Monday, 16 May 2016

16 Mei 2016



I AM BLESSED




Selama kita tinggal di dalam dunia, akan selalu ada perkara-perkara kehidupan yang diperhadapkan kepada kita. Ada kalanya kita merasa beban kita berat, dengan cara bagaimana kita dapat menerima janji kelegaan itu?? Datang dalam hadiratNya, melalui Pujian dan Penyembahan J. Tempat di mana kita bisa mencurahkan isi hati kita dimana kita mendapatkan kekuatan baru untuk menghadapi hari esok, hanyalah dalam hadiratNya (puji dan sembahlah DIA)  sebab IA adalah Tuhan yang Peduli. Maz 103:8, “TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.” Ayat 11: “tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia.” Amin. Kita menyediakan waktu sejenak pagi ini untuk bertemu DIA, memuji, menyembah dan mengucap syukur & mendengarkan suaraNya yang lembut tanpa meminta apa-apa J. 1 Sam 15:22, “Tetapi jawab Samuel: ‘Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.‘” Amin.

Worship Center Surabaya
Benih Firman yang ditaburkan di hati kita seharusnya tertanam, bertumbuh hingga mencapai tujuannya yaitu berbuah-buah lipat kali ganda. Berbuah-buah berarti menghasilkan suatu kehidupan yang berguna, bermanfaat, menjadi berkat bagi setiap orang yang merasakannya. Seperti buah-buah & hasil tanam-tanaman yang mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh, yang mengenyangkan & menyehatkan manusia, jauh lebih lagi yang Tuhan rindukan dari apa yang bisa dibagikan hidup kita khususnya bagi dunia yang sakit & terhilang tanpa Tuhan ini. Dalam perumpamaannya mengenai penabur, benih yang ditaburkan di tanah yang baik akhirnya menghasilkan buah. Setiap kita seharusnya rindu memiliki sikap hati yang sedemikian. Supaya tak sia-sia benih-benih firman yang mungkin telah bertahun-tahun lamanya ditaburkan di hati kita. Mengutip Matius 13:23, Yesus berkata, “Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan MENGERTI, dan karena itu ia berbuah...” Hanya mereka yang 'mengerti' akan melangkah lebih jauh dari sekedar mendengarkan. Dari teks aslinya, kata 'mengerti' berarti “menyatukan bersama-sama dalam pikiran sehingga memahami yakni (sungguh-sungguh) menangkap yang dimaksudkan”. Ketiadaan akan inilah penyebab orang gagal berbuah dalam hidupnya meski telah kerapkali mendengar atau membaca firman. Kenyataannya, memang ada yang asal mendengar firman atau mendengarnya sambil lalu. Telinganya menangkap suara-suara berisikan firman namun perhatian tidak diarahkan ke sana. Ada pula yang mendengar lalu MERASA TELAH MEMAHAMI firman yang disampaikan, padahal belum. Pemahaman sejati ialah saat seseorang benar-benar merenungkan firman itu, menghubungkannya dengan hidup pribadinya lalu menemukan bagaimana mengaplikasikan atau mewujudkan pesan Firman itu dalam praktek hidupnya SENDIRI tiap-tiap harinya. Itulah perbedaan antara yang sekedar “mengerti penjelasan suatu pengajaran” dengan yang “mengerti maksud Tuhan melalui firman itu bagi diri pribadinya” dimana saat melakukannya, ia berbuah-buah bagi kemuliaan Tuhan. Bagaimana dengan Anda? Salam revival! GBU.

