Sunday, 1 May 2016

1 Mei 2016



I AM BLESSED




Gereja Bertumbuh Lewat Pemuridan. Matius 28: 19-20, 19Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Menjadi anak Tuhan adalah sama dengan menjadi Murid Kristus. Bagaimana kita dapat mengetahui kalau kita adalah Murid Kristus?? Seorang Murid Kristus pasti memiliki IMAN yang sejati, BUAH sejati & menghasilkan MURID yang sejati pula. Tuhan Yesus mengutus murid-muridNya untuk menghasilkan murid Kristus yang baru, yaitu dengan cara: Terlibatlah dalam melayani/membina jiwa-jiwa baru (One To One/Victorius Life), bergabunglah dalam Komunitas Sel. Tuhan ingin kita hidup dalam komunitas, sebab Tuhan itu Tuhan yang punya komunitas (Allah BAPA, Allah Anak & Allah Roh Kudus). Setiap anak-anak Tuhan perlu ada dalam komunitas yang benar, supaya kita saling membangun, saling membina, saling memperhatikan, saling mengasihi, saling melayani. Dan akhirnya kita bisa belajar untuk saling memuridkan, bahkan kita diutus untuk menjadikan semua bangsa: Murid Kiristus J. Amin. Bagaimana dengan kita?? Sudahkah kita ikut ambil bagian dalam melayani jiwa-jiwa? Melalui Komsel? Melalui One To One??

Xavier Quentin Pranata
“Jika kita melekat sama Tuhan, kita akan terlepas dari jerat si jahat.” Xavier Quentin Pranata.

Worship Center Surabaya
Ibadah sejati dinyatakan dalam perbuatan-perbuatan kasih. Dalam melayani Tuhan & sesama manusia. Demi tujuan itulah Tuhan memberikan kepada kita kemampuan untuk melakukannya dengan cara-cara terbaik & paling berdampak. Dan sebagaimana organ-organ dalam tubuh yang memiliki fungsinya masing-masing, kepada kita telah diberikan karunia-karunia rohani untuk menempati posisi & fungsi kita sebagai anggota-anggota tubuh Kristus. Melalui tubuh-Nya yaitu kita sebagai gereja-Nya, kita melaksanakan amanat agung, menjangkau dunia, dengan cara bertindak sebagai satu kesatuan mengikuti kehendak & perintah Sang Kepala, yaitu Kristus sendiri (Ef 4:16). Jika kita rindu menjadikan hidup kita sebagai suatu persembahan yang hidup, kudus & berkenan di hadapan Tuhan maka salah satu hal penting yang kita lakukan ialah mencari & menemukan dengan tepat kehendak Allah dalam hidup kita (Roma 12:2): bagaimana persisnya Tuhan hendak menjadikan kita alat kemuliaan-Nya. Salah satunya ialah supaya kita tidak “memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kita pikirkan, tetapi hendaklah kita berpikir begitu rupa, sehingga kita menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kita masing-masing” (Roma 12:3). Dengan cara inilah kita tidak hanya akan melayani Tuhan, namun kita akan melakukan pekerjaan-pekerjaanNya dengan cara tepat seperti yang diinginkan & dirancangkan-Nya atas kita sehingga kita menyenangkan hati-Nya. Mengetahui karunia-karunia rohani merupakan tahap yang penting dalam perjalanan hidup rohani kita. Suatu babak baru, dimana kita didasarkan untuk tidak lagi hidup & melayani entah cara kita sendiri yang seringkali didorong oleh ego maupun emosi diri. Tetapi lebih dari itu semua adalah saat kita menyerahkan diri kita sebagai pelayan-pelayan & imam-imam yang rajani sesuai dengan tugas & fungsi dalam lingkup yang telah ditetapkan bagi kita. Hanya dengan anggota-anggota tubuh yang berfungsi sebagaimana mestinya, rencana & proyek ilahi yang besar akan terselesaikan. Jadi, sudahkah Anda mengetahui karunia-karunia rohani Anda? Salam revival! GBU.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Minggu, 1 Mei 2016. Obral Janji. Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya (Markus 6:26). Kegembiraan atau kesedihan yang tidak terkontrol bisa membuat pikiran kita menjadi labil. Saat gembira, orang mengobral janji tanpa berpikir panjang apakah bisa memenuhinya atau tidak. Saat sedih, orang juga mengobral janji muluk-muluk asal harapannya dapat menjadi kenyataan. Celakanya, obral janji seperti itu dapat berbuah malapetaka. Saat pikiran mulai jernih kembali, muncullah perasaan sedih, menyesal, dan tidak rela memberikan hal-hal yang sudah dijanjikannya. Hati Herodes sedang diliputi kegembiraan. Hatinya begitu terbuai oleh liukan gemulai putri tiri yang menari pada perayaan hari ulang tahunnya. Tanpa pikir panjang, ia mengobral janji—bahkan ia mengucapkannya dengan bersumpah—akan memberikan apa saja yang diminta putrinya itu. Ini berarti bahwa Herodes harus bersiap-siap untuk memberikan sesuatu yang mungkin bukan miliknya. Dan benar saja—betapa tersentak hati Herodes saat ia mendengar putrinya itu meminta kepala Yohanes di sebuah talam! Herodes tak bisa mengelak. Obral janji yang dibuatnya itu justru berbuah malapetaka bagi dirinya dan juga bagi orang lain. Janji adalah utang! Jika janji sudah terucap, kita harus menepatinya. Karena itu, kita memerlukan hati yang tenang dan pikiran yang jernih sebelum mengucapkan janji. Akan lebih bijaksana jika kita tidak mengobral janji sehingga kita dapat melewati hari demi hari dengan tenteram, bukannya dikejar-kejar oleh janji yang sebenarnya kita tidak sanggup memenuhinya —SYS. JANJI YANG TERUCAP TANPA BERPIKIR PANJANG JUSTRU DAPAT MENDATANGKAN MALAPETAKA. Selamat pagi. Selamat beribadah. Tuhan Yesus memberkati.

Ibu Caroline – Bandung
Minggu, 1 Mei 2016. Bacaan: Kolose 3:5-17. Setahun: 2 Raja-Raja 1-3. Nats: Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain; sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian (Kolose 3:13). Mempraktekkan Kasih. Dua orang rekan kami bekerja sama memulai bisnis. Karena tergiur keuntungan sesaat, salah satu pihak mengambil semua modal usaha dan kabur ke luar kota. Pihak kedua rugi besar dan harus berurusan dengan para konsumen yang menagih. Teman yang kabur ini akhirnya kembali karena menyadari dosanya dan minta maaf. Kawan yang dirugikan itu nyatanya mau dengan tulus mengampuni kesalahan kawannya. Mereka pun berdamai. Mengampuni, memaafkan, berbelas kasih, memang enak diucapkan, namun tidak selalu mudah dilakukan. Kalau saat ini kita merasa terlalu sulit mengampuni seseorang karena hal-hal tertentu yang membuat kita mengalami banyak kesusahan, marilah kita melihat cara Tuhan bertindak. Kita sebagai manusia baru diperintahkan untuk mematikan dalam diri kita segala sesuatu yang duniawi. Belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, adalah karakter Allah. Sebagai manusia baru, tentunya berbagai karakter Allah ini harus kita miliki. Kalau Tuhan mau mengampuni segala dosa kita, tentu saja kita sendiri harus belajar mengampuni. Kalau Tuhan tidak menyimpan dendam, kita tidak menyimpan dendam. Jika kita belajar bertindak seperti prinsip Allah, tidak ada istilah sulit atau terlalu berat untuk mengampuni seseorang. Marilah kita belajar rendah hati dan merasakan kasih Tuhan dalam hidup kita sebelum mengampuni seseorang. Maka, saat kita mengucapkan “Aku memaafkanmu” atau “Aku mengampunimu,” kata-kata itu benar-benar keluar dari lubuk hati yang terdalam dan tulus --Richard Tri Gunadi. KETIKA KITA MENGAMPUNI SESAMA, KITA MENGENAKAN KARAKTER TUHAN.

No comments:

Post a Comment