I AM
BLESSED
Kasih Tuhan
Dinyatakan Melalui Murid Kristus. Yohanes 13:35,
“Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku,
yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” Amin. KASIH itu berasal dari Allah.
Dan bila kita saling mengasihi maka kita adalah murid-murid Kristus.
Ketika kita mengasihi, kita akan mendapati bahwa diri kita terus-menerus
bersandar kepada Kasih Allah (Sumber Kasih itu), teladan kasih yang paling
agung. Disaat itulah kita akan memahami kasihNya bahkan memperoleh kekuatan
untuk mengasihi sesama kita, sebagaimana Allah telah mengasihi kita. Amin.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita saling mengasihi sesama kita dengan tulus
sehingga semua orang tahu bahwa kita adalah murid Kristus?? Amin.
Tante
Elisabeth – NTT
Ya amin! “Supaya
mreka tahu bahwa Engkau sajalah yang bernama TUHAN, yang Mahatinggi atas
seluruh bumi” (Maz 83:19). Mazmur ini ditulis oleh Asaf untuk menggambarkan
salah satu peristiwa yang terjadi di kerajaan Yehuda pada masa pemerintahan
Yosafat. Melalui sebuah ancaman yang mengerikan, yaitu musuh-musuh Israel
bersatu padu membentuk kekuatan besar untuk menyerang, yaitu seluruh bangsa
Edom, Ismael, Moab, orang Hagar, Gebal, Amon, Amalek, Felistea berserta penduduk
Tirus dan Asyur (ayat 7, 9). Mereka sudah memiliki rencana untuk
membumihaguskan serta memusnakan umat Tuhan (ayat 5, 6). KETAKUTAN dibanding
dengan kekuatan militer musuh, maka militer Yehuda tidak ada apa-apanya, karena
itulah dikatakan Yosafat ketakutan. “Yosafat menjadi takut, lalu mengambil
keputusan untuk mencari Tuhan. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya
berpuasa” (2 Tawarikh 20:3). “KETAKUTAN” Yosafat menyadarkan bahwa, tidak ada
peluang sedikitpun baginya untuk dapat menyelamatkan diri serbuan musuh.
Sebagai orang yang beriman kepada Tuhan, ketika muncul ketakutan, Yosafat
mengubahnya menjadi kesadaran bahwa hanya Tuhan yang maha kuasa yang dapat
menyelamatkannya. Karena itu Yosafat mengambil keputusan dalam ketakutannya
untuk mencari Tuhan dan pertolongan-Nya. Dia menyerukan supaya seluruh Yehuda
berpuasa. Asaf menggambarkan doa yang dipanjatkan melalui ayat 14-19. “Ya
Allahku, buatlah mereka seperti dedak yang berterbangan, seperti jerami yang
ditiup angin! Seperti api yang membakar hutan dan seperti nyala api yang
menghanguskan gunung-gunung, kejarlah mereka dengan badaiMu, dan kejutkanlah
mereka dengan puting beliungMu, penuhilah mereka dengan kehinaan, supaya mereka
mencari namaMu. Engkau sajalah yang bernama Tuhan yang maha tinggi. Diatas
seluruh bumi.” Amin. Ya memang Tuhan kita Yesus Kristus yang maha tinggi di
atas seluruh bumi. Amin! Selamat pagi, selamat berkarya di dalam Tuhan. JBU
all.
Ibu
Caroline – Bandung
Sejenak Pagi:
THE MIRACLE of ENDORPHIN (antisipasi – kenali – tangani). Dalam kehidupan ini,
kita seringkali akan terluka oleh orang lain, kadang-kadang sengaja,
kadang-kadang tidak sengaja. Bagaimana kita mengatasi rasa SAKIT HATI, akan
menentukan kebahagiaan dalam hidup kita sendiri. Bila kita MEMENDAM rasa sakit
hati dalam hidup kita & terus
menyimpannya, ini disebut DENDAM & KEBENCIAN. Jika seseorang menyakiti kita
di tahun-tahun yang lalu & kita masih menyimpan dendam, itu akan MERACUNI
PIKIRAN & mempengaruhi perjalanan hidup kita sendiri. Untuk kesehatan &
kebahagiaan kita sendiri, kita harus belajar untuk MEMAAFKAN & MELEPASKAN
'rasa' sakit dan dendam itu. Jika seseorang sedang marah, panik, cemas, takut,
merasa TERTEKAN, maka otaknya mengeluarkan NOR-adrenalin, hormon yang sangat
BERACUN. Di antara RACUN ALAMI, hormon ini menempati urutan kedua setelah bisa
ular. RACUN INI membuat fisik kita sakit-sakitan, cepat tua & cepat
mematikan syaraf. Jika seseorang mampu mengendalikan PIKIRAN & PERASAANNYA
sehingga menghadapi segala sesuatu secara POSITIF, maka otak akan mngeluarkan
HORMON BETA-endorfin. Hormon KEBAHAGIAAN ini berkhasiat MEMPERKUAT daya tahan
tubuh, MENJAGA sel otak tetap muda, MELAWAN penuaan, MENURUNKAN agresivitas,
MENINGKATKAN semangat, daya tahan tubuh & kreativitas. Karena itu
BERSIKAPLAH POSITIF jika ingin hidup bahagia, sehat & berumur panjang.
