-BUILD A BETTER YOU-
Baca: Yakobus
3:1-12. Sebagai anak-anak Tuhan status / kata-kata apa yang
sering kita tuliskan di media sosial yang kita punyai saat ini? Kata-kata yang memberkati
atau kata-kata yang penuh kemarahan / pertikaian / kesedihan? Karena apa yang
diucapkan mulut / kata-kata kita itu meluap dari hati (Matius 12:34, “Hai kamu keturunan ular beludak,
bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri
jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.”). Jadi lidah dapat
digunakan untuk mengucapkan kata-kata yang baik maupun yang jahat (Yak 3:9, “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita;
dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah.”).
Tidak seorangpun yang berkuasa mengendalikan lidah / kata-kata kita (Yak 3:8, “tetapi tidak seorangpun yang berkuasa
menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh
racun yang mematikan.”). Jika kita tidak dapat mengendalikan lidah /
kata-kata kita apakah itu berarti lidah / kata-kata kita membawa masalah dalam
hidup kita? Karena kita cenderung mengatakan kata-kata yang jahat (Yak 3:10, “dari mulut yang satu keluar berkat dan
kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.”). Berkat
pertolongan-Nya kita tidak dibiarkan untuk mengendalikannya dengan kekuatan
sendiri J Tuhan yang akan
mengawasi mulut kita,DIA yang akan berjaga pada pintu bibir kita (Mzm 141:3, “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada
pintu bibirku!”) jadi biarlah orang lain diberkati dengan kata-kata kita
baik melalui media sosial maupun komunikasi kita sehari hari-hari. Amin.
Respon 1
“Berjalan bersama
Tuhan bukan berarti tidak ada halangan, tetapi Tuhan memberi kekuatan dan
pertolongan.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 2
Yakobus 3:1-12
mengingatkan kita untuk menjaga omongan kita. karena omongan kita walau cuma 1
kata bisa membuat masalah, isilah hati kita dengan segala yang baik dan segala
yang baik itu adalah dari Tuhan. Karena kata-kata kita itu meluap dari hati.
Kalau yang tersimpan di hati adalah yang baik maka yang keluar dari mulut kita
adalah kata-kata yang baik, kata-kata yang membangun, kadang keluat kritikan
tapi kritikan itu pasti sifatnya membangun bukan menjatuhkan. Punyailah
penguasaan diri untuk setiap perkataan yang akan kita ucapkan.
Respon 3
SAAT TEDUH. Senin,
12 Januari 2015. Ya, Tunggu, Tidak. Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu
telah dikabulkan. Elisabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki
bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes (Lukas 1:13). Sangatlah tidak
menyenangkan berada di tengah kekacauan lalu lintas pada sore yang gelap dan
hujan lebat! Lampu pengatur lalu lintas tidak berfungsi. Entah kerusakan apa
yang terjadi sehingga hanya lampu hijau yang menyala. Kemacetan tak
terhindarkan. Suara klakson dan teriakan semakin keras terdengar. Para
pengendara tidak sabar dan mengabaikan polisi yang berusaha mengatur lalu
lintas. Lampu pengatur lalu lintas mengingatkan saya akan jawaban doa dari
Tuhan. Sebagai orang yang hidup benar dan hidup menurut segala perintah dan
ketetapan Tuhan (ay. 6), sangatlah wajar jika Zakharia dan Elisabet berharap
agar Tuhan memberikan anak sebagai jawaban doa mereka. Walaupun rasanya
mustahil, justru pada masa tua mereka, Zakharia dan Elisabet menerima jawaban
doa mereka: seorang anak (ay. 13)! Tuhan memberikan anak itu bagi Zakharia dan
Elisabet bukan semata-mata agar mereka bersukacita. Tuhan nyatanya memiliki rencana
yang jauh lebih besar dari impian mereka. Anak dalam kandungan Elisabet akan
dipakai-Nya untuk mempersiapkan kedatangan Yesus, Sang Mesias (ay. 16-17).
Jawaban doa tidak tergantung pada seberapa kita layak karena kita tidak pernah
cukup layak di hadapan Tuhan. Jawaban doa bukan karena kita berhak menerima
imbalan atas jasa kita kepada Tuhan. Tuhan tahu yang terbaik bagi hidup
anak-anak-Nya. Ada saatnya Dia menyalakan lampu hijau dan menjawab ya; dapat
juga lampu merah dinyalakan dan Dia menjawab tidak; atau lampu kuning saat Dia
menjawab tunggu. TUHAN MENJAWAB DOA KITA BUKAN MENURUT KELAYAKAN KITA,
MELAINKAN MENU-RUT KEMURAHAN HATI DAN KEBIJAKSANAAN-NYA. Selamat pagi. Semangat awal
minggu. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 4
Dari Alkitab, kita
tahu bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan dari mujizat.
Perbuatan-perbuatan ajaib yang besar telah dilakukannya. Membelah lautan.
Menghentikan matahari berputar. Memberikan penglihatan pada yang buta.
Menenangkan badai. Berjalan di atas air. Membangkitkan orang mati. Tidak
sedikit pun Tuhan mengalami kesukaran melakukan mujizat-mujizat. Karena bagi
Tuhan tidak ada barang yang mustahil. Semuanya biasa bagi Sang Mahakuasa. Hal
ini yang hendak ditiru oleh iblis. Dengan kuasa & kemampuan yang pernah
diberikan padanya, juga pengetahuan bagaimana cara memanfaatkan kuasa tersebut
-iblis pun sanggup melakukan mujizat-mujizat demi mempesona manusia. Melalui
para penyihir, artis-artis pertunjukan magis, paranormal dsb yang semakin
terang-terangan, iblis memamerkan kuasa yang dimilikinya. Kita seharusnya
mengetahui perbedaan antara yang mujizat Tuhan dengan perbuatan ajaib si jahat.
Setidaknya ada beberapa perbedaan mendasar. Pertama, mujizat sejati dikerjakan
atas & dalam nama Yesus atau Allahnya Abraham, Ishak & Yakub di
Perjanjian Lama. Kedua, mujizat Tuhan tidak mengenal batas sedangkan kuasa
iblis ada batasnya (Kel 8:18-19). Ketiga, yang jarang diketahui, adalah tujuan
mujizat-mujizat tersebut diadakan. Bagi Allah, mujizat-mujizat diperbuat-Nya
sebagai pernyataan kasih-Nya bagi orang-orang yang mau percaya kepada-Nya
sehingga orang mengenal Dia lebih lagi & datang dalam penyembahan &
penyerahan hidup kepada Dia. Tujuan ini yang berusaha digagalkan iblis dengan
mengarahkan fokus manusia pada pertunjukan-pertunjukan belaka baik dalam
kemasan rohani atau yang bernuansa hiburan duniawi (yang dengan demikian tetap
membuat manusia tinggal dalam kebodohan, jauh dari pengenalan akan Tuhan).
Setiap kita perlu sentuhan mujizat Tuhan. Hanya, mengalami & melihat banyak
mujizat belum tentu berguna bagi kita jika kita tidak mengenal hati-Nya yang
selalu rindu dekat dengan kita (Luk. 16:30-31). Tuhan ingin kita mengetahui
mujizat-Nya. Tapi Dia lebih rindu kita mengenal jalan-jalan-Nya. Adakah itu
juga menjadi kerinduan Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment