Wednesday, 14 January 2015

14 Januari 2015



-BUILD A BETTER YOU-


Amsal 30:8-9, “Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” Jangan khawatir tentang apapun juga sebab segala kekhawatiran kita adalah urusan Tuhan, tetapi memikirkan perkara yang diatas adalah urusan kita. Belajar mengutamakan DIA maka semua akan ditambahkan kepada kita. Nikmati pemeliharaan Tuhan setiap hari & jadikan kemuliaan Tuhan sebagai takaran kekayaan hidup yang sesungguhnya. Amin.

Respon 1
“Ketakutan terhadap masa depan akan hilang dengan sendirinya saat dijalani.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 2
Seberat apapun masalah kita, ada orang-orang yang mengalami masalah mungkin lebih berat tetapi masih bisa tersenyum... Karena SUKACITA karena TUHAN itulah perlindunganmu - For the joy of the LORD is your strength (Nehemia 8:10). (GNCC)

Respon 3
Jika tidak berjalan bersama Tuhan, masing-masing orang akan mengambil jalannya sendiri, yang disangkanya benar (Yes. 53:6) padahal sangat mungkin itu ialah jalan yang sesat. Tetapi jarang sekali orang mengetahui kesesatan jalannya karena “setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, .. ”~ Ams. 21:2. Itulah sebabnya kemudian “ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut”~ Ams. 14:12. Sungguh, kesesatan jauh lebih dekat daripada yang kita sangkakan sebab itu dimulai dari pikiran kita sendiri! Bagaimana bisa, jalan yang sesat disangka lurus? -Sebab jalan itu tampak mudah & menyenangkan untuk dilewati. Yesus berkata, lebar jalan menuju kebinasaan & banyak yang melaluinya. Mengapa berbondong-bondong orang melewatinya? Karena jalan itu mudah & tampak benar (tidak mungkin banyak orang keliru, bukan?). Selagi orang-orang berpikir penuh curiga terhadap jalan sempit, berbatu, sukar & penuh risiko, mereka kehilangan kesempatan melewati jalan yang ujungnya adalah kehidupan kekal. -Sebab jalan itu terasa sesuai dengan pikiran-pikiran & pendapat mereka sendiri, padahal itu keliru. Subyektifitas yang membabi buta sangatlah berbahaya. Membenarkan diri sendiri bisa memutarbalikkan yang salah menjadi benar & benar menjadi salah. Itu sebabnya jalan yang sesat tampak lurus dalam pikirannya sendiri. Kita memerlukan kebenaran sejati dalam memandang segala sesuatu. Supaya yang lurus tetap lurus & yang bengkok tetap bengkok. -Sebab jalan itu diberi nama agama, ditandai rambu-rambu kesalehan & ajaran-ajaran rohani, dihiasi ornamen-ornamen yang tampak suci, diberitakan bahwa itu menuju pada Tuhan. Jalan yang dikatakan berasal dari yang illahi & berkaitan dengan agama jarang gagal diterima sebagai jalan lurus. Melihat lautan manusia berbondong-bondong melakukan kebaktian seakan memantapkan hati bahwa itulah jalan yang lurus. Sayangnya, belum tentu demikian. Dengan memandang seperti Tuhan memandang, berjalan ke arah yang ditunjukkan-Nya saja maka jalan kita benar-benar lurus. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment