I AM
BLESSED
Selama kita tinggal
di dalam dunia, akan selalu ada perkara-perkara kehidupan yang diperhadapkan
kepada kita. Ada kalanya kita merasa beban kita berat, dengan cara bagaimana
kita dapat menerima janji kelegaan itu?? Datang dalam hadiratNya, melalui
Pujian dan Penyembahan J.
Tempat di mana kita bisa mencurahkan isi hati kita dimana kita mendapatkan
kekuatan baru untuk menghadapi hari esok, hanyalah dalam hadiratNya (puji dan
sembahlah DIA) sebab IA adalah Tuhan
yang Peduli. Maz 103:8, “TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar
dan berlimpah kasih setia.” Ayat 11: “tetapi setinggi langit di atas
bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia.”
Amin. Kita menyediakan waktu sejenak pagi ini untuk bertemu DIA, memuji,
menyembah dan mengucap syukur & mendengarkan suaraNya yang lembut tanpa
meminta apa-apa J.
1 Sam 15:22, “Tetapi jawab Samuel: ‘Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban
bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN?
Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan,
memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.‘” Amin.
Worship
Center Surabaya
Benih Firman
yang ditaburkan di hati kita seharusnya tertanam, bertumbuh hingga mencapai
tujuannya yaitu berbuah-buah lipat kali ganda. Berbuah-buah berarti
menghasilkan suatu kehidupan yang berguna, bermanfaat, menjadi berkat bagi
setiap orang yang merasakannya. Seperti buah-buah & hasil tanam-tanaman
yang mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh, yang mengenyangkan &
menyehatkan manusia, jauh lebih lagi yang Tuhan rindukan dari apa yang bisa dibagikan
hidup kita khususnya bagi dunia yang sakit & terhilang tanpa Tuhan ini.
Dalam perumpamaannya mengenai penabur, benih yang ditaburkan di tanah yang baik
akhirnya menghasilkan buah. Setiap kita seharusnya rindu memiliki sikap hati
yang sedemikian. Supaya tak sia-sia benih-benih firman yang mungkin telah
bertahun-tahun lamanya ditaburkan di hati kita. Mengutip Matius 13:23, Yesus
berkata, “Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman
itu dan MENGERTI, dan karena itu ia berbuah...” Hanya mereka yang 'mengerti'
akan melangkah lebih jauh dari sekedar mendengarkan. Dari teks aslinya, kata
'mengerti' berarti “menyatukan bersama-sama dalam pikiran sehingga memahami
yakni (sungguh-sungguh) menangkap yang dimaksudkan”. Ketiadaan akan inilah
penyebab orang gagal berbuah dalam hidupnya meski telah kerapkali mendengar
atau membaca firman. Kenyataannya, memang ada yang asal mendengar firman atau
mendengarnya sambil lalu. Telinganya menangkap suara-suara berisikan firman
namun perhatian tidak diarahkan ke sana. Ada pula yang mendengar lalu MERASA
TELAH MEMAHAMI firman yang disampaikan, padahal belum. Pemahaman sejati ialah
saat seseorang benar-benar merenungkan firman itu, menghubungkannya dengan
hidup pribadinya lalu menemukan bagaimana mengaplikasikan atau mewujudkan pesan
Firman itu dalam praktek hidupnya SENDIRI tiap-tiap harinya. Itulah perbedaan
antara yang sekedar “mengerti penjelasan suatu pengajaran” dengan yang
“mengerti maksud Tuhan melalui firman itu bagi diri pribadinya” dimana saat melakukannya,
ia berbuah-buah bagi kemuliaan Tuhan. Bagaimana dengan Anda? Salam revival!
GBU.
Xavier
Quentin Pranata
“Saat kita
direndahkan sampai titik yang paling bawah, tiba saatnya Tuhan meninggikan
kembali ke tempat yang tidak terbayangkan.” Xavier Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT TEDUH.
Senin, 16 Mei 2016. Masih Untung. Ucapkanlah syukur dalam segala hal, sebab
itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu (1 Tesalonika
5:18). Kakak ipar saya kecelakaan sehingga kaki kanan bawah lutut patah dua
bagian. Operasinya menelan biaya sangat besar. Namun, ia bersyukur karena:
tabrakan terjadi bukan dalam perjalanan berangkat mengantar anaknya, tapi dalam
perjalanan pulang, sehingga anaknya tidak turut mengalami kecelakaan; bukan ia
yang menabrak, tapi yang ditabrak; Tuhan meluputkannya dari benturan kepala. Ia
kecelakaan dan mengalami kerugian sangat besar, namun merasa masih beruntung,
masih ada hal-hal yang patut disyukuri. Orang lebih mudah mengucap syukur atas
situasi baik dan menyenangkan. Sebaliknya pada saat menghadapi situasi buruk
dan sulit, manusia sering marah dan mengutuki Tuhan. Hal ini yang dilakukan
oleh istri Ayub. Ia menyuruh Ayub mengutuki Tuhan atas hal-hal buruk dan sulit
yang menimpanya (Ayb 2:9). Ayub menjawab, “Engkau berbicara seperti perempuan
gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah tetapi tidak mau menerima
yang buruk?” Dalam semuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya (Ayb
2:10). Menurut Ayub, orang yang hanya mau menerima yang baik dari Allah tetapi
tidak mau menerima yang buruk, ia seperti orang gila. Rasul Paulus menghadapi
situasi buruk dan sulit di penjara namun ia mengajarkan jemaat untuk mengucap
syukur senantiasa atas segala sesuatu sebab itulah yang dikehendaki Allah di
dalam Kristus Yesus (Ef 5:20; 1 Tes 5:18). Mungkin saat ini, Anda sedang
mengalami situasi buruk dan sulit, percayalah, pasti Anda masih beruntung—masih
ada hal-hal yang patut Anda syukuri. Karena itu, mengucap syukurlah —IN. MASIH
ADA HAL-HAL YANG PATUT DISYUKURI DI BALIK SITUASI BURUK DAN SULIT YANG KITA
ALAMI. Selamat pagi. Selamat berkarya. Selamat mengikuti UNAS buat anak-anak
kelas 6. Tuhan Yesus memberkati.
Samuel
Sianto-Yestoya Ministry
Maz 56:12 –
Kepada ALLAH aku percaya, aku tidak takut, apakah yang dapat dilakukan manusia
terhadap aku? YESUS sumber PERTOLONGANku. Nggak usah kuatir. Pasti Sip! Samuel
Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Ibu
Caroline – Bandung
Senin, 16 Mei
2016. Bacaan: 2 Samuel 12:1-14. Setahun: 1 Tawarikh 14-16. Nats: Telah
Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam
pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan
seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu (2 Samuel
12:8). Lupa Diri. Perjalanan hidup Daud--dari seorang bocah, mengalahkan
Goliat, menjadi orang kepercayaan raja, hingga akhirnya menjadi Raja
Israel--memperlihatkan rancangan dan penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Daud juga
hidup dalam ketaatan dan takut akan Tuhan. Namun, pada masa kejayaannya, Daud
malah jatuh ke dalam dosa. Dalam perikop hari ini, Tuhan mengutus Natan
mendatangi Daud. Ia menceritakan perumpamaan tentang orang kaya yang memiliki
banyak kambing domba dan lembu sapi dan orang miskin yang hanya memiliki seekor
anak domba betina, yang dibeli dan dipeliharanya seperti anak perempuan. Ketika
orang kaya itu kedatangan tamu, ia merasa sayang mengambil hewannya untuk
dimasak dan dengan seenaknya mengambil domba betina kepunyaan si miskin.
Mendengar kisah itu, Daud marah dan dengan tegas hendak menghukum si kaya. Natan
menyatakan, orang kaya itu tidak lain Daud sendiri (ay. 7). Daud pun
tertempelak. Ia memang telah mengambil isteri Uria dan tanpa merasa bersalah
menyusun strategi perang yang akhirnya membuat Uria meninggal. Tampaknya Daud
lupa diri. Karena merasa Tuhan di pihaknya, ia malah berbuat sesuka hatinya
tanpa memikirkan akibatnya. Kita bisa jadi juga pernah lupa diri. Lupa bahwa
kita dulu orang berdosa dan kini telah ditebus oleh darah-Nya yang kudus. Lupa
bahwa hidup kita seutuhnya adalah milik Allah. Lupa bahwa kita hidup untuk
melakukan kehendak-Nya, yaitu mewartakan kabar baik. Oleh karena itu, janganlah
sampai kita lupa akan jati diri kita. Jika kita lupa diri, dosa telah mengintip
di depan mata --Febrina Judith Hariandja. MENGINGAT IDENTITAS KITA DI HADAPAN
TUHAN MENJAUHKAN KITA DARI KESOMBONGAN YANG MENGAKIBATKAN LUPA DIRI.

No comments:
Post a Comment