Saturday, 7 May 2016

7 Mei 2016



I AM BLESSED




Filipi 2:4, “dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Seberapa besar rasa kepedulian kita kepada “sesama”? Peduli: 1 kata yang harus kita latih “sejak kita kecil”, peduli terhadap orang-orang yang paling dekat dengan kita: orang tua, suami, istri dan anak-anak (keluarga). Kika kita bisa peduli/memperhatikan kepentingan orang-orang yang paling dekat dengan kita, pasti ada “Rasa Kepedulian” kita kepada orang lain juga. Rasul Paulus tidak hanya menemukan alasan untuk menyemangati, menghibur tetapi juga MEMPERHATIKAN kepentingan orang lain juga. Karena Kristus telah memperhatikan atau mempedulikan kita semua, kita harus saling memperhatikan/mempedulikan kepentingan orang lain. Kita menunjukkan kasih kita kepada Tuhan saat kita ‘saling memperhatikan kepentingan sesama‘. Amin.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Ams 10:3 – TUHAN tidak membiarkan orang BENAR menderita kekurangan, tetapi keinginan orang jahat ditolak-NYA! Jaminan dari YESUS, kita diberkati berlimpah-limpah. Yuk, jadi orang benar dan hidup benar dan melakukan kebenaran yaitu firman TUHAN! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Worship Center Surabaya
Seseorang yang benar-benar merasakan, mengalami & hidup dalam kesadaran akan kasih karunia Tuhan dalam hidupnya memiliki karakter yang berbeda dengan kebanyakan orang-orang di dunia. Mereka akan ditandai salah satu sifat yang jarang dimiliki manusia: TIDAK SUKA MEMEGAHKAN DIRI melainkan RENDAH HATI. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: JANGAN ADA ORANG YANG MEMEGAHKAN DIRI” (Ef 2:8-9). Selagi hampir semua orang tidak merasa bahwa dirinya tinggi hati, kenyataannya hanya yang benar-benar menyadari bahwa hidupnya kini & nanti bergantung pada kasih karunia Allah saja yang dapat benar-benar merendahkan diri di hatinya. Orang yang rendah hati itu akan terlihat dalam sikap: •Hatinya yang “miskin” di hadapan Allah. Bahwa ia tak mampu hidup tanpa Tuhan. Bahwa kasih-Nya ialah hal terutama yang akan dicari & dimilikinya. Ia rela kehilangan apapun dalam hidupnya selain hubungannya dengan Kristus Yesus. Seperti Paulus, segala sesuatu yang dahulu untung dipandangnya rugi asalkan dapat membawanya makin erat dengan Kristus Tuhan (Fil 3:7). •Tindak tanduk, tutur kata & pembawaan dirinya secara konsisten (bukan dalam satu waktu tertentu) tak menampilkan suatu kesan membanggakan atau menonjolkan diri sendiri, timnya, kelompoknya maupun semua yang mencerminkan pemuliaan kemampuan manusiawi. Orang yang mengenal kasih karunia tahu diri untuk tidak memuji-muji diri. Baik dari yang tampak di depan orang atau sekedar dalam hati. Nama Tuhanlah yang disebut-sebut dengan segala ketulusan sebagai yang layak dimuliakan. Puncak dari kerendahan hati ialah memilih gaya hidup sebagai penyembah sejati -bahkan lebih dari itu. Orang-orang yang dikuasai kasih karunia menyerahkan diri untuk mengabdikan dirinya menjadi hamba kepada Kristus: seluruh hidupnya dipersembahkan demi melakukan kehendak Tuhan, bukan keinginan-keinginannya sendiri. Sebab tahu bahwa hidupnya tiada berarti tanpa melekat hanya pada Tuhan & kasih-Nya. Bagaimana dengan Anda? Salam revival! GBU.

Xavier Quentin Pranata
“Saat kita rela meninggalkan kenyamanan kita untuk membuat orang lain merasa lebih nyaman, kita mendapatkan perkenanan Tuhan.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Sabtu, 7 Mei 2016. Membaca Surat Cinta-NYA. Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3:16). Seorang ayah yang kaya pada saat anaknya berulang tahun menghadiahkan sebuah Alkitab dalam tas kulit. Meskipun sang ayah berharap anaknya senang menerima hadiah itu, ternyata si anak berharap akan mendapatkan hadiah mobil. Karena kecewa, anak itu bahkan tidak membuka tas Alkitab itu dan langsung menyimpannya begitu saja. Ia tidak tahu bahwa di dalam Alkitab terselip kunci mobil dari ayahnya. Setelah ayahnya menjelaskan, baru ia sadar. Dalam kehidupan kita sehari-hari, seberapa banyak kita membaca Alkitab? Jangan-jangan kita—seperti pemuda tadi—hanya menyimpannya. Seberapa sering kita merenungkan kembali dan memperhatikan firman-Nya di tengah aktivitas yang kita lakukan? Atau, kita hanya membawa Alkitab ketika hendak pergi ke gereja? Kalau begitu, bagaimana kita dapat mengetahui rencana dan kehendak Tuhan dalam kehidupan kita jika kita jarang berinteraksi dengan firman-Nya? Memang benar, ketika membaca Alkitab, kita tidak akan menemukan kunci mobil atau kunci rumah seperti dalam Alkitab pemberian ayah kaya tadi. Namun, Alkitab mengandung pesan dan surat cinta dari Tuhan kepada kita, anak-anak kesayangan-Nya. Tuhan ingin kita mengerti kehendak-Nya, kebajikan yang di siapkannya bagi hidup kita. Melalui Kitab Suci, Dia mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik kita dalam kebenaran (ay. 16). Karena itu, marilah membuka hati dan hidup kita, untuk memberikan tempat yang sepatutnya bagi firman-Nya, agar kehidupan kita diubahkan menurut kebenaran-Nya —PSA. TUHAN MENYAMPAIKAN FIRMAN-NYA UNTUK MENGUNGKAPKAN KASIH-NYA DAN MENUNTUN HIDUP KITA MENURUT KEBENARAN-NYA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.

Tante Elisabeth – NTT
Ya amin. “Ada kalanya dalam hidup ini, hanya Tuhan dan diri kita sendiri yang dapat memutuskan apa yang harus kita perbuat.” Jika Tuhan masih belum menyerah dengan hidup kita, belum menyerah memproses kita untuk menjadi jauh lebih baik dari hari kemarin, jangan pernah menyerah terlalu dini, terhadap diri kita sendiri. Tetaplah berjuang. Tetaplah bekerja memberikan usaha yang terbaik. Sampai Sang Pemilik kehidupan tersebut berkata bagi kita, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia: engkau telah setia dalam perkara kecil, Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan Tuanmu” (Matius 25:21). Tuhan Yesus memberkati.


No comments:

Post a Comment