Monday, 23 May 2016

23 Mei 2016



I AM BLESSED




Menyenangkan Hati Tuhan. Yohanes 12:3, “Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.” Tindakan Maria ini merupakan suatu pengorbanan yang besar karena minyak Narwastu murni itu sangat mahal harganya. Maria sadar bahwa kesempatan untuk mengungkapakan pengabdiannya kepada Yesus tidak banyak waktu lagi. Karena itu dia memanfaatkan kesempatan tesebut tidak hanya “menyenangkan HATI Tuhan” tetapi IMAN dan PENGABDIAN-Nya kepada Tuhan menjadi TELADAN bagi kita semua, seperti yang diinginkan Tuhan bagi kita anak-anak Tuhan (Orang Percaya). Melalui peristiwa ini kita belajar bahwa KESETIAAN yang SEPENUH HATI dan KASIH yang SUNGGUH-SUNGGUH kepada Yesus merupakan aspek yang paling berharga dalam hubungan kita dengan Tuhan J. Amin.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Ams 5:21 – Karena segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN dan segala langkah orang diawasi-NYA! Yukkk belajar takut akan TUHAN, DIA tahu semuanya lohhh. Wess jangan suka bohong! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Xavier Quentin Pranata
“Ada kalanya kita bisa tertawa di tengah kegetiran hidup, bisa juga menangis bahagia.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Senin, 23 Mei 2016. Lupa Diri. Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu (2 Samuel 12:8). Perjalanan hidup Daud—dari seorang bocah, mengalahkan Goliat, menjadi orang kepercayaan raja, hingga akhirnya menjadi Raja Israel—memperlihatkan rancangan dan penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Daud juga hidup dalam ketaatan dan takut akan Tuhan. Namun, pada masa kejayaannya, Daud malah jatuh ke dalam dosa. Dalam perikop hari ini, Tuhan mengutus Natan mendatangi Daud. Ia menceritakan perumpamaan tentang orang kaya yang memiliki banyak kambing domba dan lembu sapi dan orang miskin yang hanya memiliki seekor anak domba betina, yang dibeli dan dipeliharanya seperti anak perempuan. Ketika orang kaya itu kedatangan tamu, ia merasa sayang mengambil hewannya untuk dimasak dan dengan seenaknya mengambil domba betina kepunyaan si miskin. Mendengar kisah itu, Daud marah dan dengan tegas hendak menghukum si kaya. Natan menyatakan, orang kaya itu tidak lain Daud sendiri (ay. 7). Daud pun tertempelak. Ia memang telah mengambil isteri Uria dan tanpa merasa bersalah menyusun strategi perang yang akhirnya membuat Uria meninggal. Tampaknya Daud lupa diri. Karena merasa Tuhan di pihaknya, ia malah berbuat sesuka hatinya tanpa memikirkan akibatnya. Kita bisa jadi juga pernah lupa diri. Lupa bahwa kita dulu orang berdosa dan kini telah ditebus oleh darah-Nya yang kudus. Lupa bahwa hidup kita seutuhnya adalah milik Allah. Lupa bahwa kita hidup untuk melakukan kehendak-Nya, yaitu mewartakan kabar baik. Oleh karena itu, janganlah sampai kita lupa akan jati diri kita. Jika kita lupa diri, dosa telah mengintip di depan mata —FJH. MENGINGAT IDENTITAS KITA DI HADAPAN TUHAN MENJAUHKAN KITA DARI KESOMBONGAN YANG MENGAKIBATKAN LUPA DIRI. Selamat pagi. Tetaplah bersahaja. Melayani satu dan lainnya. Tuhan Yesus memberkati.

Worship Center Surabaya
Siapakah pemilik tanaman yang tidak bersukacita apabila yang ditanamnya berbuah-buah dengan lebatnya? Bukankah salah satu tujuan utama dari ditanamnya sebuah benih yang dibesarkan menjadi pohon supaya akhirnya sang penanam memetik buahnya? Begitu juga Sang Penabur Agung. Betapa Dia rindu melihat firman-Nya membawa hasil -sebab Dia rindu memberkati banyak orang melalui buah-buah dari kehidupan kita, tanaman Tuhan, untuk menyatakan keagungan-Nya (Yes 61:3). Markus 4:20 memberitahu kita satu rahasia lain untuk berbuah-buah, setelah kita mendengar atau membaca firman: “Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan MENYAMBUT firman itu lalu berbuah,” MENYAMBUT firman setelah mendengarnya adalah kuncinya. Dalam bahasa aslinya, kata 'menyambut' di atas bermakna 'menerima', 'tidak menolak', 'mengadopsi atau mengakui sebagai miliknya'. Hidup rohani kita berbuah saat kita -oleh kuasa Roh Kudus & kasih karunia Tuhan- menerima firman itu dengan hati yang terbuka lebar, menjadikan perkataan-perkataan Tuhan sebagai bagian dari hidup kita. BUKAN SEKEDAR nasihat-nasihat yang kita timbang-timbang dahulu, bukan hanya masukan-masukan yang baik atau kata-kata motivasi yang indah didengar & dicerna pikiran maupun semacam sudut pandang alternatif dalam menjalani hidup. Jika ingin menjadi ranting-ranting yang berbuah lebat, firman haruslah menjadi pedoman hidup kita satu-satunya, sebagai petunjuk & hikmat tertinggi yang kita yakini pasti membawa kita pada Pribadi yang mampu mengubah hidup kita menjadi baru, berbahagia & penuh kemuliaan. Itulah sebabnya Musa berkata bahwa hukum-hukum Tuhan “itulah hidupmu” (Ul 32:46-47). Pemazmur berseru, “Sekiranya hidupku tentu untuk berpegang pada ketetapan-Mu!” (Maz 119:5). Pun, Salomo mengingatkan bahwa hikmat Tuhan ialah “kehidupan bagi jiwamu” (Ams 3:22). Lebih daripada kebutuhan dasar jasmani kita, firman perkataan Tuhan ialah unsur pokok & paling utama yang kita perlu dalam hidup kita (Mat 4:4). Bagi Anda, seberapa pentingkah sabda Tuhan itu? Salam revival! GBU.


No comments:

Post a Comment