Xavier Quentin Pranata
“Saat kita direndahkan sampai titik yang paling bawah, tiba saatnya Tuhan meninggikan kembali ke tempat yang tidak terbayangkan.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Senin, 16 Mei 2016. Masih Untung. Ucapkanlah syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu (1 Tesalonika 5:18). Kakak ipar saya kecelakaan sehingga kaki kanan bawah lutut patah dua bagian. Operasinya menelan biaya sangat besar. Namun, ia bersyukur karena: tabrakan terjadi bukan dalam perjalanan berangkat mengantar anaknya, tapi dalam perjalanan pulang, sehingga anaknya tidak turut mengalami kecelakaan; bukan ia yang menabrak, tapi yang ditabrak; Tuhan meluputkannya dari benturan kepala. Ia kecelakaan dan mengalami kerugian sangat besar, namun merasa masih beruntung, masih ada hal-hal yang patut disyukuri. Orang lebih mudah mengucap syukur atas situasi baik dan menyenangkan. Sebaliknya pada saat menghadapi situasi buruk dan sulit, manusia sering marah dan mengutuki Tuhan. Hal ini yang dilakukan oleh istri Ayub. Ia menyuruh Ayub mengutuki Tuhan atas hal-hal buruk dan sulit yang menimpanya (Ayb 2:9). Ayub menjawab, “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam semuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya (Ayb 2:10). Menurut Ayub, orang yang hanya mau menerima yang baik dari Allah tetapi tidak mau menerima yang buruk, ia seperti orang gila. Rasul Paulus menghadapi situasi buruk dan sulit di penjara namun ia mengajarkan jemaat untuk mengucap syukur senantiasa atas segala sesuatu sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus (Ef 5:20; 1 Tes 5:18). Mungkin saat ini, Anda sedang mengalami situasi buruk dan sulit, percayalah, pasti Anda masih beruntung—masih ada hal-hal yang patut Anda syukuri. Karena itu, mengucap syukurlah —IN. MASIH ADA HAL-HAL YANG PATUT DISYUKURI DI BALIK SITUASI BURUK DAN SULIT YANG KITA ALAMI. Selamat pagi. Selamat berkarya. Selamat mengikuti UNAS buat anak-anak kelas 6. Tuhan Yesus memberkati.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Maz 56:12 – Kepada ALLAH aku percaya, aku tidak takut, apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? YESUS sumber PERTOLONGANku. Nggak usah kuatir. Pasti Sip! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Ibu Caroline – Bandung
Senin, 16 Mei 2016. Bacaan: 2 Samuel 12:1-14. Setahun: 1 Tawarikh 14-16. Nats: Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu (2 Samuel 12:8). Lupa Diri. Perjalanan hidup Daud--dari seorang bocah, mengalahkan Goliat, menjadi orang kepercayaan raja, hingga akhirnya menjadi Raja Israel--memperlihatkan rancangan dan penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Daud juga hidup dalam ketaatan dan takut akan Tuhan. Namun, pada masa kejayaannya, Daud malah jatuh ke dalam dosa. Dalam perikop hari ini, Tuhan mengutus Natan mendatangi Daud. Ia menceritakan perumpamaan tentang orang kaya yang memiliki banyak kambing domba dan lembu sapi dan orang miskin yang hanya memiliki seekor anak domba betina, yang dibeli dan dipeliharanya seperti anak perempuan. Ketika orang kaya itu kedatangan tamu, ia merasa sayang mengambil hewannya untuk dimasak dan dengan seenaknya mengambil domba betina kepunyaan si miskin. Mendengar kisah itu, Daud marah dan dengan tegas hendak menghukum si kaya. Natan menyatakan, orang kaya itu tidak lain Daud sendiri (ay. 7). Daud pun tertempelak. Ia memang telah mengambil isteri Uria dan tanpa merasa bersalah menyusun strategi perang yang akhirnya membuat Uria meninggal. Tampaknya Daud lupa diri. Karena merasa Tuhan di pihaknya, ia malah berbuat sesuka hatinya tanpa memikirkan akibatnya. Kita bisa jadi juga pernah lupa diri. Lupa bahwa kita dulu orang berdosa dan kini telah ditebus oleh darah-Nya yang kudus. Lupa bahwa hidup kita seutuhnya adalah milik Allah. Lupa bahwa kita hidup untuk melakukan kehendak-Nya, yaitu mewartakan kabar baik. Oleh karena itu, janganlah sampai kita lupa akan jati diri kita. Jika kita lupa diri, dosa telah mengintip di depan mata --Febrina Judith Hariandja. MENGINGAT IDENTITAS KITA DI HADAPAN TUHAN MENJAUHKAN KITA DARI KESOMBONGAN YANG MENGAKIBATKAN LUPA DIRI.

No comments:

Post a Comment