Sikap positif akan terpancar dari SENYUM kita yang penuh keikhlasan. MAAFKANlah
dengan tulus ikhlas ucapan & prilaku orang yang menyakiti hati kita karena
itu hanyalah masalah “RASA”, yang seharusnya mampu kita kendalikan. Dikutip
dari: The miracle of Endorphin ~Dr Shigeo Haruyama.
Xavier
Quentin Pranata
“If we know the
power of laughter, we can get rid of ourselves from taking antidepressants,
sleeping pills, and tranquilizers.” Xavier Quentin Pranata.
Worship
Center Surabaya
Karakter Allah
kita tampak dalam salah satu pernyataan-Nya sewaktu mengajar Yeremia bagaimana
menerima penglihatan rohani secara supranatural. Yeremia melihat sebatang dahan
pohon badam & Tuhan berfirman, “Baik penglihatanmu, sebab Aku siap sedia
untuk melaksanakan firman-Ku” (Yer 1:12). Apa yang yang keluar sebagai
perkataan dari mulut Tuhan tidak pernah dimaksudkan menjadi sesuatu yang basa
basi sifatnya. Yang Mahakudus tidak pernah mengatakan sesuatu yang tidak sama
dengan yang dimaksudkan dalam pikiran atau hati-Nya. Pula, Dia berfirman bukan
supaya orang lain terkesan atau sekedar terhibur. Bukan pula janji-janji manis
atau kata berbunga-bunga untuk memikat hati pendengarnya belaka. Dalam
sabda-Nya ada kedaulatan, maksud, kehendak & tujuan-tujuan-Nya untuk
melakukan sesuatu sesuaikasih maupun keadilan-Nya di alam semesta. TUHAN ialah
pribadi yang perkataan-perkataanNya dapat dipegang, dipercayai, diyakini &
yang pasti melakukan apapun yang dikatakan-Nya. Firman-Nya 'ya' & 'amin'.
Benar & pasti terjadi. Sekali Dia berjanji pasti akan ditepati. Sekali Dia
berfirman, maka tidak mungkin tak dilaksanakan-Nya. Dalam ketepatan yang
sempurna, Dia akan melakukan setiap yang dititahkan-Nya. Jangankan berdusta,
ceroboh bicara saja, Dia tidak pernah. Itu sebabnya mereka yang mengaku sebagai
penerima-penerima & penyampai-penyampai suara Tuhan akan dinilai &
diuji apakah mereka menyampaikan perkataan-perkataan yang menampilkan
sifat-sifat ilahi ini atau tidak. Dan jika Tuhan siap sedia melaksanakan firman-Nya,
kita tidak perlu mempersoalkan bagian & pihak Tuhan mengenai
perkataan-perkataanNya atau janji-janjiNya. Kitalah yang sudah seharusnya
banyak merenung & mempertanyakan, “sudahkah aku melakukan bagianku,
janji-janjiku, ikrar-ikrarku, nazar-nazarku, doa-doa & komitmen-komitmenku
di hadapan Tuhan”. Sebab bukankah kita yang sering berjanji di hadapan Yang
Mahatahu namun menunda-nundanya, berdalih-dalih, beralasan atau bahkan
diam-diam berusaha melupakannya? Jika Allah siap sedia menggenapi firman-Nya,
akankah Anda juga siap sedia menggenapi bagian (ketaatan) Anda? Salam revival!
GBU.

No comments:
Post a Comment