I AM
BLESSED
Pemuridan bukanlah
Program Gereja yang diwajibkan tetapi perintah agung/Amanat Agung Tuhan bagi
setiap murid Kristus. Matius 28:19-20, “19Karena itu pergilah,
jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak
dan Roh Kudus, 20dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang
telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa
sampai kepada akhir zaman.” Pendorong utama keberhasilan dalam pemuridan
adalah:
- Hati yang haus untuk dimuridkan/sikap hati yang taat
- Memiliki Roh Anak/sikap hati seorang anak atau menempatkan diri sebagai ANAK akan membuat diri kita mudah untuk “diajar”/dibentuk/diproses
- Keterbukaan adalah AWAL dari kesembuhan / pemulihan / sikap hati yang transparan
Jika kita
melakukan ke 3 hal ini dalam proses pemuridan One To One maka
hidup kita akan berdampak bukan hanya bagi orang yang dimuridkan saja, tetapi
juga bagi keluarga & komunitas kita. Sudahkan kita mengembangkan ke 3 sikap
seorang murid?? Tanpa ke-3 sikap ini kita tidak akan mencapai kemaksimalan di
dalam pemuridan. Bagaimana dengan kita??
Ibu
Caroline – Bandung
Selasa, 10 Mei
2016. Bacaan: 2 Timotius 4:1-5. Setahun: 2 Raja-Raja 24-25. Nats: “Karena itu
pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa
dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah
Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai
kepada akhir zaman (Matius 28:19-20). Siaga 24 jam. Pekerjaan di bidang
kesehatan adalah profesi yang berat. Di tempat saya bekerja, seorang dokter
harus siap siaga selama 24 jam. Bagaimanapun kondisi saat itu, baik sedang
makan, minum, atau lelah, seorang dokter harus memberikan kualitas pelayanan
yang optimal. Mengapa? Karena nyawa pasien tergantung pada tindakan dokter dan
perawat, bagaimanapun letihnya kondisi fisik mereka. Bila mereka lengah, nyawa
pasien dapat terancam. Ya, mereka harus siap kapan pun waktunya. Kesiapan yang
sama juga diharapkan dari seluruh pengikut Kristus. Dalam suratnya, Paulus
berpesan pada Timotius, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak
baik waktunya” (ay. 2a). Entah ketika ada kesempatan, entah ketika situasi
pribadi Timotius baik, entah ketika ada pertentangan di jemaat, entah ketika
Timotius sedang menderita, ia didorong untuk terus memberitakan kabar baik.
Amanat Agung Allah untuk menjadikan seluruh bangsa murid Kristus berlaku bagi
kita semua. Bagaimanapun kondisi kita, baik atau buruk, kita dapat membagikan
kasih Kristus pada orang lain. Bayangkan seandainya para dokter dan perawat
letih sehingga memilih untuk tidak menolong pasien. Demikian halnya jika kita
memilih diam karena kita letih dan tidak mau membagikan kasih Kristus, tentu
banyak jiwa yang tidak pernah mendengar tentang Dia. Oleh karena itu, marilah
kita siap sedia kapan pun waktunya untuk membagikan kasih Kristus! --Adeline
Pasaribu. BERITAKANLAH INJIL SETIAP SAAT DAN BILA PERLU GUNAKAN KATA-KATA.
Xavier
Quentin Pranata
“If we dig down
deep in God's well, we can get the fresh never ending water.” Xavier Quentin
Pranata.
Samuel
Sianto-Yestoya Ministry
Maz 4:2 — ...Di
dalam kesesakan ENGKAU memberi KELEGAAN kepadaku...! Jaminan yang PASTI dari
TUHAN YESUS. Pasti ada jawaban. Pasti ada kelegaan buat semua masalah kita!
Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Madam
Ossy
SAAT TEDUH.
Selasa, 10 Mei 2016. Cicak dan Kadal. Kata-Nya lagi kepada mereka,
“Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun
seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung daripada
kekayaannya itu” (Lukas 12:15). Meskipun tidak berakal budi, hewan punya naluri
untuk menyelamatkan diri. Contohnya cicak dan kadal. Dalam keadaan terdesak,
mereka akan memutuskan ekornya. Ketika perhatian pemangsa lengah akibat ekor
yang putus, cicak dan kadal akan segera lari menyelamatkan diri. Jadi, jangan
aneh jika melihat cicak atau kadal tanpa ekor. Itu artinya, mereka baru saja
luput dari pemangsa. Tidak apa-apa. Setelah sekian lama, ekor yang baru akan
tumbuh kembali. Sayang, perumpamaan yang kita baca hari ini menunjukkan,
sekalipun berakal budi—maafkan saya—kadang manusia tidak lebih pintar dari
hewan. Ada orang yang berlimpah-limpah hartanya, lalu ia menjadi tamak, dan
menggantungkan hidup dari kekayaannya (ay. 15). Tuhan tidak membenci orang
kaya. Tuhan juga tidak membenci kekayaan. Namun, di hadapan Tuhan, orang yang
tamak dan menggantungkan hidup dari kekayaannya adalah orang bodoh (ay. 20).
Apa pun keadaan kita saat ini, baiklah kita bersikap rendah hati. Gantungkanlah
hidup kita sepenuhnya hanya pada Tuhan. Jangan gantungkan hidup pada hal yang
lain. Jangan tamak dan bermegah atas segala kekayaan. Ketahuilah, masih banyak
hal lain, yang lebih berharga dari segala kekayaan. Kesehatan kita lebih
berharga dari kekayaan. Keluarga kita lebih berharga dari kekayaan. Hidup kita
lebih berharga dari kekayaan. Dan di atas semuanya itu, Kristus lebih berharga
dari segala kekayaan. Selagi mampu, kumpulkanlah harta. Namun, jadilah kaya di
hadapan Allah (ay. 21) —OKS. BANYAK ORANG MENJADI KAYA, NAMUN TIDAK DI HADAPAN
ALLAH. Selamat pagi. Tuhan baik bagi kita. Tuhan senantiasa setia. Tuhan Yesus
memberkati.
Worship
Center Surabaya
Salah satu tipe
manusia yang muncul di akhir zaman disebutkan sebagai “berlagak tahu” (2 Tim
3:4). Pengertian sesungguhnya ialah “memandang diri sangat tinggi”; “membutakan
diri dengan kesombongan yang menyebabkan kebodohan” atau “membodohi dirinya
sendiri (dengan menilai dirinya secara keliru dalam arti melebih-lebihkan
dirinya)”. Itu sebabnya tidaklah
mengejutkan jika 'narsisme' bukan saja menjadi kebiasaan tapi telah membudaya
di seluruh dunia. Salah satu akibat paling fatal dari ini ialah manusia tak
lagi menyadari jati dirinya yang sebenarnya oleh sebab menilai dirinya lebih
tinggi bahkan jauh dari ukuran yang sebenarnya di hadapan Tuhan. Berikut ini
poin-poin penting menghindarkan kita hanyut dalam gaya hidup akhir zaman ini:
•Biasakanlah rendah hati, bukan membanggakan-banggakan diri. Setiap orang
memiliki kelebihan & kekurangan, kekuatan & kelemahan. Untuk
meningkatkan kepercayaan diri, sering kita diajar berfokus pada kelebihan &
kekuatan diri. Dalam batas tertentu, itu baik. Namun ada dampaknya. Pada titik
tertentu kita akan menipu diri sampai merusak diri kita sendiri. Karena bisa
jadi kita melupakan Tuhan & merasa tidak memerlukan kasih karunia-Nya lagi.
•Ketahui & hiduplah dalam standar-standar yang benar yaitu firman Tuhan.
Kebodohan dengan kesombongan itu bersahabat karib. Seorang yang bodoh akan
menjadi sombong karena mengira dirinya sudah memenuhi target & ukuran yang
semestinya. Seorang yang berhikmat tapi sombong juga akan jatuh dalam kebodohan
karena tak mau lagi belajar & diajar. Yang terus belajar firman &
bertumbuh mengenal Tuhan secara pribadi akan terhindar dari kebodohan &
kesombongan itu. •Kenali identitas kita dalam Tuhan. Simon Petrus pernah merasa
paling tahu siapa Yesus tapi sekaligus menyangkal-Nya. Dalam keterpurukannya,
Yesus menemuinya sebelum terangkat ke sorga & berkata, “Gembalakanlah
domba-dombaKu”. Itulah jati diri Petrus sesungguhnya. Dan hanya dalam Kristus
kita menemukan siapa diri kita sesungguh-sungguhnya. Setujukah Anda? Salam
revival! GBU.

No comments:
Post a Comment