I AM
BLESSED
Filipi 2:4, “dan
janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi
kepentingan orang lain juga.” Seberapa besar rasa kepedulian kita kepada
“sesama”? Peduli: 1 kata yang harus kita latih “sejak kita kecil”, peduli
terhadap orang-orang yang paling dekat dengan kita: orang tua, suami, istri dan
anak-anak (keluarga). Kika kita bisa peduli/memperhatikan kepentingan
orang-orang yang paling dekat dengan kita, pasti ada “Rasa Kepedulian”
kita kepada orang lain juga. Rasul Paulus tidak hanya menemukan alasan untuk
menyemangati, menghibur tetapi juga MEMPERHATIKAN kepentingan orang lain juga.
Karena Kristus telah memperhatikan atau mempedulikan kita semua, kita harus
saling memperhatikan/mempedulikan kepentingan orang lain. Kita menunjukkan kasih
kita kepada Tuhan saat kita ‘saling memperhatikan kepentingan sesama‘.
Amin.
Samuel
Sianto-Yestoya Ministry
Ams 10:3 – TUHAN
tidak membiarkan orang BENAR menderita kekurangan, tetapi keinginan orang jahat
ditolak-NYA! Jaminan dari YESUS, kita diberkati berlimpah-limpah. Yuk, jadi
orang benar dan hidup benar dan melakukan kebenaran yaitu firman TUHAN! Samuel
Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Worship
Center Surabaya
Seseorang yang
benar-benar merasakan, mengalami & hidup dalam kesadaran akan kasih karunia
Tuhan dalam hidupnya memiliki karakter yang berbeda dengan kebanyakan
orang-orang di dunia. Mereka akan ditandai salah satu sifat yang jarang
dimiliki manusia: TIDAK SUKA MEMEGAHKAN DIRI melainkan RENDAH HATI. “Sebab
karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu,
tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: JANGAN ADA ORANG YANG
MEMEGAHKAN DIRI” (Ef 2:8-9). Selagi hampir semua orang tidak merasa bahwa
dirinya tinggi hati, kenyataannya hanya yang benar-benar menyadari bahwa
hidupnya kini & nanti bergantung pada kasih karunia Allah saja yang dapat
benar-benar merendahkan diri di hatinya. Orang yang rendah hati itu akan
terlihat dalam sikap: •Hatinya yang “miskin” di hadapan Allah. Bahwa ia tak
mampu hidup tanpa Tuhan. Bahwa kasih-Nya ialah hal terutama yang akan dicari
& dimilikinya. Ia rela kehilangan apapun dalam hidupnya selain hubungannya
dengan Kristus Yesus. Seperti Paulus, segala sesuatu yang dahulu untung
dipandangnya rugi asalkan dapat membawanya makin erat dengan Kristus Tuhan (Fil
3:7). •Tindak tanduk, tutur kata & pembawaan dirinya secara konsisten
(bukan dalam satu waktu tertentu) tak menampilkan suatu kesan membanggakan atau
menonjolkan diri sendiri, timnya, kelompoknya maupun semua yang mencerminkan
pemuliaan kemampuan manusiawi. Orang yang mengenal kasih karunia tahu diri
untuk tidak memuji-muji diri. Baik dari yang tampak di depan orang atau sekedar
dalam hati. Nama Tuhanlah yang disebut-sebut dengan segala ketulusan sebagai
yang layak dimuliakan. Puncak dari kerendahan hati ialah memilih gaya hidup
sebagai penyembah sejati -bahkan lebih dari itu. Orang-orang yang dikuasai
kasih karunia menyerahkan diri untuk mengabdikan dirinya menjadi hamba kepada
Kristus: seluruh hidupnya dipersembahkan demi melakukan kehendak Tuhan, bukan
keinginan-keinginannya sendiri. Sebab tahu bahwa hidupnya tiada berarti tanpa
melekat hanya pada Tuhan & kasih-Nya. Bagaimana dengan Anda? Salam revival!
GBU.
Xavier
Quentin Pranata
“Saat kita rela
meninggalkan kenyamanan kita untuk membuat orang lain merasa lebih nyaman, kita
mendapatkan perkenanan Tuhan.” Xavier Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT TEDUH.
Sabtu, 7 Mei 2016. Membaca Surat Cinta-NYA. Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah
dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki
kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3:16). Seorang
ayah yang kaya pada saat anaknya berulang tahun menghadiahkan sebuah Alkitab
dalam tas kulit. Meskipun sang ayah berharap anaknya senang menerima hadiah
itu, ternyata si anak berharap akan mendapatkan hadiah mobil. Karena kecewa,
anak itu bahkan tidak membuka tas Alkitab itu dan langsung menyimpannya begitu
saja. Ia tidak tahu bahwa di dalam Alkitab terselip kunci mobil dari ayahnya.
Setelah ayahnya menjelaskan, baru ia sadar. Dalam kehidupan kita sehari-hari,
seberapa banyak kita membaca Alkitab? Jangan-jangan kita—seperti pemuda
tadi—hanya menyimpannya. Seberapa sering kita merenungkan kembali dan
memperhatikan firman-Nya di tengah aktivitas yang kita lakukan? Atau, kita
hanya membawa Alkitab ketika hendak pergi ke gereja? Kalau begitu, bagaimana
kita dapat mengetahui rencana dan kehendak Tuhan dalam kehidupan kita jika kita
jarang berinteraksi dengan firman-Nya? Memang benar, ketika membaca Alkitab,
kita tidak akan menemukan kunci mobil atau kunci rumah seperti dalam Alkitab
pemberian ayah kaya tadi. Namun, Alkitab mengandung pesan dan surat cinta dari
Tuhan kepada kita, anak-anak kesayangan-Nya. Tuhan ingin kita mengerti
kehendak-Nya, kebajikan yang di siapkannya bagi hidup kita. Melalui Kitab Suci,
Dia mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik kita
dalam kebenaran (ay. 16). Karena itu, marilah membuka hati dan hidup kita,
untuk memberikan tempat yang sepatutnya bagi firman-Nya, agar kehidupan kita
diubahkan menurut kebenaran-Nya —PSA. TUHAN MENYAMPAIKAN FIRMAN-NYA UNTUK
MENGUNGKAPKAN KASIH-NYA DAN MENUNTUN HIDUP KITA MENURUT KEBENARAN-NYA. Selamat
pagi. Tuhan Yesus memberkati.
Tante
Elisabeth – NTT
Ya amin. “Ada
kalanya dalam hidup ini, hanya Tuhan dan diri kita sendiri yang dapat
memutuskan apa yang harus kita perbuat.” Jika Tuhan masih belum menyerah dengan
hidup kita, belum menyerah memproses kita untuk menjadi jauh lebih baik dari
hari kemarin, jangan pernah menyerah terlalu dini, terhadap diri kita sendiri.
Tetaplah berjuang. Tetaplah bekerja memberikan usaha yang terbaik. Sampai Sang
Pemilik kehidupan tersebut berkata bagi kita, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai
hambaku yang baik dan setia: engkau telah setia dalam perkara kecil, Aku akan
memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar masuklah dan
turutlah dalam kebahagiaan Tuanmu” (Matius 25:21). Tuhan Yesus memberkati.

No comments:
Post a Comment