-BUILD A BETTER YOU-
Tuhan kita adalah
Tuhan yang tidak mau dinomerduakan, DIA ingin menjadikan diriNya yang
PERTAMA & UTAMA dalam kehidupan kita. Matius 10:37, “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak
layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih
dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” Tuhan adalah Bapa yang kasihNya
sempurna bagi kita, DIA sangat menyayangi kita. Kitapun dapat menunjukkan sikap
yang sama yaitu penuh kasih sebab Roh Kudus bekerja didalam hati kita J. Biarlah
KASIH-Nya yang kita BERIKAN mencermin-kan KASIH yang yang telah kita TERIMA J. Amin.
Respon 1
“Kalau kita balas
menyakiti orang yang menyakiti, apakah kita masih bisa disebut manusia rohani?”
Xavier Quentin Pranata.
Respon 2
SAAT TEDUH. Kamis,
15 Januari 2015. Tidak Ikut Tertawa. Karena itu, jika satu anggota menderita,
semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut
bersukacita (1 Korintus 12:26). Suatu ketika di sekolah, seorang anak terjatuh
ke got dan ia ditertawakan oleh teman-temannya. Guru bertanya, “Tadi saya
melihat ada seorang anak terjatuh dan semua teman menertawakan. Saya ingin
tahu, siapa di antara kalian yang tidak ikut tertawa?” Seorang anak dengan
wajah malu-malu mengangkat tangan. Dengan wajah serius guru itu berkata, “Lihat
anak ini. Dia tidak mau menertawakan temannya yang celaka.” Kemudian sambil
memandang anak itu dengan penuh kasih, guru bertanya, “Kenapa engkau tidak ikut
tertawa?” Dengan wajah menunduk anak itu menjawab, “Karena yang jatuh saya,
Bu!” Paulus menekankan perasaan senasib sepenanggungan kepada jemaat di
Korintus. Sebagai satu jemaat di dalam Kristus, ketika ada anggota jemaat yang
merasakan penderitaan, semua merasakan derita yang sama; demikian sebaliknya.
Semua saling membutuhkan (ay. 21). Tidak ada bagian yang lebih utama
dibandingkan yang lain. Tujuan dari sikap hati seperti itu adalah supaya tidak
terjadi perpecahan di dalam tubuh (ay. 25). Karena, kita masing-masing adalah
anggota dari Tubuh Kristus. Apakah dalam keseharian pelayanan kita, sikap dan
perilaku seperti itu tanpa sadar kerap kita lakukan? Jika kita bersyukur karena
rumah kita tidak kebanjiran, itu baik. Namun, jika kita bersyukur hanya karena
rumah kitalah yang satu-satunya selamat dan yang lain tenggelam, maka kita
perlu menguji hati kita. Apakah kita bersyukur karena dilindungi Tuhan atau
karena bencana itu menimpa orang lain? TIDAK SEORANG PUN PEDULI SEBERAPA BANYAK
YANG ANDA TAHU SAMPAI MEREKA TAHU SEBERAPA BANYAK ANDA PEDULI. —Theodore
Roosevelt. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 3
Mat 10:37,
“Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari padaKU, ia tidak layak
bagiKU; dan barang siapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari
padaKU, ia tidak layak bagiKU.” Firman ini tidak berarti kita tidak boleh
mengasihi orang tua atau anak-anak kita tetapi TUHAN harus menjadi yang utama
di dalam hidup kita, DIA menjadi pusat seluruh aktivitas kehidupan kita, bahkan
menjadikan pengabdian dan karya kita bagi orang-orang yang kita kasihi sebagai
bukti kecintaan kita kepadaNYA, sehingga KRISTUS terlihat jelas dimata mereka,
hati pikiran dan jiwa kita harus berselimutkan kehangatan kasih kita kepadaNYA.
Sehingga kasihNYA di dalam diri kita berbuah kasih kepada sesama. “Kasih yang
melahirkan kasih”, kita tidak mungkin dapat mengasihi sesama kalau tidak ada kasih
TUHAN di dalam diri kita. Kasih TUHAN di dalam diri kita akan memampukan kita
untuk mengasihi sesama. TUHAN berkati. (Ibu Inggita – CL 4)
Respon 4
Kolose 2:6-7, “Kamu
telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di
dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia,
hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan
hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.”
Respon 5
Tidak ada tempat
seperti di hadapan hadirat Tuhan. Yang pernah berada di sana, merasakan &
mengalaminya secara pribadi pasti berpendapat yang sama. Itu pula yang
dikatakan pemazmur, “Betapa dicintai tempat kediaman-Mu. Jiwaku hancur karena
rindu pelataran-pelataran Tuhan” (Maz. 84:2-3). Lebih lanjut, ia bersaksi,
“Lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain!”
(84:11). Pengakuan ini bukan kata-kata kosong belaka. Hadirat Tuhan menjadi
tempat terbaik bagi manusia karena: -TUHAN adalah pribadi teragung, termulia,
terdahsyat tapi sekaligus paling penuh kasih, penuh kepedulian & kehangatan
daripada manusia manapun yang ada di dunia. Jika ada beberapa orang di dunia
yang begitu mengesankan dengan hanya menghabiskan waktu beberapa menit saja
dengannya, Tuhan ribuan kali lipat melebihinya. Saat roh kita bersentuhan
dengan pribadi-Nya kita tidak mungkin tetap menjadi orang yang sama karena
perjumpaan dengan pribadi terbesar di alam semesta pasti menggoncang jiwa &
mengubahkan hidup. -Tempat terbaik di dunia bukan pada tempat-tempat wisata terbaik
& termewah di dunia dengan segala kenyamanan, keindahan, atau keunikannya.
Tempat termanis di dunia ada di samping pribadi yang kita kasihi & yang
mencintai kita. Jika kita mencintai Tuhan, maka berada bersama-sama dengan Dia
adalah kenikmatan yang tak terlukiskan. Bercengkerama dengan Dia membuat Musa
melewatkan 40 hari 40 malam seolah melupakan segalanya! Betapa mulia tak
terungkap dengan kata keindahan hadirat-Nya sehingga selalu ingin bersama-sama
dengan Sang Kekasih Jiwa. -Sukacita melimpah ruah ketika di hadapan
hadirat-Nya. Tuhan tidak pernah membiarkan kita datang & pergi dengan
tangan hampa. Berkat-berkat sorangawi terbaik bagi jiwa & tubuh kita
dilimpahkan saat kita bersekutu dengan Dia (Maz. 84:5-8,11-12). Hari ini &
esok, masuki gerbang-Nya. Hampiri hadirat-Nya dengan menaikkan syukur &
pujian penyembahan (Maz. 100:4). Biarkan seluruh keberadaan Anda tertawan
keindahan-Nya & kemanisan cinta-Nya. Salam revival! GBU. (Worship Center
Surabaya)

No comments:
Post a Comment