk-Nya menuju jalan yang benar. Dia akan memimpin langkah setiap orang yang
mengakui-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat menuju kehidupan kekal. Tuhan Yesus
pun mengetuk pintu hati kita. Ketika kita mau membukakannya, kita menerima Dia
menjadi gembala atas hidup kita. Tetapi, bisa jadi saat ini hingar-bingar dunia
membuat kita jauh dari jalan yang dikehendaki-Nya. Kita terlalu sibuk meraih
segala pencapaian duniawi yang memuaskan kedagingan kita. Kegaduhan dunia
sering membuat kita tidak mendengar saat Kristus mengajak kita menikmati
persekutuan dengan-Nya. Dia terus-menerus menyapa kita, mengingatkan kita tentang
jalan yang seharusnya kita tempuh. Dia tidak mau kita tersesat. Jika kita telah
terlampau jauh “menggelandang”, ini saatnya kembali dan menikmati hidangan
makan yang sudah disediakan-Nya: hidup selaras dengan kehendak-Nya --Gigih
Dwiananto. TUHAN YESUS RINDU BERSEKUTU DENGAN KITA; APAKAH KITA BERGAIRAH
MERESPONS KERINDUAN-NYA?
Worship
Center Surabaya
Bentuk &
ukuran lainnya mengenai ibadah sejati di hadapan Tuhan ternyata berkaitan
dengan sikap kita pada pemerintah. Melanjutkan pesan mengenai ibadah sejati,
Paulus berpesan supaya sebagai pengikut-pengikut Kristus tunduk & takut
(yaitu menaruh hormat) pada otoritas pemerintah negara, yang berkuasa atas kita
sebagai warganya (Rom.13:1-7). Bukanlah kebetulan jika 3 kali banyaknya, tanpa
ragu, Paulus menyebut pemerintah sebagai
“hamba Allah” atau “pelayan Allah” (13:4,6). Ditambahkannya: tidak ada
pemerintah yang tidak berasal dari Allah & setiap pemerintahan yang ada
ditetapkan Allah (13:1). Siapa yang melawan pemerintah, ia dipandang melawan
ketetapan Allah & yang melakukannya sama dengan membuat hukuman jatuh atas
dirinya (13:2). Meskipun tidak ada pemerintahan yang sempurna di dunia, setiap
pemerintahan & orang-orang di dalamnya tidak pernah lepas dari kendali
Tuhan atas suatu bangsa. Pemerintah yang berkuasa, baik atau buruk, merupakan
alat Tuhan untuk mengendalikan & mengarahkan suatu bangsa menuju rencana
keselamatan-Nya. Misal, pemerintah yang korup merupakan suatu peringatan kepada
bangsa tertentu supaya mereka menjadi muak & bertobat dari segala kemalasan
& korupsi -dimana kesadaran ini semestinya dipelopori pertama-tama oleh
anak-anak Tuhan yang merupakan terang bagi bangsa. Bukan dengan cara
memberontak, menggulingkan pemerintah yang ada lalu membentuk negara tandingan
atau pemerintahan baru (yang sebetulnya inilah yang dimaksud sebagai melawan
pemerintahan yang ada) namun dengan berjuang pertama-tama secara rohani
mengikat roh-roh yang jahat yang bekerja atas pemerintah dan melepaskan roh
yang merupakan kebalikan dari itu. Melalui suatu cara hidup yang berlawanan
dengan kejahatan yang ada. Ketunduktaatan kita pada hukum-hukum pemerintah yang
ada sambil terus memohon tiap waktu melalui doa & cara hidup yang benar di
hadapan Tuhan, pada waktunya akan berbuah manis: pemulihan bangsa dengan
bangkitnya pemimpin-pemimpin yang benar-benar berkenan di hati Tuhan.
Percayakah Anda? Salam revival! GBU.

No comments:
Post a Comment