Tuesday, 10 May 2016

10 Mei 2016



I AM BLESSED




Pemuridan bukanlah Program Gereja yang diwajibkan tetapi perintah agung/Amanat Agung Tuhan bagi setiap murid Kristus. Matius 28:19-20, 19Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Pendorong utama keberhasilan dalam pemuridan adalah:
  1. Hati yang haus untuk dimuridkan/sikap hati yang taat
  2. Memiliki Roh Anak/sikap hati seorang anak atau menempatkan diri sebagai ANAK akan membuat diri kita mudah untuk “diajar”/dibentuk/diproses
  3. Keterbukaan adalah AWAL dari kesembuhan / pemulihan / sikap hati yang transparan
Jika kita melakukan ke 3 hal ini dalam proses pemuridan One To One maka hidup kita akan berdampak bukan hanya bagi orang yang dimuridkan saja, tetapi juga bagi keluarga & komunitas kita. Sudahkan kita mengembangkan ke 3 sikap seorang murid?? Tanpa ke-3 sikap ini kita tidak akan mencapai kemaksimalan di dalam pemuridan. Bagaimana dengan kita??
 
Ibu Caroline – Bandung
Selasa, 10 Mei 2016. Bacaan: 2 Timotius 4:1-5. Setahun: 2 Raja-Raja 24-25. Nats: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman (Matius 28:19-20). Siaga 24 jam. Pekerjaan di bidang kesehatan adalah profesi yang berat. Di tempat saya bekerja, seorang dokter harus siap siaga selama 24 jam. Bagaimanapun kondisi saat itu, baik sedang makan, minum, atau lelah, seorang dokter harus memberikan kualitas pelayanan yang optimal. Mengapa? Karena nyawa pasien tergantung pada tindakan dokter dan perawat, bagaimanapun letihnya kondisi fisik mereka. Bila mereka lengah, nyawa pasien dapat terancam. Ya, mereka harus siap kapan pun waktunya. Kesiapan yang sama juga diharapkan dari seluruh pengikut Kristus. Dalam suratnya, Paulus berpesan pada Timotius, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya” (ay. 2a). Entah ketika ada kesempatan, entah ketika situasi pribadi Timotius baik, entah ketika ada pertentangan di jemaat, entah ketika Timotius sedang menderita, ia didorong untuk terus memberitakan kabar baik. Amanat Agung Allah untuk menjadikan seluruh bangsa murid Kristus berlaku bagi kita semua. Bagaimanapun kondisi kita, baik atau buruk, kita dapat membagikan kasih Kristus pada orang lain. Bayangkan seandainya para dokter dan perawat letih sehingga memilih untuk tidak menolong pasien. Demikian halnya jika kita memilih diam karena kita letih dan tidak mau membagikan kasih Kristus, tentu banyak jiwa yang tidak pernah mendengar tentang Dia. Oleh karena itu, marilah kita siap sedia kapan pun waktunya untuk membagikan kasih Kristus! --Adeline Pasaribu. BERITAKANLAH INJIL SETIAP SAAT DAN BILA PERLU GUNAKAN KATA-KATA.

Xavier Quentin Pranata
“If we dig down deep in God's well, we can get the fresh never ending water.” Xavier Quentin Pranata.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Maz 4:2 — ...Di dalam kesesakan ENGKAU memberi KELEGAAN kepadaku...! Jaminan yang PASTI dari TUHAN YESUS. Pasti ada jawaban. Pasti ada kelegaan buat semua masalah kita! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Selasa, 10 Mei 2016. Cicak dan Kadal. Kata-Nya lagi kepada mereka, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung daripada kekayaannya itu” (Lukas 12:15). Meskipun tidak berakal budi, hewan punya naluri untuk menyelamatkan diri. Contohnya cicak dan kadal. Dalam keadaan terdesak, mereka akan memutuskan ekornya. Ketika perhatian pemangsa lengah akibat ekor yang putus, cicak dan kadal akan segera lari menyelamatkan diri. Jadi, jangan aneh jika melihat cicak atau kadal tanpa ekor. Itu artinya, mereka baru saja luput dari pemangsa. Tidak apa-apa. Setelah sekian lama, ekor yang baru akan tumbuh kembali. Sayang, perumpamaan yang kita baca hari ini menunjukkan, sekalipun berakal budi—maafkan saya—kadang manusia tidak lebih pintar dari hewan. Ada orang yang berlimpah-limpah hartanya, lalu ia menjadi tamak, dan menggantungkan hidup dari kekayaannya (ay. 15). Tuhan tidak membenci orang kaya. Tuhan juga tidak membenci kekayaan. Namun, di hadapan Tuhan, orang yang tamak dan menggantungkan hidup dari kekayaannya adalah orang bodoh (ay. 20). Apa pun keadaan kita saat ini, baiklah kita bersikap rendah hati. Gantungkanlah hidup kita sepenuhnya hanya pada Tuhan. Jangan gantungkan hidup pada hal yang lain. Jangan tamak dan bermegah atas segala kekayaan. Ketahuilah, masih banyak hal lain, yang lebih berharga dari segala kekayaan. Kesehatan kita lebih berharga dari kekayaan. Keluarga kita lebih berharga dari kekayaan. Hidup kita lebih berharga dari kekayaan. Dan di atas semuanya itu, Kristus lebih berharga dari segala kekayaan. Selagi mampu, kumpulkanlah harta. Namun, jadilah kaya di hadapan Allah (ay. 21) —OKS. BANYAK ORANG MENJADI KAYA, NAMUN TIDAK DI HADAPAN ALLAH. Selamat pagi. Tuhan baik bagi kita. Tuhan senantiasa setia. Tuhan Yesus memberkati.

Worship Center Surabaya
Salah satu tipe manusia yang muncul di akhir zaman disebutkan sebagai “berlagak tahu” (2 Tim 3:4). Pengertian sesungguhnya ialah “memandang diri sangat tinggi”; “membutakan diri dengan kesombongan yang menyebabkan kebodohan” atau “membodohi dirinya sendiri (dengan menilai dirinya secara keliru dalam arti melebih-lebihkan dirinya)”.  Itu sebabnya tidaklah mengejutkan jika 'narsisme' bukan saja menjadi kebiasaan tapi telah membudaya di seluruh dunia. Salah satu akibat paling fatal dari ini ialah manusia tak lagi menyadari jati dirinya yang sebenarnya oleh sebab menilai dirinya lebih tinggi bahkan jauh dari ukuran yang sebenarnya di hadapan Tuhan. Berikut ini poin-poin penting menghindarkan kita hanyut dalam gaya hidup akhir zaman ini: •Biasakanlah rendah hati, bukan membanggakan-banggakan diri. Setiap orang memiliki kelebihan & kekurangan, kekuatan & kelemahan. Untuk meningkatkan kepercayaan diri, sering kita diajar berfokus pada kelebihan & kekuatan diri. Dalam batas tertentu, itu baik. Namun ada dampaknya. Pada titik tertentu kita akan menipu diri sampai merusak diri kita sendiri. Karena bisa jadi kita melupakan Tuhan & merasa tidak memerlukan kasih karunia-Nya lagi. •Ketahui & hiduplah dalam standar-standar yang benar yaitu firman Tuhan. Kebodohan dengan kesombongan itu bersahabat karib. Seorang yang bodoh akan menjadi sombong karena mengira dirinya sudah memenuhi target & ukuran yang semestinya. Seorang yang berhikmat tapi sombong juga akan jatuh dalam kebodohan karena tak mau lagi belajar & diajar. Yang terus belajar firman & bertumbuh mengenal Tuhan secara pribadi akan terhindar dari kebodohan & kesombongan itu. •Kenali identitas kita dalam Tuhan. Simon Petrus pernah merasa paling tahu siapa Yesus tapi sekaligus menyangkal-Nya. Dalam keterpurukannya, Yesus menemuinya sebelum terangkat ke sorga & berkata, “Gembalakanlah domba-dombaKu”. Itulah jati diri Petrus sesungguhnya. Dan hanya dalam Kristus kita menemukan siapa diri kita sesungguh-sungguhnya. Setujukah Anda? Salam revival! GBU.

No comments:

Post a Comment