Monday, 12 January 2015

12 Januari 2015



-BUILD A BETTER YOU-


Baca: Yakobus 3:1-12. Sebagai anak-anak Tuhan status / kata-kata apa yang sering kita tuliskan di media sosial yang kita punyai saat ini? Kata-kata yang memberkati atau kata-kata yang penuh kemarahan / pertikaian / kesedihan? Karena apa yang diucapkan mulut / kata-kata kita itu meluap dari hati (Matius 12:34, “Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.”). Jadi lidah dapat digunakan untuk mengucapkan kata-kata yang baik maupun yang jahat (Yak 3:9, “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah.”). Tidak seorangpun yang berkuasa mengendalikan lidah / kata-kata kita (Yak 3:8, “tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.”). Jika kita tidak dapat mengendalikan lidah / kata-kata kita apakah itu berarti lidah / kata-kata kita membawa masalah dalam hidup kita? Karena kita cenderung mengatakan kata-kata yang jahat (Yak 3:10, “dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.”). Berkat pertolongan-Nya kita tidak dibiarkan untuk mengendalikannya dengan kekuatan sendiri J Tuhan yang akan mengawasi mulut kita,DIA yang akan berjaga pada pintu bibir kita (Mzm 141:3, “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!”) jadi biarlah orang lain diberkati dengan kata-kata kita baik melalui media sosial maupun komunikasi kita sehari hari-hari. Amin.



Respon 1
“Berjalan bersama Tuhan bukan berarti tidak ada halangan, tetapi Tuhan memberi kekuatan dan pertolongan.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 2
Yakobus 3:1-12 mengingatkan kita untuk menjaga omongan kita. karena omongan kita walau cuma 1 kata bisa membuat masalah, isilah hati kita dengan segala yang baik dan segala yang baik itu adalah dari Tuhan. Karena kata-kata kita itu meluap dari hati. Kalau yang tersimpan di hati adalah yang baik maka yang keluar dari mulut kita adalah kata-kata yang baik, kata-kata yang membangun, kadang keluat kritikan tapi kritikan itu pasti sifatnya membangun bukan menjatuhkan. Punyailah penguasaan diri untuk setiap perkataan yang akan kita ucapkan.

Respon 3
SAAT TEDUH. Senin, 12 Januari 2015. Ya, Tunggu, Tidak. Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan. Elisabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes (Lukas 1:13). Sangatlah tidak menyenangkan berada di tengah kekacauan lalu lintas pada sore yang gelap dan hujan lebat! Lampu pengatur lalu lintas tidak berfungsi. Entah kerusakan apa yang terjadi sehingga hanya lampu hijau yang menyala. Kemacetan tak terhindarkan. Suara klakson dan teriakan semakin keras terdengar. Para pengendara tidak sabar dan mengabaikan polisi yang berusaha mengatur lalu lintas. Lampu pengatur lalu lintas mengingatkan saya akan jawaban doa dari Tuhan. Sebagai orang yang hidup benar dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan (ay. 6), sangatlah wajar jika Zakharia dan Elisabet berharap agar Tuhan memberikan anak sebagai jawaban doa mereka. Walaupun rasanya mustahil, justru pada masa tua mereka, Zakharia dan Elisabet menerima jawaban doa mereka: seorang anak (ay. 13)! Tuhan memberikan anak itu bagi Zakharia dan Elisabet bukan semata-mata agar mereka bersukacita. Tuhan nyatanya memiliki rencana yang jauh lebih besar dari impian mereka. Anak dalam kandungan Elisabet akan dipakai-Nya untuk mempersiapkan kedatangan Yesus, Sang Mesias (ay. 16-17). Jawaban doa tidak tergantung pada seberapa kita layak karena kita tidak pernah cukup layak di hadapan Tuhan. Jawaban doa bukan karena kita berhak menerima imbalan atas jasa kita kepada Tuhan. Tuhan tahu yang terbaik bagi hidup anak-anak-Nya. Ada saatnya Dia menyalakan lampu hijau dan menjawab ya; dapat juga lampu merah dinyalakan dan Dia menjawab tidak; atau lampu kuning saat Dia menjawab tunggu. TUHAN MENJAWAB DOA KITA BUKAN MENURUT KELAYAKAN KITA, MELAINKAN MENU-RUT KEMURAHAN HATI DAN KEBIJAKSANAAN-NYA. Selamat pagi. Semangat awal minggu. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 4
Dari Alkitab, kita tahu bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan dari mujizat. Perbuatan-perbuatan ajaib yang besar telah dilakukannya. Membelah lautan. Menghentikan matahari berputar. Memberikan penglihatan pada yang buta. Menenangkan badai. Berjalan di atas air. Membangkitkan orang mati. Tidak sedikit pun Tuhan mengalami kesukaran melakukan mujizat-mujizat. Karena bagi Tuhan tidak ada barang yang mustahil. Semuanya biasa bagi Sang Mahakuasa. Hal ini yang hendak ditiru oleh iblis. Dengan kuasa & kemampuan yang pernah diberikan padanya, juga pengetahuan bagaimana cara memanfaatkan kuasa tersebut -iblis pun sanggup melakukan mujizat-mujizat demi mempesona manusia. Melalui para penyihir, artis-artis pertunjukan magis, paranormal dsb yang semakin terang-terangan, iblis memamerkan kuasa yang dimilikinya. Kita seharusnya mengetahui perbedaan antara yang mujizat Tuhan dengan perbuatan ajaib si jahat. Setidaknya ada beberapa perbedaan mendasar. Pertama, mujizat sejati dikerjakan atas & dalam nama Yesus atau Allahnya Abraham, Ishak & Yakub di Perjanjian Lama. Kedua, mujizat Tuhan tidak mengenal batas sedangkan kuasa iblis ada batasnya (Kel 8:18-19). Ketiga, yang jarang diketahui, adalah tujuan mujizat-mujizat tersebut diadakan. Bagi Allah, mujizat-mujizat diperbuat-Nya sebagai pernyataan kasih-Nya bagi orang-orang yang mau percaya kepada-Nya sehingga orang mengenal Dia lebih lagi & datang dalam penyembahan & penyerahan hidup kepada Dia. Tujuan ini yang berusaha digagalkan iblis dengan mengarahkan fokus manusia pada pertunjukan-pertunjukan belaka baik dalam kemasan rohani atau yang bernuansa hiburan duniawi (yang dengan demikian tetap membuat manusia tinggal dalam kebodohan, jauh dari pengenalan akan Tuhan). Setiap kita perlu sentuhan mujizat Tuhan. Hanya, mengalami & melihat banyak mujizat belum tentu berguna bagi kita jika kita tidak mengenal hati-Nya yang selalu rindu dekat dengan kita (Luk. 16:30-31). Tuhan ingin kita mengetahui mujizat-Nya. Tapi Dia lebih rindu kita mengenal jalan-jalan-Nya. Adakah itu juga menjadi kerinduan Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)



No comments:

Post a Comment