Saturday, 17 January 2015

17 Januari 2015



-BUILD A BETTER YOU-


2 Timotius 4:7, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” Ayat 8: “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” Adakah kita anak-anak Tuhan yang berani tampil beda? Yang setia dalam perjuangan hidup ini? Yang Berjalan dalam Kebenaran FirmanNya?? Walaupun kita hidup di dunia, tetapi kita tidak menjadi bagian dari dunia J. Hidup sebagai Orang Percaya adalah hidup yang melawan arus karena kita harus memliki standard yang lebih tinggi J. Inilah perjuangan kita: tampil beda J. Dibutuhkan penyangkalan diri, kesetiaan sampai akhir J. Amin.

Respon 1
Bagaimana dengan iman kekristenan kita? Sudahkah kita berjalan dengan iman yang benar? Kita hidup di dunia ini akan menemui berbagai tantangan-tantangan dan godaan-godaan, apakah kita tetap berdiri teguh dalam hidup ini, bukankah TUHAN YESUS mengatakan barangsiapa yang mau mengikut DIA harus mau memikul salib, dan setiap kita yang turut dalam gelanggang pertandingan harus menguasai diri dalam segala hal untuk memperoleh mahkota yang abadi. TUHAN ingin kita dapat mengakhiri pertandingan dengan baik (1 Kor 9:24-27). Amin, TUHAN berkati. (Ibu Inggita – PKS CL 4)

Respon 2
“Hinaan seringkali justru jadi lecutan untuk kesuksesan.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 3
1 Kor 9:27, “tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya, supaya sesudah memberitakan injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” Hidup di dunia digambarkan seperti perlombaan. Berlomba-lomba mengerjakan keselamatan kita dan berlomba-lomba menawarkan keselamatan buat orang lain. Kita menghargai anugerah Tuhan dengan tetap belajar hidup kudus dan menjadi orang yang menyampaikan kabar baik. Tapi ketika hidup di dunia ini banyak sekali godaan untuk terbawa kenyamanan dunia, dan itu yang berperan adalah pergaulan. Hati-hati dengan pergaulan kita, inginnya kita membawa teman-teman kita kenal Tuhan tapi jangan sampai kita yang ketularan dengan pemikiran dan kebiasaan mereka yang malah menjauhkan kita dari Tuhan. Perlombaan belum berakhir, ayo kita melatih diri kita terus dan berlomba untuk mendapatkan perkenanan Allah dan hidup kekal. Semangaaaaattt!!!! (Ibu Rita – PKS CL 8)

Respon 4
SAAT TEDUH. Sabtu, 17 Januari 2015. Berdoa? Saya Bisa. Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran (1 Yohanes 3:18). Tim visitasi mengunjungi seorang nenek, anggota jemaat, yang sakit. Ia tinggal sendirian, anak-anaknya merantau ke kota-kota lain. Soal makan sehari-hari, salah seorang anaknya melanggankan catering service. Saat mengunjungi si nenek, salah seorang ibu anggota tim melihat ada tumpukan piring dan baju kotor di rumahnya. Selesai berbincang akrab, dan saat hendak pulang, salah satu anggota tim itu bertanya kepadanya, “Oma, ada yang perlu kami doakan?” Setelah berpikir sejenak, ia menjawab, “Nak, kalau berdoa saya bisa, tapi jika kalian rela, tolong cucikan piring-gelas dan baju-baju kotor itu.” Sering kali kita ini "omdo” atau omong doang. Kasih kita berhenti hanya sebatas kata-kata. Jangankan tuntutan seberat “menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita” seperti Kristus (ay. 16), menolong orang lain saja kita jarang sekali melakukannya. Alasan yang kita berikan cukup masuk akal: “Memenuhi kebutuhan dan kepentingan diri sendiri saja masih susah, masakan mau membantu orang lain. Nantilah, kalau saya sudah mampu, saya akan menolong orang lain.” Namun, ungkapan “kalau saya mampu” menyiratkan keengganan, karena kita tidak tahu kapan kita merasa sudah mampu! Hal pertama yang kita butuhkan untuk menolong sesama adalah kemauan, diiringi dengan memohon pertolongan Tuhan agar Dia memampukan. Sehingga, di dalam Tuhan, kita memenuhi perintah Yohanes, “... marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” PERKATAAN TAK AKAN MENJADI TINDAKAN JIKA TAK DISERTAI KEMAUAN MEWUJUDKANNYA. Selamat pagi. Happy Weekend. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 5
Syalom. Amin... “Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” (2 Petrus 1:10). Terima kasih ibu Siu, selamat beraktivitas, TUHAN selalu memberkati. (Bp. Oktavianus - Nabire)

Respon 6
Kesaksian hidup yang baik dari anak-anak Tuhan tampak jelas sesungguhnya dari bagaimana cara kita berurusan dengan orang lain -baik dengan mereka yang di luar Tuhan, lebih-lebih kepada sesama saudara seiman. Itu sebabnya hidup kita tampak tak bernoda di hadapan dunia saat kita “melakukan segala sesuatu dengan tidak berbantah-bantahan” (Fil. 2:14). Tidak berbantah-bantahan merujuk pada minimnya konflik di antara sesama. Dunia penuh dengan perselisihan & pertengkaran. Di keluarga & di balik tembok-tembok rumah sering ketenangan sulit didapatkan. Anak-anak Tuhan dinilai berbeda oleh dunia saat mereka menampilkan suatu hubungan penuh kasih, saling mengalah, saling mendahulukan & saling merendahkan diri. Tidak berbantah-bantah bukan berarti seolah-olah tenang (tapi menyimpan bara permusuhan) melainkan setiap ada perbedaan pendapat dikomunikasikan dengan suatu cara yang penuh kasih sehingga konflik mereda & kesehatian tercipta. Paulus dengan jelas berkata bahwa dalam Kristus “…ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan” (Fil. 2:1) karena itu diperintahkan “…hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Ef. 4:32). Inilah kunci bagi kebangunan rohani yang besar. Sebab bukankah Tuhan menambahkan bilangan jemaat mula-mula setiap hari hingga beribu-ribu orang bergabung menjadi murid Kristus -setelah mereka melihat cara hidup jemaat mula-mula yang begitu saling mengasihi hingga jangankan berbantah & bertengkar, mereka jauh melampaui itu dengan menganggap harta milik mereka bukan milik mereka sendiri melainkan milik bersama (lihat Kisah 2:41-47;4:32-37). Sebelum dunia melihat kasih, yang nyata dari sikap yang ramah & penuh pengertian di dalam keluarga, jemaat, & kumpulan besar orang-orang percaya dalam Kristus, maka sulit mengharapkan dunia berbalik & percaya pada kasih Tuhan. Mulailah menjadi saksi Tuhan hari ini. Dengan tidak lagi bersungut-sungut & berbantah-bantahan. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment