I AM
BLESSED
Menyenangkan
Hati Tuhan. Yohanes 12:3, “Maka Maria
mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu
meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak
di seluruh rumah itu.” Tindakan Maria ini merupakan suatu pengorbanan yang
besar karena minyak Narwastu murni itu sangat mahal harganya. Maria sadar bahwa
kesempatan untuk mengungkapakan pengabdiannya kepada Yesus tidak banyak waktu
lagi. Karena itu dia memanfaatkan kesempatan tesebut tidak hanya “menyenangkan
HATI Tuhan” tetapi IMAN dan PENGABDIAN-Nya kepada Tuhan menjadi TELADAN bagi
kita semua, seperti yang diinginkan Tuhan bagi kita anak-anak Tuhan (Orang
Percaya). Melalui peristiwa ini kita belajar bahwa KESETIAAN yang SEPENUH HATI
dan KASIH yang SUNGGUH-SUNGGUH kepada Yesus merupakan aspek yang paling
berharga dalam hubungan kita dengan Tuhan J. Amin.
Samuel
Sianto-Yestoya Ministry
Ams 5:21 –
Karena segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN dan segala langkah orang
diawasi-NYA! Yukkk belajar takut akan TUHAN, DIA tahu semuanya lohhh. Wess
jangan suka bohong! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Xavier
Quentin Pranata
“Ada kalanya
kita bisa tertawa di tengah kegetiran hidup, bisa juga menangis bahagia.”
Xavier Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT TEDUH.
Senin, 23 Mei 2016. Lupa Diri. Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan
isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum
Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan
itu kepadamu (2 Samuel 12:8). Perjalanan hidup Daud—dari seorang bocah,
mengalahkan Goliat, menjadi orang kepercayaan raja, hingga akhirnya menjadi
Raja Israel—memperlihatkan rancangan dan penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Daud
juga hidup dalam ketaatan dan takut akan Tuhan. Namun, pada masa kejayaannya,
Daud malah jatuh ke dalam dosa. Dalam perikop hari ini, Tuhan mengutus Natan
mendatangi Daud. Ia menceritakan perumpamaan tentang orang kaya yang memiliki
banyak kambing domba dan lembu sapi dan orang miskin yang hanya memiliki seekor
anak domba betina, yang dibeli dan dipeliharanya seperti anak perempuan. Ketika
orang kaya itu kedatangan tamu, ia merasa sayang mengambil hewannya untuk
dimasak dan dengan seenaknya mengambil domba betina kepunyaan si miskin.
Mendengar kisah itu, Daud marah dan dengan tegas hendak menghukum si kaya.
Natan menyatakan, orang kaya itu tidak lain Daud sendiri (ay. 7). Daud pun
tertempelak. Ia memang telah mengambil isteri Uria dan tanpa merasa bersalah
menyusun strategi perang yang akhirnya membuat Uria meninggal. Tampaknya Daud
lupa diri. Karena merasa Tuhan di pihaknya, ia malah berbuat sesuka hatinya
tanpa memikirkan akibatnya. Kita bisa jadi juga pernah lupa diri. Lupa bahwa
kita dulu orang berdosa dan kini telah ditebus oleh darah-Nya yang kudus. Lupa
bahwa hidup kita seutuhnya adalah milik Allah. Lupa bahwa kita hidup untuk
melakukan kehendak-Nya, yaitu mewartakan kabar baik. Oleh karena itu, janganlah
sampai kita lupa akan jati diri kita. Jika kita lupa diri, dosa telah mengintip
di depan mata —FJH. MENGINGAT IDENTITAS KITA DI HADAPAN TUHAN MENJAUHKAN KITA
DARI KESOMBONGAN YANG MENGAKIBATKAN LUPA DIRI. Selamat pagi. Tetaplah
bersahaja. Melayani satu dan lainnya. Tuhan Yesus memberkati.
Worship
Center Surabaya
Siapakah pemilik
tanaman yang tidak bersukacita apabila yang ditanamnya berbuah-buah dengan
lebatnya? Bukankah salah satu tujuan utama dari ditanamnya sebuah benih yang
dibesarkan menjadi pohon supaya akhirnya sang penanam memetik buahnya? Begitu
juga Sang Penabur Agung. Betapa Dia rindu melihat firman-Nya membawa hasil
-sebab Dia rindu memberkati banyak orang melalui buah-buah dari kehidupan kita,
tanaman Tuhan, untuk menyatakan keagungan-Nya (Yes 61:3). Markus 4:20
memberitahu kita satu rahasia lain untuk berbuah-buah, setelah kita mendengar
atau membaca firman: “Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah
orang yang mendengar dan MENYAMBUT firman itu lalu berbuah,” MENYAMBUT firman
setelah mendengarnya adalah kuncinya. Dalam bahasa aslinya, kata 'menyambut' di
atas bermakna 'menerima', 'tidak menolak', 'mengadopsi atau mengakui sebagai
miliknya'. Hidup rohani kita berbuah saat kita -oleh kuasa Roh Kudus &
kasih karunia Tuhan- menerima firman itu dengan hati yang terbuka lebar,
menjadikan perkataan-perkataan Tuhan sebagai bagian dari hidup kita. BUKAN
SEKEDAR nasihat-nasihat yang kita timbang-timbang dahulu, bukan hanya masukan-masukan
yang baik atau kata-kata motivasi yang indah didengar & dicerna pikiran
maupun semacam sudut pandang alternatif dalam menjalani hidup. Jika ingin
menjadi ranting-ranting yang berbuah lebat, firman haruslah menjadi pedoman
hidup kita satu-satunya, sebagai petunjuk & hikmat tertinggi yang kita
yakini pasti membawa kita pada Pribadi yang mampu mengubah hidup kita menjadi
baru, berbahagia & penuh kemuliaan. Itulah sebabnya Musa berkata bahwa
hukum-hukum Tuhan “itulah hidupmu” (Ul 32:46-47). Pemazmur berseru, “Sekiranya
hidupku tentu untuk berpegang pada ketetapan-Mu!” (Maz 119:5). Pun, Salomo
mengingatkan bahwa hikmat Tuhan ialah “kehidupan bagi jiwamu” (Ams 3:22). Lebih
daripada kebutuhan dasar jasmani kita, firman perkataan Tuhan ialah unsur pokok
& paling utama yang kita perlu dalam hidup kita (Mat 4:4). Bagi Anda,
seberapa pentingkah sabda Tuhan itu? Salam revival! GBU.

No comments:
Post a Comment