-BUILD A BETTER YOU-
2 Timotius 4:7, “Aku
telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku
telah memelihara iman.” Ayat 8: “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota
kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada
hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang
merindukan kedatangan-Nya.” Adakah kita anak-anak Tuhan yang berani
tampil beda? Yang setia dalam perjuangan hidup ini? Yang Berjalan dalam
Kebenaran FirmanNya?? Walaupun kita hidup di dunia, tetapi kita tidak menjadi
bagian dari dunia J. Hidup sebagai Orang Percaya adalah hidup yang melawan arus
karena kita harus memliki standard yang lebih tinggi J. Inilah
perjuangan kita: tampil beda J. Dibutuhkan penyangkalan diri, kesetiaan sampai akhir J. Amin.
Respon 1
Bagaimana dengan
iman kekristenan kita? Sudahkah kita berjalan dengan iman yang benar? Kita
hidup di dunia ini akan menemui berbagai tantangan-tantangan dan godaan-godaan,
apakah kita tetap berdiri teguh dalam hidup ini, bukankah TUHAN YESUS
mengatakan barangsiapa yang mau mengikut DIA harus mau memikul salib, dan
setiap kita yang turut dalam gelanggang pertandingan harus menguasai diri dalam
segala hal untuk memperoleh mahkota yang abadi. TUHAN ingin kita dapat
mengakhiri pertandingan dengan baik (1 Kor 9:24-27). Amin, TUHAN berkati. (Ibu
Inggita – PKS CL 4)
Respon 2
“Hinaan seringkali
justru jadi lecutan untuk kesuksesan.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 3
1 Kor 9:27, “tetapi
aku melatih tubuhku dan menguasainya, supaya sesudah memberitakan injil kepada
orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” Hidup di dunia digambarkan seperti
perlombaan. Berlomba-lomba mengerjakan keselamatan kita dan berlomba-lomba
menawarkan keselamatan buat orang lain. Kita menghargai anugerah Tuhan dengan
tetap belajar hidup kudus dan menjadi orang yang menyampaikan kabar baik. Tapi
ketika hidup di dunia ini banyak sekali godaan untuk terbawa kenyamanan dunia,
dan itu yang berperan adalah pergaulan. Hati-hati dengan pergaulan kita, inginnya
kita membawa teman-teman kita kenal Tuhan tapi jangan sampai kita yang
ketularan dengan pemikiran dan kebiasaan mereka yang malah menjauhkan kita dari
Tuhan. Perlombaan belum berakhir, ayo kita melatih diri kita terus dan berlomba
untuk mendapatkan perkenanan Allah dan hidup kekal. Semangaaaaattt!!!! (Ibu
Rita – PKS CL 8)
Respon 4
SAAT TEDUH. Sabtu,
17 Januari 2015. Berdoa? Saya Bisa. Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan
dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran
(1 Yohanes 3:18). Tim visitasi mengunjungi seorang nenek, anggota jemaat, yang
sakit. Ia tinggal sendirian, anak-anaknya merantau ke kota-kota lain. Soal
makan sehari-hari, salah seorang anaknya melanggankan catering service. Saat
mengunjungi si nenek, salah seorang ibu anggota tim melihat ada tumpukan piring
dan baju kotor di rumahnya. Selesai berbincang akrab, dan saat hendak pulang,
salah satu anggota tim itu bertanya kepadanya, “Oma, ada yang perlu kami
doakan?” Setelah berpikir sejenak, ia menjawab, “Nak, kalau berdoa saya bisa,
tapi jika kalian rela, tolong cucikan piring-gelas dan baju-baju kotor itu.”
Sering kali kita ini "omdo” atau omong doang. Kasih kita berhenti hanya
sebatas kata-kata. Jangankan tuntutan seberat “menyerahkan nyawa kita untuk
saudara-saudara kita” seperti Kristus (ay. 16), menolong orang lain saja kita
jarang sekali melakukannya. Alasan yang kita berikan cukup masuk akal:
“Memenuhi kebutuhan dan kepentingan diri sendiri saja masih susah, masakan mau
membantu orang lain. Nantilah, kalau saya sudah mampu, saya akan menolong orang
lain.” Namun, ungkapan “kalau saya mampu” menyiratkan keengganan, karena kita
tidak tahu kapan kita merasa sudah mampu! Hal pertama yang kita butuhkan untuk
menolong sesama adalah kemauan, diiringi dengan memohon pertolongan Tuhan agar
Dia memampukan. Sehingga, di dalam Tuhan, kita memenuhi perintah Yohanes, “...
marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan
perbuatan dan dalam kebenaran.” PERKATAAN TAK AKAN MENJADI TINDAKAN JIKA TAK
DISERTAI KEMAUAN MEWUJUDKANNYA. Selamat pagi. Happy Weekend. Tuhan Yesus
memberkati. (Madam Ossy)
Respon 5
Syalom. Amin...
“Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan
dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan
pernah tersandung.” (2 Petrus 1:10). Terima kasih ibu Siu, selamat
beraktivitas, TUHAN selalu memberkati. (Bp. Oktavianus - Nabire)
Respon 6
Kesaksian hidup
yang baik dari anak-anak Tuhan tampak jelas sesungguhnya dari bagaimana cara
kita berurusan dengan orang lain -baik dengan mereka yang di luar Tuhan,
lebih-lebih kepada sesama saudara seiman. Itu sebabnya hidup kita tampak tak
bernoda di hadapan dunia saat kita “melakukan segala sesuatu dengan tidak
berbantah-bantahan” (Fil. 2:14). Tidak berbantah-bantahan merujuk pada minimnya
konflik di antara sesama. Dunia penuh dengan perselisihan & pertengkaran.
Di keluarga & di balik tembok-tembok rumah sering ketenangan sulit
didapatkan. Anak-anak Tuhan dinilai berbeda oleh dunia saat mereka menampilkan
suatu hubungan penuh kasih, saling mengalah, saling mendahulukan & saling
merendahkan diri. Tidak berbantah-bantah bukan berarti seolah-olah tenang (tapi
menyimpan bara permusuhan) melainkan setiap ada perbedaan pendapat dikomunikasikan
dengan suatu cara yang penuh kasih sehingga konflik mereda & kesehatian
tercipta. Paulus dengan jelas berkata bahwa dalam Kristus “…ada nasihat, ada
penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan”
(Fil. 2:1) karena itu diperintahkan “…hendaklah kamu ramah seorang terhadap
yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam
Kristus telah mengampuni kamu” (Ef. 4:32). Inilah kunci bagi kebangunan rohani
yang besar. Sebab bukankah Tuhan menambahkan bilangan jemaat mula-mula setiap
hari hingga beribu-ribu orang bergabung menjadi murid Kristus -setelah mereka
melihat cara hidup jemaat mula-mula yang begitu saling mengasihi hingga
jangankan berbantah & bertengkar, mereka jauh melampaui itu dengan menganggap
harta milik mereka bukan milik mereka sendiri melainkan milik bersama (lihat
Kisah 2:41-47;4:32-37). Sebelum dunia melihat kasih, yang nyata dari sikap yang
ramah & penuh pengertian di dalam keluarga, jemaat, & kumpulan besar
orang-orang percaya dalam Kristus, maka sulit mengharapkan dunia berbalik &
percaya pada kasih Tuhan. Mulailah menjadi saksi Tuhan hari ini. Dengan tidak
lagi bersungut-sungut & berbantah-bantahan. Salam revival! GBU. (Worship
Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment