-BUILD A BETTER YOU-
Amsal 30:8-9, “Jauhkanlah
dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau
kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau
aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau
aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” Jangan khawatir
tentang apapun juga sebab segala kekhawatiran kita adalah urusan Tuhan, tetapi
memikirkan perkara yang diatas adalah urusan kita. Belajar mengutamakan DIA
maka semua akan ditambahkan kepada kita. Nikmati pemeliharaan Tuhan setiap hari
& jadikan kemuliaan Tuhan sebagai takaran kekayaan hidup yang sesungguhnya.
Amin.
Respon 1
“Ketakutan terhadap
masa depan akan hilang dengan sendirinya saat dijalani.” Xavier Quentin
Pranata.
Respon 2
Seberat apapun
masalah kita, ada orang-orang yang mengalami masalah mungkin lebih berat tetapi
masih bisa tersenyum... Karena SUKACITA karena TUHAN itulah perlindunganmu -
For the joy of the LORD is your strength (Nehemia 8:10). (GNCC)
Respon 3
Jika tidak berjalan
bersama Tuhan, masing-masing orang akan mengambil jalannya sendiri, yang
disangkanya benar (Yes. 53:6) padahal sangat mungkin itu ialah jalan yang
sesat. Tetapi jarang sekali orang mengetahui kesesatan jalannya karena “setiap
jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, .. ”~ Ams. 21:2. Itulah
sebabnya kemudian “ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju
maut”~ Ams. 14:12. Sungguh, kesesatan jauh lebih dekat daripada yang kita
sangkakan sebab itu dimulai dari pikiran kita sendiri! Bagaimana bisa, jalan
yang sesat disangka lurus? -Sebab jalan itu tampak mudah & menyenangkan
untuk dilewati. Yesus berkata, lebar jalan menuju kebinasaan & banyak yang
melaluinya. Mengapa berbondong-bondong orang melewatinya? Karena jalan itu
mudah & tampak benar (tidak mungkin banyak orang keliru, bukan?). Selagi
orang-orang berpikir penuh curiga terhadap jalan sempit, berbatu, sukar &
penuh risiko, mereka kehilangan kesempatan melewati jalan yang ujungnya adalah
kehidupan kekal. -Sebab jalan itu terasa sesuai dengan pikiran-pikiran &
pendapat mereka sendiri, padahal itu keliru. Subyektifitas yang membabi buta
sangatlah berbahaya. Membenarkan diri sendiri bisa memutarbalikkan yang salah
menjadi benar & benar menjadi salah. Itu sebabnya jalan yang sesat tampak
lurus dalam pikirannya sendiri. Kita memerlukan kebenaran sejati dalam
memandang segala sesuatu. Supaya yang lurus tetap lurus & yang bengkok
tetap bengkok. -Sebab jalan itu diberi nama agama, ditandai rambu-rambu
kesalehan & ajaran-ajaran rohani, dihiasi ornamen-ornamen yang tampak suci,
diberitakan bahwa itu menuju pada Tuhan. Jalan yang dikatakan berasal dari yang
illahi & berkaitan dengan agama jarang gagal diterima sebagai jalan lurus.
Melihat lautan manusia berbondong-bondong melakukan kebaktian seakan
memantapkan hati bahwa itulah jalan yang lurus. Sayangnya, belum tentu
demikian. Dengan memandang seperti Tuhan memandang, berjalan ke arah yang
ditunjukkan-Nya saja maka jalan kita benar-benar lurus. Salam revival! GBU.
(Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment