Saturday, 31 January 2015

31 Januari 2015



-BUILD A BETTER YOU-


Yohanes 13:13, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.” Tidak ada Tuhan selain Allah (Allah Tri Tungaal): Bapa, Anak, & Roh Kudus yang rela mati bagi dosa umat manusia, kematian & kebangkitan-Nya cukup untuk menyatakan bahwa Dialah Tuhan yang hidup J. Kita belajar bahwa hikmat & kuasaNya (Yesus) / Sang Pencipta membuat DIA yang adalah TUHAN yang layak DIPERCAYAI J. Amin.

Respon 1
Bacaan: Wahyu 2:1-7. Setahun: Keluaran 40. Nats: Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan (Wahyu 2:5). KETINGGALAN. Ada pengalaman unik di perjalanan bisnis paman saya. Mobilnya berhenti di pom bensin untuk mengisi bahan bakar. Setelah tangki penuh, sopir segera membawa mobil melaju. Sementara paman tertinggal karena sedang berada di kamar kecil. Setibanya di tujuan barulah sopir itu menyadari bahwa atasannya tidak berada bersamanya di dalam mobil. Jemaat di Efesus boleh diacungi jempol untuk banyak hal. Ibarat kendaraan mereka melaju cukup kencang dengan tangki bahan bakar penuh. Dalam hal kegiatan, mereka tidak mengenal lelah. Kesediaan mereka dalam berkurban tidak perlu disangsikan. Pengajaran tidak perlu ditanya: mereka demikian kokoh. Sedikit saja ada ajaran sesat, langsung dibabat. Namun, Tuhan Yesus justru mencela mereka. Mengapa? Karena “penumpang utama” yang harus ada di tengah sebuah jemaat--yaitu kasih--justru tidak turut serta. Tertinggal jauh di belakang karena “... engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula” (ay. 4). Apa yang dilakukan oleh sopir paman saya tadi? Betul. Ia segera memutar kemudi menuju pom bensin untuk menjemput atasannya. Di tengah lajunya aktivitas pelayanan, gereja bisa kehilangan kasih. Begitu pun pasangan yang sudah bertahun-tahun menikah, kasih bisa saja pudar. Jika hal itu terjadi, Anda mutlak harus “memutar arah”. Bertobat. Berbalik arah. Segera kembali melakukan apa yang semula Anda lakukan (ay. 5): bertekun saling mengasihi. Bergegas “menjemput” kembali apa yang ketinggalan itu: kasih. Bersediakah Anda? --Pipi Dhali. TIDAK PERLU MALU UNTUK BELAJAR KEMBALI SALING MENGASIHI DARI AWAL, DARIPADA KASIH, SEBAGAI “PENUMPANG UTAMA” INI TERTINGGAL. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 2
Kita sering mengalami berbagai peristiwa, gembira, sedih, marah, dan kecewa... Namun kita bisa menemukan hikmat dalam setiap peristiwa yang kita alami. Dapatkan buku terbaru Xavier Quentin Pranata, 100 Wisdoms for Enriching Your Life. Buku ini diharapkan bisa memperkaya jiwa Anda karena terlebih dulu telah memperkaya jiwa penulis. Untuk keterangan lebih lanjut hubungi: Vera (083854754408 atau pin bb 24C6DDD4)

Respon 3
SAAT TEDUH. Sabtu, 31 Januari 2015. Dalam Nama Yesus. Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu! (Matius 26:42). Tiap kali saya menyimak siaran “Doa dan Kesembuhan” di radio, ada satu hal yang selalu menyentak saya, yaitu ketika si konselor mendoakan kesembuhan pendengarnya. Ia mengucapkan “Dalam nama Yesus”, kadang disertai perintah agar si "pasien” meletakkan tangannya di tempat yang sakit. Sering kali penyakit para “pasien” itu tergolong berat: gangguan jantung atau paru-paru, bahkan gagal ginjal dan kanker. Kadang saya berpikir, doa semacam ini bisa menjadi suatu pemaksaan kepada Tuhan agar menyembuhkan si sakit seketika itu juga. Bagaimana jadinya jika mereka tidak sembuh juga? Doa tidak lain adalah sarana percakapan kita dengan Allah. Dalam doa, kita sebagai anak berusaha menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak-Nya sebagai Bapa. Simaklah pergumulan antara “kehendak Yesus” dan “kehendak Bapa-Nya” dalam ayat 39 dan 42? Sebagai anak, tentu saja kita boleh minta sesuatu pada-Nya, dan Dia tentu akan memenuhinya jika hal itu sesuai kehendak-Nya. Tidaklah bijaksana jika kita memaksakan sesuatu yang bukan kehendak-Nya atau yang belum waktunya Dia berikan. Bukankah Dia yang paling tahu yang terbaik bagi kita? Bukankah Dia pula yang berdaulat mengabulkan atau menolak permohonan kita? Karena itu, kita perlu lebih berhati-hati menggunakan “Dalam nama Yesus” dalam doa kita. Janganlah kita menggunakannya sebagai sarana untuk “memaksa” Tuhan, seolah-olah nama-Nya adalah semacam jimat atau mantra. Sebaliknya, kita menyatakannya sebagai pengakuan atas kedaulatan-Nya. DOA SEBENARNYA MERUPAKAN PENGAKUAN BAHWA DIA TAHU YANG TERBAIK BAGI KITA. Selamat pagi. Selamat berakhir pekan. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 4
Maz 28:8, TUHAN adalah kekuatan umat-NYA dan benteng keselamatan bagi orang yang diurapi-NYA! Yang lemah, DIA kuatkan. Ayo bangkit. Semangat, mujizat terjadi sekarang dalam hidup kita! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

No comments:

Post a Comment