-BUILD A BETTER YOU-
Amsal 9:10, “Permulaan
hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.”
Sudahkah kita menaruh hormat & takut akan Tuhan, serta hidup benar
dihadapanNya? (Keluaran 31:1-11) Mintalah hikmatNya dalam DOA (Yakobus 1:5)
sebab DIA adalah SUMBER HIKMAT. Niscaya IA akan memberikanNya kepada kita,
amin.
Respon 1
“Saat kita merasa
lebih baik dari orang lain, itulah sisi buruk kita.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 2
SAAT TEDUH. Selasa,
27 Januari 2015. Menyalahgunakan Hidup. Sedangkan hamba yang tidak berguna itu,
campakkanlah dia ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat
ratapan dan kertak gigi (Matius 25:30). Tidak ada seorang pun yang hidupnya di
dunia ini tidak berdampak. Setiap orang mempunyai arti hidup dan bisa berguna
bagi sesama, terutama orang-orang di sekelilingnya. Sayangnya, ada orang yang
menyia-nyiakan hidupnya, tidak mengupayakan potensi yang ada dalam dirinya
secara maksimal sehingga hidupnya malah menjadi beban bagi orang lain. Tuhan
Yesus menceritakan tiga orang hamba yang menerima talenta berbeda-beda.
Penerima lima talenta dan dua talenta memanfaatkan karunia itu sehingga
membuahkan hasil berlipat ganda. Hamba yang menerima satu talenta berprasangka
buruk terhadap tuannya sehingga ia tidak mempergunakan talenta itu dan
memendamnya. Ia tidak menghargai talenta yang dipercayakan tuannya, tidak
melaksanakan tanggung jawab untuk mengelola talenta. Ia menyia-nyiakan hidup
selama kepergian tuannya itu. Perumpamaan ini berkaitan dengan Kerajaan Allah.
Kita tahu, setiap anak Allah diperlengkapi dengan karunia yang berbeda-beda.
Ada karunia untuk bernubuat, untuk melayani, untuk mengajar, untuk menasihati
(lihat Rm. 12:6-8), dan sebagainya. Tujuannya untuk memasyhurkan Kerajaan Allah
di bumi. Dengan talenta yang ada, setiap anak Allah dapat menjadi berkat bagi
sesama dan mendatangkan kemuliaan bagi Allah. Ya, Allah memberikan karunia itu
bukan untuk kepentingan kita sendiri, melainkan untuk Kerajaan-Nya. Jangan
menyalahgunakan hidup, berhikmatlah sebagai anak Allah yang hidup bukan hanya
untuk diri sendiri, melainkan untuk Tuhan. HIDUP MENJADI SIA-SIA DAN SALAH GUNA
JIKA HANYA DIMANFAATKAN UNTUK DIRI SENDIRI. Selamat pagi. Tuhan Yesus
memberkati. (Madam Ossy)
Respon 3
“The best way to
show your gratitude to God and people is to accept everything with joy.”
(Anonymous). “Cara terbaik untuk menunjukkan pengucapan syukur kepada Tuhan
& orang lain adalah dengan menerima segala sesuatu dengan sukacita.”
(Anonim). Matius 26:39, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan
ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan
seperti yang Engkau kehendaki.” Sadar tidak sadar kita sering menjadikan Tuhan
sebagai “tukang ACC” permintaan kita, bahkan kadang kita suka “mendikte”
Tuhan..., tidak ada yang salah dengan meminta sesuatu kepada Tuhan, karena kita
memang memiliki kesempatan untuk meminta apa saja dari Dia. Tetapi kita harus
ingat bahwa Dia adalah Allah Yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi, penguasa
alam semesta, karena itu sadarilah, bahwa Dia berhak mengabulkan atau menolak
permintaan kita. Jadi apapun hasilnya sedikitpun kita tidak berhak untuk marah
atau ngambeg kepadaNya, melainkan tetap menerima segala sesuatu dengan penuh
sukacita dan ucapan syukur. Selamat pagi. (Ibu Caroline – Bandung)
Respon 4
Baptisan adalah
lambang dari peralihan sebuah kehidupan. Ketika kita dibaptis, seperti Kristus
yang mati kemudian bangkit kembali dalam keadaan yang baru, demikian kita mati
dari kehidupan kita yang lama & bangkit dalam hidup yang baru (Roma 6:4). Jadi,
setelah kita memutuskan mengikut Yesus, maka sesungguhnya kita lahir kembali,
memiliki hidup yang baru. Bukan hasil usaha amal kebaikan kita, tapi oleh kasih
karunia. Kita tidak dapat menyucikan hidup kita. Darah Yesus yang telah membeli
& membasuh kita putih seputih bulu domba. Dalam baptisan, ada suatu prinsip
dasar yang sering luput dari pemahaman orang-orang Kristen. Akibatnya, setelah
memperoleh kesempatan kasih karunia masuk dalam hidup yang baru, ada
orang-orang yang memutuskan kembali pada dunia. Itu sebabnya baptisan
semestinya dilakukan dalam pemahaman yang benar. Bukan ritual sakramental
agamawi belaka. Tanpa pemahaman ini, kuasa Tuhan melalui baptisan tidak akan
terjadi. Prinsip yang dimaksud ialah, “Kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup
bagi Allah dalam Kristus Yesus”~Rom. 6:11. Sama seperti Yesus yang mati
terhadap dosa (dosa kita yang ditanggung-Nya di salib) tapi hidup-Nya selalu
merupakan hidup bagi Allah Bapa -begitulah kita harus menjalani hidup baru kita
dalam 2 perkara tersebut: mati bagi dosa & hidup bagi Allah. Itulah dasar
& tanda utama hidup Kristen! Sudahkah kita mati bagi dosa? Apakah tampak
perubahan dengan makin berkurangnya dosa dalam hidup kita? Atau justru dosa
bertambah & semakin halus dengan dosa-dosa batin & pikiran yang tak
tampak karena kita terlihat aktif sebagai pelayan Tuhan? Apakah kita hidup bagi
Tuhan? Bagi rencana-Nya di hidup kita? Mati terhadap dosa namun hidup bagi
kepentingan-kepentingan pribadi atau duniawi hanya akan menarik kita kembali
pada dosa & kasih kepada dunia. Bukankah kita diperintahkan tidak hanya
untuk menyangkal diri tapi juga memikul salib & mengikut Kristus? Kasih
karunia-Nya diberikan supaya kita hidup dalam hidup yang baru: bebas dari dosa,
terikat pada Tuhan selama-lamanya. Salam revival! GBU. (Worship Center
Surabaya)
Respon 5
Saat kuatir, takut
dan berbeban berat, jangan kita lari dari Tuhan. Berlarilah kepada Tuhan.
Matius 11:28, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu berbeban berat, Aku
akan memberi kelegaan kepadamu.” (GNCC)

No comments:
Post a Comment