I AM
BLESSED
Gereja Bertumbuh
Lewat Pemuridan. Matius 28: 19-20, “19Karena
itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama
Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20dan ajarlah mereka melakukan segala
sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu
senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Menjadi anak Tuhan adalah sama
dengan menjadi Murid Kristus. Bagaimana kita dapat mengetahui kalau kita adalah
Murid Kristus?? Seorang Murid Kristus pasti memiliki IMAN yang sejati, BUAH
sejati & menghasilkan MURID yang sejati pula. Tuhan Yesus mengutus
murid-muridNya untuk menghasilkan murid Kristus yang baru, yaitu dengan cara:
Terlibatlah dalam melayani/membina jiwa-jiwa baru (One To One/Victorius Life),
bergabunglah dalam Komunitas Sel. Tuhan ingin kita hidup dalam komunitas, sebab
Tuhan itu Tuhan yang punya komunitas (Allah BAPA, Allah Anak & Allah Roh
Kudus). Setiap anak-anak Tuhan perlu ada dalam komunitas yang benar, supaya
kita saling membangun, saling membina, saling memperhatikan, saling mengasihi,
saling melayani. Dan akhirnya kita bisa belajar untuk saling memuridkan, bahkan
kita diutus untuk menjadikan semua bangsa: Murid Kiristus J. Amin. Bagaimana dengan kita??
Sudahkah kita ikut ambil bagian dalam melayani jiwa-jiwa? Melalui Komsel?
Melalui One To One??
Xavier
Quentin Pranata
“Jika kita
melekat sama Tuhan, kita akan terlepas dari jerat si jahat.” Xavier Quentin
Pranata.
Worship
Center Surabaya
Ibadah sejati
dinyatakan dalam perbuatan-perbuatan kasih. Dalam melayani Tuhan & sesama
manusia. Demi tujuan itulah Tuhan memberikan kepada kita kemampuan untuk
melakukannya dengan cara-cara terbaik & paling berdampak. Dan sebagaimana
organ-organ dalam tubuh yang memiliki fungsinya masing-masing, kepada kita
telah diberikan karunia-karunia rohani untuk menempati posisi & fungsi kita
sebagai anggota-anggota tubuh Kristus. Melalui tubuh-Nya yaitu kita sebagai
gereja-Nya, kita melaksanakan amanat agung, menjangkau dunia, dengan cara
bertindak sebagai satu kesatuan mengikuti kehendak & perintah Sang Kepala,
yaitu Kristus sendiri (Ef 4:16). Jika kita rindu menjadikan hidup kita sebagai
suatu persembahan yang hidup, kudus & berkenan di hadapan Tuhan maka salah
satu hal penting yang kita lakukan ialah mencari & menemukan dengan tepat
kehendak Allah dalam hidup kita (Roma 12:2): bagaimana persisnya Tuhan hendak
menjadikan kita alat kemuliaan-Nya. Salah satunya ialah supaya kita tidak
“memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kita pikirkan,
tetapi hendaklah kita berpikir begitu rupa, sehingga kita menguasai diri
menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kita masing-masing” (Roma
12:3). Dengan cara inilah kita tidak hanya akan melayani Tuhan, namun kita akan
melakukan pekerjaan-pekerjaanNya dengan cara tepat seperti yang diinginkan
& dirancangkan-Nya atas kita sehingga kita menyenangkan hati-Nya.
Mengetahui karunia-karunia rohani merupakan tahap yang penting dalam perjalanan
hidup rohani kita. Suatu babak baru, dimana kita didasarkan untuk tidak lagi
hidup & melayani entah cara kita sendiri yang seringkali didorong oleh ego
maupun emosi diri. Tetapi lebih dari itu semua adalah saat kita menyerahkan
diri kita sebagai pelayan-pelayan & imam-imam yang rajani sesuai dengan
tugas & fungsi dalam lingkup yang telah ditetapkan bagi kita. Hanya dengan
anggota-anggota tubuh yang berfungsi sebagaimana mestinya, rencana & proyek
ilahi yang besar akan terselesaikan. Jadi, sudahkah Anda mengetahui
karunia-karunia rohani Anda? Salam revival! GBU.
Madam
Ossy
SAAT TEDUH.
Minggu, 1 Mei 2016. Obral Janji. Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena
sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya (Markus 6:26).
Kegembiraan atau kesedihan yang tidak terkontrol bisa membuat pikiran kita
menjadi labil. Saat gembira, orang mengobral janji tanpa berpikir panjang
apakah bisa memenuhinya atau tidak. Saat sedih, orang juga mengobral janji
muluk-muluk asal harapannya dapat menjadi kenyataan. Celakanya, obral janji
seperti itu dapat berbuah malapetaka. Saat pikiran mulai jernih kembali, muncullah
perasaan sedih, menyesal, dan tidak rela memberikan hal-hal yang sudah
dijanjikannya. Hati Herodes sedang diliputi kegembiraan. Hatinya begitu terbuai
oleh liukan gemulai putri tiri yang menari pada perayaan hari ulang tahunnya.
Tanpa pikir panjang, ia mengobral janji—bahkan ia mengucapkannya dengan
bersumpah—akan memberikan apa saja yang diminta putrinya itu. Ini berarti bahwa
Herodes harus bersiap-siap untuk memberikan sesuatu yang mungkin bukan
miliknya. Dan benar saja—betapa tersentak hati Herodes saat ia mendengar
putrinya itu meminta kepala Yohanes di sebuah talam! Herodes tak bisa mengelak.
Obral janji yang dibuatnya itu justru berbuah malapetaka bagi dirinya dan juga
bagi orang lain. Janji adalah utang! Jika janji sudah terucap, kita harus menepatinya.
Karena itu, kita memerlukan hati yang tenang dan pikiran yang jernih sebelum
mengucapkan janji. Akan lebih bijaksana jika kita tidak mengobral janji
sehingga kita dapat melewati hari demi hari dengan tenteram, bukannya
dikejar-kejar oleh janji yang sebenarnya kita tidak sanggup memenuhinya —SYS.
JANJI YANG TERUCAP TANPA BERPIKIR PANJANG JUSTRU DAPAT MENDATANGKAN MALAPETAKA.
Selamat pagi. Selamat beribadah. Tuhan Yesus memberkati.
Ibu
Caroline – Bandung
Minggu, 1 Mei
2016. Bacaan: Kolose 3:5-17. Setahun: 2 Raja-Raja 1-3. Nats: Sabarlah kamu
seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang
seorang menaruh dendam terhadap yang lain; sama seperti Tuhan telah mengampuni
kamu, kamu perbuat jugalah demikian (Kolose 3:13). Mempraktekkan Kasih. Dua
orang rekan kami bekerja sama memulai bisnis. Karena tergiur keuntungan sesaat,
salah satu pihak mengambil semua modal usaha dan kabur ke luar kota. Pihak
kedua rugi besar dan harus berurusan dengan para konsumen yang menagih. Teman
yang kabur ini akhirnya kembali karena menyadari dosanya dan minta maaf. Kawan
yang dirugikan itu nyatanya mau dengan tulus mengampuni kesalahan kawannya.
Mereka pun berdamai. Mengampuni, memaafkan, berbelas kasih, memang enak
diucapkan, namun tidak selalu mudah dilakukan. Kalau saat ini kita merasa
terlalu sulit mengampuni seseorang karena hal-hal tertentu yang membuat kita
mengalami banyak kesusahan, marilah kita melihat cara Tuhan bertindak. Kita
sebagai manusia baru diperintahkan untuk mematikan dalam diri kita segala
sesuatu yang duniawi. Belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati,
kelemahlembutan, kesabaran, adalah karakter Allah. Sebagai manusia baru,
tentunya berbagai karakter Allah ini harus kita miliki. Kalau Tuhan mau
mengampuni segala dosa kita, tentu saja kita sendiri harus belajar mengampuni.
Kalau Tuhan tidak menyimpan dendam, kita tidak menyimpan dendam. Jika kita
belajar bertindak seperti prinsip Allah, tidak ada istilah sulit atau terlalu
berat untuk mengampuni seseorang. Marilah kita belajar rendah hati dan
merasakan kasih Tuhan dalam hidup kita sebelum mengampuni seseorang. Maka, saat
kita mengucapkan “Aku memaafkanmu” atau “Aku mengampunimu,” kata-kata itu
benar-benar keluar dari lubuk hati yang terdalam dan tulus --Richard Tri
Gunadi. KETIKA KITA MENGAMPUNI SESAMA, KITA MENGENAKAN KARAKTER TUHAN.

No comments:
Post a Comment